Media sosial menjanjikan koneksi tanpa batas, tetapi realitasnya justru menunjukkan sebaliknya. Di era digital, kita paling cepat menekan tombol “kirim” untuk melontarkan hujatan, tetapi paling lambat menggerakkan hati untuk peduli. Satu kesalahan kecil dari tokoh publik langsung diserbu ribuan komentar sinis. Sebaliknya, kabar duka atau ajakan membantu korban bencana kerap tenggelam di tengah hiruk-pikuk linimasa. Ironisnya, semakin mudah kita terhubung secara virtual, semakin sulit kita hadir secara manusiawi.
Masalahnya bukan pada teknologi, melainkan pada cara kita menggunakannya. Platform media sosial memang dirancang untuk mengejar keterlibatan, dan kemarahan adalah emosi yang paling mudah memicu komentar dan berbagi. Akibatnya, ruang digital berubah menjadi tempat untuk adu cepat siapa paling lantang menghakimi. Empati yang seharusnya menjadi jembatan antarsesama tergerus menjadi reaksi instan tanpa refleksi. Kita lupa bahwa di balik setiap unggahan ada manusia dengan perasaan, bukan objek untuk dilampiaskan kekesalan.
Baca juga: Relevansi Hadis tentang Empati dan Solidaritas Psikososial terhadap Permasalahan Sosial Kontemporer
Krisis ini semakin berbahaya karena menular ke kehidupan nyata. Generasi yang terbiasa menyelesaikan konflik dengan “balas komentar” akan kesulitan berdialog secara sehat. Anak muda yang lebih dulu menghujat daripada bertanya, kelak akan menjadi warga yang apatis terhadap masalah sosial. Empati tidak bisa diwakilkan oleh emoji menangis atau status “ikut berduka.” Hal ini harus diwujudkan dalam tindakan: mendengarkan, membantu, dan bertanggung jawab. Tanpa itu, solidaritas hanya menjadi slogan kosong.
Solusinya dimulai dari pendidikan dan keteladanan. Literasi digital di sekolah tidak boleh hanya mengajarkan cara membuat konten, tetapi juga etika bermedia sosial dan pentingnya menjaga martabat orang lain. Keluarga dan komunitas perlu menunjukkan bahwa keberanian sejati bukan mengeroyok di kolom komentar, melainkan berani membantu ketika orang lain jatuh. Jika tidak, kemajuan teknologi hanya akan melahirkan masyarakat yang cerdas menggenggam ponsel, tetapi miskin rasa peduli.
Penulis: Alika Septia Nur Hazizah (251011200377)
Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














