Orang sering membayangkan psikopat sebagai pembunuh berantai berhati dingin, kejam, dan manipulator seperti di film. Tapi bagaimana jika persepsi itu keliru?
Psikopat dalam Imajinasi
Kebanyakan orang ketika mendengar istilah psikopat menganggapnya sebagai pembunuh berantai berupa darah dingin seperti yang sering digambarkan dalam film thriller. Namun, pada kenyataannya, psikopat tidak dapat didefinisikan sesederhana itu.
Kondisi ini adalah salah satu gangguan kepribadian yang sering memicu kontroversi serta menjadi sumber berbagai kesalahpahaman dalam masyarakat.
Istilah “psikopat” sering disalahgunakan untuk melabeli seseorang yang berperilaku buruk, meski sebenarnya psikopat adalah konsep klinis yang jauh lebih kompleks dan membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam.
Jadi, sebelum menuding orang sebagai psikopat, bongkar terlebih dahulu yuk makna sebenarnya dari apa yang dimaksud dengan istilah tersebut.
Psikopat secara Umum
Pada umumnya, istilah “psikopat” digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang memiliki rasa empati yang sangat minim, suka melakukan tindakan manipulatif, dan kerap melakukan tindakan impulsif tanpa memperdulikan konsekuensinya.
“Psikopat” seringkali dijelaskan sebagai seseorang yang kerap mengabaikan norma sosial, tidak bisa membedakan antara perilaku yang baik ataupun buruk, dan kurang bertanggung jawab. Selain itu, mereka juga dianggap sering merugikan orang lain.
Sering kali dalam film, psikopat digambarkan secara berlebihan dalam peran yang bertentangan dengan perilaku baik atau antihero.
Mereka adalah penipu yang menawan, pembunuh berantai gila, atau pelanggar tingkat kronis dengan keteraturan kenakalan remaja. Hal ini tentunya membuat opini penonton hanya berdasarkan karakter yang tampak dan menunjukkan sifat atau perilaku yang terkait dengan stereotip populer psikopati yang tidak terdefinisi.
Baca Juga: Anonimitas di Era Digital: Dampak Gangguan Kepribadian Antisosial dalam Konteks Virtual
Psikopat vs Antisosial
Perlu diketahui bahwa psikopat bukanlah diagnosis resmi dan tidak pernah disebutkan dalam buku panduan psikiatri DSM-5. Dalam praktik klinis, Psikopat merupakan diagnosis dari gangguan kepribadian antisosial (Antisocial Personality Disorder) yang dapat berasal dari berbagai genetik dan faktor lingkungan.
Ciri-ciri gangguan ini mencakup kurangnya empati, agresi terhadap manusia atau hewan, kecenderungan manipulatif, pesona dangkal, serta pola perilaku yang melanggar aturan. Diagnosisnya baru bisa ditegakkan setelah usia 18 tahun, tetapi perilaku ini sudah muncul setidaknya saat individu menginjak usia 15 tahun.
Jadi orang-orang dengan gangguan ini bukan berarti anti sosial dalam arti tidak mau bergaul dan tidak suka bersosialisasi yaa.
Jika seseorang menunjukkan ciri-ciri di atas, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog. Evaluasi profesional penting untuk memastikan apakah pola-pola tersebut benar mengarah pada gangguan kepribadian antisosial atau justru berasal dari faktor lain.
Dengan pemeriksaan yang tepat, individu dapat memperoleh penanganan yang sesuai, mulai dari terapi perilaku, intervensi lingkungan, hingga pemantauan jangka panjang untuk mencegah perilaku yang semakin merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Baca Juga: Dampak Psikologis Anak yang Sering Dipukul Sejak Kecil
Apakah Semua Psikopat Adalah Kriminal?
Jawabannya tentu saja tidak.
Seseorang yang menunjukkan ciri-ciri psikopat tidak langsung otomatis membuatnya menjadi seorang penjahat. Faktanya, banyak orang dengan sifat psikopat yang akhirnya menjadi pengusaha sukses, CEO, dan bahkan politisi.
Orang-orang ini mungkin merupakan manipulator yang terampil dan kurang emosional, tetapi itu tidak berarti bahwa mereka pernah melakukan tindakan kriminal.
Lalu, bagaimana cara membedakan Psikopat dan Gangguan Kepribadian Antisosial secara sederhana?
Singkatnya, tidak semua orang dengan gangguan kepribadian antisosial adalah psikopat. Tetapi orang yang psikopat biasanya masuk dalam kategori antisosial.
Penulis:
1. Rahmat Ikram (G1C124078)
2. Nurul Maysaroh (G1C124086)
3. Rahmayani Puspitasari (G1C124109)
4. Cut Syarifah Nur (G1C124115)
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi (UNJA)
Dosen Pengampu:
1. Nurul Hafizhah, M.Psi., Psikolog
2. Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog
3. Mindy Maghfira, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












