New Normal di Indonesia Dituding Mirip dengan Herd Immunity?

herd immunity
Foto: discovermagazine.com

Oleh: Yulia Dwi Rahmawati
Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya

PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang saat ini diterapkan di beberapa wilayah di Indonesia, yang ditujukan guna menghentikan penyebaran virus Covid-19. Namun hingga hari ini kurva penyebaran Covid-19 masih terus meningkat, masih belum adanya tanda penurunan kurva membuat pemerintah merencanakan adanya tatanan kehidupan baru “New normal” dengan mempertimbangkan angka dan kurva penularan Covid-19.

New normal merupakan perilaku yang nantinya kan dilakukan ketika aktivitas sudah berjalan seperti biasanya, dimana fasilitas publik seperti perkantoran, mall, industri, sekolah dan lain sebagainya akan dibuka kembali. Namun yang menjadi perbedaan atau hal penting dari new normal adalah bagaimana perilaku kita saat beraktivitas di luar ruangan, khususnya pada saat di ruang publik. Penggunaan masker, jaga jarak dan cuci tangan serta menjaga kebersihan adalah kunci sukses berjalannya new normal yang dapat menghentikan penyebaran virus corona ini.

Menurut Achmad Yurianto Juru Bicara Pemerintah, dalam jumpa pers daring pada kamis (28/05) menjelaskan bahwa, “kenormalan baru adalah cara yang paling tepat dan seluruh dunia melakukan cara seperti ini. Seharusnya kenormalan baru adalah gaya hidup, perilaku dan kebutuhan kita yang tak harus ditekan-tekan, disuruh-suruh, diperintah-perintah oleh institusi apapun termasuk pemerintah.”

“Pada saat kita melakukan aktivitas luar rumah, ketika kembali ke rumah, cuci tangan, mandi bila diperlukan, ganti baju dengan yang bersih. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang harus kita tanamkan. Inilah yang kita sebut kenormalan yang baru.” jelas Yurianto.

Munculnya new normal ini juga membuat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa new normal mirip dengan herd immunity. Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Berry Juliandi menilai, kebijakan new normal yang akan diterapkan pemerintah itu serupa dengan konsep herd immunity. Dia mengatakan bahwa Kebijakan new normal nampaknya memang dapat diinterprestasikan oleh berbagai kalangan sebagai bentuk pilihan pemerintah untuk mencoba melawan Virus Corona sambil berusaha hidup berdampingan dengannya. Mirip dengan konsep herd immunity.

Herd immunity merupakan kondisi saat sejumlah orang dalam populasi punya daya imun yang sangat baik sehingga tahan penyakit, namun bagi orang atau populasi yang tidak memiliki kekebalan dan daya imun yang baik maka akan gugur. Missal Jika penduduk Indonesia dianggap sebanyak 270 juta, maka paling sedikit 189 juta harus terinfeksi untuk mendapatkan herd immunity. Selanjutnya, dari angka itu kemungkinan orang meninggal bisa mencapai angka satu juta orang.

Sehingga penerapan konsep herd immunity mendapat kritikan keras dari para ahli kesehatan karena bisa menimbulkan banyak kematian dalam proses mencapai kekebalan tersebut. Istilah Herd Immunity mulai tidak asing di telinga publik sesudah adanya pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh Sars coV-2 yang melanda Indonesia dan sebagian besar negara di dunia. Salah satu negara yang diduga telah menerapkan herd immunity ini adalah Swedia. Karena diketahui Swedia tidak menerapkan lockdown sama sekali. WHO sendiri telah mengecam negara-negara yang menerapkan herd immunity, dan direktur eksekutif WHO, Mike Ryan menjelaskan bahwa sebuah negara tak boleh menerapkan kebijakan longgar dan berpikir bahwa Covid-19 bakal hilang begitu saja ketika populasinya mencapai kekebalan.

Maka dari itu Presiden Jokowi menekankan agar masyarakat siap dalam menghadapi era normal baru Virus Corona. Kehidupan era normal baru yakni berdamai dengan Covid-19. Pemerintah juga mengharapkan masyarakat dapat menjadikan protokol kenormalan baru atau new normal ini sebagai gaya hidup, bukan suatu hal yang perlu diperintah-perintah oleh pemerintah. Dengan begini masyarakat dapat beradaptasi dan berdampingan dengan virus corona dengan tatanan kehidupan new normal.

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI