Wirausaha Muda (Sejak Mahasiswa), Kenapa Tidak?

Sebagai kaum terdidik dan mandiri, mahasiswa adalah pelaku utama dalam perubahan, salah satunya dengan menjadi wirausaha muda. Banyak mahasiswa yang ragu untuk memulai usaha dengan berbagai macam alasan yang diberikan. Mengintip sedikit jumlah pengusaha dari tetangga terdekat yang satu rumpun dengan kita, yaitu malaysia dan singapura. Fakta menyebutkan bahwa lebih dari 3% pengusaha Malaysia dan 7,2% pengusaha Singapura yang menjadikan pertumbuhan di berbagai bidang yang terutama di bidang ekonomi yang semakin jauh meninggalkan kita. Sedangkan negara kita hanya memiliki 0,18% pengusaha dari penduduk yang saat ini.

Menurut sosiolog David McCleiland yang dimuat dalam laman ristkdikti.go.id, sedikitnya dibutuhkan minimal 2% wirausaha dari populasi penduduknya, atau dibutuhkan sekitar 4,8 juta wirausaha di Indonesia saat ini. Haltersebut lantas haruslah menjadi pecutan bagi mahasiswa, yang selalu didengungkan ‘Mahasiswa sebagai “Agent of Change”’.

Dalam memulai usaha, bukanlah merupakan suatu perkara yang mudah, namun juga bukanlah suatu  perkara yang amat sulit. Pada dasarnya berwirausaha yakni mengerahkan kemampuan dalam memanfaatkan peluang untuk berusaha secara mandiri tanpa tergantung mutlak dengan orang lain. Karena pada dasarnya wirausaha merupakan jenis pekerjaan / profesi yang membutuhkan modal maupun strategi kreatif.

Mahasiswa Berwirausaha
Salah satu cara yang dapat dilakoni mahasiswa untuk melakukan perubahan terhadap dirinya yakni menjadi pengusaha (entrepreneur) muda. Suatu kebanggan tersendiri apabila mahasiswa menjadi wirausaha muda dalam persaingan yang saat ini semakin kompetitif dan minimnya lapangan kerja yang ada. Dalam memaksimalkan perubahannya, berwirausaha perlu dijadikan sebagai pengutamaan disamping dari prioritas keilmuannya dalam menempuh masa mahasiswanya. Dalam berwirausaha, dibutuhkan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang inovatif, serta kreatifitas. Beragam jenis usaha dapat dijadikan pilihan dan alternatif. Berwirausaha juga diperlukan untuk memperhatikan situasi dan kondisi yang sedang berkembang guna untuk mengantisipasi dan merumuskan strategi usaha yang efektif. Contohnya: Dewasa ini perkembangan Iptek semakin pesat, hal ini dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk berwirausaha contohnya jual beli online, Google Adsense dan lainnya.

Kendala Wirausaha
Bagi banyak mahasiswa, hambatan pada saat memulai untuk berwirausaha adalah modal (finansial). Namun pada dasarnya permasalahan modal (finansial) dapat diatasi dengan banyak upaya, yakni antaranya adalah modal keluarga, mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan, bantuan pihak kampus ataupun bantuan dari pemerintah. Yang sebenarnya kendala utama pada saat akan memulai berwirausaha adalah sikap mental. Banyak mahasiswa calon wirausahawan muda yang beralasan minimnya pengalaman, kurang pede, takut merugi, manajemen waktu dan yang lainnya. Yang menurut mereka, cukup dengan fokus belajar saja di perguruan tinggi (PT). Sikap-sikap yang seperti inilah yang menjadi kendala utama mahasiswa pada saat akan berwirasaha. Padahal mahasiswa dalam berwirausaha memiliki prospek yang sangat besar karena memiliki relasi yang cukup baik dari berbagai macam kalangan.

Peran Perguruan Tinggi
Gambaran dari mahasiswa yang sebagai wirausaha tampaknya tidak begitu akrab di telinga civitas akademika ataupun masyarakat yang awam. Mahasiswa sudah terlanjur dicap sebagai kaum yang intelek, terdidik, aktivis serta demonstran. Gambaran dari diri mahasiswa untuk menjadi pengusaha masih asing dan juga jarang terdengar.

Berdasarkan hal yang demikian, dunia pendidikan (perguruan tinggi) sangat perlu untuk mendorong mahasiswanya guna untuk mengembangkan leadership, managerial, dan intellectual dalam berwirausaha.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi (PT) dalam menumbuhkan kesadaran serta mendorong mahasiswa untuk berwirausaha. Contohnya yaitu: Pertama, menyisipkan materi mengenai wirausaha dalam mata kuliah yang tertentu. Kedua, perguruan tinggi dapat mengadakan kompetisi wirausaha di kampus. Ketiga, mahasiswa dilibatkan dalam usaha yang dirintis oleh PTN/PTS, dan sebagainya.

Berdasarkan gambaran di atas, mahasiswa perlu menjadi pelaku perubahan, sebagai contoh perubahan dengan berwirausaha. Namun sebagai insan yang terdidik dan agen dari perubahan, mahasiswa perlu memperhatikan tugas serta tanggung jawabnya dalam menyandang almamater sebagai mahasiswa agar tidak tenggelam di dalam zona nyaman dalam berwirausaha. Selaku kaum yang intelek dan agen dari perubahan, mahasiswa dituntut tidak hanya menjadi insan yang mandiri dengan keunggulan keilmuan yang—akan maupun telah—dikuasainya, namun juga dituntut untuk menjadi pelaku perubahan.

Yesyta Maya Sari
Mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI