Menelaah Manuskrip Nusantara! Naskah Ilmu Tauhid Beraksara Arab

Manuskrip Ilmu Tauhid
**Caption:** Lembaran manuskrip kuno beraksara Arab ini menjadi saksi perjalanan panjang tradisi keilmuan Islam di Nusantara. Di balik setiap goresan tinta, tersimpan kajian ilmu tauhid yang membahas hukum aqli serta sifat-sifat Allah, sekaligus merekam warisan intelektual para ulama terdahulu yang patut dijaga, diteliti, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (Foto: Dok. Penulis)

Manuskrip atau biasa disebut juga dengan naskah kuno merupakan sebuah tulisan tangan yang telah ditulis oleh orang terdahulu yang masih ada sampai saat ini. Manuskrip terdiri atas dua kata, yaitu manu dan skrip yang jika diterjemahkan berarti tulisan tangan.

Jika kita bandingkan dengan peninggalan budaya fisik dan nonfisik, keduanya memiliki banyak perbedaan. Dari segi jumlah, peninggalan budaya nonfisik lebih banyak karena disimpan, dijaga, serta dirawat di perpustakaan, seperti di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) yang berada di Medan Merdeka dan Perpustakaan Salemba Raya yang berada di Salemba Raya.

Sementara itu, peninggalan budaya fisik akan terkikis oleh zaman serta tangan-tangan usil manusia yang tidak menjaga dan melestarikannya.

Contoh budaya nonfisik adalah manuskrip, sedangkan contoh budaya fisik adalah masjid, bangunan, candi, dan lain sebagainya. Jumlah peninggalan budaya dalam bentuk manuskrip pun cukup banyak.

Baca Juga: Manuskrip Kuno: Bab Al-Aql Kepada Segala Orang-Orang Besar

Penelitian manuskrip Nusantara tidak hanya menelaah dari segi luarnya, tetapi juga sampai pada isi kandungan yang terdapat di dalam manuskrip.

Hal tersebut diupayakan untuk dapat menginterpretasikan kembali ide, pola pikir, maupun rumusan hikmah kehidupan yang telah dicapai para pendahulu kita mengenai Sang Pencipta. Rumusan tersebut akan dibahas dalam manuskrip tentang kajian ilmu tauhid.

Kamu penasaran dengan manuskrip Nusantara ini? Jika kamu ingin mendapatkan pengetahuan baru, yuk, simak artikel berikut!

Bagaimana Ilmu Tauhid dalam Manuskrip Nusantara Ini?

Manuskrip Nusantara yang dibahas merupakan salah satu naskah tentang ilmu tauhid berdasarkan hukum aqli. Naskah ini merupakan naskah yang penyalin dan pengarangnya tidak diketahui. Usia naskah juga tidak dapat dipastikan karena tidak adanya kolofon yang tertulis di dalam naskah. Selain itu, tempat penulisannya pun tidak diketahui.

Naskah ini disimpan di Pesantren Buntet, Mertapada Kulon, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat. Naskah tersebut merupakan koleksi milik Pesantren Buntet, Cirebon.

Baca Juga: Manuskrip Doa dan Mantra dalam Manuskrip Arab Koleksi Makrifat Iman di Cirebon, Jawa Barat

Teks ditulis di atas kertas Eropa yang memiliki watermark bergambar singa bermahkota dan cap Pro Patria. Kondisi naskah mengalami kerusakan yang cukup parah, seperti lepas dari jilidan dan tidak lengkap. Meskipun demikian, teks masih dapat dibaca dengan baik. Naskah dijahit menggunakan benang tanpa sampul, memiliki sembilan kuras yang masing-masing terdiri atas sepuluh lembar kertas dengan jumlah keseluruhan 147 halaman.

Naskah tidak memiliki penomoran halaman, tetapi terdapat kata alihan pada setiap halaman verso. Teks ditulis menggunakan aksara Arab dan bahasa Arab, dengan tinta hitam serta tinta merah untuk rubrikasi. Tidak terdapat halaman kosong pada naskah tersebut.

Pembahasan Hukum Aqli

Dalam naskah ini dijelaskan secara panjang lebar mengenai ilmu tauhid, dimulai dari pembahasan hukum aqli. Kata aqli berarti akal, sedangkan hukum aqli dibagi menjadi tiga, yaitu wajib, mustahil, dan jaiz.

Hukum Aqli Wajib

Hukum aqli wajib menunjukkan bahwa sesuatu pasti ada. Hukum wajib dibagi menjadi dua, yaitu wajib dhohuri dan wajib nadhori.

Wajib dhohuri adalah segala hal yang diterima akal tanpa perlu dipikirkan maupun dibuktikan karena sudah jelas logikanya. Contohnya, setiap benda pasti mengalami gerak atau diam.

Sementara itu, wajib nadhori merupakan hal yang diterima akal setelah dipikirkan dan diuraikan dengan bukti-bukti sehingga kebenarannya dapat diyakini. Contohnya adalah mempelajari sifat-sifat Allah dengan penerangan dan dalil yang kukuh. Allah bukan benda yang dapat dilihat, tetapi dapat diterima oleh akal melalui dalil.

Hukum Aqli Mustahil

Hukum aqli mustahil merupakan hukum yang menunjukkan bahwa sesuatu pasti mustahil. Hukum mustahil dibagi menjadi dua, yaitu mustahil dhohuri dan mustahil nadhori.

Mustahil dhohuri merupakan segala hal yang tidak diterima akal tanpa perlu dipikirkan ataupun dibuktikan. Contohnya, kejadian siang dan malam.

Adapun mustahil nadhori merupakan segala hal yang ditolak oleh akal setelah dipikirkan, dibahas, serta diuraikan dengan dalil yang kukuh sehingga dipahami dan diyakini tidak dapat diterima oleh akal. Contohnya adalah adanya sesuatu yang menyaingi kekuasaan Allah.

Hukum Aqli Jaiz

Hukum aqli jaiz menunjukkan bahwa sesuatu memiliki kemungkinan ada atau tidak ada. Kemungkinan antara keduanya sama.

Hukum jaiz memiliki dua jenis, yaitu jaiz dhohuri dan jaiz nadhori.

Jaiz dhohuri merupakan perkara yang tidak membutuhkan pemikiran panjang. Misalnya, apakah tubuh kita bergerak atau tidak.

Sementara itu, jaiz nadhori merupakan perkara yang memerlukan pemikiran panjang. Misalnya, tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular ketika dilemparkan. Bagi manusia hal tersebut tentu tidak mungkin, tetapi dengan kekuasaan Allah hal itu menjadi mungkin. Buktinya, tongkat tersebut dapat berubah menjadi ular.

Sifat-Sifat Wajib bagi Allah

Naskah ini juga menjelaskan tentang sifat-sifat yang wajib bagi Allah. Sifat wajib Allah Swt. adalah sesuatu yang melekat pada diri Sang Pencipta. Memahami sifat-sifat tersebut membuat kita sebagai hamba merasa lebih dekat kepada-Nya.

Disebutkan bahwa sifat wajib Allah berjumlah 20, yaitu wujud, qidam, baqa, mukhalafatu lil hawadis, qiyamuhu binafsihi, wahdaniyah, qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar, kalam, qadiran, muridan, aliman, hayyan, sami’an, bashiran, dan mutakalliman.

Sifat-Sifat Mustahil bagi Allah

Selain itu dijelaskan pula tentang sifat-sifat mustahil bagi Allah, yaitu sifat yang tidak ada pada zat-Nya. Sifat mustahil bagi Allah berjumlah 20, yaitu adam, huduth, fana, mumatsalatu lil hawaditsi, qiyamuhu bighayrihi, ta’addud, ajzun, karahah, jahlun, mautun, shamamun, ‘umyun, bukmun, kaunuhu ‘ajizan, kaunuhu karihan, kaunuhu jahilan, kaunuhu mayyitan, kaunuhu asshama, kaunuhu ‘ama yang berarti zat yang buta, dan terakhir kaunuhu abkama.

Sifat Jaiz bagi Allah

Bagian terakhir dari teks menjelaskan tentang sifat yang boleh bagi Allah. Sifat yang boleh bagi Allah menunjukkan bahwa Allah memiliki kehendak yang tidak dapat dipaksakan oleh selain-Nya.

Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa sifat jaiz Allah hanya satu, yaitu fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu yang berarti Allah mungkin mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya. Allah Swt. menciptakan segala sesuatu atas kehendak-Nya sendiri.

Kesimpulan

Bagaimana? Apakah kamu tertarik dengan naskah ini?

Berdasarkan penjelasan isi naskah di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu tauhid yang dibahas dalam teks tersebut berfokus pada hukum aqli. Hukum aqli terdiri atas tiga jenis, yaitu hukum aqli wajib, hukum aqli mustahil, dan hukum aqli jaiz.

Hukum aqli wajib membahas segala hal yang diterima akal tanpa perlu dipikirkan ataupun dibuktikan karena telah jelas logikanya. Contohnya, setiap benda pasti mengalami gerak atau diam.

Hukum aqli mustahil membahas sesuatu yang pasti kemustahilannya. Contohnya, kejadian siang dan malam.

Sementara itu, hukum aqli jaiz menjelaskan bahwa sesuatu memiliki kemungkinan ada atau tidak ada. Misalnya, apakah tubuh kita bergerak atau tidak.

Selanjutnya, naskah membahas sifat-sifat wajib bagi Allah beserta penjelasannya yang berjumlah dua puluh sifat. Setelah itu dijelaskan pula sifat-sifat mustahil bagi Allah yang juga berjumlah dua puluh sifat.

Pembahasan ditutup dengan sifat jaiz bagi Allah. Sifat jaiz Allah hanya satu, yaitu fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu yang berarti Allah mungkin mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya sesuai kehendak-Nya.

Penutup

Yuk, gali pengetahuanmu lebih dalam lagi! Menggali ilmu pengetahuan tidak hanya melalui ilmu tauhid, tetapi juga melalui berbagai bidang ilmu lainnya.

Syukron, terima kasih.

Salam literasi!

Manuskrip Nusantara – Tauhid Manuskrip Nusantara.


Penulis: Difa Aulia Raihana
Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Arab, Universitas Al-Azhar Indonesia


Dosen Pengampu: Dr. Iin Suryaningsih, S.S., M.A.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses