Di Balik Daging Tanpa Hewan: Teknologi yang Mengubah Jamur menjadi Sumber Protein Masa Depan

Inovasi Teknologi
Ilustrasi Teknologi Pangan (Sumber: MMI)

Seiring meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan pangan global, terutama protein, juga terus bertambah. PBB memproyeksikan populasi dunia mencapai 9,8 miliar jiwa pada tahun 2050, sehingga kebutuhan pangan di masa depan akan semakin besar. Protein hewani seperti daging, susu, dan telur masih menjadi pilihan utama karena kandungan gizi dan rasanya.

Berdasarkan data Susenas 2025, konsumsi protein hewani di tingkat nasional tercatat mencapai 133,37 gram/kapita/hari. Namun, tingginya konsumsi protein hewani berdampak besar terhadap lingkungan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Our World in Data melalui penelitian Hannah Ritchie dan Max Roser (2019) menyebutkan sektor peternakan menggunakan sekitar 80% lahan pertanian dunia dan membutuhkan air dalam jumlah besar yaitu sekitar 15.000 liter air untuk menghasilkan 1 kg daging sapi.

Berdasarkan data FAO (2023), sektor peternakan menyumbang sekitar 14,5% emisi gas rumah kaca global dan produksinya diperkirakan meningkat 20% pada tahun 2050, sehingga berpotensi memperburuk dampak lingkungan.

Salah satu gas yang paling berbahaya adalah metana, karena mampu menangkap panas sekitar 80 kali lebih besar dibandingkan CO₂ dalam 20 tahun. Metana dihasilkan dari fermentasi enterik hewan ruminansia, dimana seekor sapi dewasa dapat melepaskan sekitar 70–120 kg metana per tahun.

Secara global, emisi sektor peternakan bahkan setara dengan gabungan emisi seluruh kendaraan bermotor di dunia, sehingga menunjukkan bahwa sistem pangan juga memiliki dampak besar terhadap perubahan iklim.

Di tengah keresahan tersebut, berbagai inovasi pangan mulai dikembangkan untuk mencari sumber alternatif protein yang lebih berkelanjutan, salah satunya adalah mikoprotein. Berbeda dengan alternatif daging nabati berbasis kedelai, mikoprotein berasal dari kerajaan fungi, tepatnya miselium jamur Fusarium venenatum yang diproduksi melalui proses fermentasi.

Baca juga: Susu dari Jamur? Kok Bisa! Mengulas “Precision Fermentation” sebagai Terobosan Inovasi Bioteknologi Pangan

Teknologi ini mampu menghasilkan biomassa berserat dengan tekstur menyerupai daging hewan sehingga mulai dilirik sebagai alternatif daging masa depan. Namun, meski sering dianggap sebagai tren makanan futuristik, pengembangan mikoprotein sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1960-an di Inggris akibat kekhawatiran terhadap potensi krisis protein global.

Setelah melalui berbagai penelitian dan uji keamanan, mikoprotein mulai dipasarkan secara komersial pada tahun 1985 dalam bentuk savory pie oleh Quorn. Perkembangan ini semakin didukung dengan adanya status GRAS (Generally Recognized as Safe) dari US FDA pada tahun 2002. Sejak saat itu, perlahan tapi pasti, kehadiran mikroprotein mulai mengubah cara sebagian dunia memandang sumber protein.

Dalam pengembangan mikroprotein sendiri, teknologi konversi dan separasi berperan penting dalam meningkatkan efisiensi produksi. Pada tahap konversi, substrat di fermentasi oleh fungi dalam bioreaktor untuk menghasilkan biomassa protein dalam jumlah tinggi, dengan proses yang lebih cepat dibandingkan peternakan hewan.

Menurut Finnigan et al. dalam Current Developments in Nutrition (2019), teknologi fermentasi modern bahkan dapat meningkatkan efisiensi produksi hingga 57% sekaligus menurunkan emisi karbon secara signifikan.

Selanjutnya, pada tahap separasi, biomassa dipisahkan dari air dan komponen yang tidak diperlukan, lalu diolah menggunakan teknologi pembentukan tekstur seperti ekstrusi, pemanasan, dan freeze-thaw cycling untuk membentuk serat protein menyerupai daging, sehingga mikroprotein lebih mudah diterima oleh konsumen.

Dibandingkan protein hewani konvensional, mikroprotein memiliki sejumlah keunggulan dari sisi lingkungan maupun gizi. Produksi mikoprotein menghasilkan jejak karbon hingga 10 kali lebih rendah dibandingkan daging sapi dan empat kali lebih rendah dari ayam, dengan kebutuhan lahan dan air yang jauh lebih hemat.

Dari sisi nutrisi, mikroprotein mengandung protein lengkap dengan asam amino esensial, tinggi serat, rendah lemak jenuh, dan bebas kolesterol. Kombinasi tersebut membuat mikoprotein tidak hanya dipandang sebagai alternatif protein yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber protein masa depan yang lebih seimbang secara nutrisi.

Meski memiliki banyak keunggulan, mikroprotein masih menghadapi tantangan dari sisi harga dan penerimaan masyarakat. Biaya produksinya yang tinggi membuat harga produk masih relatif lebih mahal dibandingkan daging konvensional, ditambah regulasi keamanan pangan yang cukup ketat di berbagai negara.

Di sisi lain, banyak masyarakat masih merasa asing dengan konsep “protein dari jamur” dan menganggap rasa maupun teksturnya belum sepenuhnya menyerupai daging asli. Oleh karena itu, selain pengembangan teknologi, edukasi dan pendekatan kepada konsumen juga menjadi kunci agar mikroprotein lebih mudah diterima di masa depan.

Kehadiran mikroprotein bukan berarti manusia harus sepenuhnya meninggalkan daging hewani, melainkan menjadi alternatif untuk menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Di tengah ancaman perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya alam, inovasi pangan seperti mikroprotein menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu memenuhi kebutuhan protein manusia dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.

Pada akhirnya, tantangannya bukan lagi soal mampu atau tidak menciptakan daging tanpa hewan, tetapi seberapa siap masyarakat menerima perubahan tersebut.


Penulis:

  1. Aulia Meilani Syafa
  2. Agnia Khotimatuzzahro Fuadah

Mahasiswa Teknologi Industri Pangan, Universitasi Padjadjaran 


Dosen Pengampu: Dr. rer. nat. Fetriyuna, S.TP., M.Si.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses