Seseorang tiba-tiba berteriak, menangis, bahkan tidak dapat mengendalikan tubuhnya. Sekilas terlihat menakutkan, tapi sebenarnya psikologi punya penjelasannya. Yuk lihat dari sudut pandang yang jarang dibahas!
Kasus kesurupan di negara Indonesia setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini tentu sangat menarik untuk kita ketahui. Salah satu alasan meningkatnya kasus ini adalah karena tingginya tekanan psikologis yang dialami individu.
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa teriakan, tangisan, atau tubuh yang sulit dikendalikan sebenarnya bisa muncul karena dalam kondisi stres berat. Reaksi seperti ini juga bisa muncul akibat kelelahan, kecemasan, atau tekanan lingkungan.
Kesurupan dalam Sudut Pandang Psikologi
Berdasarkan PPDGJ III, kesurupan ialah kehilangan sementara kesadaran akan identitas diri dan lingkungannya serta berkurangnya kendali atas gerakan dan tindakan.
Dalam beberapa kejadian, individu tersebut berperilaku seakan-akan dikuasai oleh kepribadian lain, kekuatan gaib, malaikat atau “kekuatan lain. Dari sudut pandang psikologi hal ini disebut Dissociative Trance Disorder (DTD).
Baca Juga: Review Film The Pope’s Exorcist
Apa yang Terjadi ketika Seseorang Mengalami Kesurupan?
1. Perubahan pada kesadaran
Seseorang yang mengalami kesurupan tidak sepenuhnya sadar terhadap kondisi lingkungan sekitar, sehingga reaksinya tampak tidak biasa.
2. Identitas diri terganggu
Dalam kondisi ini, seseorang bisa bertindak atau berbicara berbeda dari biasanya seolah dikuasai kepribadian lain.
3. Perilaku atau gerakan tidak terkendali
Kontrol tubuh menurun sehingga berteriak, menangis, bahkan tidak dapat mengendalikan tubuh muncul karena reaksi spontan.
4. Pelepasan emosi yang tertahan
Kasus kesurupan banyak terjadi saat seseorang dalam kondisi stress berat ataupun menahan emosi terlalu lama. Ketika tubuh mengatakan ‘tidak sanggup’, semuanya tumpah dalam bentuk reaksi seperti kesurupan.
5. Hilangnya ingatan
Kesadaran yang menurun menyebabkan otak tidak dapat memproses informasi dengan baik, akibatnya ketika seseorang sedang mengalami kesurupan ia tidak mampu mengingat informasi.
Faktor-Faktor Terjadinya Kesurupan
1. Tekanan Emosional Tinggi
Sesorang yang sedang memiliki beban perasaan yang berat dapat mengakibatkan kehilangan kestabilan atas tubuhnya. Kondisi ini lebih rentan mengalami reaksi ekstrem seperti kesurupan.
2. Kelelahan
Kurangnya istirahat atau terlalu banyak aktivitas dapat menyebabkan energi fisik dan mental terkuras. Sehingga ketika tubuh sudah kelelahan, kemampuan untuk mengendalikan diri dapat menurun.
3. Masalah yang Dipendam
Perasaan negatif yang terus dipendam dapat menumpuk. Saat tubuh sudah tidak sanggup menampung, emosi tersebut dapat keluar secara tiba-tiba dan tidak terkontrol.
4. Kecemasan dan Ketegangan Berlebih
Rasa cemas dan tegang berlebih dapat memicu seseorang mengalami kesurupan. Ini merupakan salah satu cara tubuh merespons tekanan yang terlalu besar.
5. Tekanan Sosial dan Situasi Kelompok
Tempat yang berkerumun serta suasana panik dapat menyebar secara cepat. Ketika satu orang bereaksi, orang lain yang sedang mengalami tekanan dapat ikut terbawa.
Baca Juga: Berkembangnya Kearifan Lokal Kesenian Bantengan Mojokerto
Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Mengalami Kondisi seperti Kesurupan?
- Luangkan waktu untuk menenangkan pikiran dengan memberi jeda dari rutinitas yang menguras energi, terutama ketika mulai merasa lelah, kewalahan, dan emosional agar emosi dapat tetap stabil.
- Atur napas secara perlahan dan terkontrol untuk membantu tubuh agar kembali tenang. Menghindar sementara dari keramaian dan cari ruang yang lebih aman serta nyaman untuk menenangkan diri ketika merasa tidak stabil.
- Pastikan tubuh mendapatkan istirahat yang cukup.
Penanganan yang Efektif
Saat melihat seseorang mengalami kesurupan, hal terpenting yang dapat kita lakukan adalah bersikap tenang dan tidak panik. Respon berlebih dari orang sekitar justru dapat membuat reaksi semakin kuat.
Penanganan yang efektif:
1. Stabilkan Lingkungan
Ciptakan suasana yang lebih tenang dengan menjauhkannya dari kerumunan untuk mengurangi kebisingan. Lingkungan yang stabil dapat membantu pemulihan.
2. Beri Arahan dengan Suara Tenang
Gunakan suara yang pelan dan menenangkan saat berbicara. Hindari nada tinggi, keras, dan sikap yang memaksa.
3. Regulasi Pernapasan
Arahkan untuk menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan untuk menurunkan ketegangan tubuh, menstabilkan aliran oksigen, dan membantu tubuh lebih tenang. Penanganan ini sangat sederhana tetapi sangat efektif untuk mengurangi reaksi yang berlebih.
4. Minimalkan Kontak Fisik
Hindari kontak fisik berlebih seperti memegang, mengguncang, atau menahan tubuh berlebihan. Memegang hanya dilakukan jika dalam kondisi sangat terpaksa demi keamanan.
Penanganan yang efektif bukan tentang melakukan hal-hal yang berlebihan, tetapi memastikan lingkungan tenang dan aman, serta memberikan dukungan yang tidak membuat keadaan semakin kacau.
Artikel ini ditulis untuk menjelaskan kesurupan dari sudut pandang psikologis. Jika terdapat kondisi mental yang mengganggu, cemas, dan lain sebagainya, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga professional yang berkompeten agar mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan aman.
Penulis:
1. Aryel Ande Nabil Rizky (G1C124085)
2. Nailah Syifa Kirania (G1C124096)
3. Livia Rahma Handini (G1C124101)
4. Cindy Auralia Rohan (G1C124105)
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi (UNJA)
Dosen Pengampu:
1. Nurul Hafizhah, M.Psi., Psikolog
2. Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog
3. Mindy Maghfira, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













