Tawonan: Makanan Jumat Pahing Khas Muntilan

Tawonan
Ilustrasi: istockphoto

Tawonan merupakan makanan khas dari Muntilan yang terbuat dari tepung beras dan kelapa. Tawonan ini sudah ada sejak zaman dahulu. Katanya, orang jaman dulu itu membuat tawonan karena bahan baku tawonan yang mudah ditemukan, dan tidak membutuhkan biaya untuk mendapatkan bahan baku tersebut.

Hal tersebut bisa terjadi karena beras dan kelapa sangat mudah ditemukan dan sangat melimpah. Lalu orang zaman dahulu berkreasi dengan cara menjadikan beras sebagai tepung lalu dipadukan dengan kelapa dan larutan gula jawa. Lalu terciptalah tawonan, makanan manis mengeyangkan dan menyehatkan.

Saat saya bertanya kepada narasumber tentang mengapa beliau tertarik untuk membuat tawonan, beliau menjawab, “Ya ini sudah usaha turun temurun, saya hanya meneruskan dari orangtua saya.”

Sekarang Tawonan sudah jarang dijumpai karena yang bisa membuat tawonan biasanya hanya sesepuh desa. Seperti halnya di tempat saya, tawonan bisa dijumpai ketika Jumat Pahing. Di desa saya, lebih tepatnya di Desa Kramat terdapat sebuah pasar tradisional. Pasar ini sudah ada sekitar 45 tahun yang lalu.

Pasar ini ada setiap selapan dino sekali atau sekitar 36 hari sekali. Di dalam pasar ini terdapat berbagai macam makanan tradisional, salah satunya adalah tawonan. Kebanyakan orang yang membeli tawonan adalah orang-orang usia menengah ke atas.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa anak remaja lebih suka makanan jaman sekarang dibanding makanan zaman dahulu. Padahal rasa tawonan itu enak, namun kurang terkenal di kalangan remaja. Hal itu disebabkan oleh penjual tawonan yang sedikit dan juga tawonan kurang digemari di era sekarang ini.

Bahan yang digunakan untuk membuat tawonan yaitu tepung beras, kelapa parut, gula jawa, dan garam. Untuk cara pembuatannya sendiri yang pertama adalah tepung beras dicampur dengan parutan kelapa dan tambahkan sedikit garam, lalu setelah itu dikukus. Kemudian larutkan gula jawa dengan sedikit garam.

Setelah tepung beras yang dikukus tadi matang, campurkan dengan larutan gula jawa. Langkah selanjutnya adalah uleni adonan tepung beras dan larutan gula jawa namun jangan terlalu kalis karena jika terlalu kalis menyebabkan tawonan kurang enak nantinya.

Setelah diuleni, adonan dikukus kembali hingga matang. Untuk memudahkan pengambilan tawonan sebaiknya baki dialasi dengan kain tahu. Lalu tawonan siap untuk dinikmati.

Dalam proses pembuatan tawonan ini tidak bisa dipastikan berapa lama waktu yang diperlukan, namun dapat ditandai dengan matangnya adonan yaitu ketika sudah tidak lengket jika disentuh.

Dalam proses mengukus adonan, haus dipastikan bahwa adonan benar benar matang sampai ke dalam, karena kalau tidak matang maka rasanya akan tidak enak. Tak banyak yang tau tentang makanan tradisional yang satu ini.

Maka dari itu, sebagai anak muda kita harus melestarikan makanan zaman dahulu agar tidak hilang ditelan oleh waktu. Mari kita melestarikan budaya warisan nenek moyang.

Penulis: Shelajuna Aulia (23.0101.0039)
Mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Magelang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI