Potensi Desa Wisata Indonesia sebagai Destinasi Ekowisata: Menuju Pariwisata Berkelanjutan

ekowisata desa wisata
Ekowisata bukan hanya tren sementara, melainkan sebuah konsep nyata untuk mendukung pariwisata berkelanjutan. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Desa wisata merupakan konsep wisata menuju kawasan pedesaan untuk melihat budaya dan kekayaan alam lokal. Di Indonesia, terdapat lebih dari 27.000 desa wisata yang tersebar. Desa wisata ini dibagi ke dalam berbagai klasifikasi, mulai dari rintisan, berkembang, maju, hingga mandiri.

Awal mula desa wisata hadir bermula dari kesadaran masyarakat lokal untuk menggali potensi dan kearifan budaya yang ada di desa mereka. Potensi-potensi tersebut kemudian dikemas sedemikian rupa hingga dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Puncak kunjungan wisatawan ke desa terjadi pada masa pascapandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Kala itu, wisatawan mencari pengalaman berwisata yang minim kerumunan, bernuansa alam, dan berada di ruang terbuka. Oleh karena itu, desa wisata sangat sesuai dengan kriteria yang mereka cari.

Hingga kini, desa wisata semakin berkembang. Ragam aktivitas dan kekayaan yang ditawarkan dikemas ke dalam berbagai jenis wisata, salah satunya adalah ekowisata.

Ekowisata secara sederhana merupakan aktivitas pariwisata berbasis alam yang melibatkan wisatawan dalam upaya konservasi, baik dalam bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan maupun pemberian manfaat kepada masyarakat lokal.

Baca juga: Ekowisata sebagai Langkah Menuju Pariwisata Berkelanjutan

Dalam konteks desa wisata, pengertian tersebut sangat sejalan dengan kondisi di lapangan. Desa wisata menyediakan kegiatan yang melibatkan lingkungan alam dan sosial di sekitarnya.

Ekowisata tentu tidak sama dengan pariwisata massal (mass tourism). Dalam ekowisata, terdapat unsur edukasi bagi wisatawan melalui narasi atau pemberian pengalaman yang bermakna.

Baca juga: Problematisasi Konflik antara Warga Negara Asing dan Masyarakat Lokal dalam Dinamika Keimigrasian Global Perspektif Sosiologi Hukum

Selain itu, ada pula aspek konservasi seperti pemberdayaan budaya lokal atau menjaga kelestarian alam dengan menanam bibit pohon.

Kadang kala, banyak kegiatan yang diberi label konservasi, namun kenyataan di lapangan hanya berfokus pada keuntungan semata.

Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa ekowisata harus mendukung pariwisata berkelanjutan; penerapannya harus dilakukan secara bertanggung jawab dan bukan semata-mata demi profit.

Kegiatan yang paling sering ditemui dalam konsep ekowisata adalah trekking wisata mangrove atau bahkan pengamatan burung (birdwatching).

Pada kegiatan trekking, wisatawan diajak menghargai kekayaan alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, serta diedukasi terkait kondisi alam sekitar.

Lebih jauh lagi, konsep ekowisata yang melibatkan wisatawan dalam konservasi adalah penanaman hutan mangrove, seperti contoh nyata di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, Jakarta Utara.

Di sana, wisatawan dapat menanam bibit mangrove dan mendapatkan edukasi lingkungan.

Contoh lainnya adalah birdwatching, di mana wisatawan dapat menyaksikan burung di alam bebas tanpa mengganggu kehidupan satwa di habitat aslinya.

Baca juga: Birdwatching: Hobi Baru yang Mengasyikkan

Dengan kondisi serta kekayaan alam dan budaya yang dimiliki, Indonesia sangat berpotensi dalam mengembangkan konsep ekowisata, khususnya di kawasan desa wisata. Biasanya, desa wisata memiliki daya tarik berupa sawah terasering, pegunungan, danau, atau bahkan hutan tropis.

Agar pariwisata berjalan secara berkelanjutan, konsep ekowisata dapat diterapkan di sini. Sebagai contoh, wisatawan diberikan aktivitas menanam padi di sawah dan diedukasi terkait sistem irigasi tradisional sebagai bentuk konservasi air.

Tradisi di Indonesia juga dapat menjadi kesempatan bagi wisatawan untuk merasakan dan terlibat langsung dalam konservasi budaya. Contohnya, wisatawan menginap di rumah adat tradisional dan mengenal kehidupan masyarakat sekitar.

Melalui cara itu, kesadaran wisatawan untuk melestarikan kearifan lokal di desa dapat terbangun.

Biasanya, masyarakat lokal sangat patuh pada tata krama yang berlaku, di mana aturan tersebut merupakan bagian dari cara hidup mereka untuk menjaga keberlangsungan lingkungan hidupnya.

Di Desa Wukirsari, salah satu budaya yang menjadi identitas Indonesia, yaitu batik, dikelola sebagai produk desa yang mampu menarik kunjungan wisatawan.

Di sana, wisatawan bukan hanya membeli produk, melainkan juga terlibat secara aktif dalam proses pembuatan batik dan kehidupan budaya masyarakat lokal.

Aktivitas tersebut masuk ke dalam konsep ekowisata karena berkontribusi pada konservasi budaya; menunjukkan bahwa kain batik bukan sebatas kain yang digambar, melainkan memiliki nilai-nilai luhur di dalamnya.

Pariwisata di desa terbukti mendukung keberlangsungan hidup masyarakat lokal melalui pembukaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan warga.

Oleh karena itu, walaupun ekowisata tidak berorientasi pada keuntungan finansial semata, konsep ini tetap memberikan manfaat ekonomi nyata dan mampu memberdayakan masyarakat sekitar.

Namun, dalam praktiknya, terdapat berbagai tantangan dalam mengimplementasikan ekowisata pada desa wisata.

Tantangan tersebut antara lain keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam memberikan informasi yang edukatif kepada wisatawan, risiko terjadinya lonjakan wisatawan yang tak terkendali (overtourism) apabila pengelolaan tidak dilakukan dengan benar, serta belum optimalnya regulasi untuk melindungi lingkungan dari eksploitasi berlebih.

Baca juga: Overtourism di Bali: Ketika Kemacetan dan Kepadatan Bukan Sekedar Kisah Wisata

Untuk meminimalisir kendala dan tantangan tersebut, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak demi mewujudkan ekowisata yang terintegrasi dengan baik.

Dukungan tersebut dapat berupa kebijakan dan pelatihan dari pemerintah, pendampingan riset dari akademisi, pengelolaan lapangan yang optimal dari kelompok atau komunitas lokal, serta kesadaran wisatawan untuk menjadi tamu yang bertanggung jawab.

Bahkan di era digital ini, siapa saja dapat berkontribusi dengan membagikan narasi informatif melalui media sosial sebagai bentuk dukungan terhadap konservasi pariwisata.

Ekowisata bukan hanya tren sementara, melainkan sebuah konsep nyata untuk mendukung pariwisata berkelanjutan. Dampak dari aktivitas ini tentunya tidak hanya dirasakan oleh wisatawan dan pengelola, melainkan juga oleh alam, masyarakat, dan lingkungan sekitar.

Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk selalu menjaga keharmonisan dengan sesama manusia maupun lingkungan, baik alam, flora, maupun fauna.

Dengan adanya ekowisata, desa wisata di Indonesia diharapkan dapat mengintegrasikannya secara nyata dan baik agar dampak yang dirasakan benar-benar membawa manfaat.

Oleh karena itu, kekayaan yang ada perlu dijaga dengan strategi matang yang didukung penuh oleh seluruh pemangku kepentingan.


Penulis: Audy Putri Kikania
Mahasiswa Magister Program Studi Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia 


Dosen Pengampu: Ahmad Hudaiby Galihkusumah, S.ST., M.M.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses