Jika kalian membuka media sosial seperti Twitter, TikTok, dan Instagram sekarang, kalian pasti akan melihat beberapa konten yang membahas mengenai “feministme”, akan tetapi feministme yang dibahas seringkali mengacu kepada frase “semua laki-laki sama saja” atau “laki-laki adalah sumber masalah perempuan” yang di mana hal ini membuat seolah-olah feministme pada zaman sekarang dimaksudkan untuk menyudutkan pihak laki-laki dan keluar dari makna yang sebenarnya.
Ribuan orang mengikuti konten ini di internet, ada yang pro dan kontra terkait komentar mengenai konten “feministme” ini,. Seperti kutipan dari cuitan twitter @NkfEka “Absolute cinema!! FYI feminism itu banyak alirannya yahh, sama” feminist bisa beda pandangan Ini org lama” keliatan kalo Misandri – Man Hater Dan ini bikin kontraproduktif sama tujuan kesetaraan yg inklusif “.
Dari @magentaflakez juga menambahkan di twitter “Banyak feminist account yang suka ngetweet hating men gataunya terf. Garis batas misandri dan terf tuh jadi tipis banget. Iyasih misandri ngerugiin, tapi yang dirugiin ya assign male at birth, bukan cis man”. Sementara itu, @its.celonn di TikTok juga membahas masalah yang sama: feminisme sekarang lebih fokus pada “Anti laki-laki” di internet dan tidak lagi pada kesetaraan. Banyak orang mulai menyebutnya “feminisme” tanpa menyadarinya.
Baca juga: Perempuan sebagai Luka: Feminisme dalam Cantik Itu Luka
Terdapat kesalahpahaman yang telah menyebar luas mengenai makna feminisme, siapa yang seharusnya menjadi lawan, dan arah yang sepatutnya diambil oleh gerakan ini. Ketika sikap negatif terhadap pria dikemas dalam wujud feminisme, kerugian tidak hanya dialami oleh pria yang seringkali dijadikan target oleh perempuan juga terkena dampak, sebab suara penting mereka terbenam dalam konflik identitas yang tidak menghasilkan apa-apa.
Bahkan pemerintah Indonesia, melalui Peraturan Menteri PPPA Nomor 6 Tahun 2023, telah secara resmi mengartikan kesetaraan gender sebagai sesuatu yang berlaku bagi pria dan wanita, bukan hanya untuk satu pihak saja.
Sebelum melihat lebih jauh, ada dua konsep yang perlu diketahui, yaitu feminisme dan misandri. Feminisme secara historis diartikan sebagai sebuah gerakan sosial dan politik yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan antara jenis kelamin, terutama dalam hal hak, kesempatan, dan perlakuan.
Asal-usul konsep ini dapat ditelusuri ke bahasa Latin, ‘femina‘ yang berarti perempuan, dan mulai muncul pada akhir abad ke-19 sebagai tanggapan terhadap ketidaksetaraan yang dialami oleh perempuan dalam masyarakat.
Peraturan Menteri PPPA Nomor 6 Tahun 2023 juga mendefinisikannya secara formal sebagai kondisi dan kedudukan yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam mengakses sumber daya, berpartisipasi dalam pembangunan, dan memperoleh manfaatnya.
Sementara misandri berasal dari bahasa Yunani misos (kebencian) dan anēr/andros (laki-laki), hal ini merujuk pada kebencian atau ketidaksukaan terhadap laki-laki sebagai kelompok, yang dapat terwujud dalam bentuk diskriminasi, objektifikasi, hingga generalisasi seperti “semua laki-laki sama saja.” Istilah ini sudah digunakan sejak awal 1800-an di Prancis dan mulai dikaji secara akademis di abad ke-20.
Feminisme dan misandri secara filosofis bertolak belakang. LSF Discourse (Hasibuan, 2025) menegaskan bahwa “esensi feminisme adalah menuntut kesetaraan gender, bukan dominasi satu gender atas yang lain. Dari sisi arah, feminisme bersifat inklusif, yaitu dengan mengajak laki-laki untuk terlibat sebagai sekutu perubahan.
Sementara misandri justru sebaliknya, ia lebih condong untuk mendorong suatu kaum untuk menjauh hanya karena jenis kelaminnya.
Bincang Perempuan (Fahira, 2025) juga mencatat bahwa label misandri kerap dilemparkan secara tidak tepat untuk mendiskreditkan feminis serta seringkali dijadikan sebagai bom untuk membungkam kritik terhadap patriarki. Peneliti Tris Hedges dalam Feminist Review (2024) menyebut pola ini sebagai penyalahgunaan yang justru melemahkan gerakan kesetaraan itu sendiri.
Data empiris dari berbagai jurnal pun memperkuat opini ini. Baik feminis maupun non-feminis menunjukkan sikap positif terhadap laki-laki dalam enam studi penting yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Women Quarterly (Hopkins-Doyle dkk., 2023), dengan hampir 10.000 responden di seluruh dunia. Studi ini membantah apa yang para peneliti sebut sebagai “mitos misandri”.
Aninditya dalam Medium (2026) menangkap akar persoalannya “Masalahnya muncul ketika kemarahan diekspresikan dengan bahasa yang menggeneralisasi. Peraturan menteri PPPA No. 6/2023 mengingatkan bahwa gender adalah konstruksi sosial yang dapat diubah. Feminisme bukan membela satu kelompok di atas kelompok lain, melainkan membongkar sistem yang merugikan semua pihak dan itulah yang membedakannya secara mendasar dari misandri.
Misandri dan Feministme yang dicampur adukkan terjadi akibat kombinasi berbagai faktor sosial dan digital yang saling berkaitan. Cara kerja media sosial, minimnya pemahaman terhadap feminisme, pengalaman personal yang digeneralisasi, serta rendahnya literasi gender membuat diskusi tentang kesetaraan semakin mudah dipenuhi narasi ekstrem dan konflik antarkelompok.
1. Algoritma media sosial lebih mengutamakan emosi daripada edukasi
Media sosial cenderung menyebarkan konten yang emosional, provokatif, dan memancing reaksi karena dianggap lebih mampu meningkatkan keterlibatan pengguna. Akibatnya, narasi ekstrem lebih mudah viral dibanding pembahasan yang edukatif dan seimbang.
2. Feminisme dipahami sebagai label, bukan ideologi yang dipelajari
Banyak orang mengenal feminisme hanya melalui tren dan potongan konten media sosial tanpa memahami sejarah serta nilai dasarnya. Hal ini membuat feminisme sering dijadikan identitas sosial semata, bukan gerakan yang dipahami secara mendalam.
3. Trauma personal digeneralisasi menjadi kebencian kolektif
Sebagian narasi misandri muncul dari pengalaman perempuan yang mengalami ketidakadilan atau kekerasan. Namun, pengalaman tersebut terkadang digeneralisasi menjadi penilaian terhadap seluruh laki-laki sehingga kritik terhadap sistem berubah menjadi serangan terhadap kelompok tertentu.
4. Rendahnya literasi gender di ruang publik
Kurangnya pemahaman bahwa patriarki merupakan sistem sosial membuat masyarakat sulit membedakan antara kritik struktural dan kebencian terhadap individu. Akibatnya, diskusi gender sering berubah menjadi pertentangan antara misogini dan misandri.
5. Faktor-faktor tersebut saling memperkuat satu sama lain
Algoritma menyebarkan konten emosional, konten tersebut membentuk pemahaman yang dangkal, trauma kemudian digeneralisasi, dan rendahnya literasi gender membuat siklus tersebut terus berulang tanpa koreksi yang memadai.
Tulisan ini tidak ditujukan untuk membela kaum pria dari feminisme, melainkan berasal dari keyakinan saya terhadap prinsip feminisme itu sendiri. Justru oleh karena itu, saya merasakan urgensi untuk menegaskan bahwa tidak semua hal yang saat ini dipasarkan sebagai feminisme benar-benar mencerminkan nilai kesetaraan yang diusung oleh gerakan tersebut.
Cedera, trauma, dan pengalaman ketidakadilan yang melatarbelakangi timbulnya misandri adalah realitas yang perlu diakui, tetapi memahami motivasi di balik suatu reaksi tidak selalu berarti membenarkan bentuk reaksi itu. Kemarahan yang awalnya sah dapat kehilangan arah ketika bertransformasi menjadi kebencian terhadap seluruh kelompok berdasarkan gender.
Menurut saya, inti masalahnya bukan pada individu, melainkan pada struktur sosial yang mendukung ketidaksetaraan. Oleh karena itu, perubahan tidak dapat dicapai melalui kebencian, melainkan melalui kolaborasi untuk menciptakan relasi yang lebih adil.
Pada akhirnya, kesetaraan itu bukan soal siapa yang unggul, tetapi mengenai bagaimana manusia dapat hidup berdampingan secara adil, sehingga yang dibutuhkan bukan kebencian, tetapi pemahaman yang jelas tentang isu dan keberanian untuk memperjuangkan perubahan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
Penulis: Asyifa Zahra Putri (2410842009)
Mahasiswa Administrasi Publik, Universitas Andalas
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Kumparan Woman. (2025). Perbedaan istilah misogini dan misandri yang harus ladies tahu. Kumparan. Kumparan Woman
Wikipedia. Misandri. Wikipedia Bahasa Indonesia. Wikipedia MisandriLSF Discourse. (2025). Antara feminisme dan misandri: Membaca ulang narasi gender di Indonesia. LSF Discourse
Aleethetic. (2025). Feminisme dan tuduhan misandri: Ketika kritik patriarki dimaknai sebagai kebencian personal. Medium. Medium Aleethetic
Thpanorama. (n.d.). Misandria: antecedentes e historia, características, diferencias con misoginia. Thpanorama Misandria
Magdalene. (2025). Saya benci laki-laki: Mengintip catatan harian si missandri. Magdalene Bendar, Amin. (2019). “Feminisme dan Gerakan Sosial.” Al-Wardah: Jurnal Kajian Perempuan, Gender dan Agama, Vol. 13 No. 1, Juni 2019. ISSN 1907-2740, E-ISSN 2613-9367. https://doi.org/10.46339/al-wardah.v13i1.156
Bincang Perempuan. (2025). Misandri bukan lawan dari misogini dan feminisme bukan balas dendam. Bincang Perempuan
Langstraat, Saartje. (2024). Umpan Kemarahan: Perbandingan Persepsi Daya Persuasi Misandri dan Misogini di TikTok. Tesis Master, Program Master Studi Media – Media dan Bisnis, School of History, Culture and Communication, Erasmus University Rotterdam.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2023). Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2023 tentang parameter kesetaraan gender dalam peraturan perundang-undangan dan instrumen hukum lainnya. Kementerian PPPA Republik Indonesia.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













