Pergerakan Mahasiswa: Sekitar Peristiwa Gerakan Satu Oktober (GESTOK) 1965

Pergerakan mahasiswa di Indonesia periode 1960-an sangat keras, dinamis, dialektis, dan politis. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya tensi perpolitikan dalam negeri. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi perpolitikan dunia yang juga tengah terbagi menjadi dua kutub: Blok Barat dan Blok Timur. Walaupun Indonesia, India, Mesir, dan lain-lain memprakarsai Gerakan Non–Blok yang bertujuan menjadi blok sendiri tanpa bergabung dengan Blok Barat dan Blok Timur, namun Gerakan Non–Blok tersebut lebih condong ke Blok Timur. Sentimen anti-penjajahan, anti-kolonialisme dan anti-imperialisme negeri-negeri di Asia dan Afrika membuat kecondongan tersebut.

Blok Barat yang terdiri dari Amerika dan sekutunya menggencarkan paham kapitalisme dan demokrasi liberalnya ke seluruh dunia. Sementara Blok Timur yang terdiri dari Uni Soviet dan sekutunya melawan dengan menggencarkan paham Marxisme/Leninisme ke seluruh dunia. Khususnya ke negeri-negeri yang menjadi koloni negara Barat. Hal tersebut terjadi setelah Perang Dunia II yang dikenal dengan sebutan Perang Dingin. Disebut demikian sebab kedua Blok tersebut tidak berperang dengan mengangkat senjata, melainkan dengan menyebarkan pengaruh ideologi. Dampak dari Perang Dingin tersebut membuat beberapa negeri terpecah menjadi duna negara. Seperti Korea Selatan dan Korea Utara, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, Yaman Selatan dan Yaman Selatan, pembentukan Federasi Malaya yang kemudian menjadi Malaysia, dan lain-lain. Periode 1960-an menjadi klimaks dari dampak Perang Dingin tersebut. Khususnya di Indonesia.

Perpolitikan Indonesia periode 1960-an terkena dampak tersebut. Walaupun Pemerintah Indonesia bersikap tidak masuk ke dalam kedua blok tersebut. Namun pengaruh Perang Dingin sangat kuat mempengaruhi. Perpolitikan Indonesia masa tersebut bisa dikerucutkan menjadi tiga kubu.ABRI (Angakatan Bersenjata Republik Indonesia) Angkatan Darat (AD), Presiden Soekarno, dan PKI (Partai Komunis Indonesia). Tanpa bermaksud mengkerdilkan peran partai politik maupun kelompok yang lain, ketiga kubu tersebut yang paling kuat dalam perpolitikan nasional saat itu.

Bisa dibilang, di Indonesia sendiri terjadi juga Perang Dingin. ABRI-AD dianggap menjadi representasi Blok Barat, PKI dianggap sebagai representasi Blok Timur, dan Bung Karno sebagai penengah. Walaupun lebih condong ke Blok Timur.
Kelompok-kelompok yang membenci PKI dan yang tidak sepaham dengan komunisme merapat ke kubu ABRI-AD. Terutama kelompok Agama. Kebencian terhadap komunisme terjadi sebab komunisme dianggap sebagai atheisme. Ajaran yang tidak mengakui Tuhan. Komunisme juga dianggap sebagai ajaran ekstrim yang mengajarkan kekerasan hingga pembunuhan terhadap kelompok yang menentangnya. Sementara PKI menganggap kelompok ABRI-AD sebagai kaki tangan Blok Barat, sebab banyak yang sekali yang lulusan pendidikan Amerika dan Inggris. PKI menganggap ABRI-AD sebagai antek-antek kapitalis. PKI juga menganggap kelompok Agama sebagai Tuan Tanah dan pendukung Borjuasi Nasional. Secara politik, PKI menggandeng Presiden Soekarno sebagai rekan politik untuk mempertahankan diri dari rongrongan ABRI-AD dan kelompok lain yang menentangnya.

Dampak Terhadap Pergerakan Mahasiswa
Hal tersebut berdampak pada pergerakan mahasiswa.Saat itu sangat banyak gerakan mahasiswa, intra dan ekstra kampus.Gerakan mahasiswa intra kampus seperti Dewan Mahasiswa (DEMA) ataupun Senat Mahasiswa (SM). Gerakan mahasiswa ekstra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Mahasiswa Pantjasila (Mapantjas), Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Sekretariat Organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL) dan lain-lain.

Gerakan mahasiswa ekstra kampus tersebut pada masa itu beberapa menjadi onderbouw atau sayap dari partai politik. Beberapa tidak, namun memiliki kedekatan emosional dan ideologis terhadap partai politik. Seperti GMNI yang saat itu menjadi onderbouw PNI (Partai Nasional Indonesia), CGMI yang berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). PMII yang berafiliasi dengan NU (Nadhlatul Ulama), dan lain-lain. Juga Gemsos yang memiliki kedekatan emosional dan ideologis dengan PSI (Partai Sosialis Indonesia), dan HMI yang memiliki kedekatan emosional dan ideologis dengan Masyumi (Majlis Syuro Muslimin Indonesia). Kedua partai politik tersebut dibubarkan pada 1960 oleh Presiden Soekarno sebab dianggap terlibat dalam pemberontakan PRRI / PERMESTA.

Kedekatan antara gerakan mahasiswa dengan partai politik membuat konflik antar gerakan tersebut. HMI saat itu menjalin koalisi dengan gerakan-gerakan keagamaan mahasiswa seperti PMKRI dan GMKI. Sementara gerakan mahasiswa yang beraliran kiri menjalin koalisi seperti GMNI dan CGMI.Hal tersebut membuat sentiment antar gerakan mahasiswa ekstra kampus sangat kuat masa itu. GMNI dan CGMI sebagai gerakan mahasiswa yang beraliran kiri mengaku sebagai gerakan mahasiswa yang progresif-revolusioner. Mereka menganggap HMI dan lain-lain sebagai musuh revolusi atau kontra-revolusioner (kontrev). Sementara HMI dan gerakan mahasiswa keagamaan menganggap GMNI dan CGMI sebagai kaum sekuler dan komunis, bahkan ateis. Terutama terhadap CGMI.Sementara sentimen terhadap GMNI lebih bersifat politis dibanding ideologis.Sentimen terhadap GMNI terjadi sebab GMNI dianggap sebagai anak emas Presiden Soekarno dan menjadi gerakan mahasiswa paling kuat di seluruh Indonesia saat itu.

Sementara gerakan mahasiswa intra kampus seperti DEMA maupun SM ataupun kini Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) menjadi tempat bertarungnya gerakan mahasiswa ekstra kampus. Bahkan terjadi hingga kini. Sebab gerakan mahasiswa intra kampus di dalamnya terdiri dari berbagai anggota gerakan mahasiswa ekstra kampus. Terutama saat Pemilihan Raya atau Pemilihan Mahasiswa, antar gerakan mahasiswa ekstra kampus saling berebut posisi di gerakan mahasiswa intra kampus.

Pergerakan Mahasiwa Pasca GESTOK
Setelah terjadi peristiwa Gerakan 1 Oktober (Gestok), posisi GMNI dan CGMI menjadi terjepit. Terutama CGMI. Sebagai sayap PKI, CGMI diserang oleh banyak gerakan mahasiswa dan organisasi kepemudaan lainnya.Dalam buku Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966. Mitos dan Dilema: Mahasiswa Dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970 misalnya,  dijelaskan mengenai penyerangan terhadap CGMI (Rum Aly, 2006). CGMI semakin terjepit setelah terjadi penyerangan besar-besaran terhadap orang-orang yang dianggap PKI. Sementara GMNI semakin terjepit sebab semakin banyak yang menyerang Presiden Soekarno, juga menyerang GMNI. Perpecahan internal juga terjadi pada GMNI. Pecahnya PNI menjadi dua kubu yakni PNI Ali & Surachman (PNI Ali – Surachman) serta PNI Osa Maliki & Usep (PNI Osa-Usep). Hal tersebut berdampak pada GMNI yang pecah menjadi GMNI Ali – Surachman dan GMNI Osa – Usep.
PNI dan GMNI Ali – Surachman adalah kelompok yang setia terhadap Presiden Soekarno dan gagasannya mengenai NASAKOM (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Sementara PNI dan GMNI Osa – Usep keluar dari barisan Presiden Soekarno sebab dianggap telah menyimpang dan terlalu dekat dengan PKI. Kelompok ini juga mencabut gelar “Bapak Marhaenisme” dari Presiden Soekarno. GMNI Osa – Usep yang dipimpin oleh Suryadi ikut terlibat dalam kelahiran Orde Baru.

Setelah peristiwa Gestok, beberapa gerakan mahasiswa seperti HMI, PMKRI, SOMAL, dan PMII, mendesak agar PPMI (Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia) yang merupakan wadah gerakan mahasiswa ekstra kampus di masa Presiden Soekarno –yang didominasi GMNI Ali – Surachman, CGMI, Perhimi, dan Germindo- untuk mengadakan kongres terkait sikap mereka perihal Gestok. PPMI merasa terdesak hingga membuat Menteri PTIP (Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan) saat itu, Sjarif Thajeb turun tangan. Ia mengusulkan pertemuan pada 25 Oktober 1965 di rumahnya. Namun pertemuan itu tidak dihadiri oleh gerakan mahasiswa beraliran kiri. Hanya GMNI Ali – Surachman yang hadir.Pertemuan tersebut berlangsung alot.Para pemimpin gerakan mahasiswa yang hadir pada saat itu sepakat untuk membentuk wadah baru sebagai pengganti PPMI, yakni KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), dengan program utama mengganyang PKI (Rum Aly, 2006).

Menteri Sjarif Thajeb bersikukuh menolak penyudutan terhadap Presiden Soekarno.Namun mereka menolak. Akhirnya di kemudian hari, terjadi seperti penyesalannya dari Menteri Sjarif Thajeb sebab ia menjadi salah satu pelopor berdirinya KAMI yang kemudian justru menyerang Presiden Soekarno. GMNI Ali – Surachman menyatakan sikap keluar dari KAMI. Saat itulah, GMNI Osa – Usep masuk. Mereka memanfaatkan momen tersebut.KAMI secara resmi dibentuk di Bandung, 1 November 1965. Selang beberapa hari setelah KAMI Jakarta terbentuk. Pembentukkan KAMI terjadi di Margasiswa PMKRI Jalan Merdeka 9, Bandung. Presidium KAMI terdiri dari HMI, PMII, PMKRI, SOMAL, MAPANTJAS, dan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Organisasi mahasiswa intra kampus akhirnya mengikuti dengan membentuk KOMII (Kesatuan Organisasi Mahasiswa Intra-Universiter Indonesia). Pembentukan KOMII terjadi pada 24 November 1965. KOMII dipelopori oleh Dewan-dewan Mahasiswa maupun Senat-senat Mahasiswa dari 20 perguruan tinggi se-Bandung. Ketua Umum KOMII pertama adalah Rachmat Witoelar dari ITB.

Awalnya, pergerakan KAMI dan KOMII terpisah.Hal tersebut sebab keduanya tidak mau menyatu. Namun saat suasana perpolitikan dan ekonomi nasional yang semakin tegang serta carut-marut, aksi-aksi mahasiswa semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan awal bersatunya KAMI dan KOMII. Akhirnya disepakati dalam Presidium KAMI terdiri dari 4 unsur ekstra dan 4 unsur ekstra kampus. Menyatunya unsur intra dan ekstra kampus membuat aksi-aksi mahasiswa semakin tak terkendali. Pada 10 Januari 1966 terjadilah aksi besar-besaran mahasiswa seluruh Indonesia ke Jakarta. Aksi tersebut melahirkan tiga tuntutan yang dikenal sebagai TRITURA (Tri Tuntutan Rakyat), yakni: Bubarkan PKI, Retool Kabinet Dwikora, dan Turunkan harga-harga.

Setelah peristiwa “TRITURA”, kondisi dalam negeri Indonesia semakin semrawut. Terutama di kalangan mahasiswa. KAMI dan KOMII yang melakukan aksi besar-besaran tersebut membuat kelompok yang membela Presiden Soekarno –bahkan Presiden Soekarno sendiri pun- geram. Waperdam I Soebandrio kemudian mempelopori dibentuknya Barisan Soekarno. Menanggapi hal tersebut, Presiden Soekarno menyerukan untuk membentuk Barisan Soekarno. Pada 15 Februari 1966, Soebandrio mendampingi Presiden Soekarno mengadakan pertemuan terbatas dengan para pimpinan GMNI Ali – Suarchman, Germindo, MMI, dan Dewan Mahasiswa Universitas Bung Karno di Istana Merdeka. Maka terbentuklah Barisan Soekarno.

