Mangga Gedong Gincu dari Kabupaten Cirebon kini semakin dikenal di pasar internasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon, daerah ini memberikan kontribusi produksi mangga nasional sebesar 37.922 ton.
Jumlah ini menjadikan Kabupaten Cirebon sebagai salah satu sentra produksi mangga terbesar di Jawa Barat. Daerah ini memiliki 9.900 hektare lahan tanaman mangga, termasuk pekarangan rumah warga. Baik dari segi produksi maupun luas lahan, angka-angka ini menjadikan Cirebon sebagai salah satu sentra utama komoditas tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, varietas ini menarik perhatian berkat rasa manisnya yang kuat. Warna kulitnya merah-oranye cerah menyerupai gincu saat matang. Bentuk buahnya relatif kecil dengan karakter bulat hingga oval. Aromanya harum dan khas. Tekstur dagingnya tebal dan kenyal dengan sedikit sentuhan asam segar.
Kombinasi karakteristik ini menjadikan mangga gedong gincu diminati di berbagai negara. Komoditas ini secara rutin diekspor ke Hong Kong, Singapura, Malaysia, hingga kawasan Timur Tengah. Volume ekspor mangga gedong gincu dari Kabupaten Cirebon mencapai 20 hingga 40 ton setiap tahun.
Namun, di balik capaian ekspor yang signifikan tersebut, terdapat persoalan mendasar yang tidak bisa diabaikan. Petani muda justru semakin sulit ditemukan.
Berdasarkan data Sensus Pertanian 2023, hampir 67 persen petani di Indonesia telah berusia di atas 45 tahun, sementara mereka yang berusia di bawah 40 tahun hanya sekitar 21 persen. Jika kondisi ini terus berlangsung, hal tersebut berpotensi menimbulkan kekosongan regenerasi kebun mangga sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.
Pada dasarnya bukan tanpa alasan petani muda menjauhi sektor pertanian. Pertanian masih melekat dengan citra sebagai pekerjaan yang kotor, melelahkan, dan tidak menjanjikan secara ekonomi. Anggapan ini terus hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Padahal Indonesia sedang berada dalam fase bonus demografi, yaitu masa ketika jumlah penduduk usia produktif melimpah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, lebih dari lima juta penduduk usia muda berusia 15 hingga 29 tahun tercatat sebagai penganggur.
Sektor pertanian sangat membutuhkan tenaga baru, tetapi petani muda tidak kunjung masuk. Inilah yang kemudian disebut sebagai krisis regenerasi petani mangga, sebuah masalah yang tidak bisa dibiarkan begitu saja karena dampaknya telah muncul di lapangan.
Sebagian petani lanjut usia menghadapi kendala dalam adopsi teknologi baru. Mereka cenderung mempertahankan cara-cara lama yang telah mereka lakukan selama puluhan tahun. Akibat dari sikap tersebut, teknologi sederhana seperti irigasi tetes maupun alat pemantau hama belum dimanfaatkan secara optimal.
Keterbatasan adopsi teknologi berpotensi menurunkan efisiensi budidaya dan konsistensi produktivitas. Kualitas buah menjadi tidak konsisten, padahal pasar ekspor dikenal sangat ketat dalam menerapkan standar mutu. Sekali pengiriman ditolak karena kualitas yang buruk, kepercayaan pembeli luar negeri dapat hilang dalam waktu singkat.
Dengan demikian, daya saing mangga gedong gincu di pasar global menghadapi ancaman serius. Ancaman ini bukanlah sesuatu yang akan datang di masa depan, melainkan sudah mulai terjadi sekarang.
Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada harapan. Terdapat satu contoh keberhasilan yang relevan untuk dianalisis. Di Desa Sedong Lor, Kabupaten Cirebon, terdapat Kelompok Tani KDP Sukamulya. Kelompok ini merupakan salah satu pelaku utama yang berkontribusi terhadap pencapaian ekspor mangga gedong gincu dari Kabupaten Cirebon. Keberhasilan tersebut terlihat dari penerapan berbagai inovasi budidaya yang mampu meningkatkan produktivitas dan menjaga kualitas buah.
Kelompok tani tersebut menerapkan inovasi budidaya melalui sistem tanam rapat, budidaya di luar musim, serta penggunaan bahan tanam dari induk unggul. Penerapan inovasi tersebut memungkinkan produksi berlangsung lebih efisien, frekuensi panen meningkat, dan kualitas buah tetap terjaga sesuai standar pasar ekspor.
Namun, faktor yang paling menentukan keberhasilan tersebut adalah keterlibatan petani muda secara aktif. Petani muda menjadi pelaku utama dalam penerapan inovasi di kelompok tani tersebut. Kemampuan belajar yang cepat serta keterbukaan terhadap teknologi mendorong proses adaptasi budidaya berlangsung lebih efektif.
Kisah KDP Sukamulya menunjukkan bahwa petani muda memiliki peran strategis dalam keberlanjutan agribisnis mangga gedong gincu. Petani muda memiliki keunggulan dalam penguasaan teknologi digital, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, serta kemampuan mengidentifikasi peluang pengembangan usaha bernilai tambah.
Untuk meningkatkan keterlibatan petani muda dalam sektor pertanian, terdapat empat strategi utama yang dapat diterapkan secara terpadu.
Strategi pertama adalah modernisasi budidaya. Petani muda perlu didorong untuk menerapkan teknologi budidaya seperti High Density Planting (HDP), budidaya di luar musim (off season), perbanyakan vegetatif melalui okulasi dari varietas unggul, serta penggunaan sistem irigasi tetes. Penerapan teknologi tersebut terbukti mampu meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas buah, dan meningkatkan efisiensi usaha tani.
Strategi kedua adalah penguatan koperasi dan akses pasar. Koperasi petani harus dikelola secara profesional agar mampu menjadi pembeli tetap yang menjamin stabilitas harga.
Koperasi yang kuat juga dapat membantu petani memahami standar mutu ekspor, memanfaatkan platform digital untuk pemasaran, serta menelusuri asal-usul buah agar lebih dipercaya oleh pembeli luar negeri. Dengan adanya kepastian ekonomi seperti ini, petani muda akan merasa lebih aman sebelum memutuskan terjun menjadi petani.
Strategi ketiga adalah kolaborasi multipihak. Pemerintah bertugas menyediakan lahan, kebijakan yang mendukung, dan infrastruktur yang memadai. Sektor swasta berkontribusi dalam penyediaan teknologi modern dan akses ke pasar yang lebih luas. Akademisi memberikan pelatihan, pendampingan, dan penelitian terapan yang langsung bermanfaat di lapangan.
Kunjungan ke kelompok tani sukses, program magang, sekolah lapang, dan inkubator agribisnis perlu ditingkatkan pelaksanaannya. Kemitraan yang adil dan berkelanjutan antara ketiga pihak ini akan mempercepat adopsi inovasi oleh petani muda.
Strategi keempat adalah penumbuhan minat melalui kewirausahaan. Diversifikasi usaha seperti wisata kebun dan pengolahan mangga yang bentuknya kurang sempurna menjadi sirup, dodol, atau keripik dapat menjadi kegiatan awal yang menarik minat petani muda.
Petani muda dapat memulai dari sektor hilir terlebih dahulu, tanpa harus langsung turun ke kebun. Cara ini tidak hanya mengurangi kerugian akibat buah yang tidak layak ekspor, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang lebih sesuai dengan minat dan keterampilan petani muda.
Berdasarkan uraian tersebut, masa depan mangga gedong gincu tidak ditentukan oleh luas kebun atau besarnya volume ekspor semata. Masa depan komoditas ini ditentukan oleh satu hal yang jauh lebih mendasar, yaitu keberlanjutan pengelolaan kebun pada masa kini dan masa mendatang.
Jika generasi muda terus absen dari sektor pertanian, keunggulan komoditas ini perlahan akan hilang. Petani akan semakin tua, inovasi akan mandek, kualitas produk sulit ditingkatkan, dan pada gilirannya pasar ekspor dapat beralih ke negara lain.
Sebaliknya, jika petani muda diberi ruang yang cukup, dilatih dengan baik dan didanai secara memadai, mereka dapat menjadi penggerak utama perubahan. Mereka dapat membawa teknologi, inovasi baru, dan motivasi yang selama ini masih terbatas dalam sektor pertanian. Dengan demikian, mangga gedong gincu tidak hanya akan bertahan, tetapi juga dapat menjadi simbol kebangkitan pertanian Indonesia yang berkelanjutan.
Berdasarkan pembahasan tersebut, masa depan mangga bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Langkah awal dapat dimulai dari desa dan kelompok tani, karena nasib mangga gedong gincu pada akhirnya berada di tangan petani mudanya.
Penulis:
- Aventus Purnama Dep (H3501251010)
- Awara Al Gafar (H3501251007)
- Bagus Apriano Nur Sukma (H3401221023)
- M Taufiq Rizqi Nursyamsyi (H3401221005)
Mahasiswa Agribisnis, IPB University
Dosen Pengampu:
- Dr. Nia Rosiana, SP., M.Si
- Dr. Annisa Dwi Utami, SE., M.Sc
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













