Bagi banyak mahasiswa, kuliah bukan hanya tentang hadir di kelas dan mengerjakan tugas. Di balik nilai, laporan praktikum, jurnal ilmiah, dan deretan ujian yang seolah tak pernah usai, ada perjuangan yang sering tidak terlihat. Sebagai mahasiswa Farmasi Universitas Sumatera Utara, saya memahami perasaan itu dengan sangat baik.
Ada masa ketika saya merasa kewalahan menghadapi banyaknya materi yang harus dipelajari. Membaca jurnal berbahasa Inggris yang panjang, memahami mekanisme obat yang rumit, menyelesaikan laporan praktikum, hingga mempersiapkan presentasi sering kali menghabiskan waktu dan energi yang tidak sedikit. Saya yakin, bukan hanya saya yang merasakan hal tersebut. Banyak teman di sekitar saya juga menghadapi kesulitan yang sama.
Namun, di balik setiap perubahan besar, selalu ada satu momen sederhana yang menjadi titik awal. Bagi saya, momen itu datang ketika sebuah email yang memberitahukan bahwa saya terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026.
Dari 81.000 lebih mahasiswa dan dari 1.900 lebih universitas dan perguruan tinggi di Indonesia yang mendaftar, hanya 2.000 mahasiswa yang dipercaya untuk mengemban peran ini. Saat itu saya sadar, kesempatan ini bukan sekadar sebuah pencapaian pribadi, tetapi sebuah peluang untuk membawa manfaat yang lebih besar bagi lingkungan kampus saya sendiri, Universitas Sumatera Utara.
Saya bukan mahasiswa paling pintar di kelas. Saya juga bukan seseorang yang memiliki ribuan pengikut di media sosial. Namun saya memiliki satu pertanyaan besar dalam hati:
“Bagaimana jika teknologi yang saya pelajari bisa membantu mahasiswa lain menghadapi kesulitan yang sama seperti yang pernah saya alami?“
Pertanyaan sederhana itu kemudian mengubah cara saya melihat peran seorang Google Student Ambassador. Bagi saya, peran ini bukan sekadar mengenalkan teknologi, melainkan menjadi penghubung antara mahasiswa dan teknologi yang mampu membantu mereka belajar lebih efektif, berkarya lebih kreatif, serta berkembang lebih percaya diri dengan solusi yang dapat membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Saya memulai langkah awal sebagai Goggle Student Ambassador dari lingkungan terdekat dan merupakan organisasi yang telah lama ada di kampus yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa Bulu Tangkis Universitas Sumatera Utara. Sebagai Ketua Divisi Kaderisasi di organisasi tersebut, saya memiliki tanggung jawab untuk membina, mengembangkan, dan mempersiapkan anggota agar mampu bertumbuh menjadi pribadi yang unggul, baik dalam organisasi, akademik, maupun prestasi olahraga.
Dalam proses tersebut, saya melihat banyak anggota yang memiliki semangat besar untuk berprestasi di bidang bulutangkis, tetapi sering kali mengalami kesulitan dalam mengatur jadwal latihan, menjaga pola hidup sehat, serta menyeimbangkan tuntutan perkuliahan dengan aktivitas olahraga.
Melihat tantangan tersebut, saya mulai berpikir bahwa teknologi dapat menjadi solusi yang membantu mereka berkembang secara lebih efektif.
Berangkat dari keyakinan itu, saya menyelenggarakan kegiatan dengan tema “Badminton Training with AI: Improve Your Skill Using Gemini”, sebuah kegiatan yang memperkenalkan pemanfaatan Gemini sebagai pendamping latihan, penyusun jadwal olahraga, pemberi rekomendasi pola hidup sehat, hingga sarana untuk membantu mahasiswa mengembangkan performa dan produktivitas mereka secara lebih terarah.
Dalam kegiatan tersebut, saya menunjukkan bagaimana Gemini dengan fitur AI Mode dapat berdiskusi secara interaktif dengan penggunanya dalam membantu menyusun jadwal latihan, memberikan rekomendasi pola hidup sehat, hingga membantu mengevaluasi strategi permainan.
Banyak dari anggota pada organisasi ini awalnya mengira AI hanya berguna untuk tugas kuliah. Namun setelah mencoba langsung, mereka mulai melihat bahwa teknologi juga dapat membantu pengembangan diri dan olahraga.
Momen yang paling berkesan adalah ketika beberapa anggota kembali menghubungi saya dan mengatakan bahwa ketika mereka mulai menerapkan jadwal latihan yang dibuat bersama Gemini akhirnya dapat membantu mereka meningkatkan skill maupun performa di olahraga Bulu Tangkis, bahkan meraih prestasi di berbagai perlombaan Bulu Tangkis sehingga mengharumkan nama kampus dengan prestasi tersebut. Saat itulah saya menyadari bahwa dampak teknologi bisa hadir dan bermanfaat bahkan di bidang olahraga Bulu Tangkis.
Dampak yang saya bawa tidak berhenti di organisasi kampus. Sebagai seorang Google Student Ambassador, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan manfaat teknologi kepada lebih banyak mahasiswa. Perjalanan berikutnya membawa saya ke lingkungan yang paling dekat dengan identitas saya, yaitu Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Di sana, saya melihat banyak mahasiswa yang setiap harinya disibukkan oleh laporan praktikum, Objective Structured Clinical Examination (OSCE), Problem Based Learning (PBL), jurnal ilmiah, hingga berbagai tugas penelitian yang menuntut waktu dan energi yang tidak sedikit.
Saat berbincang dengan beberapa mahasiswa, saya menyadari bahwa tantangan yang mereka hadapi bukan hanya soal akademik, tetapi juga menjaga motivasi di tengah padatnya aktivitas perkuliahan. Dari sinilah saya membuat kegiatan dengan tema “Meeting Your Younger Self: Pharmacy Student Edition with Gemini”.
Melalui kegiatan ini, saya mengajak mahasiswa farmasi untuk melakukan refleksi diri dengan cara yang kreatif menggunakan Gemini khususnya fitur Nano Banana untuk membuat foto bersama versi diri kami ketika kecil, lalu menuliskan pesan, harapan, dan pelajaran hidup yang ingin disampaikan kepada diri sendiri.
Suasana yang awalnya penuh tekanan perlahan berubah menjadi ruang refleksi yang hangat. Banyak peserta yang mengaku kembali mengingat alasan mereka memilih dunia farmasi dan menemukan semangat baru untuk terus melangkah menghadapi tantangan perkuliahan.
Di luar dugaan, dari kegiatan tersebut banyak mahasiswa yang mulai berbagi cerita tentang perjuangan mereka selama kuliah. Ada yang pernah gagal ujian, ada yang kehilangan motivasi, dan ada pula yang merasa tidak cukup baik dibandingkan teman-temannya. Pada hari itu saya belajar bahwa teknologi tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat menjadi jembatan untuk membangun harapan dan semangat baru.
Namun, tantangan dunia perkuliahan tidak hanya sebatas menjaga motivasi. Sebagai mahasiswa farmasi, saya memahami bagaimana padatnya tugas, laporan praktikum, jurnal, penelitian, hingga berbagai proyek akademik sering kali membuat mahasiswa merasa kewalahan.
Tidak jarang, tekanan tersebut memicu kelelahan mental dan membuat kreativitas menjadi buntu, terutama ketika harus menyusun poster ilmiah, infografis kesehatan, atau media edukasi yang menarik dalam waktu yang terbatas.
Di sisi lain, saya juga melihat bahwa banyak mahasiswa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari referensi yang kredibel dan mengolah informasi ilmiah menjadi karya visual yang mudah dipahami. Dari tantangan tersebut, saya telah membuat kegiatan dengan tema “Poster Research Sprint: Dari Riset Mendalam Menjadi Poster Kreatif dengan Gemini”.
Melalui kegiatan ini, saya memperkenalkan bagaimana Gemini dapat membantu mahasiswa melakukan riset secara lebih efisien melalui fitur Deep Research pada Gemini untuk membantu menemukan sumber ilmiah yang relevan kemudian mengubah hasil riset tersebut menjadi poster yang kreatif, informatif dan menarik menggunakan fitur Nano Banana.
Sebanyak 90% peserta mengaku biasanya membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencari referensi dan menyusun poster akademik. Dengan menggunakan Gemini, mereka dapat lebih fokus memahami isi penelitian daripada menghabiskan waktu mencari informasi yang tersebar di berbagai tempat.
Melihat peserta mampu menghasilkan karya yang lebih baik dalam waktu yang lebih singkat membuat saya yakin bahwa teknologi bukanlah pengganti kreativitas manusia, melainkan alat yang dapat membantu mahasiswa mengembangkan potensi terbaik yang mereka miliki.
Tidak berhenti di sana, saya juga mengadakan kegiatan dengan tema “Pharmacy with Gemini Live: Prompt & Solve Challenge” yang memperkenalkan cara belajar yang lebih interaktif melalui Gemini Live. Dalam sesi demonstrasi langsung mengenai fitur ini, saya menemukan fakta yang cukup mengejutkan.
Hampir 75% peserta belum mengetahui keberadaan Gemini Live, sementara sebagian lainnya pernah mendengarnya tetapi belum memahami bagaimana cara memanfaatkannya secara optimal. Padahal, fitur ini bisa membantu mahasiswa farmasi berdiskusi secara langsung mengenai mekanisme kerja obat, kasus pasien, konsep farmakologi, hingga berbagai materi perkuliahan lainnya layaknya berbicara dengan seorang tutor yang selalu siap membantu.
Saya masih ingat antusiasme peserta saat mengikuti kompetisi prompt yang saya selenggarakan dalam kegiatan tersebut. Banyak dari mereka mulai menyadari bahwa materi yang sebelumnya terasa rumit dan sulit dipahami ternyata dapat dipelajari dengan cara yang lebih sederhana, interaktif, dan menyenangkan.
Dampaknya bahkan melampaui ekspektasi saya. Dalam beberapa hari setelah kegiatan berlangsung, banyak mahasiswa mengaku lebih mudah memahami materi perkuliahan, menyelesaikan tugas dengan lebih efisien, serta memperoleh hasil yang lebih baik dalam berbagai tugas akademik.
Bagian yang paling membahagiakan bagi saya adalah ketika kebiasaan positif mulai terbentuk secara alami di luar kegiatan tersebut. Kini, ketika saya berada di ruang kelas, perpustakaan, atau kantin di kampus saya sering melihat teman-teman memanfaatkan Gemini Live untuk berdiskusi, memahami materi, maupun mencari solusi atas kesulitan yang mereka hadapi.
Melihat perubahan kecil itu membuat saya menyadari bahwa dampak sesungguhnya bukan terletak pada suksesnya sebuah acara kegiatan yang saya buat, melainkan ketika ilmu yang saya bagikan terus hidup, digunakan, dan mampu membantu banyak orang dalam kehidupan sehari-hari serta meningkatkan kemampuan problem solving dengan cukup mengaktifkan fitur suara di Gemini Live tanpa perlu menyentuh layar ponsel.
Keberhasilan dari berbagai kegiatan yang telah saya selenggarakan semakin membakar semangat saya untuk bergerak lebih jauh. Saya juga menyadari bahwa tantangan kami sebagai mahasiswa di era digital saat ini yaitu dituntut untuk memahami materi yang semakin kompleks dalam waktu yang relatif singkat.
Namun, proses pembelajaran yang masih didominasi oleh teks sering membuat banyak mahasiswa kesulitan memahami materi yang panjang, padat, dan penuh istilah yang tidak familiar.
Untuk memperluas dampak kepada mahasiswa dari berbagai jurusan di Universitas Sumatera Utara, saya kemudian menyelenggarakan kegiatan dengan tema “AudioLearn with Lyria and Gemini Canvas: The Multimodal Learning Revolution”.
Melalui kegiatan ini, saya memperkenalkan bagaimana teknologi dapat mengubah cara belajar menjadi lebih interaktif, fleksibel, dan menyenangkan. Saya mendemonstrasikan penggunaan fitur Canvas di Gemini untuk mengubah materi kuliah yang panjang menjadi flashcard interaktif, kuis, ringkasan visual, hingga infografis yang lebih mudah dipahami.
Di depan para peserta, saya menunjukkan bagaimana materi yang sebelumnya terasa rumit dapat disederhanakan menjadi pengalaman belajar yang lebih menarik dan mudah dicerna. Dalam kegiatan ini, mahasiswa belajar mengubah materi kuliah menjadi format audio, visual, dan pembelajaran interaktif.
Dengan bantuan Gemini mereka dapat belajar sambil beraktivitas, mendengarkan materi layaknya podcast, dan memahami inti pembelajaran dengan lebih efisien. Banyak peserta mengatakan bahwa mereka baru menyadari belajar tidak harus selalu dilakukan dengan membaca teks panjang. Teknologi memungkinkan mereka belajar kapan saja dan di mana saja dengan cara yang lebih sesuai dengan gaya belajar masing-masing.
Pada akhir dari kegiatan “AudioLearn with Lyria and Gemini Canvas: The Multimodal Learning Revolution”, saya mengadakan kompetisi pembuatan musik menggunakan fitur Lyria di Gemini untuk mendorong kreativitas peserta. Suasana yang awalnya formal berubah menjadi penuh antusiasme dan semangat.
Ruang kelas yang tadinya tenang seketika riuh oleh rasa kagum dan penasaran. Saya masih ingat bagaimana peserta langsung membuka aplikasi Gemini di perangkat mereka untuk langsung membuat lagu hasil karya sendiri melalui fitur Lyria.
Bahkan ada yang berkata, “Wah, saya baru tahu ternyata belajar dan berkreasi dengan Gemini bisa seseru ini.” Melihat antusiasme itu membuat saya semakin yakin bahwa teknologi tidak hanya mampu membantu mahasiswa memahami materi akademik, tetapi juga membuka ruang bagi kreativitas dan inovasi yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.
Perjalanan saya sebagai Google Student Ambassador dalam upaya meningkatkan literasi teknologi di lingkungan kampus terus berlanjut. Salah satu tantangan yang saya temukan berasal dari mahasiswa di bidang kesehatan yang baru memasuki dunia perkuliahan.
Berbeda dengan masa sekolah, mereka harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang jauh lebih kompleks, mulai dari jurnal ilmiah, mekanisme kerja obat, studi kasus klinis, hingga berbagai materi teoritis.
Banyak dari mereka mengaku kesulitan memahami materi karena harus membaca, merangkum, dan menganalisis berbagai sumber akademik seperti buku yang tebal dan jurnal yang berbahasa inggris secara mandiri. Tidak sedikit yang merasa jenuh dan kewalahan karena proses belajar sering kali hanya berpusat pada presentasi dan tumpukan dokumen yang panjang.
Melihat kondisi tersebut, saya melaksanakan kegiatan dengan tema “Health Note AI Lab: Smart Learning & Research” yang memperkenalkan pemanfaatan NotebookLM sebagai asisten belajar dan riset berbasis AI.
Dalam kegiatan ini, kami bersama-sama mengunggah materi kuliah ke NotebookLM dan melihat bagaimana teknologi tersebut mampu mengubah dokumen yang awalnya berupa link youtube berisi video penuh teks menjadi ringkasan yang terstruktur, peta konsep yang mudah dipahami, hingga Audio Overview yang dapat didengarkan layaknya podcast.
Antusiasme peserta begitu terasa ketika mereka menyadari bahwa materi di bidang kesehatan yang sebelumnya terasa rumit kini dapat dipelajari dengan lebih cepat dan menyenangkan. Hasilnya, lebih dari 20 mahasiswa semester dua mulai memanfaatkan NotebookLM untuk membantu memahami materi, merangkum informasi ilmiah, dan mengelola sumber akademik secara lebih efektif.
Bagi saya, keberhasilan terbesar dari kegiatan ini bukan hanya memperkenalkan sebuah teknologi baru, tetapi membantu mahasiswa menemukan cara belajar yang lebih cerdas dan terstruktur.
Melalui berbagai kegiatan yang telah saya buat tersebut, saya berkesempatan menjangkau dengan total lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai jurusan dan latar belakang di Universitas Sumatera Utara. Namun, dampak terbesar justru saya rasakan pada diri saya sendiri.
Saya yang awalnya hanya seorang mahasiswa yang ingin belajar teknologi, perlahan berubah menjadi seseorang yang berani berbicara di depan banyak orang, membangun komunitas, memimpin kegiatan, dan membantu mahasiswa lain berkembang.
Perjalanan ini memberikan banyak pelajaran berharga tentang kepemimpinan, konsistensi, dan makna sebuah dampak. Melalui berbagai kegiatan edukasi kepada mahasiswa akhirnya mengantarkan saya terpilih sebagai salah satu Top 500 Rising Star dari 2000 Google Student Ambassador 2026.
Bagi sebagian orang, pencapaian tersebut mungkin hanya sebuah gelar atau penghargaan. Namun bagi saya, itu adalah pengingat bahwa langkah-langkah kecil yang saya lakukan secara konsisten dengan tujuan membantu orang lain dapat tumbuh menjadi dampak yang jauh lebih besar dari yang pernah saya bayangkan.
Ketika saya dipercaya oleh rekan-rekan Google Student Ambassador dalam komunitas Sumatera Utara Buddy 11 untuk mengemban peran sebagai Captain.
Amanah tersebut bukan hanya tentang memimpin sebuah tim, tetapi juga tentang membangun kolaborasi lintas kampus dan lintas disiplin ilmu demi menciptakan dampak yang lebih luas bersama rekan-rekan hebat dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Utara, yaitu Dawani Alkhairi Rambe dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Desinta Yamasan Rusli dari Universitas Pelita Harapan Medan, Dona Febriana Pulungan dari Universitas Negeri Medan, serta Frans Darma Putra Siahaan dari Universitas Sumatera Utara.
Meskipun berasal dari kampus dan latar belakang yang berbeda, kami memiliki tujuan dan semangat yang sama untuk membawa teknologi lebih dekat dengan mahasiswa dan membantu mereka belajar, berkembang, serta beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.
Bagi saya, menjadi Captain bukanlah tentang berada di depan, melainkan tentang berjalan bersama, saling mendukung, dan memastikan setiap anggota tim memiliki kesempatan untuk bertumbuh sehingga kami menjadi tim yang terbaik.
Pengalaman ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari satu orang saja, melainkan dari kolaborasi banyak individu yang memiliki semangat untuk belajar, berbagi, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Ketika saya melihat mahasiswa menggunakan Gemini untuk memahami materi kuliah, menyelesaikan riset, meningkatkan kreativitas, bahkan membangun kembali motivasi mereka, saya menyadari bahwa keberhasilan terbesar bukanlah sertifikat atau penghargaan yang akan saya terima.
Keberhasilan terbesar adalah ketika ilmu yang saya bagikan terus digunakan dan memberikan manfaat bagi orang lain. Perjalanan saya sebagai Google Student Ambassador akan terus berlanjut dan mengajarkan satu pelajaran penting yaitu teknologi terbaik bukanlah teknologi yang paling canggih, tetapi teknologi yang mampu membuat hidup seseorang menjadi lebih baik dan saya telah melihat perubahan itu terjadi secara nyata pada diri saya, pada teman-teman saya, dan bahkan pada lingkungan di kampus Universitas Sumatera Utara.
Saya belajar bahwa teknologi bukan hanya tentang kecanggihan, tetapi tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membantu orang lain bertumbuh, belajar, dan berkembang.
Sebagai Google Student Ambassador 2026 Universitas Sumatera Utara, saya percaya bahwa dampak terbesar dari sebuah inovasi bukanlah ketika teknologi digunakan oleh satu orang, melainkan ketika teknologi tersebut dibagikan dan mampu memberikan manfaat bagi banyak orang. Karena itu, saya akan terus mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan AI secara bijak, kreatif, dan bertanggung jawab agar lebih siap menghadapi masa depan.
Perjalanan ini juga mengajarkan saya bahwa bekerja lebih cerdas dengan bantuan teknologi bukan berarti mengurangi usaha, melainkan memperbesar dampak yang dapat kita berikan kepada lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, saya tidak mengubah seluruh isi dunia. Saya hanya memperkenalkan Gemini. Namun dari sana, saya melihat mahasiswa mulai belajar lebih efektif, lebih percaya diri, dan lebih berani mengembangkan potensinya. Karena sesungguhnya, ini bukan hanya tentang AI atau teknologi, melainkan tentang manusia dan perubahan positif yang dapat kita ciptakan bersama.
Dokumentasi









Penulis: Dhiya Ulhag Pulungan
Mahasiswa Farmasi,Universitas Sumatera Utara
Aktif juga sebagai:
- Google Student Ambassador 2026
- Ketua Divisi Kaderisasi UKM Bulu Tangkis Universitas Sumatera Utara 2026-2027
Dosen Pengampu: Ibu Yunita Kwartarani, S.Pd,. M.Pd
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















