Karya sastra merupakan bentuk ungkapan hati manusia yang dituangkan dalam tulisan sehingga bisa dinikmati oleh orang lain. Karya sastra juga sering dianggap sebagai replika kehidupan karena di dalamnya menggambarkan kehidupan manusia seperti konflik politik, keharmonisan keluarga, percintaan, sejarah dan lain sebagainya.
Karya sastra memiliki banyak jenis diantaranya puisi, prosa, dan drama. Di dalam prosa ada banyak bentuk karya sastra yang dapat dinikmati pembaca salah satunya adalah novel. Novel merupakan bentuk karya sastra yang menceritakan kehidupan dengan menonjolkan watak dan sifat pada tokoh.
Banyak orang yang lebih menyukai novel dari karya sastra lainnya dengan alasan novel bisa menjadi tempat hiburan ketika lelah. Melalui novel, pembaca diajak untuk menyelami alur cerita yang mampu memunculkan berbagai emosi, mulai dari kesedihan, kebahagiaan, hingga tawa.
Novel Cantik Itu Luka merupakan bentuk karya sastra yang menceritakan kehidupan masyarakat dan sejarah pada masa penjajahan. Novel ini ditulis oleh Eka Kurniawan seorang penulis Indonesia yang lahir di Tasikmalaya pada tanggal 28 November 1975.
Dengan judul novel yang sangat menarik bagi kalangan perempuan ternyata novel ini tidak hanya menceritakan sebuah kisah romantis saja, namun juga dibalut dengan kesedihan, kekerasan, humoris, dan juga mistis. Cantik Itu Luka menghadirkan cerita menarik karena terdapat banyak tokoh yang memiliki perbedaan latar belakang sosial mulai dari agama, ras, dan garis keturunan.
Novel ini mengangkat isu kolonialisme, kekerasan, patriarki, identitas perempuan, hingga perjalanan sejarah Indonesia. Eka Kurniawan menulis novel ini dengan tokoh utama Dewi Ayu beserta generasi keturunanya yang menjadi simbol luka, kekerasan, dan kekuatan bertahan dalam masyarakat yang patriarki.
Baca juga: Budaya Patriarki dan Ketakutan Psikologis Generasi Z untuk Menunda Pernikahan
Mengkaji Cantik Itu Luka secara mendalam menjadi penting karena novel ini tidak hanya menarik tetapi juga menunjukkan realitas sosial yang digambarkan melalui imajinasi penulis dengan kalimat-kalimat yang indah. Tulisan ini juga mengandung pesan yang dapat merubah cara berpikir terutama untuk para perempuan.
Tidak hanya merubah cara berpikir, tetapi juga memberikan pemahaman tentang wujud sikap patriarki yang ditampilkan dalam alur, sehingga menimbulkan rasa heran dan memunculkan banya pertanyaan di hati pembaca. Oleh karena itu, kajian ini diharapkan dapat memberi pemahaman yang lebih mendalam tentang makna Cantik Itu Luka sebagai salah satu karya sastra Indonesia yang memiliki nilai dan kritik sosial yang kuat.
Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan menceritakan Dewi Ayu sebagai tokoh utama yang merupakan gadis keturunan Belanda. Dewi ayu memiliki paras cantik sehingga banyak lelaki yang ingin bersamanya, namun sayang dirinya hanya dijadikan sebagai pemuas nafsu laki-laki pada masa penjajahan Jepang ke Indonesia.
Ia dipaksa menjadi wanita malam setelah dikurung dalam tahanan yang sangat menyedihkan bersama keturunan Belanda lainnya. Dewi Ayu diincar oleh banyak lelaki untuk dijadikan istri namun tidak satu pun ia terima. Ia hidup dengan ketiga buah hatinya, meski garis keturunan mereka masih menjadi misteri. Anaknya bernama Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi yang persis seperti ibunya memiliki paras cantik hingga tidak ada yang mampu menyaingi.
Ketiga anak Dewi Ayu menjalani kehidupan dengan sesuka hatinya, karena sang ibu tak pernah melarang apapun, hanya saja ia takut jika nasib anaknya sama persis dengannya. Setelah anaknya tumbuh dewasa dan memiliki pasangan masing-masing, Dewi Ayu mencuri perhatian orang banyak karena ia hamil anak keempat dengan ayah yang masih belum terungkap.
Selama masa kehamilan Dewi Ayu berdoa kepada Tuhan bahwa ia ingin anak yang buruk rupa bahkan seburuk-buruknya. Ketika anak itu lahir diberi nama Si Cantik karena Dewi Ayu percaya bahwa anaknya pasti berparas cantik.
Namun, hal ini sangat berbanding balik karena Si Cantik memiliki paras yang sangat buruk seperti apa yang Dewi Ayu minta kepada Tuhan. Setelah melahirkan dan memberi nama anak terakhirnya, ia meninggal dan bangkit kembali ketika usia kematiannya 21 tahun. Ia terkejut ketika melihat anaknya ternyata memang buruk rupa seperti yang diharapkan kala itu.
Paras buruk yang dimiliki Si Cantik membuat para lelaki ingin mendekatinya dengan tujuan menyakiti karena dulu lelaki itu tak pernah mendapatakan ibunya, Dewi Ayu. Dewi Ayu merasa sakit dengan apa yang dilakukan orang-orang terhadap anaknya sehingga ia berusaha untuk melindungi.
Ia menyadari bahwa kebencian masa lalu tidak hanya ditujukan padanya, tetapi kini diwariskan pada putrinya, sehingga ia bertekad untuk menjaga Si Cantik dari perlakuan kejam. Setelah lama menahan rasa sakit, Si Cantik akhirnya meninggal karena rasa trauma yang dimiliki. Dewi Ayu pun kembali meninggal dengan tenang karena merasa kutukan pada dirinya telah hilang dan berakhir pula penderitaan keluarganya itu.
Dalam Cantik Itu Luka, bentuk pendekatan karya sastra yang paling menonjol adalah pendekatan feminisme atau gender. Setiap babnya selalu menampilkan perempuan sebagai objek utama yang menjadi korban kekerasan oleh laki-laki.
Penulis menggambarkan bagaimana kekuasaan laki-laki yang bekerja secara agresif atas tubuh dan kehidupan perempuan, seperti kekerasan, pemaksaan, pemerkosaan, hingga trauma yang diwariskan sampai ke generasi selanjutnya.
Novel ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya sebagai korban kekerasan individual, tetapi juga sebagai alat balas dendam sekaligus alat pemuas dari banyaknya pikiran negatif yang ada di otak para laki-laki. Luka yang dialami oleh tokoh perempuan dalam novel bukan sekadar tragedi personal melainkan cerminan dari budaya patriarki yang turun-temurun dalam masyarakat.
Melalui pendekatan feminisme, tokoh perempuan tidak digambarkan sebagai sosok yang lemah, melainkan sosok kuat yang berani mencoba untuk tetap mempertahankan martabatnya dan melindungi anak-anaknya agar tidak menjadi korban dari kekerasan dan penindasan yang sama. Namun, usaha tersebut tidak selalu membuahkan hasil karena masih banyak laki-laki yang menggenggam kencang sikap patriarki terhadap perempuan.
Usaha perempuan untuk melawan keadaan yang sangat parah ini selalu terhambat oleh struktur sosial yang dari dulu berpihak pada laki-laki. Dalam cantik itu luka, kekuatan perempuan tidak sepenuhnya mampu menahan patriarki yang terjadi, sehingga luka lama kembali muncul dalam kehidupan anak-anak Dewi Ayu.
Hal ini memperlihatkan bahwa pada masa itu tidak ada yang peduli dengan perempuan karena menganggap perempuan sebagai makhluk paling rendah dan bekerja untuk kebutuhan laki-laki.
Terdapat banyak adegan yang dibuat oleh Eka Kurniawan untuk menggambarkan kekuasaan serta tindakan asusila yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan. Salah satunya ketika Dewi Ayu dan keturunan Belanda lainnya dikurung dalam kamp pengungsian oleh penjajah Jepang, mereka semua tidak membawa harta sedikitpun dan tidak diberi makan layaknya manusia.
Salah satu dari mereka yang merupakan seorang ibu dengan dua anak mengalami sakit parah sehingga membutuhkan obat dan dokter, agar kesehatannya lekas membaik. Dewi Ayu memerintahkan Ola (anak wanita tua yang sedang sakit) untuk meminta obat dan dokter pada komandan Jepang yang menjaga tempat itu.
Komandan bersedia untuk mendatangkan dokter, tetapi ia memberikan syarat yang keji dan permintaan itu hanya dikabulkan jika mereka membayarnya dengan tubuh mereka. Dari adegan inilah pembaca mulai melihat bahwa kekejaman tersebut hanyalah satu bagian kecil dari lingkaran kekerasan yang jauh lebih besar.
Cantik Itu Luka memberikan gambaran kenyataan pahit bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan berasal dari cara berpakaian, tingkah laku, dan cara bicara. Kekerasan terhadap perempuan terjadi karena pemikiran dan nafsu laki-laki terhadap apa yang dilihat serta orang di sekeliling yang menormalisasikan tindakan asusila.
Laki-laki dalam novel tidak digambarkan sebagai monster, tetapi jauh lebih mengerikan karena mereka semua menganggap kekerasan sebuah hal wajar tanpa rasa bersalah, hingga menganggap perempuan sebagai makhluk yang harus tunduk sekaligus menerima ketika tubuhnya dihancurkan.
Keadaaan ini menimbulkan kesadaran pahit bagi para perempuan bahwa dunia seolah tidak benar-benar memihak mereka, sebab suara dan keberadaan mereka terus diremehkan oleh kaum laki-laki.
Melalui berbagai gambaran peristiwa dalam Cantik Itu Luka, penulis tidak hanya menghadirkan kisah penderitaan perempuan, tetapi juga mengungkapkan bagaimana ketidakadilan dalam struktur sosial terus mengalir dan memberikan dampak yang menyakitkan bagi generasi selanjutnya.
Tokoh perempuan pada novel ini sengaja diciptakan dengan sikap berani dan keteguhan hati untuk bertahan di kehidupan yang keras, penuh hinaan, serta banyaknya laki-laki patriarki yang mengakar dalam masyarakat. Novel ini menegaskan bahwa kekerasan dan penindasan terhadap perempuan bukanlah persoalan individu, melainkan bagian dari pola budaya yang sejak lama dinormalisasikan.
Melalui karakter Dewi Ayu dan keempat anaknya, para pembaca diajak untuk memahami bahwa penderitaan perempuan tidak berdiri sendiri, tetapi tumbuh dari ketidakadilan sosial serta pandangan dunia yang masih menempatkan perempuan sebagai objek.
Cantik Itu Luka menjadi pengingat sekaligus penyemangat bagi perempuan untuk selalu menjaga diri dari berbagai bentuk kekerasan. Tidak hanya menjadi penyemangat, novel ini juga membantu menyuarakan kepada dunia bahwa perempuan bukanlah makhluk lemah, melainkan manusia yang setara dengan laki-laki dan memiliki hak untuk memperoleh kebebasan serta ruang aman dalam perjalanan hidupnya.
Cover novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan:
Penulis: Dwi Regita Rizain
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, UIN KH. Abdurrahman Wahid
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












