Membumikan Sumpah Pemuda

Pemuda
Ilustrasi: istockphoto

KAMI PUTERA DAN PUTRI INDONESIA,

MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU,

TANAH INDONESIA.

Bacaan Lainnya
DONASI

 

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA,

MENGAKU BERBANGSA YANG SATU,

BANGSA INDONESIA.

 

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA,

MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN,

BAHASA INDONESIA.

 

Pada setiap 28 Oktober, rakyat Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pemuda-pemudi dari berbagai latar belakang bersama-sama menyampaikan tekad mereka untuk mencapai persatuan meskipun beragamnya ciri khas mereka, demi mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Kesadaran akan identitas nasional ini muncul sebagai reaksi terhadap perlakuan diskriminatif dari pemerintah kolonial yang memposisikan bangsa Indonesia di bawah golongan Eropa dan masyarakat Timur Asing seperti Cina dan Jepang, membuat mereka menjadi kelas yang terpinggirkan.

Dalam konteks ini, perasaan nasionalisme timbul sebagai akibat dari ketidaksetaraan yang dialami bangsa Indonesia di bawah penjajahan asing. Pemahaman akan pentingnya persatuan sebagai bangsa muncul dalam gerakan pemuda.

Mereka adalah individu-individu berpendidikan yang memiliki kesadaran akan nasib bangsa mereka yang tengah berada dalam penindasan. Melalui pendidikan dan bahan bacaan yang mereka terima, mereka mulai memahami gerakan-gerakan kebangsaan yang terjadi di berbagai negara.

Tanggal 28 Oktober memiliki makna penting bagi masyarakat Indonesia sebagai Hari Sumpah Pemuda, yaitu hari di mana pemuda-pemuda berkomitmen untuk bersatu sebagai satu entitas bangsa dengan wilayah dan bahasa yang sama.

Sumpah Pemuda ini pertama kali muncul dalam Kongres Pemuda II yang digelar pada tanggal 28 Oktober 1928. Sebelumnya, upaya untuk mencapai persatuan telah dimulai oleh para pemuda dalam Kerapatan Besar Pemuda, yang juga dikenal sebagai Kongres Pemuda I, yang berlangsung dari 30 April hingga 2 Mei 1926 di Batavia.

Kongres Pemuda I diadakan dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pemahaman di antara berbagai organisasi kepemudaan di Indonesia, sebagai dasar bagi persatuan Indonesia yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia (Abdul Rahman, dkk., 2008).

Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena Ketua Kongres, Muhammad Tabrani dan Mohammad Yamin tidak sepakat mengenai penyebutan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Muhammad Tabrani berpendapat bahwa jika tanah air dan bangsa ini disebut Indonesia, maka bahasa yang digunakan juga harus disebut bahasa Indonesia. Walaupun begitu, Kongres Pemuda I telah menunjukkan kesadaran akan pentingnya persatuan, dengan moto “satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.”

Batavia (Jakarta) bersama Surabaya, Semarang, dan Bandung merupakan kota-kota besar pada masa Hindia Belanda yang menjadi magnet bagi kaum muda dari seluruh negeri untuk melanjutkan pendidikan maupun mencari pekerjaan.

Kota-kota ini berkembang menjadi arena interaksi antar para pemuda yang memiliki latar belakang budaya, bahasa, etnis, dan agama yang berbeda. Mereka mendirikan perkumpulan-perkumpulan pemuda sebagai wadah berdiskusi sesama anak rantau.

Pergaulan antar pemuda dengan beragam latar belakang ini memunculkan pemahaman terhadap adanya keanekaragaman budaya yang melahirkan saling pengertian antar sesama golongan. Mereka saling bertemu dan berdiskusi di asrama-asrama pelajar dan mahasiswa.

Salah satu tempat yang populer untuk berdiskusi pada masa itu adalah Indonesia Clubgebouw atau Indonesische Clubhuis di Jalan Kramat Raya 106. Selain sebagai asrama dan tempat diskusi, juga merupakan tempat latihan seni bagi para pemuda (Wahyono, Desember 2018).

Melangitnya Ego Organisasi Kepemudaan

Hari ini organisasi-organisasi kepemudaan tergelincir dari pertahanan yang sudah dibumikan para pemuda terdahulu, yang bersusah payah menyatukan berbagai kalangan pemuda. Situasi seperti ini sudah menjadi rahasia umum.

Terjadi perpecahan sana-sini, hari ini dualisme nyaris ada di seluruh himpunan yang ada di perantuan. Setiap kali memperingati Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Maka sebenarnya kita sedang meledek pejuang terdahulu apabila hari ini kita lebih senang terkubu-kubu entah itu faktor suku, budaya, ataupun bahasa.

Lebih jauh lagi, Sumpah Pemuda bukanlah menghilangkan keaslian ciri khas himpunan daerah, melainkan membinasakan ego-ego yang telah lama bersemayam guna meraih persatuan menuju kemerdekaan.

Hari ini sesama anak daerah yang sama-sama besar dari daerah yang sama, juga terjadi perpecahan. Perpecahan ini memanglah bukan dalam konteks baku pukul. Melainkan mencoba terus berjalan dengan tidak bersama barisan-barisan terpimpin.

Artinya apabila Indonesia ingin meraih emas pada 2045 nanti, maka Indonesia bukan hanya harus memperhatikan intelektulitas, produktivitas  tetapi juga harus memperhatikan keadaan psikologis persatuan di kalangan pemuda khususnya organisasi kepemudaannya.

Sebab apabila itu masih belum bisa kita selesaikan maka kita semua, bangsa Indonesia pasti tau betul akan bagaimana Indonesia kedepannya. Perubahan hanya bisa diraih secara bersama-bersama sudah sepatutnya kita semua bergegas merebut kembali semangat-semangat persatuan khususnya di kalangan kepemudaan.

Reformasi Berpikir Organisasi Kepemudaan

Reformasi berpikir organisasi kepemudaan sudah harus sesegera mungkin dilakukan guna menunjang pembangunan di daerah maupun nasional khusunya terhadap organisasi kepemudaan itu sendiri. Pemuda adalah aset paling berharga bagi sebuah negara, sedangkan di Indonesia sendiri, pemuda sudah banyak mengambil peran serta menciptakan perubahan-perubahan signifikan terhadap pembangunan negara.

Apabila kaum muda sudah malas untuk berpikir kritis, malas untuk menjunjung persatuan sesama pemuda dikhawatirkan akan menjadi salah satu penghambat menuju Indonesia maju pada 2045 mendatang.

Para pemuda kini sudah harus dituntut untuk melek akan persatuan sesama pemuda. Sebab, apabila terjadi terus-menerus organisasi kepemudaan menolak tergabung di dalam barisan-barisan terpimpin, maka rasa-rasanya sulit bagi kita untuk meraih emas pada 2045 nanti.

Jika hal-hal paling sederhana saja sudah tidak bisa kita selesaikan, tentunya hal-hal besar pun juga tak akan mungkin berhasil untuk kita taklukan. Indonesia adalah bangsa yang besar, Indonesia lahir bukan untuk hal-hal kecil. Pemuda sudah harus mengepakkan sayap-sayapnya beranjak untuk bangkit kembali.

Ada satu ungkapan dari Bung Karno, “Bangkit, sebab diam adalah pengkhianatan” tentu termasuk juga di dalamnya diam melihat pemuda terkubu-kubu, diam melihat pemuda terpecah-pecah, diam melihat pemuda bermalas-malas, diam melihat pemuda tergelincir ke dalam jurang kebodohan. Semua yang diam mengenai kemunduran pemuda adalah pengkhianatan, pengkhianatan terhadap diri sendiri.

Oleh sebab itu, maka harus dirancang kembali sistem berpikir organisasi kepemudaan berbasis kearifan lokal namun tetap sadar akan pentingnya persatuan. Tanggal 28 Oktober adalah tamparan keras untuk kita semua, bangsa Indonesia. Tamparan yang harusnya menyadarkan kita semua untuk bergegas kembali meraih semangat-semangat persatuan yang dulu pernah membumi di bumi Indonesia.

Penulis: Akbar Jihad
Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Universitas Pamulang. Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Siak (Hipemasi) Jakarta 2023-2025.

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Referensi

Abdul Rahman, M., Darmansyah, Suswadi, Wiyadi, S.S., Misman, 2008. Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda.

Ahdiyat, M., 2021. Gelombang Semangat Sumpah Pemuda. Dalam: Hayat, ed. 2021. Menggali Pondasi Karakter Bangsa dengan Semangat Sumpah Pemuda. Malang: Unisma Press.

Jurnal Sumpah Pemuda dan Tumbuhnya Kesadaran Berbangsa Effendi Wahyono Desember 2018

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI