Permasalahan gizi pada anak Indonesia masih menjadi tantangan serius yang memerlukan penanganan komprehensif dan melibatkan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting Indonesia mencapai 19,8 % atau setara dengan 4,4 juta balita, meskipun angka ini telah menurun sebesar 1,7 % dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 21,5 %.
Menurut UNICEF Indonesia, lebih dari 4,5 juta anak di bawah lima tahun mengalami stunting, menjadikannya jenis malnutrisi yang paling umum dijumpai di negara ini, dengan konsekuensi jangka panjang yang mencakup pengurangan kemampuan kognitif, peningkatan kemungkinan terkena penyakit tidak menular saat dewasa, serta berkontribusi pada keberlanjutan siklus kemiskinan antar generasi.
Angka stunting di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu 21,6% menurut hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Meskipun terjadi penurunan dari 24,4% pada tahun 2021, masih diperlukan upaya besar untuk mencapai target penurunan stunting menjadi 14% pada tahun 2024 (Dini dan Harahap, 2025).
Hal ini menunjukkan belum optimalnya pemberian makanan pendamping ASI yang tepat dari segi kesesuaian umur, frekuensi, jumlah, tekstur dan variasi makanan.
Merespons tantangan tersebut, Badan Gizi Nasional yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 dengan anggaran sebesar Rp.71 triliun mempunyai tugas melaksanakan pemenuhan gizi nasional, termasuk program Makan Bergizi Gratis.
BGN meminta para kepala daerah agar berinisiatif menggerakkan masyarakat di wilayah masing-masing untuk bertani dan beternak guna mencegah inflasi pangan akibat peningkatan kebutuhan bahan baku untuk program Makan Bergizi Gratis.
Imbauan Badan Gizi Nasional agar masyarakat dapat menanam dan beternak merupakan kolaborasi dengan Badan Pengentasan Kemiskinan yang menjadi langkah strategis dalam pemberdayaan masyarakat miskin melalui pelibatan langsung mereka dalam rantai pasok MBG, termasuk sebagai tenaga kerja di dapur-dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi.
Pelibatan masyarakat akan membantu pasokan bahan baku seiring meningkatnya jumlah SPPG (Satuan Pelyanan Pemenuhan Gizi), mengingat saat ini lebih dari 15 ribu dapur BGN telah didirikan di seluruh penjuru tanah air yang menimbulkan kelangkaan barang dan kenaikan harga beberapa komoditas seperti sayur, telur dan buah-buahan di beberapa daerah.
Penelitian Safkaur, et. al. (2025), menunjukkan bahwa konsumsi pangan merupakan salah satu faktor penyebab langsung terhadap permasalahan gizi balita yang erat kaitannya dengan ketahanan pangan rumah tangga.
Indonesia menghadapi masalah triple burden malnutrition yakni kekurangan gizi (stunting dan wasting), kegemukan, dan kekurangan mikronutrien (kelaparan tersembunyi), di mana setidaknya ada 23 juta orang Indonesia yang tidak mampu memenuhi asupan gizi berimbang setiap hari (Panggabean, et. al. 2024).
Gerakan Badan Gizi Nasional yang mengajak masyarakat untuk bertani dan berternak bukan hanya sekadar upaya pemenuhan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis, tetapi juga merupakan strategi jangka panjang untuk membangun ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan, memberdayakan ekonomi lokal, serta memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan akses nutrisi yang cukup dan berkualitas demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan adalah kondisi di mana setiap orang, mulai dari tingkat nasional hingga individu, memiliki akses yang cukup terhadap makanan. Aspek ini sangat berkaitan dengan gizi, karena nutrisi yang terkandung dalam makanan memiliki fungsi penting bagi tubuh.
Makanan dan gizi memainkan peran vital dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Status gizi balita sangat dipengaruhi oleh ketahanan pangan. Ketika ketahanan pangan tidak mencukupi, ini dapat mengakibatkan status gizi yang buruk, yang pada gilirannya mengurangi kesehatan balita yang rentan terhadap masalah gizi (Jamil, et. al, 2021).
