Oreo Supreme dan Kapitalisme

Oreo Supreme
Foto: majalahisma.com

Oleh: Yusrawati 
Mahasiswa Prodi Sosiologi FIS Universitas Negeri Makassar

Biskuit Sultan, mungkin itu istilah yang tepat untuk menyebut camilan yang satu ini. Di tengah pandemi Covid 19 saat ini, media sosial ramai membicarakan keluaran terbaru brand fashion ternama di dunia, Supreme yang bekerjasama dengan biskuit ternama, Oreo.  Berbeda dengan tampilan Oreo sebelumnya, Oreo Supreme hadir dengan warna merah menyala, paduan red velvet serta logo Supreme di depannya. Produk ini diluncurkan sejak pertengahan Februari di tengah pandemi virus corona lalu dipublikasikan melalui akun Twitter @oreocookie dan @thesupremesaint.       

Warganet menjadi heboh setelah mengetahui harga fantastis dari biskuit ini hingga akhirnya menimbulkan perbincangan. Bagaimana tidak, dengan 1 bungkus Oreo Supreme dengan isi 3 keping dihargai 500 ribu rupiah dan jika ditotal, satu kardus Supreme dibanderol dengan harga 97 juta rupiah di Indonesia . Di laman Instagram Supreme mengungkap bahwa harga asli Oreo Supreme adalah 3 dollar per -bungkus atau setara dengan 44.889 rupiah. Sejak pandemi corona supreme menutup ritel tokonya di AS, Inggris, dan Perancis kemudian penjualannya dilakukan secara online di situs e-Commerce terbesar dunia. Oreo Supreme dijual hingga 18.000 dolar AS atau setara dengan 269 juta. Keberadaan Oreo Supreme ini tentu tak lepas dari sistem kapitalisme.

Bagaimana jika kita menelisik lebih jauh tentang produk brand terkenal ini? Sebenarnya mengapa orang sampai rela merogoh koceknya yang tak sedikit untuk membeli biskuit tersebut?  Menurut ungkapan pakar sosiologi sendiri Oreo Supreme dianggap sebagai simbol nilai gengsi. Sosiolog asal Universitas Sebelas Maret  (UNS) Solo Drajat Tri Kartono mengatakan sebenarnya kolaborasi dengan Oreo tidak ditempatkan pada fungsi makanan tetapi karena image dan reputasi. “Jadi kalau saya makan itu, maka saya akan mendapatkan penghargaan, saya diakui sebagai bagian dari budaya populer dan budaya yang waktu itu lagi tren”, ungkapnya.

Ia menyebut itu dalam ilmu sosiologi sebagai modal simbolik. Derajat menilai adanya media sosial mendukung booming-nya produk itu. Orang rela merogoh kocek yang tak sedikit menurutnya karena itu merupakan karakter masyarakat yang konsumtif. Dalam teori konsumtif memang itu rekayasa kapitalis ada kecenderungan untuk memproduksi sesuatu secara massal demi mendapat keuntungan yang besar (surya.co.id).

Alasan status sosial pun menurut penulis turut menjadi faktor, orang sengaja membeli demi mendapat label dari masyarakat sebagai orang yang berasal dari kalangan strata sosial yang lebih tinggi dan biskuit ini bukan tak mungkin bisa membuat perilaku individu dalam organisasi/masyarakat menjadi hedon dan konsumtif. Sejak virus Covid-19 mewabah di seluruh dunia, kapitalisme menjadi berantakan dengan adanya penerapan social disancing. Para pemilik modal kewalahan. Keadaan kapitalisme seolah diterpa ejekan dan ditertawai oleh dunia karena ketidakberdayaannya. Hadirnya Oreo Supreme ini pun termasuk salah satu taktik untuk menutupi kelumpuhan ekonomi yang terjadi di berbagai negara karena virus covid 19. Jelas, kapitalisme selalu mencari jalan untuk bergerak.                    

Trend Biskuit rasa sultan di indonesia merupakan bukti kuatnya kapitalisme, khususnya di Indonesia yang merupakan penganut ideologi kapitalis. Adanya sistem ekonomi kapitalisme memberikan peluang dan kesempatan pada individu untuk sebebas-bebasnya melakukan aktivitas perekonomian dengan sistemnya yang hanya mementingkan keuntungan sendiri.

Masuknya perusahaan asing ke dalam negeri bukan menjadi hal baru lagi. Kapitalisme memudahkan perusahaan asing dengan dalih ingin memperbaiki dunia, kaum borjouis justru mencari celah untuk mendapat keuntungannya. Negara penganut ideologi ini sendiri telah dikuasai oleh kapitalis, negara sudah seperti sales saja saat mempromosikan bisnis-bisnis ekonomi ini yang justru secara perlahan menggerogoti kekayaannya sendiri. Negara seolah tak berdaya dengan sistem yang dianutnya sendiri dan membuat rakyatnya sengsara.

Sejak merebaknya pandemi Covid-19, aktivitas perekonomian masyarakat terganggu sehingga membuat mereka kehilangan pekerjaan, kebutuhan sandang dan pangan mereka. Namun di satu sisi lapisan kelas ekonomi atas, orang sampai rela membeli makanan mewah dengan harga selangit hanya karena alasan prestise semata. Lalu dapatkah kita memikirkan kondisi masyarakat kelas bawah saat ini yang begitu miris, membeli beras saja susah apalagi camilan. Bahkan ada kasus masyarakat meregang nyawa karena kelaparan. Kita kerap kali menyerukan kata untuk melawan kapitalisme, namun contohnya dapatkah kita melihat barang-barang yang kita pakai seperti baju, tas, sepatu bermerek brand fashion terkenal padahal sebenarnya itu adalah produk-produk kapitalisme.

Dampak kapitalisme saat ini makin nampak nyata saja, kekayaan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang atau perusahaaan tertentu saja, pengangguran meningkat dan negara yang kehilangan sumber pendapatannya sendiri karEna kapitalisme yang terus menerus menghisap dan mengambil alih kekayaan negeri. Alih-alih  negara yang seharusnya dapat memberikan kesejahteraan masyarakat tapi demi keuntungan sendiri malah melindungi status kaum borjuis melalui hak kepemilikan di mana pemilik modal paling banyak dialah yang berkuasa dan orang yang tak memiliki modal (kaum proletar) harus bekerja pada pemilik modal. Menurut teori konflik Karl Marx, hal ini pun dapat membuat konflik dalam kelompok masyarakat. Menurutnya, dalam konteks ini memang hukum dan pemerintah lebih banyak berpihak pada kaum borjouis dibanding kaum proletar.

Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? Dengan munculnya produk sultan ini jelas akan membawa dampak negatif pada masyarakat dan membawa mereka pada kejahilan dan tanpa disadari mulai dari penumpukan harta hingga sifat individualisme seseorang yang berlebihan. Simbol modal gengsi, memperlihatkan bahwa orang yang membeli produk itu salah satunya memiliki tujuan untuk mendapat pelabelan yang baik di masyarakat untuk dinilai memiliki material yang banyak. Dalam islam perilaku ini merujuk kepada perilaku riya’ dimana orang sengaja ingin memamerkan hal mewah demi mendapat penilaian dari masyarakat memiliki strata sosial yang tinggi. Riya itu perbuatan sombong dan merupakan penyakit hati dan dalam islam riya’ termasuk ke dalam syirik kecil yang hukumnya haram dalam Islam.

Jika melihat dari kaca mata Islam untuk melawan kapitalisme, Islam mewajibkan umat muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah maupun zakat maal jika sudah memenuhi haul dan nasqobnya, karena zakat mampu mengurangi gap antara orang kaya dan orang miskin, sehingga tidak ada yang merasakan kekurangan dan pemerataan ekonomi dapat dirasakan. Selain itu melawan kapitalisme juga dapat dilakukan dengan cara berinfak di jalan Allah (bersedekah) dan meminjamkan Allah dengan pinjaman yang baik, maksudnya adalah merelakan harta untuk menegakkan agama Allah, kelak Allah akan mengganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik dan pahala yang berlipat lipat. (www.kompasiana.com). Pun, sudah seharusnya kita melawan kapitalisme dengan cara mencintai produk dalam negeri. Produk dalam negeri secara tidak langsung sebenarnya akan membuat pertumbuhan ekonomi menjadi cepat karena kegiatan produksi perusahaan meningkat akhirnya akan berimbas pada pengurangan jumlah pengangguran. Namun, entah sampai kapan ideologi penyengsara ini akan diterapkan, rakyat pun harus dijadikan tumbal untuk itu.

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI