1. Abstrak
Antraks masih menjadi ancaman kesehatan hewan dan manusia di Indonesia karena sifat sporanya yang mampu bertahan lama di lingkungan serta pola kejadiannya yang kerap berulang pada wilayah endemis. Penyakit ini terutama menyerang hewan herbivora dan sering terdeteksi dalam bentuk klinis per-akut dan akut, yang ditandai kematian mendadak, perdarahan dari orifisium, dan gangguan pernapasan. Pemeriksaan lapangan menunjukkan bahwa riwayat paparan spora di tanah, pakan, maupun produk hewan yang terkontaminasi berperan besar dalam munculnya kasus, sementara diagnosis awal masih mengandalkan temuan klinis khas, kondisi lingkungan, dan hasil uji sederhana di lapangan sebelum konfirmasi laboratorium dilakukan. Analisis lebih lanjut menegaskan bahwa toksin edema dan toksin mematikan memengaruhi perjalanan penyakit melalui gangguan vaskular dan sepsis, sehingga memperburuk prognosis pada hewan maupun manusia. Pembahasan diagnostik memperlihatkan pentingnya integrasi pemeriksaan morfologi, kultur, serta metode biomolekuler untuk memastikan kasus terutama pada situasi wabah. Dari aspek pengendalian, rendahnya cakupan vaksinasi, kebiasaan memotong hewan sakit, serta perilaku masyarakat yang masih abai menjadi faktor yang memicu terjadinya kasus berulang. Di sisi lain, implikasi zoonosisnya tetap signifikan karena manusia dapat tertular melalui kontak langsung dengan hewan mati, produk hewani, maupun lingkungan yang tercemar spora, dengan bentuk klinis paling sering berupa antraks kulit. Kajian ini menggambarkan keterkaitan antara temuan klinis, kemampuan diagnosis lapangan, dan strategi pengendalian yang perlu diperkuat melalui pendekatan lintas sektor untuk menurunkan risiko infeksi pada manusia dan mencegah berulangnya kejadian antraks di daerah endemis.
2. Pendahuluan
Antraks adalah penyakit yang disebabkan Bacillus anthracis. Penyakit ini dapat menyerang hewan domestik maupun liar, terutama hewan herbivora, seperti sapi, domba, kambing, beberapa spesies unggas dan dapat menyerang manusia (zoonosis). Beberapa hasil penelitian dan deskripsi terkait penyakit antraks sudah banyak dipublikasikan, akan tetapi kejadian penyakit antraks masih sering muncul. Ditinjau dari segi epidemiologi, distribusi antraks secara global tetap enzootik, terutama di sub-Sahara Afrika, Asia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan (Martindah, 2017).
Penyakit Hewan Menular Strategis, penyakit antraks merupakan salah satu dari 25 penyakit yang menimbulkan kerugian ekonomi, keresahan masyarakat dan kematian hewan yang tinggi. Menurut Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan, yaitu UU Nomor 18 Tahun 2009 dan perubahannya, UU Nomor 41 Tahun 2014 dijelaskan bahwa penyakit hewan menular strategis adalah penyakit hewan yang dapat menimbulkan angka kematian atau angka kesakitan yang tinggi pada hewan, dampak kerugian ekonomi, keresahan masyarakat dan atau bersifat zoonotik. Antraks tidak hanya mempengaruhi kesehatan manusia, tetapi juga menyebabkan kemiskinan dan tekanan emosional, terutama di kalangan penduduk yang mata pencahariannya bergantung pada pertanian pastoral (Martindah, 2017).
Bakteri penyebab antraks, apabila terpapar udara, akan membentuk spora yang sangat resisten terhadap kondisi lingkungan dan bahan kimia termasuk desinfektan tertentu dan dapat bertahan selama puluhan tahun di dalam tanah. Karena keberadaan spora yang merupakan sumber infeksi ini ditemukan di tanah, antraks juga sering disebut “penyakit tanah”. Ternak yang telah terserang Antraks akan mengekskresikan bakteri penyebab Antraks menjelang kematiannya. Oleh karena itu, apabila ternak terserang Antraks dipotong, maka bakteri akan membentuk spora dan menyebar kembali ke lingkungan dan sulit untuk dimusnahkan. Penularan secara langsung antar ternak tidak lazim terjadi (Ditjen PKH, 2023).
Penularan antraks terjadi ketika hewan atau manusia terpapar cairan tubuh hewan sakit atau spora yang bertahan lama di lingkungan, terutama pada tanah berkapur atau netral yang mendukung pembentukan spora. Spora dapat menyebar dari bangkai hewan yang mati di ladang, terbawa aliran air hujan, aktivitas pengolahan tanah, atau menempel pada rumput dan pakan yang dipanen dari daerah tercemar. Risiko juga muncul dari pakan konsentrat atau bahan asal hewan yang terkontaminasi, serta produk industri seperti kulit dan wol yang dapat membawa spora ke manusia. Pada manusia, infeksi dapat terjadi melalui kulit yang luka, inhalasi spora, atau konsumsi daging terkontaminasi yang tidak dimasak sempurna, dengan masa inkubasi umumnya 2–5 hari (Yoanito, 2023)
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis gambaran klinis antraks pada sapi dan kambing, menilai pengaruh faktor lingkungan dan riwayat paparan terhadap munculnya kasus di wilayah endemis, mengevaluasi efektivitas diagnostik lapangan sebagai deteksi dini sebelum konfirmasi laboratorium, serta menelaah faktor-faktor pengendalian termasuk cakupan vaksinasi dan perilaku masyarakat guna merumuskan strategi pencegahan dan pengendalian yang lebih efektif dalam menurunkan risiko zoonosis dan mencegah kejadian berulang.
Baca Juga: 4 Fakta Unik tentang Kotoran Kambing dan Domba yang Jarang Orang Tahu
3. Tinjauan Pustaka
3.1 Etiologi dan Karakteristik Bacillus anthracis
Bacillus anthracis, kuman berbentuk batang ujungnya persegi dengan sudut-sudut tersusun berderet sehingga terlihat seperti ruas bambu atau susunan bata, membentuk spora yang bersifat gram positif. Basil bentuk vegetatif bukan merupakan organisme yang kuat, tidak tahan hidup untuk berkompetisi dengan organisme saprofit. Basil Antraks tidak tahan terhadap oksigen, oleh karena itu apabila sudah dikeluarkan dari badan ternak dan jatuh di tempat terbuka, kuman menjadi tidak aktif lagi, kemudian melindungi diri dalam bentuk spora. Apabila hewan mati karena Antraks dan suhu badannya antara 28 -30 °C, basil antraks tidak akan didapatkan dalam waktu 3-4 hari, tetapi kalau suhu antara 5 -10 °C pembusukan tidak terjadi, basil antraks masih ada selama 3-4 minggu. Basil Antraks dapat keluar dari bangkai hewan dan suhu luar di atas 20°C, kelembaban tinggi basil tersebut cepat berubah menjadi spora yang tahan hidup selama bertahun-tahun. Bila suhu rendah maka basil antraks akan membentuk spora secara perlahan-lahan (Anggraeni dkk., 2017).
Dalam mempertahankan siklus hidupnya, Bacillus anthracis membentuk dua sistem pertahanan, yaitu kapsul dan spora. Dua bentuk inilah, terutama spora yang menyebabkan Bacillus anthracis dapat bertahan hidup hingga puluhan tahun lamanya. Sedangkan kapsul merupakan suatu lapisan tipis yang menyelubungi dinding luar dari bakteri. Kapsul ini terdiri atas polipeptida berbobot molekul tinggi yang mengandung asam D-glutamat dan merupakan suatu hapten (Sari, 2018).
Bacillus anthracis dapat membentuk kapsul pada rantai yang berderet. Pada media biasa, kapsul Bacillus anthracis tidak terbentuk kecuali pada galur Bacillus anthracis yang ganas. Lebih jauh, bakteri ini akan membentuk kapsul dengan baik jika terdapat pada jaringan hewan yang mati atau pada media khusus yang mengandung natrium bikarbonat dengan konsentrasi karbondioksida (CO2) 5 persen. Kapsul inilah yang berperan dalam penghambatan fagositosis oleh sistem imun tubuh, dan juga dapat menentukan derajat keganasan atau virulensi bakteri. Selain itu, Bacillus anthracis juga membentuk spora sebagai bentuk resting cells. Pembentukan spora akan terjadi apabila nutrisi esensial yang diperlukan tidak memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan, prosesnya disebut sporulasi. Spora berbentuk elips atau oval, letaknya sentral dengan diameter tidak lebih dari diameter bakteri itu sendiri. Spora Bacillus anthracis ini tidak terbentuk pada jaringan atau darah binatang yang hidup, spora tersebut tumbuh dengan baik di tanah maupun pada eksudat atau jaringan hewan yang mati karena antraks (Sari, 2018)
3.2 Patogenesis Antraks pada Ruminansia
Infeksi dimulai dengan masuknya endospora kedalam tubuh. Endospora dapat masuk melalui abrasi kulit, tertelan atau terhirup udara pernapasan. Pada antraks kulit dan saluran cerna, sebagian kecil spora berubah menjadi bentuk vegetatif di jaringan subkutan dan mukosa usus. Bentuk vegetatif selanjutnya membelah, mengeluarkan toksin yang menyebabkan terjadinya edema dan nekrosis setempat. Endospora yang di fagositosis makrofag, akan berubah menjadi bentuk vegetatif dan dibawa ke kelenjar getah bening regional tempat kuman akan membelah, memproduksi toksin, dan menimbulkan limfadenitis hemoragik (Islami dkk., 2021).
Bakteri akan menyebar secara hematogen dan limfogen dan dapat menyebabkan septikemia dan toksemia. Dalam darah, kuman dapat mencapai sepuluh sampai seratus juta per milimeter darah. Kematian biasanya akibat septikemia, toksemia, dan komplikasi paru dan umumnya terjadi dalam kurun waktu satu sampai sepuluh hari pasca paparan. Reaksi peradangan hebat terjadi terutama akibat toksin letal. Toksin letal kuman menyebabkan pelepasan oksigen antara reaktif (reactive oxygen intermediates) dan pelepasan tumor necrosis factor (TNF) dan interleukin-1 (Islami., 2021).
3.3 Gambaran Klinis Antraks pada Sapi dan Kambing
Antraks pada sapi dan kambing, yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis, menunjukkan tiga bentuk klinis utama yaitu per-akut, akut, dan sub-akut, dengan prevalensi tertinggi pada bentuk perakut dan akut pada ruminansia. Pada bentuk per-akut, hewan sering mengalami kematian mendadak tanpa gejala klinis yang terlihat jelas, sehingga diagnosis lapangan bergantung pada riwayat kematian massal secara tiba-tiba di kandang atau padang penggembalaan. Bentuk akut lebih sering diamati pada sapi dan kambing dewasa, ditandai dengan demam tinggi (40-42°C), nafas cepat dan pendek (dispnea), serta perilaku gelisah diikuti depresi berat yang membuat hewan sulit berdiri (Martindah, 2017).
Gejala tambahan pada fase akut mencakup tremor otot (tubuh gemetar), inkonsistensi feses dan urine, serta kelemahan ekstrem yang mengakibatkan hewan terbaring dengan kepala terkulai. Pada kambing, gejala ini sering lebih cepat berkembang dibandingkan sapi karena ukuran tubuh yang lebih kecil dan metabolisme yang lebih tinggi. Masa inkubasi antraks bervariasi antara 3-7 hari, tetapi dapat mencapai 1-14 hari tergantung dosis spora yang terhirup atau tertelan melalui rumput, tanah, atau air yang terkontaminasi (Martindah, 2017).
Ciri patognomonik antraks pada sapi dan kambing adalah perdarahan non-koagulan dari orifisium tubuh seperti hidung, mulut, anus, vulva, dan telinga setelah kematian, dengan eksudat darah berwarna coklat kehitaman yang berbusa. Pembengkakan edema lokal sering muncul di daerah submandibula (bawah rahang), sternum, perineum, dan scrotum, disebabkan oleh edema toxin (ET) yang mengganggu keseimbangan natrium dan air di jaringan. Pembengkakan kelenjar getah bening (limphoglandula) di leher dan kepala juga khas, terutama pada sapi, yang membedakannya dari penyakit lain seperti blackleg atau hemorrhagic septicemia (Martindah, 2017).
Pada nekropsi lapangan, ditemukan splenomegali ekstrem (limpa membesar 5-10 kali ukuran normal) dengan konsistensi lunak dan penuh darah kental, serta petekie dan ekimosis pada mukosa saluran pernapasan, pencernaan, dan organ visceral. Darah mengandung sekitar 80% bakteri vegetatif Bacillus anthracis menjelang kematian, yang menegaskan peran lethal toxin (LT) dalam menyebabkan syok vaskular, depresi miokard, dan kegagalan multiorgan dalam waktu 24-48 jam (Martindah, 2017).
Infeksi antraks dimulai ketika spora Bacillus anthracis teraktivasi di makrofag hewan setelah inhalasi atau ingestsi, kemudian berkembang menjadi bentuk vegetatif yang memproduksi tiga toksin utama: protective antigen (PA), lethal factor (LF), dan edema factor (EF). Kombinasi PA-LF membentuk lethal toxin yang merusak endotel vaskular perifer dan miokardium, sementara PA-EF sebagai edema toxin menyebabkan akumulasi cairan ekstraseluler masif. Respons imun hewan ruminansia yang lemah terhadap spora membuat infeksi menyebar secara sistemik ke limpa, darah, dan jaringan lunak, dengan kematian disebabkan oleh sepsis toksemik hiperakut (Martindah, 2017).
Faktor risiko klinis spesifik pada sapi dan kambing termasuk musim hujan awal ketika rumput tumbuh pesat dan ternak menggali tanah untuk mineral, meningkatkan paparan spora. Ternak muda lebih rentan karena limpa belum matang, sedangkan pada kambing betina bunting, infeksi dapat menyebabkan abortus akut disertai perdarahan vagina (Marindah, 2017).
Diagnosis klinis lapangan mengandalkan triad: kematian mendadak berkluster, eksudat darah non-koagulan, dan riwayat akses ternak ke lahan endemik. Pemeriksaan mikroskopis darah perifer segar menunjukkan batang Gram-positif berskapsul (central spore pada polychrome methylene blue), dengan konfirmasi melalui uji McFadyean (reaksi kapsul dengan polikrom metilen biru). Sampel limpa, darah, atau eksudat dikirim untuk kultur anaerob atau PCR lapangan jika tersedia, sementara uji gamma phage lysis memberikan hasil dalam 1-2 jam untuk konfirmasi cepat (Martindah, 2017).
Baca Juga: Upaya Penerapan Biosecurity: Langkah Kecil untuk Pencegahan Penyebaran Penyakit pada Hewan Ternak
3.4 Diagnostik Lapangan
Di lapangan, mendeteksi antraks pada sapi dan kambing harus dilakukan secepat mungkin agar peternak bisa langsung bertindak mencegah penyebaran yang lebih luas, terutama mengingat penyakit ini bersifat zoonosis yang bisa menular ke manusia. Salah satu cara sederhana dan efektif yang bisa dilakukan langsung di tempat adalah pewarnaan McFadyean, teknik pewarnaan policrome methylene blue atau Giemsa yang mampu menunjukkan kapsul ungu khas pada bakteri Bacillus anthracis saat diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000X. Saat sampel darah dioleskan ke kaca objek, difiksasi dengan metanol, lalu diwarnai, kapsul bakteri akan tampak sebagai lapisan amorf berwarna merah muda mengelilingi batang bakteri biru-hitam, memberikan petunjuk jelas tentang infeksi antraks bahkan pada hewan yang baru mati atau masih sakit, metode ini sangat praktis karena tidak butuh alat canggih dan bisa jadi langkah skrining awal di laboratorium veteriner daerah seperti yang dilakukan di Tuban, Jawa Timur (Setyawan dan Rahmawati, 2025).
Untuk diagnosis yang lebih cepat dan andal, petugas lapangan bisa memanfaatkan rapid test immunochromatography yang mendeteksi antigen antraks secara instan mirip tes kehamilan, tanpa perlu listrik atau lab rumit, sehingga cocok untuk kondisi darurat di peternakan terpencil. Jika peralatan lebih maju tersedia, PCR portabel menjadi pilihan unggulan karena bisa langsung mengidentifikasi DNA bakteri dengan sensitivitas tinggi, melengkapi keterbatasan metode pewarnaan yang kadang kurang peka pada sampel akhir, penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ini memperkuat surveilans kesehatan hewan ruminansia di daerah rawan seperti Jawa Timur (Setyawan dan Rahmawati, 2025).
Prinsip epidemiologi sederhana tapi krusial di sini: kalau tiba-tiba banyak sapi atau kambing mati mendadak dalam waktu singkat di satu kawasan, langsung curigai antraks sebagai biang keroknya, karena gejala seperti itu khas penyakit ini yang menyebabkan kematian cepat tanpa tanda peringatan jelas. Hal ini mendorong aksi cepat seperti isolasi area dan pengujian sampel darah dari hewan sakit lainnya. Yang paling penting, ada larangan tegas untuk tidak pernah membuka bangkai hewan yang dicurigai antraks, sebab spora bakteri yang super tahan ini bisa beterbangan ke udara, tanah, atau air, memperbesar risiko infeksi baru pada ternak sehat maupun manusia di sekitar. Sebaliknya, bangkai harus dibakar atau dikubur dalam dalam dengan biosekuriti ketat untuk memutus rantai penularan (Setyawan dan Rahmawati, 2025).
Pendekatan diagnostik lapangan seperti ini tidak hanya menyelamatkan ternak tapi juga melindungi masyarakat peternak, sebagaimana dibuktikan dalam studi di laboratorium kesehatan hewan Tuban yang menekankan pentingnya deteksi dini berbasis ulas darah sederhana disertai edukasi biosekuriti (Setyawan dan Rahmawati, 2025).
3.5 Pengendalian dan Pencegahan
Penyakit antraks yang disebabkan oleh Bacillus anthracis tetap menjadi masalah kesehatan hewan dan manusia karena sporanya mampu bertahan lama di tanah, sehingga daerah yang pernah terpapar berisiko mengalami kasus berulang. Di Indonesia, antraks sudah tergolong endemis dan masuk dalam daftar penyakit hewan menular strategis karena tingginya kematian ternak serta dampak sosial ekonomi yang ditimbulkannya. Upaya pengendalian dan pencegahan tidak hanya bergantung pada respons saat wabah muncul, tetapi harus dilakukan secara berkelanjutan, terutama karena penularan pada manusia umumnya terjadi akibat kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau produk hewan yang terkontaminasi. Pemahaman masyarakat yang masih rendah, termasuk kebiasaan memotong atau mengonsumsi hewan sakit, turut mempertahankan tingginya risiko penyebaran kasus (Firdaus, 2024).
Langkah utama pengendalian antraks pada ternak dimulai dari pengawasan daerah endemis dan pemetaan lokasi yang sering mengalami kejadian berulang. Kegiatan vaksinasi ternak di daerah risiko tinggi sangat diperlukan mengingat spora dapat bertahan bertahun-tahun di lingkungan. Pengelolaan bangkai merupakan langkah pencegahan awal, bangkai hewan terinfeksi harus ditangani dengan cara dibakar atau dikubur dalam-dalam, karena jika dibiarkan di area penggembalaan, spora akan masuk kembali ke tanah dan memicu wabah berikutnya. Pendekatan ini perlu disertai edukasi kepada peternak mengenai bahaya membuka bangkai, mengolah daging dari hewan mati mendadak, serta pentingnya segera melaporkan kasus kematian mencurigakan. Perubahan perilaku dan peningkatan persepsi risiko di tingkat peternak menjadi salah satu faktor yang memperkuat efektivitas pengendalian (Firdaus, 2024).
Pada manusia, pencegahan diprioritaskan melalui pengurangan paparan langsung dengan hewan atau bahan hewan berisiko serta peningkatan kepatuhan terhadap standar kesehatan kerja, terutama bagi kelompok dengan risiko tinggi seperti peternak, dokter hewan, pekerja laboratorium, dan pengolah produk kulit. Dalam situasi tertentu, imunisasi diperuntukkan bagi individu yang berisiko tinggi terpapar, menggunakan vaksin berbasis antigen pelindung yang memicu terbentuknya antibodi terhadap toksin bakteri. Pemberian vaksin tersebut terbukti efektif mencegah perkembangan penyakit berat, terutama ketika paparan tidak dapat dihindarkan. Dalam konteks bioterorisme atau paparan aerosol, profilaksis pascapajanan juga direkomendasikan untuk mencegah berkembangnya infeksi sistemik yang berpotensi fatal (Hadi, 2024).
Dari sisi medis, keberhasilan pencegahan bergantung pada deteksi cepat, diagnosis yang tepat, serta penatalaksanaan segera ketika ditemukan gejala yang sesuai. Antraks kulit, yang merupakan bentuk paling sering ditemukan, harus segera dikenali agar penularan dari sumber awal dapat dihentikan. Keterlambatan dalam identifikasi kasus dapat menyebabkan komplikasi berat, termasuk sepsis dan meningitis. Oleh karena itu, koordinasi lintas sektor antara tenaga kesehatan dan dokter hewan sangat penting untuk memutus rantai penularan serta memastikan investigasi sumber penularan dilakukan secara menyeluruh (Susanto, 2023).
Secara keseluruhan, pengendalian dan pencegahan antraks menuntut pendekatan terpadu yang mencakup vaksinasi ternak, manajemen bangkai yang benar, edukasi masyarakat, pengawasan daerah endemis, peningkatan kesadaran risiko, serta kesiapsiagaan kesehatan masyarakat. Tanpa pembenahan pada tingkat peternak dan sistem pengawasan, kasus antraks akan terus muncul berulang, terutama di wilayah yang kondisi lingkungannya memungkinkan spora bertahan dan kembali menginfeksi hewan serta manusia.
3.6 Faktor Lingkungan dan Ketahanan Spora Antraks
Penyebaran antraks yang masih terus muncul di berbagai wilayah berkaitan erat dengan ketahanan spora Bacillus anthracis terhadap kondisi lingkungan. Spora bakteri ini dapat bertahan sangat lama di tanah karena sifatnya yang resisten terhadap panas, kelembapan, perubahan suhu, serta pH yang relatif netral, sehingga memungkinkan keberadaannya tetap stabil selama puluhan tahun bahkan tanpa inang. Ketika kondisi lingkungan mendukung, seperti pada awal musim hujan saat rumput baru tumbuh dan ternak banyak merumput, spora mudah terangkat ke permukaan dan tertelan oleh hewan. Situasi tersebut menjelaskan mengapa kasus antraks sering muncul kembali di lokasi yang sama dan menjadi kejadian alamiah berulang, terutama pada daerah dengan tanah yang kaya bahan organik, pH moderat, serta suhu yang hangat. Faktor-faktor lingkungan ini memungkinkan spora bertahan dalam bentuk dorman hingga menemukan inang yang tepat (Firdaus, 2024).
Ketahanan spora juga menjadi penyebab mengapa penyakit ini tetap endemis di berbagai wilayah, termasuk sejumlah provinsi di Indonesia, meskipun upaya pengendalian telah dilakukan. Spora yang masuk ke tubuh melalui pencernaan, pernapasan, atau kulit akan kembali berubah ke bentuk vegetatif, kemudian berkembang di jaringan dan menghasilkan toksin yang menyebabkan gejala sistemik, sepsis, hingga kematian pada hewan maupun manusia. Pola endemisitas ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian tidak hanya bergantung pada penanganan kasus klinis, tetapi juga pada kemampuan mengurangi paparan lingkungan yang terkontaminasi, terutama pada daerah dengan praktik peternakan tradisional dan sistem pengelolaan bangkai yang kurang memadai (Susanto, 2023).
Kondisi iklim turut memengaruhi munculnya kembali penyakit ini. Suhu panas yang disusul curah hujan tinggi memicu perubahan tanah yang dapat membawa spora ke permukaan, meningkatkan peluang hewan terpapar ketika merumput. Lingkungan dataran rendah dan area dengan perubahan iklim yang ekstrem bahkan disebut sebagai tempat ideal bagi pembentukan spora dan keberlangsungan B. anthracis. Situasi ini relevan dengan laporan wabah yang sering terjadi di awal tahun, bersamaan dengan musim hujan, yang kemudian berdampak pada manusia yang kontak langsung dengan ternak, bangkai, atau produk hewan yang terkontaminasi (Hadi, 2024). Dengan demikian, faktor lingkungan berperan besar dalam mempertahankan kelangsungan spora sekaligus mempengaruhi pola munculnya kasus baru, sehingga penanganan antraks membutuhkan kewaspadaan berkelanjutan serta pendekatan lintas sektor.
Baca Juga: Teknologi AI (Artificial Intelligence) pada Bidang Peternakan
4. Metodologi
4.1 Pendekatan Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitis yang disusun untuk menelaah karakteristik penyakit antraks berdasarkan data epidemiologis, laporan kasus, dan temuan ilmiah yang telah dipublikasikan sebelumnya. Pendekatan ini memungkinkan penelusuran pola kejadian penyakit, termasuk persebaran geografis yang bersifat enzootik, dinamika kasus pada ternak dan manusia, serta faktor sosial yang mempengaruhi tingginya angka kemunculan antraks di wilayah endemis. Melalui metode ini, informasi mengenai kondisi lapangan seperti kebiasaan masyarakat, kecenderungan pemotongan hewan sakit, penanganan bangkai, dan cakupan vaksinasi dapat dianalisis secara menyeluruh untuk memahami faktor yang mendorong berulangnya wabah di Indonesia. Penggunaan data sekunder dari penelitian terdahulu juga mendukung identifikasi hubungan antara karakteristik lingkungan, keberadaan spora, serta risiko penularan pada kelompok masyarakat tertentu. Dengan demikian, metode ini memfasilitasi pemetaan faktor risiko, gambaran klinis, penularan, serta relevansinya terhadap strategi pengendalian dan pencegahan di lapangan.
4.2 Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari studi kepustakaan serta laporan surveilans dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif analitis untuk mengidentifikasi pola kejadian antraks, kecenderungan klinis, serta faktor lingkungan dan sosial yang berkontribusi terhadap penyebaran penyakit. Analisis dilakukan dengan mengelompokkan informasi berdasarkan variabel seperti gejala klinis, riwayat paparan, kondisi geografis, praktik pemeliharaan ternak, serta strategi pengendalian yang telah diterapkan di berbagai wilayah. Setiap temuan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya untuk menilai konsistensi data dan memperkuat interpretasi. Selain itu, analisis tematik digunakan untuk mengaitkan temuan lapangan dengan konsep epidemiologi dan prinsip diagnostik, sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara karakteristik penyakit, dinamika penularan, dan efektivitas upaya pengendalian. Hasil analisis ini kemudian menjadi dasar dalam merumuskan rekomendasi strategis bagi peningkatan deteksi dini dan pengendalian antraks pada sapi dan kambing di daerah endemis.
4.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data dilakukan melalui dua pendekatan utama yang saling melengkapi untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif mengenai antraks pada sapi dan kambing. Pertama adalah studi kepustakaan (library research), yang mencakup pencarian, pengumpulan, dan analisis berbagai literatur ilmiah, artikel jurnal, serta buku dan sumber akademik lainnya yang relevan dengan penyakit antraks, metode diagnostik lapangan, dan upaya pengendalian penyakit. Studi kepustakaan ini berfungsi sebagai dasar teoritis dan memperkuat landasan ilmiah penelitian dengan merujuk pada berbagai hasil penelitian terdahulu dan perkembangan terbaru dalam bidang kesehatan hewan dan zoonosis.
Kedua, dilakukan analisis terhadap laporan surveilans dan dokumen resmi kasus dari instansi terkait, seperti dinas peternakan dan laboratorium kesehatan hewan. Data ini meliputi rekam medis, catatan kasus kematian mendadak, hasil diagnosis laboratorium, serta tindakan pengendalian yang telah diterapkan di lapangan. Analisis dokumen resmi ini memungkinkan peneliti untuk memahami tren epidemiologi antraks, efektivitas metode diagnostik yang digunakan, serta dampak pengendalian yang dilakukan di lapangan. Dengan menggabungkan hasil studi kepustakaan dan analisis dokumen surveillance, diharapkan penelitian dapat memberikan rekomendasi praktis dan strategis yang berlandaskan bukti ilmiah dan data lapangan nyata untuk pengendalian antraks yang lebih efektif pada sapi dan kambing.
5. Pembahasan
5.1 Hasil Klinis
Hasil klinis antraks pada sapi dan kambing menunjukkan pola penyakit yang sama-sama berlangsung cepat dan berujung pada kematian. Pada sapi, antraks biasanya muncul dalam bentuk pre-akut sehingga hewan sering ditemukan sudah mati tanpa gejala pendahulu yang jelas. Kondisi ini tampak pada bahwa sapi dapat mati mendadak tanpa sempat menampilkan tanda berupa penurunan nafsu makan atau perubahan perilaku yang berarti, sesuai gambaran antraks akut pada ruminansia besar yang dicirikan oleh kolaps cepat akibat toksin Bacillus anthracis . Pada kambing, tanda klinis yang terlihat sedikit lebih beragam. Beberapa kambing sempat menunjukkan fase terminal berupa kejang, sedangkan lainnya tetap mengalami kematian mendadak tanpa gejala yang mudah diamati. Pola ini sejalan dengan karakter antraks pada ruminansia kecil yang kerap berkembang sangat cepat sehingga gejala khas tidak selalu muncul sebelum hewan mati (Sudarsono dkk., 2018).
Antraks pada manusia muncul dalam beberapa bentuk klinis yaitu kulit, pencernaan, paru, dan meningitis dengan antraks kulit paling sering ±95% sedangkan bentuk lain jarang terjadi. Antraks kulit dimulai dengan papul gatal pada area terbuka, berkembang menjadi vesikel, kemudian ulserasi eschar disertai demam ringan dengan mortalitas tanpa antibiotik 5–20% dan <1% dengan terapi. Antraks pencernaan muncul setelah konsumsi daging terinfeksi dengan gejala awal mual, diare, dan demam yang dapat berkembang menjadi muntah berdarah, nyeri perut, dan edema leher dengan mortalitas 25–75%. Antraks paru memiliki perjalanan dua tahap yaitu awal menyerupai infeksi saluran napas biasa, kemudian berlanjut menjadi syok dan gagal napas dengan mortalitas 75–90%. Antraks meningitis sebagai komplikasi bentuk lain memiliki mortalitas hampir 100% dengan cairan serebrospinal abnormal. Pada hewan, gejala akut dapat berupa demam tinggi, sesak napas, kejang, dan keluarnya darah gelap sebelum mati mendadak. Diagnosis ditegakkan melalui kultur B. anthracis, pewarnaan Gram, serologi ELISA, PCR, metode yang juga dipakai pada pemeriksaan sampel tanah dan daging dalam investigasiserta radiologi pada kasus paru. Penatalaksanaan disesuaikan bentuk klinis seperti pemberian penicillin intravena atau antibiotik alternatif pada kasus sistemik, profilaksis pascapaparan hingga 60 hari, serta vaksinasi pada kelompok risiko tinggi. Pengendalian infeksi mencakup dekontaminasi peralatan dan isolasi sederhana. Prognosis terbaik dicapai melalui deteksi dini dan terapi tepat, sementara mortalitas tertinggi terjadi pada antraks meningitis dan paru, sedangkan antraks kulit meskipun paling umum tetap memerlukan perhatian klinis mendalam (Susanto, 2023).
Perbandingan klinis keduanya menunjukkan bahwa baik sapi maupun kambing sama-sama rentan mengalami kematian mendadak, namun kambing lebih sering memperlihatkan gejala neurologis menjelang kematian. Sapi cenderung mengalami progresi penyakit yang lebih perakut sehingga tanda klinis tidak sempat teramati, sedangkan kambing pada beberapa kasus masih memperlihatkan respons tubuh sebelum kolaps. Meski demikian, pada kedua spesies, jalannya penyakit sangat singkat dan berkaitan erat dengan kemampuan B. anthracis membentuk toksin serta memicu gangguan sirkulasi berat yang kemudian berakhir pada kematian cepat (Sudarsono dkk., 2018).
5.2 Hasil Diagnostik Klinis
Hasil diagnostik lapangan menunjukkan bahwa seluruh kasus yang teridentifikasi memperlihatkan tanda klinis khas antraks kulit. Setiap penderita mengalami demam, munculnya lesi kemerahan yang disertai rasa gatal, serta pembengkakan pada area yang terpapar. Mayoritas kasus juga telah memenuhi kriteria konfirmasi laboratorium, sementara sebagian lainnya masih berada dalam kategori suspek. Variasi usia penderita cukup luas, namun kelompok usia produktif mendominasi karena lebih sering berkegiatan dan memiliki kontak langsung dengan hewan. Perempuan muncul sebagai kelompok dengan proporsi kasus lebih banyak, yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti mengolah bahan pangan asal ternak, mengambil pakan, atau menangani hewan secara langsung. Pekerjaan sebagai petani dan peternak sangat berpengaruh terhadap tingginya risiko karena aktivitas tersebut menempatkan individu dalam kontak erat dengan hewan serta lingkungannya. Kejadian ini menggambarkan bahwa paparan tidak berhenti pada satu sumber saja, melainkan terjadi berulang akibat interaksi berkelanjutan antara manusia, hewan, dan lingkungan yang terkontaminasi. Sumber penularan yang paling kuat berasal dari kontak langsung dengan hewan mati atau bagian tubuhnya, terutama karena penyembelihan dilakukan tanpa prosedur higienis sehingga darah dan jaringan terkontaminasi masuk ke lingkungan. Spora Bacillus anthracis yang sudah ada di sekitar area aktivitas masyarakat, termasuk lahan tempat mengambil pakan juga memegang peranan besar. Kebiasaan menggembalakan hewan di padang rumput yang sama dan mengambil pakan dari lokasi yang sering tergenang atau lembap meningkatkan kemungkinan hewan maupun manusia terekspos spora yang bertahan lama di tanah.Faktor risiko lainnya muncul dari praktik pemeliharaan dan penanganan hewan yang kurang baik, seperti konsumsi daging dari hewan yang mati mendadak, penyembelihan hewan sakit, serta pembuangan bangkai sembarangan. Kurangnya pengetahuan tentang cara penanganan bangkai yang benar membuat spora dapat menyebar lebih luas dan bertahan di lingkungan. Selain itu, mobilisasi hewan dari wilayah endemis juga berkontribusi sebagai sumber paparan baru bagi masyarakat yang sebelumnya tidak terekspos (Layaly dkk., 2024).
Secara keseluruhan, hasil diagnostik lapangan memperlihatkan bahwa kejadian antraks dipengaruhi oleh interaksi antara faktor manusia, hewan, dan lingkungan. Kontak langsung dengan ternak, perilaku berisiko dalam pemeliharaan dan pengolahan hewan, serta keberadaan spora yang mampu bertahan lama di tanah menjadi faktor yang memperkuat penularan.
5.3 Pembahasan Klinis
Temuan lapangan terkait kasus kematian mendadak pada sapi dan kambing menunjukkan kesesuaian tinggi dengan literatur ilmiah tentang antraks, di mana Bacillus anthracis menyebabkan gejala perakut yang dominan berupa kematian tiba-tiba tanpa tanda klinis sebelumnya. Dokumen biosekuriti menyoroti bahwa kejadian sporadis antraks di Indonesia, seperti peningkatan kasus dari 3 pada 2014 menjadi 270 pada 2015, mencerminkan pola lapangan di mana hewan ruminansia ditemukan mati secara tiba-tiba dengan darah menggenang dari lubang tubuh, sesuai dengan karakteristik penyakit zoonosis yang berpotensi wabah. Peternak sering melaporkan tidak ada gejala demam atau lesu yang jelas sebelum kematian, yang selaras dengan data BBLitvet tentang sampel zoonosis yang masuk untuk konfirmasi diagnosis, sehingga memperkuat bahwa observasi lapangan dapat menjadi dasar awal pengendalian sebelum konfirmasi laboratorium (Septiyani dkk., 2022).
Secara fisiologis, dominasi gejala kematian mendadak disebabkan oleh toksin letal dan edematosa yang diproduksi B. anthracis setelah spora berkecambah di darah hewan, memicu syok septik masif dan perdarahan internal hanya dalam hitungan jam hingga dua hari. Toksin ini menghambat fungsi seluler dan menyebabkan kolaps kardiorespiratori cepat, terutama pada sapi dan kambing yang rentan karena sistem imun ruminansia kurang efektif melawan infeksi bakteri aerob gram positif ini di fase perakut. Hal ini menjelaskan mengapa gejala seperti pembengkakan lokal atau demam jarang terlihat sebelum kematian, berbeda dengan bentuk subakut yang lebih lambat, sehingga peternak cenderung menemukan bangkai segar tanpa perjuangan jelas (Septiyani dkk., 2022).
Penilaian kecepatan progres penyakit antraks bersifat sangat cepat, dengan kematian mendadak dalam waktu singkat—sering kurang dari 24 jam setelah onset infeksi sehingga memicu kecurigaan tinggi terhadap antraks di lapangan. Pola ini mirip kasus historis seperti Sverdlovsk 1979 di mana spora menyebabkan fatalitas tinggi secara inhalasi, dan di Indonesia tercermin dari data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan angka fatalitas zoonosis antraks melebihi 30-100 persen jika tidak terkendali. Progres kilat ini disebabkan replikasi bakteri eksponensial di jaringan lunak pasca-trauma kulit atau ingestif, yang menghasilkan bakteriémia masif sebelum respons imun berkembang, menjadikan intervensi lapangan krusial untuk mencegah penyebaran spora melalui bangkai (Septiyani dkk., 2022).
Pendekatan pengendalian berbasis diagnostik lapangan menekankan larangan tegas membuka bangkai hewan mati mendadak, karena paparan spora B. anthracis yang bertahan lama di lingkungan dapat menginfeksi peternak melalui aerosol atau kontak kulit. Petugas lapangan harus segera mengkarantina area, membakar bangkai secara utuh dengan pengawasan, dan melaporkan ke BBLitvet untuk konfirmasi, sesuai protokol biosekuriti yang mencegah zoonosis menjadi bencana biologis. Langkah ini tidak hanya memutus rantai transmisi ke manusia tetapi juga melindungi ternak lain dari kontaminasi tanah, dengan pelatihan peternak tentang tanda curiga seperti darah tidak koagulasi untuk respons cepat tanpa fasilitas lab (Septiyani dkk., 2022).
Baca Juga: Pemotongan Hewan Kurban pada Idul Adha dari Sudut Pandang Filsafat Sains
5.4 Pembahasan Diagnostik
Metode diagnostik lapangan untuk antraks pada sapi dan kambing punya keunggulan besar dalam hal kecepatan dan kemudahan, di mana peternak atau petugas bisa langsung curiga dari tanda eksternal seperti darah hitam tidak beku mengalir dari hidung, mata, dan anus bangkai yang membengkak cepat, ditambah bau khas busuk manis serta limpa membesar saat dicek sekilas, tanpa butuh lab mahal atau waktu lama seperti kultur bakteri yang bisa gagal karena kontaminasi. Pendekatan ini super praktis di peternakan sporadis seperti di Slovenia atau Indonesia, di mana enam sapi mati mendadak dalam dua minggu dikonfirmasi cepat via observasi nekropsi awal, memungkinkan karantina instan sebelum spora Bacillus anthracis nyebar lewat tanah basah atau angin. Namun, keterbatasannya jelas karena hanya presumtif mikroskopi McFadyean dengan methylene blue sering kasih hasil campur aduk akibat kapsul rusak postmortem, dan kultur gagal isolasi dari tiga dari enam sampel limpa meski PCR positif semua, sementara metode molekuler seperti real-time PCR targeting gen capC dan pag unggul dengan Ct rendah (16-29) bahkan dari kliping telinga non-invasif yang positif tinggi tanpa buka bangkai. Di lapangan terpencil, ini berarti petugas harus gabungkan observasi visual dengan kirim sampel limpa atau telinga ke lab rujukan untuk hindari false negative, karena kultur lambat 24 jam dan rentan gagal seperti kasus di mana hanya 3/6 limpa positif kultur tapi semua 6 positif PCR, menekankan perlunya PCR sebagai first-line untuk konfirmasi cepat lindungi kesehatan publik (Avberšek et al., 2021).
Larangan nekropsi pada bangkai dicurigai antraks bukan cuma protokol kaku, tapi keharusan mutlak demi keselamatan karena saat pisau potong masuk, bakteri vegetatif langsung berubah spora tahan udara yang nyebar via aerosol atau kontak kulit, berisiko infeksi inhalasi fatal seperti Sverdlovsk 1979, sementara peternak nekat buka untuk “lihat isi” bisa picu zoonosis ke manusia dengan fatalitas 20-100%. Di kasus Slovenia, nekropsi awal dua sapi tunjukkan darah tidak koagulasi, limpa congested parah, dan edema paru, tapi sampel selanjutnya diambil via insisi kecil di dinding abdomen kiri atas untuk hindari kontaminasi ruang nekropsi dan risiko biosafety, karena spora bertahan puluhan tahun di tanah. Implikasi keselamatannya luas yaitu cegah paparan petugas via darah tercemar, lindungi peternak dari antraks kulit saat motong daging, dan putus transmisi ke ternak lain saat musim kering sehingga protokolnya bakar utuh bangkai di tempat, tanam dalam lubang dalam dengan kapur, plus profilaksis antibiotik untuk kontak manusia, selaras panduan WHO yang prioritaskan pencegahan sporulasi daripada investigasi invasif (Avberšek et al., 2021).
5.5 Pembahasan Pengendalian
Hasil pengendalian antraks menunjukkan penurunan angka kejadian penularan, keberhasilan pengendalian antraks tersebut dilakukan melalui tiga agenda, yaitu agenda darurat, agenda temporer serta agenda permanen yang dituangkan dalam bentuk investigasi dan penelusuran kasus, pemeriksaan sampel, menghentikan lalu lintas keluar dan masuk di lokasi tertular. Juga juga dilakukan penyuntikan antibiotik, melakukan dekontaminasi dengan disinfektan pada lokasi penyembelihan dan penguburan ternak serta penyemenan tempat penguburan ternak terinfeksi antraks (Limpo, 2023).
Pengendalian penyakit antraks dapat ditunjang dari kegiatan diagnosis penyakit antraks. Salah satu metode diagnosis yaitu identifikasi agen, uji serologis, molekuler dan Ascoli, dan untuk teknis diagnosis dapat dilakukan dengan berbagai teknis antara lain Immunochromatographic Assay, Lysis Gamma Phage, Direct Fluorescence Assay (DFA) dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Diagnosis terhadap penyakit antraks harus dilakukan secara rutin karena spora antraks mampu bertahan hidup hingga puluhan tahun sehingga mengakibatkan pembasmian terhadap penyakit antraks merupakan hal yang mustahil terjadi. Selain diagnosis penyakit antraks, terdapat macam-macam kegiatan yang dapat mengendalikan penyakit antraks yaitu dengan pengecekan berskala, vaksinisasi, deteksi dini, pengobatan terhadap ternak yang terjangkit penyakit antraks, penyelidikan epidemiologi, penyuluhan terkait penyakit antraks dan keamanan pangan asal ternak ruminansia (Martindah, 2017).
Budidaya dalam peternakan harus memiliki kesinambungan yang erat antara tiga pilar peternakan yaitu breeding, feeding dan management dengan kaidah kesehatan ternak yang mencakup pengendalian situasi ternak, tindakan pencegahan dan pengobatan pada ternak dan penerapan biosekuriti yang baik merupakan suatu tindakan yang harus dilakukan guna pengendalian terhadap penyakit antraks pada ternak (Romadona, 2019). Hal tersebut, bertujuan untuk mengurangi tingkat resiko yang diakibatkan oleh parasit, penyakit dan predator (Kusumastuti, 2018). Hal tersebut, bertujuan untuk mengurangi tingkat resiko yang diakibatkan oleh parasit, penyakit dan predator (Kusumastuti, 2018). Penerapan biosekuriti dilaksanakan mulai dari hulu sampai hilir dengan berdasarkan prinsip kesehatan ternak. Biosekuriti yang tepat mampu mencegah atau mengeliminasi penyakit untuk masuk ke kawasan perkandangan ternak (Sarini et al., 2018).
5.6 Pembahasan Implikasi Zoonosis
Pembahasan implikasi zoonosis dan risiko manusia merujuk ke pencegahan yang dilakukan membutuhkan pengawasan yang ketat terhadap lalu lintas ternak atau keluar masuknya hewan ternak di dalam kandang maupun suatu peternakan. Jika ternak terkena penyakit antraks segera mengkarantina ternak tersebut agar tidak menyebarkan penyakit kepada ternak lain. Apabila ternak mati karena penyakit antraks maka harus dikubur dalam dengan kedalaman minimal dua meter agar tidak menular pada ternak yang masih hidup (Bagenda et al., 2018).
Budidaya ternak pada dasarnya harus dapat melindungi ternaknya dari segala bentuk ancaman, antara lain ancaman penyakit, cemaran kimiawi, residu obat dan mikroba patogenik. Keamanan pangan telah menjadi bagian penting dalam produk peternakan. Untuk mencegah adanya pangan yang terinfeksi antraks yaitu dengan menghindari daging ternak yang belum matang atau kurang matang (Clarasinta dan Tri, 2017). Wilayah yang mengalami endemis antraks tentunya akan membahayakan manusia di daerah tersebut. Kontaminasi penyakit antraks dari ternak ke manusia dapat melalui kontak langsung dan tidak langsung (Masdiana et al., 2018).
Kasus antraks pada manusia sering terjadi mengikuti kasus antraks pada ternak, dimana perilaku manusia berpengaruh dalam transmisi penyakit ini. Selain itu juga ada tradisi memasak daging ternak yang kurang matang, sehingga kuman atau bakteri tidak seluruhnya mati. Ditambah para petani memilih menyembelih ternak sakit sewaktu masih hidup sehingga dagingnya bisa dimakan atau dijual dalam usaha untuk menutup investasi finansialnya. Hal tersebut juga dinyatakan bahwa kemiskinan, kurangnya akses terhadap protein dari daging dan alasan ekonomi merupakan pemicu bagi masyarakat peternak untuk mengonsumsi daging dari ternak terinfeksi (Sitali et al., 2017).
Baca Juga: Tim PKM-PI UGM Ciptakan Inovasi Pasto-Milk, Alat Pemerah dan Pasteurisasi Otomatis
6. Kesimpulan
Antraks tetap menjadi ancaman kesehatan serius bagi sapi dan kambing di wilayah endemis di Indonesia karena kemampuan spora Bacillus anthracis yang tahan lama di lingkungan dan sering menyebabkan kejadian berulang. Penyakit ini terutama muncul dalam bentuk klinis per-akut dan akut dengan kematian mendadak, tanda khas berupa perdarahan non-koagulan dari orifisium tubuh, serta pembengkakan edema lokal akibat toksin. Diagnosis dini di lapangan menggunakan teknik pewarnaan dan rapid test sangat penting untuk mendeteksi kasus sebelum konfirmasi laboratorium, sehingga intervensi cepat dapat dilakukan.
Pengendalian antraks memerlukan pendekatan terpadu meliputi vaksinasi ternak, penanganan bangkai yang benar dengan pembakaran atau penguburan dalam, edukasi peternak untuk menghindari praktik memotong hewan sakit dan konsumsi daging terinfeksi, serta pengawasan daerah endemis. Faktor lingkungan seperti musim hujan dan karakteristik tanah juga berperan besar dalam mempertahankan spora dan pola berulang penyakit. Implikasi zoonosis tetap krusial karena manusia dapat tertular melalui kontak langsung dengan hewan atau produk hewani terkontaminasi, sehingga pencegahan harus juga melibatkan proteksi personal dan pemantauan lintas sektor.
Secara keseluruhan, keberhasilan pengendalian dan pencegahan antraks pada sapi dan kambing bergantung pada deteksi cepat berbasis diagnostik lapangan, kesadaran dan perilaku masyarakat, serta manajemen lingkungan dan kebijakan kesehatan hewan yang berkelanjutan.
Penulis:
1. Bella Dona Lily
2. Nadine Renasya Chaida
3. Jocelin Keisha Subroto
Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Udayana (Unud)
Dosen Pengampu: Eirenne Pridari Sinsya Dewi, S.S., M.Ed.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Alam, A., & Sugiarto, S. (2022). Analisis sensitivitas model matematika penyebaran penyakit antraks pada ternak dengan vaksinasi, karantina, dan pengobatan. Jurnal Ilmiah Matematika dan Terapan, 19(2), 180–191.
Avberšek, J., Mićunović, J., Cociancich, V., Paller, T., Kušar, D., Zajc, U., … & Pate, M. (2021). A suggested diagnostic approach for sporadic anthrax in cattle to protect public health. Microorganisms, 9(8), 1567.
Firdaus, A. R., Hasna, R. A., Putri, L. K., Kriswardhani, P. N., Zidan, M. H., & Triratnawati, A. (2024). Mengurai Tradisi Brandu dan Penularan Antraks sebagai Strategi Eliminasi Wabah Antraks di Gunungkidul, Yogyakarta. Umbara, 9(1), 65–75.
Hadi, U. (2024). Antraks: Manifestasi Klinik dan Pengobatan. INTERNAL MEDICINE IN DAILY PRACTICE–Current Updates In Internal Medicine, Perioperative and Emergency Cases Management, 102.
Islami, R., Zahra, S. F., Yuniastuti, P., Pranata, P. E. A., Sefi, M., & Widianingrum, D. C. (2021). Pengetahuan, kebijakan, dan pengendalian penyakit antraks pada ternak di Indonesia. Jurnal Peternakan Sriwijaya, 10(2), 1–8.
Layaly, N. S., Sagita, I. A., Anggriawan, P. A., Hidajah, A. C., Sari, S. S. N., Rahayujati, T. B., … & Ratgono, A. (2024). Investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB) Antraks di Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur Tahun 2023. BALABA, 20(1).
Martindah, E. (2017). Faktor risiko, sikap dan pengetahuan masyarakat peternak dalam pengendalian penyakit antraks. Wartazoa, 27(3), 135–144.
Septiyani, H., & Nefianto, T. (2022). Implementasi biosekuriti dalam penanganan agen biologis penyebab zoonosis di Balai Besar Penelitian Veteriner Implementation of Biosecurity in Treatment of Zoonotic Biological Agent at Research Institute of Veterinary Science.
Setyawan, S., & Rahmawati, A. (2025). Identifikasi Penyakit Antraks Pada Sampel Darah Hewan Ruminansia Di UPT Laboratorium Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Di Tuban. Jurnal Pertanian Terpadu, 13(1), 149–156.
Sudarsono, I., Poermadjaa, B., Apriliana, U. I., & Handoko, A. (2018). AEVI-17 Investigasi Outbreak Anthrax di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017. Hemera Zoa.
Susanto, W. (2023). Diagnosis dan Tatalaksana Antraks. Cermin Dunia Kedokteran, 50(12), 660–664.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