Ketahanan pangan adalah sebuah konsep yang memiliki banyak dimensi, mencakup seluruh rantai sistem pangan dan gizi, meliputi produksi, distribusi, konsumsi, serta status gizi (Khomsan, et. al, 2023).
Ketahanan pangan diartikan sebagai situasi di mana kebutuhan makanan dalam sebuah rumah tangga telah terpenuhi, tersedia dalam kuantitas yang cukup, serta memiliki variasi yang aman dan bergizi untuk setiap anggota keluarga, khususnya anak-anak kecil (Suhaimi, 2019).
Ketahanan pangan ini memiliki dampak langsung terhadap masalah gizi. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi ketahanan pangan, seperti lapangan pekerjaan dan tingkat pendidikan (Gunawan dan Septriana, 2019).
Penilaian tentang kualitas konsumsi pangan dapat dilihat dari skor Pola Pangan Harapan Indonesia (PPH) yang diperkirakan mencapai 93,5 pada tahun 2024 (Sabarella, et. al. 2025). Kebijakan ketahanan pangan Indonesia disusun dengan pendekatan yang melibatkan berbagai dimensi, termasuk ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan sumber pangan.
Pusat perhatian pemerintah untuk meningkatkan produksi dalam negeri mencakup distribusi infrastruktur produksi, pengoptimalan lahan pertanian, pengendalian hama, serta penanganan dampak perubahan iklim.
Masalah gizi tetap menjadi tantangan signifikan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, terlihat dari prevalensi kerawanan pangan yang masih tinggi, serta banyaknya anak balita yang mengalami masalah gizi seperti pendek (stunting), kurus (wasting), berat badan kurang (underweight), atau berat badan berlebih.
Asupan makanan dan infeksi adalah faktor langsung yang memengaruhi status gizi. Sementara itu, ketahanan pangan rumah tangga, kondisi sanitasi, dan pola asuh termasuk dalam faktor tidak langsung. Masa balita adalah periode rentan dalam perkembangan dan pertumbuhan anak, di mana anak-anak cenderung lebih mudah terserang penyakit serta mengalami masalah gizi (Safitri, et.al, 2017).
Inflasi
Secara sederhana, inflasi adalah ketika harga ekonomi secara keseluruhan meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. Inflasi mencerminkan perubahan harga yang menyeluruh dan berkelanjutan, bukan hanya kenaikan harga pada satu atau dua komoditas saja karena kenaikan tersebut masih bersifat parsial.
Suatu keadaan baru disebut inflasi apabila kenaikan harga tersebut meluas, memengaruhi banyak komoditas lainnya, atau menimbulkan efek berantai yang menyebabkan sebagian besar barang dan jasa juga naik. Dengan kata lain, inflasi mencerminkan perubahan harga yang bersifat menyeluruh dan berkelanjutan (Boediono, 2014).
Dalam konteks yang lebih luas, prinsip ini juga berkaitan erat dengan bidang pangan dan gizi. Karena komoditas pangan merupakan salah satu faktor terbesar yang menyebabkan inflasi di Indonesia, inflasi dan komoditas pangan sangat terkait satu sama lain. Inflasi pangan sering dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan pokok seperti beras, minyak goreng, daging, telur, cabai, dan sebagainya.
Menurut Helbawanti, et. al. (2021), fluktuasi harga bahan pangan memiliki dampak yang signifikan terhadap inflasi nasional. Kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan nutrisi mereka menurun sebagai akibat dari kenaikan harga bahan pangan.
Oleh karena itu, memahami hubungan antara inflasi dan pangan sangat penting, terutama dalam hal menjaga keseimbangan gizi anak-anak di negara kita.
Menurut Oktaria dan Sitorus (2025), Banyak faktor domestik, seperti produktivitas sektor pertanian, distribusi komoditas, dan kondisi nilai tukar, memengaruhi inflasi pangan di Indonesia. Perubahan harga konsumen juga merupakan faktor.
Studi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan pasokan makanan dalam negeri sangat penting untuk menjaga stabilitas harga. Ini memperkuat gagasan bahwa meningkatkan produksi makanan melalui kegiatan bertani dan beternak adalah strategi penting untuk menangkal tekanan inflasi makanan.
Peningkatan produksi pangan lokal bukan hanya solusi ekonomi, tetapi juga langkah strategis untuk melindungi kualitas gizi anak bangsa di tengah dinamika inflasi yang terus berubah. Ini karena peningkatan sektor pertanian lokal dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan global, sehingga harga pangan menjadi lebih stabil dan masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan gizinya.
Pangan Lokal
Pangan lokal memiliki potensi besar sebagai sumber nutrisi berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia karena setiap daerah memiliki kekayaan hayati yang sangat beragam. Komoditas asli seperti singkong, talas, porang, sorgum, serta berbagai umbi-umbian dan serealia lokal bisa dianggap sebagai sumber makanan alternatif pengganti beras karena mengandung karbohidrat dan pati dalam jumlah tinggi, sehingga mampu menyediakan energi yang cukup besar bagi tubuh (Maulidiyah, et al., 2021).
Tanaman padi juga memegang peranan penting dalam pola konsumsi masyarakat. Tanaman ini menjadi makanan pokok bagi lebih dari separuh populasi dunia dan, sebagaimana dijelaskan Sanjaya, et. al. (2022), padi merupakan komoditas utama yang menopang kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang terus bertambah.
Sayuran tradisional seperti kelor, bayam merah, daun singkong, dan katuk menyediakan mikronutrien esensial yang mudah diperoleh dan dibudidayakan di lingkungan rumah. Buah-buahan lokal seperti jeruk, salak, pepaya, dan pisang juga menjadi sumber vitamin dan serat yang sering dimanfaatkan dalam program MBG karena kemudahan aksesnya.
Menggerakkan masyarakat bertani dan beternak demi gizi anak bangsa mendorong pemanfaatan kembali seluruh bahan pangan lokal tersebut sebagai sumber energi, protein, vitamin, dan mineral yang lebih terjangkau. Ketersediaan pangan lokal yang beragam memberi peluang besar bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi tanpa ketergantungan pada pasokan luar wilayah.
Sektor peternakan rakyat turut memperkuat keberagaman pangan lokal melalui penyediaan protein hewani yang dapat dihasilkan dari lingkungan sekitar. Dalam hal ini, usaha ternak pada level rumah tangga memiliki peranan yang sangat signifikan karena tidak hanya menghasilkan produk pangan asal hewan, tetapi juga menjadi sumber mata pencaharian bagi banyak keluarga (Widianingrum dan Septio, 2023).
Sumbangan peternakan rakyat terhadap ketahanan pangan nasional pun cukup besar, terutama melalui penyediaan protein hewani seperti daging, telur, dan susu yang dihasilkan oleh peternak kecil di berbagai wilayah. Jenis ternak lokal seperti sapi potong, kambing, ayam kampung, dan itik menjadi sumber protein yang mudah dijangkau sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi rumah tangga (Irma, et al., 2025).
Program MBG menekankan bahwa aktivitas bertani dan beternak tidak harus dilakukan dalam skala besar, melainkan dapat dimulai dari pemanfaatan pekarangan atau lahan terbatas di sekitar rumah.
Model ini memudahkan masyarakat untuk memperoleh pangan hewani lokal yang segar, aman, dan bernutrisi sesuai kebutuhan keluarga. Hasil ternak yang dibudidayakan sendiri juga cenderung memiliki kualitas lebih baik karena tidak melalui rantai distribusi yang panjang sehingga kandungan nutrisinya tetap terjaga.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG)
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah program kerja pemerintah Indonesia yang memiliki tujuan untuk memastikan ketersediaan pangan yang bergizi bagi masyarakat, terutama anak-anak. Selain itu juga, program ini diharapkan dapat memberikan perubahan pada pendidikan di negara Indonesia.
Tidak hanya itu, program ini juga diharapkan dapat menyelesaikan masalah fundamental Indonesia, khususnya masalah stunting pada anak yang masih banyak terjadi di Indonesia (Aji, 2025).
Berdasarkan berita dari Kompas.com tanggal 17 November 2025, Badan Gizi Nasional (BGN) meminta Kementrian Dalam Negri (Kemendagri) mengimbau warga untuk ikut serta terlibat dalam kegiatan bertani dan beternak sebagai bentuk dukungan terhadap penyediaan bahan pangan untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ini.
Langkah ini diambil untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan nasional, di mana ketergantungan pada impor bahan pangan sering kali mengakibatkan risiko fluktuasi harga dan kualitas.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hodijah dan Angelina (2021) yang menunjukkan bahwa dalam jangka waktu yang panjang, volume impor akan berdampak besar pada perkembangan ekonomi serta inflasi yang terjadi akibat kurangnya otonomi ekonomi.
Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, program MBG diharapkan tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan nutrisi tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi lokal.
Program MBG dilakukan sebagai bentuk jawaban dari masalah gizi buruk yang masih tinggi di Indonesia. Data dari BGN menunjukkan bahwa sekitar 30-40% anak balita mengalami stunting atau kekurangan gizi kronis, yang dapat menghambat pertumbuhan fisik dan kognitif mereka.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Hendraswari dan Helga (2023), penduduk miskin menjadi salah satu penyebab terjadinya gizi buruk. Hal ini juga menjadi alasan diperlukannya MBG untuk masyarakat. Selain kemiskinan, ada beberapa faktor lainnya yang menjadi penyebab gizi buruk.
Baca juga: Mengulas Istilah ‘Ultra-Processed Food’: Sudah Tepatkah dalam Mengatur Menu MBG?
Penyebab lain terjadinya gizi buruk meliputi kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi dan menderita penyakit infeksi, sedangkan penyebab tidak langsung gizi buruk yaitu ketersediaan pangan rumah tangga, pola asuh yang kurang memadai dan pendidikan yang rendah (Oktavia, et al., 2017).
Tetapi, untuk menjaga kestabilan perekonomian selama program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilakukan, diperlukan bantuan atau peran langsung dari masyarakat. BGN berharap masyarakat mau ikut bertani dan beternak agar bahan-bahan yang diperlukan tidak lagi diambil dari komoditas impor.
Bahan pangan utama yang dibutuhkan untuk MBG meliputi sayuran, buah-buahan, protein hewani seperti daging, telur, dan susu, serta sumber karbohidrat seperti beras atau jagung. Namun, ketersediaan bahan ini sering kali terbatas akibat perubahan iklim, pandemi, dan ketidakstabilan harga global.
Dalam berita tersebut, BGN menekankan bahwa partisipasi warga melalui bertani dan beternak dapat mengurangi beban pemerintah dalam mengimpor bahan pangan. Misalnya, dengan membudidayakan tanaman lokal seperti kangkung, bayam, atau tomat di pekarangan rumah, serta beternak ayam atau kambing skala kecil, masyarakat dapat berkontribusi langsung.
Wahyuni, et al., (2015) menjelaskan bahwa ketahanan pangan sendiri merupakan paradigma yang secara resmi digunakan pemerintah dalam pemenuhan pangan penduduk dan pertanian terkait pangan pada umumnya.
Ini sejalan dengan konsep ketahanan pangan yang dibuat oleh pemerintah, di mana swasembada pangan menjadi prioritas untuk mengantisipasi krisis seperti yang terjadi selama pandemi COVID-19. Jika hal ini dilakukan dan kita berhasil mencapai ketahanan pangan, masyarakat Indonesia tidak lagi menderita kemiskinan serta sudah dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari (Yulianti, et al., 2022)
BGN secara spesifik meminta warga untuk memanfaatkan lahan kosong, pekarangan, atau bahkan balkon apartemen untuk kegiatan pertanian urban atau urban farming. Konsep pertaniaan urban yang salah satunya adalah urban farming adalah kegiatan budidaya tanaman pada lahan sempit di wilayah perkotaan yang bertujuan untuk penghijauan atau ketahanan pangan keluarga (Rizkiyah, et. al., 2022).
Alasan masyarakat disarankan untuk menerapkan pertanian perkotaan atau urban pertanian adalah agar penduduk kota pun dapat terlibat dalam kegiatan berkebun atau bertani, tidak hanya masyarakat pedesaan yang masih memiliki lahan untuk bercocok tanam, berkebun, atau beternak (Fauzi, et. al., 2016).
Bertani tidak hanya menyediakan bahan segar untuk MBG tetapi juga memberikan manfaat ekonomi jangka panjang. Misalnya, hasil panen dapat dijual ke pasar lokal, meningkatkan pendapatan keluarga. Sementara itu, beternak hewan kecil seperti ayam atau ikan dapat memasok protein hewani yang esensial, dengan biaya pemeliharaan yang relatif rendah jika menggunakan pakan lokal.
Manfaat ini didukung oleh fakta bahwa program MBG telah terbukti efektif di beberapa daerah. Menurut penelitian yang dilakukan Herniati (2025), Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) memiliki efektivitas seperti berhasil menarik perhatian murid dan mendorong kehadiran mereka ke sekolah, banyak murid dan orang tua merasa diuntungkan, terutama bagi yang kesulitan mendapatkan makanan bergizi di rumah.
Di wilayah seperti Jawa Barat dan Sumatera Utara, partisipasi masyarakat dalam pertanian telah menurunkan angka gizi buruk hingga 20%. Dengan masyarakat mau melakukan pertanian juga dapat membantu penurunan angka kemiskinan sehingga masyarakat dapat hidup dengan layak tanpa merasakan adanya kekurangan gizi, stunting, dan lainnya.
Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Effendy (2017) yang menjelaskan bahwa dengan melakukan pertanian, pertumbuhan produktivitas pertanian akan memiliki dampak yang signifikan terhadap pengurangan kemiskinan.
Selain itu, kegiatan ini mendukung lingkungan dengan mengurangi emisi karbon dari transportasi bahan pangan impor. BGN juga menjanjikan dukungan teknis, seperti pelatihan dan bibit gratis, untuk memudahkan warga memulai.
Meskipun potensialnya besar, program MBG menghadapi tantangan seperti kontaminasi makanan, ketimpangan urban-rural (perkotaan dan pedesaan), hingga ketergantungan pada donor luar atau bahan pangan impor (Agustini, 2025).
Untuk mengatasi ini, BGN merekomendasikan kolaborasi dengan pemerintah daerah, seperti penyediaan subsidi pupuk organik agar bahan yang digunakan lebih terjamin kualitasnya, edukasi melalui kampanye media sosial, memilih pekerja yang memang sudah paham dalam bidangnya, dan mulai menerapkan pertanian yang merata supaya tidak lagi bergantung pada bahan pangan impor.
Masyarakat juga perlu didorong untuk mengadopsi teknologi sederhana, seperti hidroponik untuk bertani di ruang terbatas. Dalam konteks ini, partisipasi warga dalam bertani dan beternak bukan hanya solusi praktis untuk MBG, tetapi juga langkah strategis menuju kemandirian ekonomi. Dengan dukungan bersama, program ini dapat menjadi model bagi negara-negara berkembang lainnya dalam mengatasi masalah gizi global.
Peran Masyarakat sebagai Pemasok Bahan Pangan Lokal
Pada kondisi ini, BGN meminta para pemimpin daerah untuk menghimbau masyarakatnya agar ikut serta menanam dan beternak demi keberlangsungan program makan bergizi gratis. Hal ini dikarenakan permintaan bahan baku semakin meningkat sehingga bahan baku di pasaran semakin melonjak.
Saat ini, program sudah dijalankan dan sudah menyentuh 15.211 SPPG dan akan terus bertambah, jika hanya mengandalkan pasar, bisa menmpengaruhi penyerapan bahan baku dan harga komidtas di pasar.
Program yang melibatkan masyarakat ini merupakan solusi strategis karena, menurut Rahayu, et. al. (2018), meski kondisi tanah di Indonesia berbeda-beda, Indonesia memiliki letak geografis yang strategis sehingga memungkinkan untuk menanam tanaman degan mudah, apalagi tanaman sumber pangan. Hal ini sangat memungkinkan masyarakat untuk bercocok tanam sendiri di rumah.
Banyak metode yang bisa dilakukan untuk bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan di halaman rumah. Seperti menggunakan polybag atau sistem hidroponik sederhana. Selain dari alasan membantu program MBG,jika hal ini terus dilakukan secara berkelanjutan, bisa berguna untuk kemandirian pangan skala rumah tangga. hal ini juga bisa membantu ketahanan pangan dimulai dari rumah.
Program ini membantu menekan inflasi pangan dengan meningkatkan ketersediaan pasokan lokal, sehingga harga bahan pangan seperti sayur, telur, dan buah menjadi lebih stabil di pasar. Selain itu, pelibatan masyarakat dalam rantai pasok MBG memperkuat kemandirian ekonomi rumah tangga, terutama bagi kelompok miskin yang dapat memperoleh pendapatan tambahan dari hasil panen atau ternak.
Dampak lainnya adalah peningkatan akses keluarga terhadap bahan pangan segar dan bergizi yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau akibat mahalnya harga komoditas. Gerakan ini juga mendorong pemanfaatan pangan lokal seperti umbi-umbian, serealia lokal, dan sayuran tradisional yang kaya nutrisi.
Tidak hanya itu, kegiatan bertani dan beternak skala rumah tangga mendukung keberlanjutan lingkungan melalui pengurangan ketergantungan impor serta pemanfaatan lahan pekarangan. Secara keseluruhan, program ini berkontribusi besar dalam upaya menurunkan angka stunting dan menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif.l
Gerakan Badan Gizi Nasional yang mengajak masyarakat bertani dan beternak merupakan strategi komprehensif yang tidak hanya memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. Upaya ini menjawab masalah gizi buruk dan stunting yang masih tinggi dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam produksi pangan lokal.
Selain memberikan stabilitas harga pangan, program ini turut mendorong kemandirian ekonomi keluarga melalui aktivitas pertanian dan peternakan skala kecil. Pemanfaatan pangan lokal serta dukungan seperti pelatihan dan bibit gratis menjadikan program ini lebih mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Masyarakat kota pun dapat turut berkontribusi melalui pertanian urban yang tetap efektif dalam menyediakan bahan pangan bergizi. Tantangan seperti inflasi, ketimpangan wilayah, dan kualitas pangan dapat diatasi melalui kolaborasi pemerintah daerah dan penerapan teknologi sederhana.
Dengan demikian, program ini berpotensi menjadi solusi nasional yang kuat untuk meningkatkan kualitas gizi, mengurangi kemiskinan, dan membangun generasi Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing.
Penulis:
- Muhamad Dina Maulana_4444250125
- Tessalonika Zefaniya Manik_4444250136
- Fredelina Putri_4444250113
- Meila Noufika_4444250132
- Naila Ramadanti_4444250137
Mahasiswa Teknologi Pangan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Referensi
Agustini, U. 2025. Efektivitas dan Tantangan Kebijakan Program Makan Bergizi Gratis sebagai Intervensi Pendidikan di Indonesia. Jurnal Kiprah Pendidikan. Vol. 4(3). 362-368.
Aji, W. T. 2025. Makan Bergizi Gratis di Era Prabowo-Gibran: Solusi untuk Rakyat atau Beban Baru?. NAAFI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa. Vol. 1(3), 215-226.
Boediono. 2014. “Ekonomi Moneter”. Yogyakarta : BPFE
Dini,R., dan Harahap, R.A. 2025. Perilaku Ibu Dan Peran Ayah Dalam Pemberian Mpasi Di Puskesmas Brohol Kota Tebing Tinggi. Jurnal Kesehatan Unggul Gemilang. Vol. 9(8): 146-157
Effendy, R. S. 2017. Peranan pendidikan dan produktivitas sektor pertanian terhadap penurunan tingkat kemiskinan di Jawa Tengah. Media Ekonomi Dan Manajemen. Vol. 32(2).
Fauzi, A. R., Ichniarsyah, A. N., dan Agustin, H. 2016. Pertanian perkotaan: urgensi, peranan, dan praktik terbaik. Jurnal agroteknologi. Vol. 10(01), 49-62.
Gunawan, D. C. D., dan Septriana, S. (2019). Ketahanan pangan tingkat rumah tangga, asupan protein dan kejadian stunting pada anak balita di Desa Planjan Kecamatan Saptosari Gunung Kidul. Medika Respati: Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol. 14(1), 78-85.
Helbawanti, O., Saputro, W. A., & Ulfa, A. N. (2021). Pengaruh harga bahan pangan terhadap inflasi di Indonesia. AGRISAINTIFIKA: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 5(2), 107-116.
Hendraswari, D. E., dan Helda, H. 2023. Studi Ekologi: Determinan Kejadian Gizi Buruk Di Indonesia Tahun 2021. J-KESMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 9(1), 84-96.
Herniati, N. 2025. Efektivitas Program Pemerintah MBG (Makan Bergizi Gratis) Terhadap Minat Belajar Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan AURA (Anak Usia Raudhatul Atfhal). Vol. 6(1), 88-98.
Hodijah, S., dan Angelina, G. P. 2021. Analisis pengaruh ekspor dan impor terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Jurnal Manajemen Terapan Dan Keuangan. Vol. 10(01), 53-62.
Jamil, S. N. A., Sandra, L., Sutrisno, E., Purnamasari, S., Mardiyah, U., Fitriani, E., dan Kamarudin, A. P. 2021. Ekologi Pangan dan Gizi Masyarakat. Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia.
Kementerian Kesehatan Indonesia. 2025. SSGI 2024: Prevalensi Stunting Nasional Turun Menjadi 19,8%.
Khomsan, A., Riyadi, H., Firdaus, D., dan Ashari, C. R. 2023. Konsumsi Pangan & Status Gizi Balita. Diakses dari: https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/131971.
Oktaria, M. G., dan Sitorus, R. (2025). Pengaruh faktor domestik dan global terhadap inflasi pangan di Indonesia. Indonesian Journal of Economics Management and Accounting. Vol. 5(1), 45–60.
Oktavia, S., Widajanti, L., dan Aruben, R. 2017. Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi buruk pada balita di Kota Semarang. 2017. Studi di rumah pemulihan gizi Banyumanik Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 5(3), 186-192.
Panggabean,R., Chalidah,N.S., Karina,G., dan Haniy,S.U. 2024. Membangun Ketahanan Pangan Indonesia 2030. WRI Indonesia. Diakses pada tanggal 27 November 2025 dari : https://wri-indonesia.org/id/wawasan/membangun-ketahanan-pangan-indonesia-2030
Putong, Iskandar. 2013. “Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro”. Jakarta : Ghalia Indonesia
Rahayu, N. P., Putri, R. R. M., dan Widodo, A. W. 2018. Sistem Pendukung Keputusan (SPK) Pemilihan Tanaman Pangan Berdasarkan Kondisi Tanah Menggunakan Metode ELECTRE dan TOPSIS. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer. Vol. 2(8), 2323-2332.
Rizkiyah, N., Wijayanti, P. D., dan Rozci, F. 2022. Microgreens sebagai alternatif budidaya tanaman pertanian urban. Semagri. Vol. 3(1).
Sabarella, et. al. 2025. Buletin Konsumsi Pangan. Volume 16, Nomor 1 Tahun 2025. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. Sekertaris Jenderal Kementerian Pertanian.
Safitri, A. M., Pangestuti, D. R., & Aruben, R. 2017. Hubungan ketahanan pangan keluarga dan pola konsumsi dengan status gizi balita keluarga petani (Studi di Desa Jurug Kabupaten Boyolali Tahun 2017). Jurnal Kesehatan Masyarakat.Vol. 5(3), 120-128.
Safkaur,T.,C.,P.,W., et.al. 2025. Hubungan ketahanan pangan rumah tangga dengan status gizi pada balita. Holistik Jurnal Kesehatan.Vol. 19(6):1664-1672
Suhaimi, A. (2019). Pangan, gizi, dan kesehatan. Yogyakarta: Deepublish.
UNICEF Indonesia. 2022. Gizi Mengatasi tiga beban malnutrisi di Indonesia.
Wahyuni, S., Sejati, W. K., dan Azis, M. 2015. Kedaulatan pangan sebagai basis untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional. In Forum Penelitian Agro Ekonomi. Vol. 33(2), 95-109.
Yulianti, R., Muhlishoh, A., Hasanah, L. N., Rosnah, S. A. L., dan Sutrisno, E. 2022. Keamanan Dan Ketahanan Pangan. Padang: PT Global Eksekutif Teknologi.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












