Fenomena Pergeseran Kesantunan Berbahasa Generasi Z

Bahasa Generasi Z
Ilustrasi Komunikasi Generasi Z (Gambar: Dok. MMI)

Abstrak

Kesantunan berbahasa adalah dasar tata cara dan norma penggunaan bahasa yang sesuai dengan nilai sosial dan budaya untuk bisa menciptakan komunikasi yang baik, harmonis, dan saling menghargai antarsesama manusia.

Kesantunan berbahasa pastinya dapat kita nilai dalam komunikasi sehari-hari. Tidak hanya komunikasi secara langsung, tetapi juga dalam berpendapat di media sosial.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Banyak sekali fitur di media sosial yang memfasilitasi kita untuk berpendapat. Seperti kolom komentar saat live Instagram, TikTok, Twitter/X, dan masih banyak lagi.

Salah satu masalah di kalangan generasi muda saat ini yang ramai diperbincangkan adalah masalah pergeseran kesantunan dalam berbahasa.

Berbicara sama rata tanpa memandang usia lawan bicara, yang seharusnya santun ketika mengobrol dengan orang yang lebih tua, tetapi malah dianggap sepantaran dan menggunakan bahasa kekinian yang dinilai kurang sopan.

Pada hakikatnya, kesantunan berbahasa bukan hanya sekedar memilih kata yang “halus”, tetapi lebih kepada kemampuan adaptasi linguistik seorang penutur dalam menyesuaikan dengan siapa ia berbicara (lawan tutur), di mana (konteks), dan untuk tujuan apa.

Label sebagai Generasi Z yang keren dengan berbicara menggunakan bahasa kekinian, padahal sebenarnya memiliki makna yang tidak baik masih menjadi pegangan yang salah bagi kebanyakan Generasi Z.

Hal inilah yang harus kita perbaiki agar tidak menimbulkan dampak buruk dan agar bisa tetap dihargai di masyarakat.

Baca Juga: Ironi Kesehatan Mental Generasi Z

Pendahuluan

Bahasa merupakan cerminan dinamika sosial di suatu masyarakat, yang akan selalu berkembang seiring perubahan zaman.

Dalam konteks ini, kesantunan berbahasa menjadi perangkat yang mengatur tata cara komunikasi antarpribadi, yang turut mengalami perubahan secara signifikan, khususnya pada Generasi Z.

Generasi yang lahir antara tahun 1997 sampai 2012 ini merupakan generasi digital native pertama yang bisa dibilang kehidupannya tidak dapat dipisahkan dari teknologi dan internet.

Karakteristik inilah yang membentuk pola komunikasi yang khas, yang banyak aspek berbeda dari generasi sebelumnya.

Sederhananya dalam perihal penggunaan kata-kata gaul yang kebanyakan memiliki makna tidak baik.

Penggunaan kata-kata gaul ini diyakini dapat menambah rasa “keren” antarsesama. Namun, alangkah baiknya jika dalam menggunakan kata-kata gaul tersebut tetap kita saring mana yang baik dan mana yang buruk maknanya.

Bagi yang mengerti makna sebenarnya, pasti tidak akan nyaman ketika mendengar kata tersebut dilontarkan saat sedang berbicara satu sama lain, tetapi bagi yang tidak mengetahui maknanya pasti akan menganggap itu keren dan menirunya.

Hanya ingin dipandang keren bukan berarti harus mengubah tatacara berbahasa kita menjadi lebih buruk.

Perkembangan teknologi sekarang juga ikut serta dalam memberikan pengaruh buruk bagi penggunaan bahasa Generasi Z saat ini. Oleh karenanya, diperlukan strategi yang tepat dalam penanganannya.

Hendaknya, dengan kemajuan teknologi, makin maju juga kesantunan berbahasa kita baik secara langsung maupun di media sosial sekali pun.

Pembahasan

Persepsi dan Sikap Generasi Z terhadap Kesantunan Berbahasa

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan orang untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan mengidentifikasi diri (KBBI).

Pengertian memperlihatkan bahwa dengan bahasa orang-orang dapat berinteraksi satu sama lain.

Generasi Z merupakan kelompok orang yang lahir dari tahun 1996 hingga 2012. Mereka dikelompokkan sebagai suatu generasi yang lahir setelah generasi milenial.

Seiring berkembangnya zaman, di era media sosial sekarang, Gen Z mulai menggunakan bahasa asing ataupun bahasa gaul, yang membuat bahasa indonesia terkesan mulai ditinggalkan.

Baca Juga: Pengaruh Quiet Quitting terhadap Burnout Kerja dan Solidaritas Sosial di Kalangan Pekerja Generasi Z

Pola pikir yang dimiliki Generasi Z lebih fleksibel dalam mengekspresikan bahasa. Meskipun dikenal sebagai generasi yang santai dan dekat dengan media sosial, Generasi Z tetap menjunjung tinggi norma sosial terutama dalam situasi formal dan ketika berkomunikasi dengan individu yang lebih tua.

Berdasarkan temuan kuesioner, didapatkan bahwa mayoritas responden memiliki respon positif mengenai pentingnya kesantunan berbahasa.

Hampir seluruh responden menyatakan “setuju” dan “sangat setuju” dengan pernyataan bahwa kesantunan berbahasa masih diperlukan dalam komunikasi sehari-hari.

Bahasa Generasi Z
Gambar: Dok. Penulis

Selain itu, pada pernyataan tentang pentingnya berbicara santun kepada orang tua juga didominasi dengan respon “sangat setuju”.

Hal ini menggambarkan bahwa dengan gaya komunikasi Generasi Z yang lebih santai, tetapi tetap mempertahankan norma sopan santun dalam situasi tertentu.

Bahasa Generasi Z
Gambar: Dok. Penulis

Kebiasaan Berbahasa Generasi Z dalam Komunikasi Sehari-hari dan Saat di Media Sosial

Kebiasaan Generasi Z dalam berbahasa sangat dipengaruhi oleh digital-native mereka. Digital-native adalah sebutan untuk generasi yang lahir dan tumbuh di tengah teknologi digital, seperti internet dan perangkat seluler.

Oleh karena itu, penggunaan bahasa yang cenderung santai, penggunaan bahasa singkatan, serta penggunaan emoticon cenderung dianggap sebagai bentuk ekspresi yang wajar dan juga efisien.

Generasi yang tumbuh di era teknologi cenderung memiliki kemampuan komunikasi cepat, ringkas, dan multitasking.

Namun tetap dapat bertindak sesuai situasi, Mereka menggunakan bahasa yang santai saat sedang bersama teman sebaya, lalu berubah menjadi komunikasi yang lebih formal dan sopan saat berbicara dengan guru, orang tua, ataupun saat berada di situasi formal.

Dari hasil kuesioner, didapatkan bahwa platform yang paling sering digunakan adalah WhatsApp, TikTok, dan Instagram.

Berdasarkan pertanyaan yang diajukan, mayoritas responden menunjukkan bahwa mereka menggunakan bahasa santai dalam percakapan dengan teman yang sebaya, tetap menyesuaikan bahasa ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, tetap memperhatikan kesantunan saat berkomentar di media sosial, dan sering menggunakan singkatan, emoticon, dan bahasa gaul dalam interaksi digital.

Pola jawaban “selalu” yang muncul dalam banyak item menunjukkan bahwa Generasi Z mampu untuk menyesuaikan bahasa sesuai konteks sosial.

Faktor Penyebab Pergeseran Kesantunan Berbahasa pada Generasi Z

Generasi Z menggunakan bahasa gaul untuk berkomunikasi antara satu sama lain. Mereka merasa membutuhkan saran komunikasi agar dapat menyampaikan hal-hal yang dianggap harus dirahasiakan dari orang yang lebih.

Penggunaan bahasa gaul juga dapat menunjukkan identitas Generasi Z, yang penggunaannya menunjukkan bahwa mereka adalah anggota kelompok masyarakat tertentu.

Pergeseran kesantunan berbahasa tentunya tidak serta merta terjadi, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran kesantunan berbahasa yaitu,

1. Semakin Maraknya Bahasa Gaul di Internet dan Situs-Situs yang Sering Dijangkau Anak-Anak Muda

Hampir semua anak muda sekarang menggunakan media sosial, akses yang mudah membuat semua postingan yang diunggah dapat mudah diakses, dan bahkan diadopsi oleh ribuan anak muda lainnya.

2. Interferensi

Interferensi adalah perpaduan dua bahasa atau saling memengaruhi antara keduanya, atau perubahan dalam sistem suatu bahasa akibat adanya interaksi dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur dwibahasa

3. Lingkungan

Lingkungan menjadi salah satu faktor utama yang memberikan dampak besar terhadap pergeseran kesantunan berbahasa pada anak.

Anak-anak cenderung menyerap informasi dari percakapan orang di sekitarnya, seperti dari lingkungan keluarga ataupun masyarakat.

Baca Juga: Di Balik Meja Makan Generasi Z, Makanan atau Identitas Sosial?

Dampak Pergeseran Kesantunan Berbahasa

A. Dampak Positif

1. Kreativitas dalam Komunikasi

Kreativitas Generasi Z dapat membuat bahasa indonesia lebih lebih kaya, dengan menciptakan frasa-frasa baru yang mengikuti perkembangan zaman.

Namun, kreativitas ini harus tetap diarahkan agar tidak menyimpang dari tata bahasa dan makna kata yang sudah ada.

2. Memperkuat Identitas Budaya dan Nasional

Penggunaan slang atau ekspresi khas dapat menjadi simbol budaya dan nasional yang kuat.

3. Mendorong Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Media Sosial dan Konten Digital

Penggunaan bahasa Indonesia dalam menciptakan konten kreatif dan edukatif di media sosial yang disukai Generasi Z dapat meningkatkan popularitas bahasa Indonesia di kalangan mereka.

4. Pendidikan Bahasa Indonesia yang Relevan

Menciptakan lingkungan belajar yang relevan dengan kehidupan Generasi Z dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman mereka tentang pentingnya menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan baku.

B. Dampak Negatif

  • Tidak ada lagi keteraturan dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  • Penggunaan kata kasar menjadi hal yang umum.
  • Terjadi pertengkaran, karena perbedaan standar kesopanan antara Generasi Z dengan generasi sebelumnya.

Kesimpulan

Merujuk kepada hasil interpretasi kuesioner, didapatkan bahwa Generasi Z sebenarnya memiliki persepsi positif terhadap kesantunan berbahasa.

Mayoritas responden masih menempatkan kesopanan sebagai aspek penting dalam komunikasi, terutama ketika berinteraksi dengan orang yang lebih tua atau dalam situasi formal.

Hal ini memperlihatkan bahwa tidak hilangnya kesantunan di Generasi Z, melainkan mengalami pergeseran bentuk menyesuaikan perkembangna teknologi dan budaya digital.

Isu yang sering muncul di media sosial, misalnya video viral yang menampilkan Generasi Z tampak kurang sopan tidak sepenuhnya mencerminkan realitas keseluruhan generasi ini.

Berdasarkan survei yang telah dilakukan, penggunaan bahasa gaul, singkatan, emoticon, atau cara berbicara santai bukanlah penyebab utama menurunnya kesantunan.

Faktor yang lebih berpengaruh terhadap pergeseran kesantunan adalah lingkungan keluarga, pola pergaulan, serta paparan media sosial.

Lingkungan keluarga yang kurang menunjukkan komunikasi yang baik, serta media sosial yang menampilan gaya komunikasi yang sering kali tidak memprioritaskan norma kesopanan, sehingga memengaruhi cara Generasi Z menyerap pola bahasa.

Oleh karena itu, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat berperan penting dalam memberikan bimbingan dan teladan dalam berbahasa.

Tidak perlu melarang Generasi Z dalam penggunaan bahasa gaul, selama mereka memahami situasi dan batasannya.

Pendekatan dengan komunikasi dua arah dan contoh positif akan membantu mencegah pergeseran kesantunan berbahasa yang tidak diinginkan.

Dengan demikian, Generasi Z dapat tetap mempertahankan nilai kesopanan sambil berkembang di tengah perubahan budaya komunikasi yang semakin cepat.

 

Penulis:
1. Aisyah Azzahra Susanto (2410313038)
2. Fara Rania Faisal (2410313011)
3. Atika Fadila (2410313006)
4. Clara Tri Aprilia (2410313036)
5. Arini Rhama Sarita (2410313051)
6. Deeba Masoon Taufan (2410313054)
Mahasiswa Prodi Pendidikan Dokter, Universitas Andalas

Dosen Pengampu: Alex Darmawan., S.S., M.A.

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses