UMKM Peci Batik Jogokariyan: Mengungkap Kesuksesan dan Challenges dalam Pengelolaan Bisnis

UMKM Peci Batik Jogokariyan
UMKM Peci Batik Jogokariyan

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan bagian penting dari ekonomi dan menjadi pelaku bisnis yang bergerak di berbagai bidang usaha termasuk mode fashion yang menarik perhatian masyarakat, salah satu fashion di Indonesia adalah peci. Peci Batik Jogokariyan adalah produsen peci dengan motif batik dan berkualitas tinggi yang berlokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada kesempatan kali ini, kami mahasiswi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa melakukan wawancara pada UMKM Peci Batik Jogokariyan yang beralamatkan di Jalan Suripto, Kelurahan Mantrijeron, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Jardiyanto, pemilik Peci Batik Jogokariyan yang memulai membuat peci batik sebagai hobi. Namun, karena tingginya permintaan terhadap produknya, ia mengubah hobinya menjadi bisnis yang kini sudah terkenal dan banyak digunakan oleh para ustadz, artis bahkan politisi di Indonesia.

Peci Batik Jogokariyan memiliki 29 karyawan tidak termasuk tim pemasaran, untuk tim pemasaran sendiri terdiri dari 7-14 orang pada hari biasa dan lebih banyak saat mendekati lebaran. Keuntungan dari hasil penjualan Peci Batik Jogokariyan akan disumbangkan 5 persen ke Masjid Jogokariyan sebagai amal.

Produk peci tersebut terbuat dari bahan katun berkualitas tinggi yang lembut dan terbuat dari serat alami yang disebut kapas atau cypium. Peci Batik Jogokariyan hadir dalam berbagai motif, sudah diproduksi sekitar 65 motif berbeda dan tersedia dalam berbagai model, seperti udeng ekor pendek, udeng ekor panjang, dan lain sebagainya yang dipadukan dengan berbagai warna dan motif.

Kesuksesan Peci Batik Jogokariyan meningkat signifikan, mulai dari produk yang menarik dengan berbagai motif dan model sehingga membuat produk mereka digemari oleh wisatawan dan pelanggan lainnya. Kualitas dari Peci Batik Jogokariyan yang terbuat dari bahan utama yang lembut dan berkualitas. Selain itu, Peci Batik Jogokariyan telah menjangkau pasar ekspor seperti Malaysia, Eropa, China, dan Arab Saudi, menunjukkan bahwa produk mereka dapat bersaing di pasar global.

Meskipun Peci Batik Jogokariyan telah mencapai kesuksesan, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, seperti lambatnya pengiriman bahan baku sehingga dapat menyebabkan terhambatnya produksi. Permasalahan lainnya adalah pelanggaran peraturan perusahaan oleh karyawan, seperti terlambat datang kerja, serta harga produk yang relatif lebih mahal karena kualitas dari bahan baku yang bagus dan adanya service yang excellent terhadap produk yang rusak.

Berdasarkan hasil wawancara dengan UMKM Peci Batik Jogokariyan, ada beberapa saran dari kami yang dapat diitegrasikan dalam ajaran Tamansiswa yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu Tri Sakti Jiwa yang terdiri dari “Cipta, Rasa, Karsa”.

“Cipta” (olah pikir) berhubungan dengan kekuatan pikiran untuk merancang sesuatu, dalam hal ini kendala saat pengiriman bahan baku untuk produksi lambat, maka solusi yang dapat digunakan yaitu mencari alternatif dari UMKM lain yang memproduksi bahan dan kualitas yang sama serta harus mengoptimalkan pengiriman bahan baku produksi agar lebih teliti untuk mengecek stock bahan baku sebelumnya agar produksi tidak terhambat karena bahan baku.

“Rasa” (olah hati) yang berhubungan dengan kekuatan hati manusia untuk menanggapi suatu hal, dalam hal ini permasalahan dari harga produk yang relatif lebih mahal karena kualitas dari bahan baku yang bagus dan adanya service yang excellent terhadap produk yang rusak maka solusi yang mungkin dapat digunakan yaitu tetap mempertahankan kualitas bahan yang digunakan untuk membuat peci dan bahan baku yang bagus supaya tidak mudah rusak serta dapat membuat diskon pada event-event tertentu agar pelanggan lebih tertarik untuk membeli peci batik Jogokariyan tersebut karena kualitasnya terjamin sesuai dengan harganya.

“Karsa” (kemauan) yaitu semangat atau dorongan dalam diri manusia untuk berbuat sesuatu, hal ini berhubungan dengan permasalahan mengenai peraturan yang terkadang dilanggar oleh karyawan seperti terlambat masuk kerja, maka solusinya dapat diperketat lagi mengenai peraturan masuk kerja seperti diberi sanksi apabila karyawan terlambat sehingga karyawan atas kemauan sendiri menyadari bahwa adanya rasa tanggung jawab dan disiplin dalam bekerja.

Diharapkan dengan menerapkan saran yang telah kami berikan berdasarkan ajaran “Cipta, Rasa, Karsa” ini, Peci Batik Jogokariyan dapat menjalankan usahanya agar terus berkembang dan semakin maju. Selain itu, Peci Batik Jogokariyan diharapkan dapat mempertahankan kualitas produknya dan meningkatkan pelayanan serta dapat memberikan inovasi yang baru untuk kedepannya.

Penulis:
1. Tyas Nur Pramesti
2. Tiara Angelina
Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI