Abstrak
Perkembangan teknologi dan perubahan sosial di era modern telah membawa berbagai tantangan dalam kehidupan masyarakat, seperti meningkatnya individualisme, menurunnya kepedulian sosial, maraknya perundungan di media sosial, serta berbagai persoalan kesehatan mental.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan nilai empati dan solidaritas psikososial dalam kehidupan bermasyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi hadis tentang empati dan solidaritas psikososial terhadap berbagai permasalahan sosial kontemporer.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan jenis studi pustaka (library research).
Data diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah yang membahas hadis tentang empati, ukhuwah, ta’awun, kesehatan mental, dan solidaritas sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis Nabi Muhammad SAW mengandung nilai empati, kasih sayang, tolong-menolong, dan persaudaraan yang memiliki relevansi kuat dalam menjawab tantangan sosial modern.
Nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan dalam membangun hubungan sosial yang harmonis, memperkuat kesehatan mental masyarakat, serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih peduli dan inklusif.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa aktualisasi nilai empati dan solidaritas psikososial dalam hadis sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai problem sosial kontemporer.
Kata Kunci: Hadis, Empati, Solidaritas Psikososial, Ukhuwah, Permasalahan Sosial Kontemporer.
Introduction (Pendahuluan)
Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an yang berfungsi sebagai pedoman dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan sosial antar manusia.
Dalam era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi, globalisasi, dan perubahan sosial yang cepat, relevansi ajaran Al-Qur’an dan Hadist tetap menjadi topik yang penting bagi umat Muslim.
Meskipun dunia telah mengalami banyak perubahan sejak zaman Nabi Muhammad, prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadist tetap memberikan panduan moral dan etika yang kuat bagi kehidupan sehari-hari (Agustiar & Rizadiliyawati, 2024).
Ajaran hadis tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt., tetapi juga menekankan pentingnya hubungan kemanusiaan yang dilandasi kasih sayang, empati, kepedulian, dan solidaritas sosial.
Dalam kehidupan masyarakat modern, berbagai perubahan sosial telah memengaruhi pola interaksi antar individu.
Kemajuan teknologi digital, media sosial, dan globalisasi memberikan banyak manfaat, tetapi juga memunculkan berbagai persoalan sosial seperti meningkatnya sikap individualistik, menurunnya kepedulian terhadap sesama, maraknya perundungan (cyberbullying), konflik sosial, serta gangguan kesehatan mental. Kondisi tersebut menunjukkan adanya krisis empati dan solidaritas di tengah masyarakat modern.
Empati merupakan kemampuan memahami dan merasakan keadaan emosional orang lain sehingga mendorong munculnya sikap peduli dan membantu sesama.
Dalam perspektif Islam, empati tidak hanya dipahami sebagai perasaan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Nabi Muhammad saw. memberikan teladan mengenai pentingnya empati melalui berbagai hadis yang menekankan kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Selain empati, Islam juga menekankan pentingnya solidaritas sosial melalui konsep ukhuwah dan ta’awun.
Solidaritas sosial berfungsi memperkuat integrasi masyarakat, menciptakan keharmonisan sosial, serta membantu individu menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Penelitian mengenai hadis hak-hak Muslim menunjukkan bahwa pemahaman terhadap hadis dapat memperkuat karakter empati dan solidaritas dalam kehidupan sosial (Tabriani, 2025).
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa konsep ukhuwah dalam hadis memiliki peran penting dalam membangun integrasi sosial dan mencegah konflik di masyarakat (Mukhlis, 2026).
Di sisi lain, meningkatnya masalah kesehatan mental di masyarakat modern juga menunjukkan pentingnya dukungan psikososial berbasis nilai-nilai agama.
Hadis-hadis Nabi mengajarkan pentingnya memberikan dukungan emosional, menjaga hubungan sosial yang sehat, serta membangun pandangan positif terhadap diri sendiri dan orang lain (Mukoyah & Raharusun, 2022).
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi hadis tentang empati dan solidaritas psikososial terhadap berbagai permasalahan sosial kontemporer sehingga dapat menjadi solusi moral dan sosial dalam kehidupan masyarakat modern.
Methods (Metode)
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka (library research).
Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan, mengkaji, dan menganalisis berbagai literatur yang berkaitan dengan hadis tentang empati, solidaritas sosial, ukhuwah, ta’awun, kesehatan mental, dan psikososial.
Data dan Sumber Data
Sumber Data Primer
- Jurnal tentang penguatan karakter empati dan solidaritas melalui pemahaman hadis hak-hak Muslim.
- Jurnal tentang perilaku empati dalam hadis riwayat Imam Bukhari.
- Jurnal tentang konsep ukhuwah dalam hadis Nabi.
- Jurnal tentang implementasi hadis ta’awun.
- Jurnal tentang kesehatan mental dalam perspektif hadis.
Sumber Data Sekunder
- Buku-buku hadis.
- Artikel ilmiah.
- Literatur mengenai psikologi sosial dan psikososial.
- Literatur mengenai permasalahan sosial kontemporer.
Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan studi literatur.
Selanjutnya data dianalisis menggunakan analisis deskriptif-kualitatif dengan mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan empati, solidaritas psikososial, serta relevansinya terhadap kehidupan masyarakat modern.
Results (Hasil)
Berdasarkan hasil analisis berbagai literatur dan penelitian yang relevan, ditemukan tiga temuan utama terkait relevansi hadis tentang empati dan solidaritas psikososial.
1. Konsep Empati dalam Hadis
Hadis Nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya empati sebagai salah satu karakter utama seorang Muslim.
Salah satu hadis yang paling terkenal menyatakan bahwa kaum mukmin diibaratkan seperti satu tubuh; apabila satu bagian tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan penderitaan tersebut.
Konsep empati dalam hadis mencakup tiga aspek utama, yaitu pemahaman terhadap kondisi orang lain (knowing), kemampuan merasakan penderitaan atau kebahagiaan orang lain (feeling), serta tindakan nyata untuk membantu sesama (acting) (Zulham, 2025).
Ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa empati dalam Islam tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku sosial yang nyata.
Selain itu, hadis-hadis tentang rahmah (kasih sayang) menunjukkan bahwa seorang Muslim harus memperlakukan orang lain dengan kelembutan, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
2. Konsep Solidaritas Psikososial dalam Hadis
Solidaritas psikososial dalam hadis tercermin melalui konsep ukhuwah, ta’awun, dan hak-hak sesama Muslim.
Ukhuwah merupakan bentuk persaudaraan yang dilandasi oleh iman dan diwujudkan dalam hubungan sosial yang harmonis.
Konsep ta’awun menekankan pentingnya saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan.
Nilai ini mendorong individu untuk memberikan dukungan sosial kepada orang lain yang sedang menghadapi kesulitan.
Hal ini tertuang dalam surat al-Maidah ayat 2 yang menekankan pentingnya mengadakan perkumpulan-perkumpulan (komunitas) yang baik sebab tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan sendirian (Teguh, 2022).
Dalam perspektif psikososial, solidaritas tidak hanya berbentuk bantuan material, tetapi juga dukungan emosional, motivasi, perhatian, dan pendampingan yang dapat membantu individu menghadapi tekanan psikologis maupun masalah sosial.
3. Relevansi Hadis terhadap Permasalahan Sosial Kontemporer
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai empati dan solidaritas dalam hadis memiliki relevansi yang sangat kuat terhadap berbagai permasalahan sosial kontemporer.
Pertama, meningkatnya individualisme dapat diatasi melalui penguatan nilai ukhuwah dan kepedulian sosial.
Kedua, fenomena cyberbullying dapat diminimalisasi dengan menanamkan nilai empati dan penghormatan terhadap sesama.
Ketiga, meningkatnya gangguan kesehatan mental dapat dibantu melalui dukungan psikososial yang berlandaskan kasih sayang dan solidaritas.
Dengan demikian, hadis Nabi tetap relevan sebagai sumber nilai moral yang mampu menjawab berbagai tantangan sosial modern.
Discussion (Pembahasan)
Temuan penelitian menunjukkan bahwa hadis tentang empati dan solidaritas psikososial memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi berbagai problem sosial masyarakat modern.
Nilai-nilai yang diajarkan Nabi Muhammad saw. tidak hanya relevan pada masa beliau, tetapi juga memiliki signifikansi yang kuat dalam konteks kehidupan kontemporer.
Salah satu hadist yang berkaitan dengan empati adalah:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ” (متفق عليه)
Nu’man bin Bashir melaporkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh; jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit karena tidak bisa tidur dan demam.”
Hadis tersebut menggambarkan hubungan antarsesama muslim seperti satu tubuh.
Perumpamaan ini menunjukkan pentingnya sikap empati, yaitu kemampuan untuk memahami dan merasakan penderitaan orang lain.
Seorang muslim tidak seharusnya bersikap acuh terhadap kesulitan saudaranya, melainkan turut peduli dan membantu sesuai kemampuannya.
Namun seiring perkembangan zaman, muncul berbagai permasalahan sosial seperti, sikap apatis.
Rollo May menyatakan bahwa lawan dari cinta bukanlah kebencian, melainkan apatis atau hilangnya kepedulian terhadap orang lain (Rif’an, 2021).
Oleh karena itu, hadis ini tetap relevan dalam kehidupan modern sekarang sebagai upaya menumbuhkan kembali empati dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Empati sebagai Fondasi Hubungan Sosial
Empati merupakan dasar terbentuknya hubungan sosial yang sehat.
Dalam perspektif hadis, empati tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami perasaan orang lain, tetapi juga mendorong individu untuk memberikan bantuan dan dukungan ketika orang lain mengalami kesulitan.
Pada era digital, interaksi sosial sering kali berlangsung secara virtual sehingga berpotensi mengurangi sensitivitas terhadap kondisi orang lain.
Oleh karena itu, internalisasi nilai empati yang diajarkan dalam hadis menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas hubungan sosial di masyarakat.
Solidaritas Psikososial sebagai Solusi Permasalahan Modern
Solidaritas psikososial memiliki fungsi penting dalam membangun ketahanan sosial masyarakat.
Dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga, teman, maupun komunitas dapat membantu individu menghadapi tekanan hidup, stres, dan berbagai masalah psikologis.
Hadis-hadis tentang empati dan solidaritas menunjukkan bahwa Islam mendorong terciptanya masyarakat yang saling mendukung dan membantu.
Solidaritas semacam ini menjadi kebutuhan yang semakin penting di tengah meningkatnya kasus kesehatan mental, kesepian sosial, dan konflik antar kelompok.
Aktualisasi Nilai Hadis dalam Kehidupan Kontemporer
Aktualisasi nilai empati dan solidaritas dalam hadis dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti meningkatkan kepedulian sosial, memperkuat budaya gotong royong, memberikan dukungan emosional kepada individu yang mengalami kesulitan, serta memanfaatkan media digital untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan.
Solidaritas psikososial juga bisa dilihat dalam berbagai aksi kemanusiaan internasional, seperti yang terjadi di Palestina, konflik yang berkepanjangan telah menyebabkan banyak warga Palestina kehilangan tempat tinggal, anggota keluarga, serta akses terhadap kebutuhan dasar.
Peristiwa tersebut tentunya menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat dunia dan secara tidak langsung ikut merasakan apa yang dialami oleh rakyat Palestina.
Namun keprihatinan tersebut tidak cukup hanya dengan bela sungkawa dan duka cita.
Tindakan tersebut mencerminkan nilai solidaritas yang diajarkan dalam islam, yaitu merasakan penderitaan orang lain dan berusaha membantu meringankan beban mereka.
Nilai empati juga tidak hanya diajarkan melalui hadis Rasulullah saw. saja, tetapi juga dapat ditemukan dalam kisah para nabi terdahulu.
Salah satunya dapat ditemukan dalam kisah Nabi Sulaiman a.s. yang dihadapkan pada perselisihan dua orang perempuan yang memperebutkan bayi.
Kisah Nabi Sulaiman memberikan gambaran bahwa empati dapat menjadi sarana untuk memahami kondisi orang lain secara lebih mendalam sehingga keputusan yang diambil dapat mencerminkan keadilan dan kebijaksanaan.
Selain itu, kisah ini mengajarkan betapa pentingnya bersikap bijaksana, mendengarkan berbagai pihak, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
Nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena-fenomena di atas sejalan dengan hadis nabi yang mengibaratkan kaum mukmin sebagai satu tubuh dan satu bangunan yang saling menguatkan.
Ketika satu bagian tubuh merasakan sakit, bagian tubuh yang lain turut merasakan penderitaan yang sama (dalam Labib dkk, 2024).
Oleh karena itu, korban bencana maupun krisi kemanusiaan merupakan salah satu contoh implementasi dari solidaritas psikososial.
Dengan demikian, hadis tidak hanya berfungsi sebagai sumber ajaran keagamaan, tetapi juga sebagai pedoman sosial yang mampu membangun masyarakat yang lebih harmonis, inklusif, dan berkeadaban.
Penulis:
1. Nilna Syifa’ana
2. Yurika Verania
Mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dosen Pengampu: Muhammad Firdaus, Lc., M.A., Ph.D
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
References (Daftar Pustaka)
- Alam, Zulham. (2025). Perilaku Empati dalam Hadis Riwayat Imam Bukhori Nomor 5688 (Kajian Living Hadis terhadap Nilai Empati dalam Perilaku Siswa Kelas MA Al-Kahfi Bawu). JEID Jurnal of Educational Integration and Development.
- An-Nawawi. (2012). Riyadhus Sholihin. Beirut: Darus Salam.
- An-Nawawi. (2007). Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin Al-Hajjaj (1st ed.). Daarul Ma’rifah.
- Labib, M. A. D. I., Bintara, A. R., Arif, I. S., & Setiadin, R. (2024). Nilai-nilai Sosial dalam hadis Nabi ( Studi Hadis tentang Perumpamaan Muslim sebagai Tubuh). Amerta: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 4(1), 28-34.
- Mukoyah, Raharasun S.A., (2022). Studi Kritik tentang Kesehatan Mental. Gunung Djati Conference Series. Website: https:// conferences.uinsgd.ac.id/gdcs
- Saputra, Teguh. (2022). Konsep Ta’awun dalam Al-Qur’an sebagai Penguat Tauhid dan Solidaritas Sosial (Studi Tafsir Mawdlu’iy). Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan.
- Rif’an, Rifa’i, A. (2021). Generasi Empati Menjadi Pribadi yang Selesai dengan Diri Sendiri, Cerdas Emosi, dan Tinggi Empati. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
- Rizadiliyawati, Agustiar. (2024). Relevansi Ajaran Al-Qur’an dan Hadist dalam Era Modern. Jurnal Studi Islam dan Humaniora
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