Terbentuknya Barisan Soekarno mendapat perlawanan dari KAMI. Terjadilah penyerangan kedua kubu dimana-mana. Keduanya saling bentrok. Barisan Soekarno berupaya untuk mempertahankan Presiden, sementara KAMI bersikukuh ingin menurunkan Soekarno beserta jajarannya dari kursi kepemerintahan. Terjadilah bentrokan dimana-mana. Bahkan jatuh korban jiwa. Salah satunya yang terkenal adalah Arief Rahman Hakim. TRITURA tidak dikabulkan Presiden Soekarno. Malah pada 24 Februari 1966, Presiden Soekarno melakukan reshuffle kabinet dengan memasukkan unsur PKI. KAMI pun geram. Aksi mahasiswa besar-besaran kembali terjadi. Aksi tersebut membuat kemacetan parah di Jakarta. Para demosntran berhasil masuk ke Istana Negara. Pasukan Cakrabirawa menghadang dan terjadilah penembakan terhadap Arief Rahman Hakim.

Pergerakan Mahasiswa Pasca Lengsernya Soekarno
Setelah Soekarno lengser, situasi politik di Indonesia menjadi agak tenang untuk beberapa waktu. Naiknya Soeharto yang langsung mendengungkan pembangunan, perlahan mengikis hiruk-pikuk politik. KAMI pun terkena dampaknya. Jauh-jauh hari, Soe Hok Gie telah mewanti-wanti hal ini dan menyuruh KAMI untuk instropeksi diri. Soe Hok Gie terkenal pada saat itu sebagai aktivis mahasiswa yang kritis dalam tulisannya. KAMI perlahan tenggelam bersama tenggelamnya rezim Soekarno. Pada 1966, aktivitas perkuliahan terhenti karena situasi politik yang panas. Pada 1967, perkuliahan dimuali kembali. Sejak 1967 hingga 1970, suasana kehidupan kampus menjadi lebih tenang dan lancar. Hal tersebut membuat semangat mahasiswa perlahan menurun. KAMI pun mulai ditinggalkan. KAMI juga akhirnya disusupi kepentingan partai politik. Soe Hok Gie mengkritik keras hal ini. Ia menyoroti hubungan partai politik terhadap KAMI.
Soe Hok Gie menyoroti empat kelemahan KAMI. Yakni, secara struktural KAMI adalah koalisi berbagai ormas, pimpinan KAMI tidak dipilih secara demokratis, KAMI tidak memiliki ketegasan sebagai kekuatan moral ataupun politik, dan KAMI tidak lagi dapat mencari isu yang menjadi milik bersama. Periode tersebut juga menjadi titik awal meredupnya gerakan mahasiswa ekstra kampus.Bahkan bisa dianggap hingga saat ini. Setelah 1970, terjadi apa yang disebut sebagai Back To Campus. Kegiatan dan minat terhadap organisasi intra kampus lebih terasa dibandinh ekstra kampus. Hal tersebut yang menjadi titik awal dari munculnya sekat antara intra dan ekstra kampus. Bahkan hingga kini, intra kampus dianggap lebih bergengsi dibanding ekstra kampus.

ASLAMA NANDA RIZAL
Mahasiswa Ilmu Sejarah UGM
Wakil Komisaris Bidang Kaderisasi
Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Geografi UGM

DAFTAR BACAAN
Rum Aly, Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966. Mitos dan Dilema: Mahasiswa Dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970, Jakarta: Kata Hasta Pustaka, 2006.
Nurcholish Madjid, dan kawan-kawan, HMI Menjawab Tantangan Zaman, Jakarta: Gunung Kelabu, 1990.
Soebagijo, Perjuangan Pelajar IPI-IPPI, Jakarta: Balai Pustaka, 1987.
Sulastomo, Hari-Hari Yang Panjang 1963-1966, Jakarta: Kompas, 2000.
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009.

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI