Upacara Mangongkal Holi

Upacara Mangongkal Holi 1

Tradisi “Mangokal Holi” berasal dari budaya Batak pra-Kristen menganggap perlu untuk menghormati orang sesepuh atau leluhur, yaitu dengan meninggikan posisi tulang di atas tanah, terutama di perbukitan tinggi dengan bebatuan keras. Upacara Mangokal Holi yang artinya menggali kuburan merupakan salah satu upacara yang sakral Kehidupan Batak Toba.

Mangongkal holi merupakan suatu tradisi menggali kembali makam guna mengumpulkan sisa tulang belulang dimana untuk melakukan tradisi ini cukup banyak memakan waktu puluhan tahun sampai seluruh tubuh tersisa tulang, Serta menempatkannya ke bangunan tugu (simin).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Simin (artinya bangunan yang terbuat dari semen, berbeda dengan makam biasa). Tanggul mengacu pada struktur pemakaman yang relatif tinggi di mana tulang-tulang dari beberapa generasi leluhur dikumpulkan.

Upacara Mangongkal Holi 2

Tugu hanya disebut bangunan peringatan atau tempat berkumpulnya marga. Menariknya, hanya dengan melihat simin (tugu), kita bisa menebak bahwa keturunan nenek moyang mereka memiliki ekonomi atas, menengah, dan bawah karena keturunan mereka biasanya membangun simin dalam skala yang sangat besar ketika ekonomi sedang tinggi dan sebaliknya.

Dan tentu saja ada alasan untuk semuanya, yaitu semacam penghormatan terhadap leluhur, yang berperan penting dalam apa yang mereka alami dan miliki, dan akhirnya menjadi tempat tulang belulang keturunan termaksud mereka juga.

Ada satu hal yang menyedihkan dari tradisi ini yaitu, ketidaktahuan generasi muda Batak khusus nya pemuda batak yang di perkotaan bahkan banyak lagi tradisi budaya batak yang tidak di ketahui pemuda batak di perkotaan.

“Antara pilu serta Bahagia aku kau liput ini. Bahagia nya karna kau liput. trus sedihnya karna banyak pemuda batak yang ga tau tradisi ini“, ucap bapak timbul selaku ketua adat. Dan semoga tradisi batak ini banyak yang mengetahuinya kita mulai dari pemuda batak dan berharap tradisi ini berlanjut ke generasi berikutnya.

Penulis: Fery Mulyadi Pane
Mahasiswa Jurusan Film & Televisi ISI Surakarta

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses