Pengaruh Perkembangan AI dalam Perekonomian

Kecerdasan Buatan
Ilustrasi Artificial Intelligence. (Source: Pixabay.com)

Artificial Intelligence (AI) adalah sebuah inovasi teknologi paling revolusioner yang telah mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan kita, termasuk perekonomian. Teknologi AI berkembang, dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi digital.

Pada pandemic Covid-19, teknologi digital menjadi sesuatu yang menyokong juga. Sebab, dengan adanya pembatasan interaksi dan aktifitas fisik, maka layanan digital menjadi tulang punggung bagi berbagai kegiatan produktif masyarakat salah satunya dalam sektor usaha.

Kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu alat paling inovatif dan kuat untuk manfaatnya yang efektif saat ini. AI merupakan kemajuan teknologi yang setara dengan kecerdasan manusia dan dapat dipercaya hasilnya.

Munculnya teknologi AI ini memiliki potensi untuk merevolusi ekonomi, mengubah cara kita bekerja, hidup, dan berbisnis.Penggunaan teknologi AI dapat memunculkan peluang dalam pengembangan bisnis dan penggunanya dapat menjelajahi lebih banyak pasar untuk layanan dan produk mereka.

Dalam hal ini adanya teknologi AI memberikan banyak manfaat dalam memenuhi tujuan ekonomi. Selain tujuan ekonomi tersebut tercapai, AI juga bisa mempermudah kegiatan ekonomi. Namun, dibalik kecanggihan teknologi AI ini pasti ada kelebihan serta kekurangan dalam perekonomian.

Adapun kelebihan dan kekurangan penggunaan AI dalam kegiatan perekonomian. Kelebihan penggunaan AI dalam kegiatan perekonomian yaitu; (a) Peningkatan Efisiensi dan Produktifitas; (b) Analisis Data Tingkat Lanjut; (c) Otomatisasi;(d) Personalisasi yang ditingkatkan; dan (e) Inovasi-Inovasi Baru.

Penggunaan AI dalam perekonomian juga ada kekurangan karena AI merupakan sistem. Kekurangannya yaitu; (1) Berdampak pada Pengangguran; (2) Resiko keamanan dan privasi; (3) Bias dan ketidakakuratan; (4) Membuat manusia malas dan tidak kreatif; dan (5) Tidak bisa sepenuhnya meniru manusia.

Untuk memaksimalkan penggunaan AI dalam perekonmian, kita harus meningkatkan SDM (sumber daya manusia) yang tidak gagap teknologi dan mengerti akan dunia IT. Karena, jika manusianya tidak bisa mengoperasikan AI, kelebihan yang ada pada teknologi ini tidak akan berjalan secara maksimal.

Penggunaan AI jika tidak berada pada tangan yang tepat justru akan menimbulkan hal negative karena bisa disalahgunakan, dan dapat merugikan orang lain.

Menurut data Kementerian dan Informatika RI UMKM yang ada di Indonesia saat ini mencapai 64 juta UMKM, namun hanya sekitar 21 juta yang telah menggunakan teknologi digital dalam bisnis mereka.Artinya pelaku UMKM yang sudah go digital baru mencapai 32% dari 64 juta UMKM yng ada di Indonesia. Bahkan belum mencapai setangah dari seluruh UMKM yang ada.

Berdasarkan data di atas kita bisa tahu bahwa Masyarakat kita masih belum bisa memanfaatkan teknologi dalam pengembangan bisnis mereka.

Kendala terbesar UMKM yang ada di Indonesia merupakan keterbatasan sumber daya manusia yang kurang melek akan kemajuan teknologi dunia saat ini.

Pada tahun 2023, UMKM mampu menyumbang PDB negara yang sudah mencapai angka 61%, meningkat 0,5% dari tahun 2022. Dari data tersebut, kita tahu bahkan setengah dari PDB negara berasal dari UMKM yang di lakukan oleh Masyarakat Indonesia.

Maka dari itu, para pelaku UMKM harus di tuntun dalam Langkah-langkah untuk memanfaatkan teknologi digital. Mulai dari membuat website dengan cepat, mentransformasikan sistem pembukuan manual dengan menggunakan kasir digital, sehingga memungkinkan pelanggan untuk melakukan pembayaran elektronik.

Kesimpulan dari artikel ini yaitu, kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI ) banyak membuat perubahan dalam beberapa sektor salah satunya sektor ekonomi.

Karena, adanya teknologi ini banyak pelaku ekonomi yang terbantu untuk mengurangi pekerjaan mereka dan membuat pekerjaan itu mrnjadi lebih mudah.

Namun, hadirnya kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) ini tidak di imbangi oleh kemajuan sumber daya manusia yang ada di Indonesia.

Maka dari itu, penggunaan AI di Indonesia masih belum bisa maksimal karena sumber daya manusia di Indnesia belum sepenuhnya melek akan teknologi ini.

Pemerintah harus bisa membuat kebijakan-kebijakan agar sumber daya manusia di Indonesia meningkat untuk menghadapi Revolusi Industri 5.0 di masa depan.

Penulis: Wahyu Tri Sayogi
Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Tidar

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI