Peristiwa Gerakan Satu Oktober atau GESTOK 1965 menjadi salah satu titik penting dalam sejarah politik Indonesia. Peristiwa tersebut tidak hanya mengubah konfigurasi kekuasaan nasional, tetapi juga memengaruhi kehidupan organisasi mahasiswa dan arah gerakan mahasiswa pada tahun-tahun berikutnya.
Memahami pergerakan mahasiswa pada periode ini tidak cukup hanya dengan melihat demonstrasi yang terjadi pada 1966. Gerakan tersebut terbentuk melalui situasi politik yang telah berkembang sejak masa Demokrasi Terpimpin, ketika persaingan ideologi, ketegangan antara kelompok politik, persoalan ekonomi, dan dinamika hubungan internasional turut memengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia.
Kajian mengenai periode 1965–1966 juga perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Penelitian Wahyudi Akmaliah dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, misalnya, melihat peristiwa 1965–1966 sebagai periode yang membawa perubahan besar terhadap berbagai aspek kehidupan Indonesia.
Situasi Politik Indonesia Menjelang GESTOK 1965
Pada awal 1960-an, politik Indonesia berada dalam situasi yang sangat dinamis. Presiden Soekarno menjalankan Demokrasi Terpimpin, sementara kekuatan politik seperti militer, PKI, dan berbagai partai serta organisasi masyarakat memiliki kepentingan dan basis dukungan masing-masing.
Situasi tersebut juga tidak dapat dipisahkan dari konteks Perang Dingin. Indonesia menjalankan politik luar negeri yang tidak secara formal bergabung dengan Blok Barat maupun Blok Timur, tetapi hubungan politik dan ekonomi dengan berbagai negara pada kedua kutub tersebut tetap memengaruhi dinamika politik dalam negeri.
Pemerintah Indonesia pada periode tersebut juga menghadapi persoalan ekonomi dan politik yang semakin berat. Ketegangan meningkat menjelang dan setelah peristiwa 30 September 1965. Dalam kondisi seperti itu, kelompok mahasiswa mulai memainkan peranan yang semakin penting sebagai salah satu kekuatan sosial yang menyuarakan kritik terhadap pemerintah.
Namun, gerakan mahasiswa pada saat itu tidak merupakan satu kelompok yang homogen. Di dalamnya terdapat berbagai organisasi dengan latar belakang ideologi, agama, dan kedekatan politik yang berbeda.
Beragam Organisasi Mahasiswa pada 1960-an
Gerakan mahasiswa Indonesia pada masa itu dapat dibedakan secara umum menjadi gerakan intra kampus dan ekstra kampus.
Di lingkungan kampus terdapat organisasi seperti Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa. Sementara di luar kampus berkembang berbagai organisasi mahasiswa seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Mahasiswa Pancasila (Mapantjas), dan organisasi lainnya.
Hubungan organisasi-organisasi tersebut dengan kekuatan politik juga beragam. Sebagian memiliki kedekatan ideologis atau organisatoris dengan partai politik tertentu, sedangkan sebagian lainnya memiliki posisi yang lebih independen.
Karena itu, gerakan mahasiswa pada periode tersebut tidak tepat dipahami sebagai satu kekuatan politik yang memiliki pandangan seragam. Perbedaan orientasi tersebut justru menjadi salah satu faktor yang membuat hubungan antarkelompok mahasiswa sangat dinamis.
Bagi pembaca yang ingin memahami perkembangan organisasi mahasiswa hingga bentuknya pada masa kini, pembahasan mengenai organisasi mahasiswa, struktur, sejarah gerakan, dan perjuangannya dapat menjadi konteks tambahan.
GESTOK dan Perubahan Konstelasi Gerakan Mahasiswa
Peristiwa 1 Oktober 1965 atau GESTOK terjadi dalam situasi politik yang sudah sangat tegang. Setelah peristiwa tersebut, posisi berbagai organisasi politik dan kemasyarakatan mengalami perubahan.
Kelompok-kelompok yang sebelumnya berada dalam posisi berseberangan dengan PKI mendapatkan momentum politik baru. Sebaliknya, organisasi yang memiliki kedekatan dengan PKI menghadapi tekanan yang semakin besar.
Perubahan tersebut juga dirasakan oleh organisasi mahasiswa.
CGMI, yang memiliki hubungan dengan PKI, berada dalam posisi yang semakin sulit. Organisasi mahasiswa lainnya yang menentang PKI kemudian semakin aktif menyuarakan sikap politik mereka.
GMNI juga menghadapi persoalan internal karena perubahan politik nasional turut memengaruhi hubungan organisasi tersebut dengan kelompok-kelompok politik yang sebelumnya menjadi basis kedekatan ideologisnya.
Dengan demikian, GESTOK bukan hanya menjadi titik perubahan dalam politik nasional, tetapi juga mempercepat perubahan peta kekuatan di lingkungan gerakan mahasiswa.
Munculnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia
Ketegangan politik setelah GESTOK kemudian mendorong sejumlah organisasi mahasiswa untuk membentuk wadah aksi bersama.
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) menjadi salah satu organisasi yang sangat penting dalam perkembangan gerakan mahasiswa 1965–1966. Sumber dari Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mencatat bahwa gerakan mahasiswa yang sebelumnya banyak bergerak secara lokal kemudian berkembang menjadi aliansi yang lebih besar melalui pembentukan KAMI.
Pembentukan KAMI mempertemukan sejumlah organisasi mahasiswa yang memiliki sikap kritis terhadap perkembangan politik setelah 1965. Di antara organisasi yang terlibat terdapat HMI, PMII, PMKRI, GMKI, SOMAL, dan Mapantjas.
KAMI kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan mahasiswa yang paling menonjol dalam berbagai aksi politik pada 1966.
Perlu dicatat bahwa pembentukan KAMI tidak berarti seluruh mahasiswa Indonesia berada dalam satu barisan. Organisasi mahasiswa yang memiliki pandangan berbeda terhadap Soekarno dan PKI tetap mempertahankan posisi masing-masing.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa gerakan mahasiswa 1965–1966 merupakan arena pertemuan sekaligus persaingan berbagai gagasan politik.
Dari Krisis Politik ke TRITURA
Memasuki 1966, persoalan politik semakin berkelindan dengan persoalan ekonomi. Harga kebutuhan pokok meningkat dan kondisi kehidupan masyarakat menjadi semakin sulit.
Dalam situasi tersebut, mahasiswa mengajukan tiga tuntutan yang kemudian dikenal sebagai TRITURA atau Tri Tuntutan Rakyat.
Secara umum, tuntutan tersebut meliputi:
- pembubaran PKI;
- perombakan atau pembubaran Kabinet Dwikora;
- penurunan harga.
Sumber Direktorat Pelindungan Kebudayaan juga mencatat bahwa demonstrasi mahasiswa pada Januari 1966 berkaitan erat dengan tuntutan TRITURA dan kemudian menjadi salah satu bagian penting dari perubahan politik menuju lahirnya Orde Baru.
Aksi tersebut menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tidak hanya membawa persoalan kampus ke ruang publik. Mahasiswa mulai mengambil posisi terhadap persoalan politik dan ekonomi nasional.
Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa dalam politik juga menimbulkan perdebatan. Ada yang melihat mahasiswa sebagai kekuatan moral yang menyuarakan kepentingan masyarakat, sementara ada pula yang menilai bahwa gerakan tersebut tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari pertarungan politik elite.
Perbedaan perspektif tersebut penting dipertahankan ketika membaca sejarah gerakan mahasiswa 1966.
KAMI dan Gerakan Mahasiswa Intra Kampus
Selain KAMI, berkembang pula organisasi yang menghimpun kekuatan mahasiswa intra kampus.
Keterlibatan organisasi intra dan ekstra kampus kemudian semakin memperluas basis gerakan mahasiswa. Berbagai organisasi tersebut berinteraksi dalam situasi politik yang semakin panas.
Pada titik ini, mahasiswa tidak lagi hanya berperan sebagai kelompok yang menyampaikan kritik melalui forum kampus. Demonstrasi dan aksi massa menjadi instrumen penting untuk menyampaikan tuntutan kepada pemerintah.
Perkembangan tersebut kemudian ikut membentuk citra generasi mahasiswa 1966 sebagai salah satu kelompok sosial yang memainkan peranan penting dalam perubahan politik Indonesia.
Dalam konteks perkembangan organisasi mahasiswa, pola hubungan antara organisasi intra dan ekstra kampus juga tetap relevan untuk dipahami hingga sekarang. Struktur organisasi mahasiswa modern seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) memiliki karakter yang berbeda dengan organisasi mahasiswa pada 1960-an, tetapi sama-sama menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kepemimpinan dan menyampaikan aspirasi.
Arief Rahman Hakim dan Ketegangan Aksi Mahasiswa
Gelombang demonstrasi mahasiswa pada 1966 tidak berlangsung tanpa konflik.
Ketegangan antara demonstran dan aparat meningkat seiring semakin tajamnya pertentangan politik. Salah satu peristiwa yang kemudian menjadi simbol penting dalam sejarah gerakan mahasiswa adalah meninggalnya Arief Rahman Hakim.
Peristiwa tersebut semakin memperkuat kemarahan mahasiswa dan memperbesar tekanan politik terhadap pemerintahan Soekarno.
Namun, sejarah periode ini perlu dibaca secara hati-hati. Gerakan mahasiswa bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan perubahan kekuasaan. Perubahan tersebut berlangsung melalui interaksi berbagai faktor politik, militer, ekonomi, dan sosial yang kompleks.
Karena itu, menyebut perubahan politik 1966 semata-mata sebagai hasil gerakan mahasiswa akan menyederhanakan proses sejarah yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Perubahan Politik Setelah Maret 1966
Ketegangan politik terus meningkat hingga keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar.
Setelah itu, terjadi perubahan besar dalam konfigurasi kekuasaan. Soeharto memperoleh kewenangan yang kemudian menjadi salah satu titik penting dalam proses peralihan kekuasaan dari Soekarno.
Direktorat Pelindungan Kebudayaan mencatat bahwa demonstrasi mahasiswa dan tuntutan TRITURA menjadi bagian dari situasi politik yang berkembang menuju perubahan pemerintahan pada 1966.
Kajian akademik mengenai gerakan mahasiswa juga menunjukkan bahwa KAMI memainkan peranan penting dalam proses politik 1965–1966. Namun, hubungan antara gerakan mahasiswa, militer, partai politik, dan elite pemerintahan tetap menjadi bagian penting dalam memahami perubahan tersebut.
Dengan demikian, peran mahasiswa sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu aktor penting, bukan satu-satunya aktor dalam perubahan politik Indonesia.
Setelah Soekarno: Gerakan Mahasiswa Mulai Berubah
Setelah perubahan kekuasaan berlangsung, hubungan antara mahasiswa dan pemerintahan baru juga mengalami perubahan.
Pada awalnya, mahasiswa yang ikut mendorong perubahan politik memiliki posisi strategis. Namun, ketika pemerintahan Orde Baru mulai membangun stabilitas politik, ruang gerak mahasiswa secara bertahap mengalami perubahan.
Kondisi ini menjadi salah satu ironi sejarah gerakan mahasiswa. Kelompok mahasiswa yang sebelumnya aktif menjadi kekuatan perubahan politik kemudian harus menghadapi persoalan baru ketika pemerintahan yang lahir setelah perubahan tersebut mulai membangun sistem kekuasaan sendiri.
Kajian tentang gerakan mahasiswa 1966 juga menunjukkan bahwa hubungan mahasiswa dengan kekuatan politik merupakan persoalan yang terus diperdebatkan. Pengalaman tersebut kemudian menjadi pelajaran penting bagi gerakan mahasiswa pada periode-periode berikutnya.
Pelajaran dari Gerakan Mahasiswa 1965–1966
Ada beberapa hal yang dapat dipelajari dari sejarah gerakan mahasiswa di sekitar GESTOK 1965.
1. Gerakan mahasiswa tidak pernah benar-benar homogen
Mahasiswa memiliki latar belakang organisasi, ideologi, agama, dan kepentingan yang berbeda. Karena itu, perbedaan pandangan merupakan bagian dari sejarah gerakan mahasiswa Indonesia.
2. Gerakan sosial selalu dipengaruhi konteks politik
Gerakan mahasiswa 1965–1966 tidak muncul secara tiba-tiba. Gerakan tersebut berkembang dalam situasi politik yang telah mengalami ketegangan selama bertahun-tahun.
3. Kekuatan moral perlu dijaga
Gerakan mahasiswa memiliki posisi penting ketika mampu menyampaikan kritik secara independen. Ketika terlalu dekat dengan kepentingan kekuasaan, independensi gerakan dapat menjadi persoalan.
4. Sejarah harus dibaca secara kritis
Peristiwa 1965–1966 masih memiliki berbagai perdebatan historiografis. Karena itu, pembaca sebaiknya membandingkan berbagai sumber dan tidak menerima satu narasi sebagai satu-satunya penjelasan.
Perpustakaan Arsip Nasional Republik Indonesia, misalnya, memiliki koleksi yang berkaitan dengan sejarah gerakan mahasiswa 1966, termasuk buku Aksi-Aksi Tritura yang secara khusus membahas demonstrasi mahasiswa pada periode tersebut.
Kesimpulan
Pergerakan mahasiswa di sekitar GESTOK 1965 merupakan bagian penting dari sejarah perubahan politik Indonesia pada pertengahan 1960-an. Ketegangan politik setelah 1965 mengubah posisi berbagai organisasi mahasiswa dan mendorong terbentuknya aliansi seperti KAMI.
Gerakan tersebut kemudian berkembang melalui aksi-aksi yang membawa TRITURA sebagai tuntutan utama. Demonstrasi mahasiswa, konflik politik, persoalan ekonomi, serta perubahan hubungan antara kekuatan sipil dan militer kemudian menjadi bagian dari proses yang membawa Indonesia menuju perubahan kekuasaan pada 1966.
Namun, sejarah tersebut tidak sebaiknya dipahami secara sederhana sebagai kisah mahasiswa melawan satu kelompok politik. Gerakan mahasiswa sendiri terdiri atas berbagai organisasi dengan latar belakang dan kepentingan berbeda. Perubahan politik 1965–1966 juga merupakan hasil interaksi banyak aktor dan faktor.
Karena itu, mempelajari sejarah gerakan mahasiswa bukan hanya tentang mengingat nama KAMI, TRITURA, atau tokoh-tokoh mahasiswa. Lebih jauh, sejarah tersebut mengajarkan pentingnya memahami konteks, memeriksa sumber, membedakan fakta dengan interpretasi, serta menjaga independensi gerakan mahasiswa ketika berhadapan dengan kekuasaan.
ASLAMA NANDA RIZAL
Mahasiswa Ilmu Sejarah UGM
Wakil Komisaris Bidang Kaderisasi
Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Geografi UGM
DAFTAR BACAAN
Rum Aly, Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966. Mitos dan Dilema: Mahasiswa Dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970, Jakarta: Kata Hasta Pustaka, 2006.
Nurcholish Madjid, dan kawan-kawan, HMI Menjawab Tantangan Zaman, Jakarta: Gunung Kelabu, 1990.
Soebagijo, Perjuangan Pelajar IPI-IPPI, Jakarta: Balai Pustaka, 1987.
Sulastomo, Hari-Hari Yang Panjang 1963-1966, Jakarta: Kompas, 2000.
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














