Etika dalam Pengambilan Keputusan

Etika dalam Pengambilan Keputusan
Ilustrasi Pengambilan Keputusan (Sumber: Media Sosial dari pixabay.com)

Pengambilan keputusan merupakan aspek fundamental dalam kehidupan kita. Setiap hari, kita dihadapkan pada berbagai pilihan, baik besar maupun kecil, yang menentukan arah hidup kita. Kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat tidak hanya penting bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain, maupun dilingkungan Perusahaan.

Menurut Kamus Besar Ilmu Pengetahuan (Save, 2006:185), pengambilan keputusan (Decision making) merupakan pemilihan keputusan atau kebijakan yang didasarkan atas kriteria tertentu. Proses ini meliputi dua alternatif atau lebih karena seandainya hanya terdapat satu alternatif tidak akan ada satu keputusan yang akan diambil.

Oleh karena itu, dalam artikel ini kami akan membahas studi kasus terkait Etika Bisnis dan Pengambilan Keputusan pada Perusahaan Nike, serta strategi yang dipakai guna menaikan image dari merk tersebut.

Bacaan Lainnya
DONASI

 

Studi Kasus

Nike adalah produsen sepatu nomor satu di dunia. Dengan permodalan yang sedikit, Nike tidak mampu untuk membuat iklan untuk produknya. Nike kemudian hanya menggunakan image dari atlet terkenal untuk menarik minat konsumen.

Selain itu, untuk menekan biaya yang besar, Nike membeli sepatu dari supplier Asia. Para pekerja Asia yang terkenal murah bisa menekan harga yang ditawarkan supplier sehingga Nike bisa membeli dengan harga yang lebih murah.

Sebagai contoh adalah supplier Nike yang berasal dari Indonesia yaitu PT. Pratama Abadi Industri. PT. Pratama Abadi Industri adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur sepatu lari (running shoes).

Perusahaan ini memproduksi berbagai tipe running shoes dalam berbagai jenis ukuran baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Spesifikasi dari tiap tipe sepatu telah diberikan oleh pihak Nike untuk kemudian diproduksi oleh PT. Pratama Abadi Industri sesuai dengan syarat spesifikasi yang telah ada.

Hasil produksi yang telah dihasilkan oleh PT. Pratama abadi Industri, tidak boleh dipasarkan di dalam negeri. Semua hasil produksi yang telah ada merupakan hak dari pihak Nike yang ada di Beverton (USA) untuk kemudian akan diekspor lagi ke negara lain, seperti Perancis, swedia, India, Belgia, Kanada, USA, Afrika Selatan, Argentina, Uruguay, Chillie.

Nike sangat memegang kendali karena mempunyai hak untuk memutuskan kerjasama bila harga dari supplier terlalu mahal, hal ini bisa berdampak buruk bagi pekerja karena mereka tidak bisa menuntut kehidupan yang lebih baik dengan peningkatan tunjangan pekerja otomatis akan menambah biaya produksi yang mengakibatkan harga yang lebih mahal.

Seperti yang terjadi di China, Vietnam, Indonesia dan Meksiko. Nike dikritik karena berusaha menutupi kondisi kerja yang buruk serta eksploitasi buruh. Nike juga adalah perusahaan besar yang tidak memiliki pabrik. Karena mereka lebih senang untuk outsourcing kebutuhan-kebutuhan mereka terutama kepada sektor informal, ataupun perusahaan lainnya, sehingga mengefisienkan dan meminimalisir ongkos produksi.

Knight tidak mampu mendelegasikan tugas dengan baik, sehingga di tahun 1983 Nike mengalami kemunduran karena tidak tepatnya perencanaan dari pelaksana yang dipercaya oleh Knight waktu itu. Waktu itu pengelola yang dipercaya Knight mengubah image Nike dari sepatu atletik menjadi sepatu kasual.

Padahal saingannya Reebok lebih dahulu mengembangkan sepatu untuk aerobik, sehingga konsumen lebih percaya pada Reebok. Nike membutuhkan perencanaan baru untuk mengembalikan posisi Nike sebagai produsen sepatu nomor satu dengan penjualan yang secepatnya.

Baca juga: Bagaimana Investasi Berdampak pada Posisi Keuangan Perusahaan?

 

Analisis Kasus 

1. Pendekatan Filosofi Pengambilan Keputusan Etis (Konsekuensialisme, Utilitarianisme, atau Teleologi)

a. Strategi Nike dalam membuat image yaitu dengan mensponsori seorang atlet atau suatu klub olahraga sehingga akan timbul image bahwa Nike dipakai oleh para atlet terkenal, hal ini tidak dilakukan oleh saingannya seperti Reebok yang justru hanya mensponsori suatu event olahraga saja. Disinilah pembuktian kekuatan merek dagang.

b. Krisis yang dialami Nike pada tahun 1983 tak lepas dari proses pertumbuhan organisasi. Menurut Lary Greiner ada 5 tahap pertumbuhan organisasi, 1) kreativitas, 2) pengarahan, 3) pendelegasian, 4) koordinasi, dan 5) kerja sama. Nike mengalami krisis disaat tahap pendelegasian dimana Knight tidak melakukan kontrol yang ketat sehingga keputusan bawahannya membawa dampak bagi Nike.

2. Kepentingan Dasar para Pemangku Kepentingan 

Knight kemudian melakukan terobosan kilat untuk membentuk kembali brand image dari Nike. Menurut Agyris “Intervensi merupakan suatu aktivitas masuk ke dalam sistem relationship yang berjalan, baik diantara individu, kelompok, maupun organisasi, dengan tujuan membantu menuju suatu perubahan yang sukses”.

Dalam intervensi, terkadang perlu mendatangkan konsultan dari luar organisasi, tetapi intervensi terbanyak dapat dilakukan oleh managemen internal. Apa yang dilakukan oleh Knight merupakan intervensi dari manajemen internal.

Marketing differentiation strategy mencoba menciptakan kesetiaan para pelanggan dengan cara memenuhi kebutuhan tertentu secara khusus. Organisasi tersebut mencoba menciptakan kesan yang menguntungkan bagi produk-produknya melalui iklan, segmentasi pasar, dan harga yang bersaing.

Hal tersebut salah satu strategi yang dilakukan oleh Knight dengan menciptakan produk baru sesuai kebutuhan konsumen yang tidak lepas dari image olah raga.

Baca juga: Filosofi dan Konsep Kepemimpinan

 

Kesimpulan

Pengambilan keputusan adalah aspek mendasar dalam kehidupan kita, dan hal ini penting tidak hanya bagi diri kita sendiri tetapi juga bagi orang lain dan perusahaan. Nike, produsen pakaian olahraga terkemuka, menghadapi tantangan dalam mengambil keputusan karena fokusnya pada citra dan harga.

Proses pengambilan keputusan Nike melibatkan dua alternatif atau lebih, karena hanya satu alternatif yang akan dipertimbangkan. Strategi pengambilan keputusan Nike melibatkan penggunaan citra atlet terkenal untuk menarik konsumen dan menaikkan harga produk mereka.

Pemasok Nike, PT. Pratama Abadi Industri, berbasis di Indonesia dan mengekspor ke negara-negara seperti Cina, Vietnam, Indonesia, dan Meksiko. Reputasi Nike rusak karena kondisi kerja yang buruk dan eksploitasi.

Kegagalan Nike untuk beradaptasi terhadap perubahan yang disebabkan oleh tindakan Knight pada tahun 1983 menyebabkan krisis dalam kinerja organisasinya. Tindakan Ksatria termasuk tidak menerapkan lima langkah organisasi: kreativitas, pengaruh, kepemimpinan, koordinasi, dan kerja sama.

Proses pengambilan keputusan Nike telah dianalisis dalam artikel ini, dengan fokus pada proses pengambilan keputusan dan strategi Nike untuk mempertahankan citranya sebagai produsen pakaian olahraga terkemuka.

 

Penulis:

  1. Audy Aprilia Putri
  2. Bagus Muhammad Zidane
  3. Dita Maulana Nasywa
  4. Fitria Hanadila
  5. M. Dzikri F
  6. Nurul Hayati Wulandari
Mahasiswa S1 Akuntansi, Universitas Pamulang

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi  

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.