Gimmick Pasar atau Apresiasi? Di Balik Simbol Meksiko dan Karpet Merah Presiden untuk BTS

Ekonomi Politik Media
Semakin “autentik” sebuah gestur budaya, semakin besar pula nilainya sebagai komoditas. Ini merupakan paradoks terbesar. Penggunaan topeng Lucha Libre di atas panggung BTS merupakan contoh sempurna dari apa yang Stuart Hall sebut dengan encoding/decoding yang asimetris. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Pada 6 Mei 2026 lalu, sekitar 50.000 manusia memadati Alun-Alun Zócalo di jantung Kota Meksiko. Bukan untuk melihat kepala negara, bukan pula untuk mengapresiasi pahlawan nasional, melainkan untuk menyambut tujuh pemuda asal Korea Selatan yang tergabung dalam grup musik BTS atau Bangtan Boys.

Di atas balkon Istana Nasional, Presiden Claudia Sheinbaum berdiri bersisian dengan RM, Jin, Suga, J-Hope, Jimin, V, dan Jungkook untuk menyapa 50.000 penggemar yang hadir. Dilihat dari protokol diplomatik mana pun, gestur ini tentu bukan suatu hal yang dapat dikatakan biasa.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pemerintah Meksiko tidak sekadar membuka pintu; mereka memberikan penghargaan bertajuk “Distinguished Visitors”, sebuah gelar yang lazimnya hanya diberikan kepada tamu negara dengan kaliber tinggi.

Lebih jauh, selama konser di Estadio GNP Seguros, para penari latar tampil menggunakan topeng Lucha Libre—simbol identitas nasional Meksiko yang penuh muatan keberanian dan kebanggaan kultural.

V, salah satu anggota BTS, juga terlihat sempat menikmati banderilla, street food khas Meksiko, saat berada di atas panggung.

Baca juga: Pengaruh Korean Wave di Papua dan Dampaknya terhadap Kehidupan Sehari‑hari serta Budaya Lokal

Sekilas, hal-hal ini terlihat hangat dan autentik. Namun bagi pengamat ekonomi politik media, rentetan gestur ini justru membuka pertanyaan yang jauh lebih kompleks.

“Pertemuan itu berlangsung sekitar 40 menit dan menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam hubungan budaya Korea Selatan dan Meksiko.” — Beritasatu.com, 7 Mei 2026

Adapun dampak dari konser BTS selama tiga hari di Meksiko tersebut menghasilkan pendapatan ekonomi sebesar USD 107,5 juta (sekitar Rp1,7 triliun). Pendapatan ini diperoleh dari terjual habisnya tiket konser “ARIRANG” di Estadio GNP Seguros selama tiga hari berturut-turut.

Melihat Peristiwa melalui Kacamata Ekonomi Politik Media

Teori Ekonomi Politik Media merupakan teori yang dikembangkan oleh Vincent Mosco, Graham Murdock, dan Peter Golding. Teori ini mengajak kita untuk tidak hanya berhenti pada permukaan narasi.

Terdapat tiga konsep kunci dalam teori ini yang menjadi pisau bedah relevan untuk melihat peristiwa dari sisi ekonomi politik, yaitu:

  • Komodifikasi

Proses mengubah nilai guna menjadi nilai tukar, termasuk di dalamnya budaya, identitas, dan makna simbolik. Konten budaya, baik musik maupun simbol identitas, diubah menjadi komoditas yang bernilai jual.

Topeng Lucha Libre di atas panggung BTS bukan sekadar bentuk penghormatan, melainkan sebuah produk kemasan yang menjual autentisitas dari budaya Meksiko.

  • Spasialisasi

Proses mengatasi hambatan ruang dan waktu dalam akumulasi kapital, termasuk di dalamnya ekspansi media dan budaya yang melampaui batas geografi. Dalam hal ini, kunjungan BTS ke Meksiko merupakan bukti nyata dari ekspansi industri Hallyu yang menembus Amerika Latin sebagai pasar baru yang menggiurkan.

Selain itu, Presiden Sheinbaum juga mengirimkan surat kepada Presiden Lee Jae-Myung untuk menambah durasi konser BTS di Meksiko. Ini menjadi bukti bahwa negara dapat bertindak sebagai fasilitator ekspansi kapital budaya.

  • Strukturasi

Proses di mana agen sosial (negara, korporasi, dan penggemar) saling membentuk struktur kekuasaan melalui kegiatan sehari-hari. Relasi kuasa antara negara, industri hiburan, dan penggemar saling mengonstruksi satu sama lain dalam sebuah struktur yang mereproduksi kepentingan ekonomi dominan.

Dalam bahasa Anthony Giddens yang diadaptasi oleh Mosco, para agen (Presiden Sheinbaum, ARMY, HYBE) secara berulang mempraktikkan tindakan yang memperkuat struktur tersebut, dan struktur itu kemudian membentuk tindakan mereka kembali.

ARMY yang rela berdiri berjam-jam di bawah terik matahari adalah agen yang paling efektif dalam mereproduksi struktur tersebut—tanpa paksaan apa pun.

Baca juga: 3 Dampak Positif BTS bagi Kesehatan Mental Army

Negara sebagai Agen Pasar

Peran negara merupakan hal yang paling mencolok dalam kasus ini. Presiden Sheinbaum bukan hanya mengundang BTS, ia secara resmi juga menulis surat kepada Presiden Korea Selatan, Lee Jae-Myung, untuk meminta penambahan jadwal konser ARIRANG di Meksiko. Kamar Dagang Mexico City memproyeksikan dampak ekonomi sebesar USD 107,5 juta.

Dari perspektif ekonomi politik media, negara di sini tidak berdiri sebagai regulator yang netral, melainkan sebagai aktor yang secara aktif memfasilitasi akumulasi kapital melalui industri hiburan global.

Ini adalah apa yang Murdock dan Golding sebut sebagai state as market enabler—negara yang melegitimasi dan memperkuat kepentingan industri budaya atas nama “keuntungan rakyat”.

Lantas, siapa yang sesungguhnya diuntungkan?

Data Spotify 2025 menempatkan Meksiko sebagai pasar K-Pop terbesar kelima di dunia, dengan BTS sebagai grup yang paling banyak didengarkan.

HYBE, label induk BTS, merupakan korporasi multinasional yang bernilai miliaran dolar.

Ketika presiden sebuah negara melobi negara lain demi konser sebuah grup musik, maka batas antara diplomasi dan pemasaran korporat menjadi sangat tipis.

Semakin “autentik” sebuah gestur budaya, semakin besar pula nilainya sebagai komoditas. Ini merupakan paradoks terbesar. Penggunaan topeng Lucha Libre di atas panggung BTS merupakan contoh sempurna dari apa yang Stuart Hall sebut dengan encoding/decoding yang asimetris.

Produser pesan (tim kreatif HYBE dan promotor Ocesa) mengemas simbol lokal untuk konsumsi global, sementara publik menerimanya sebagai “penghargaan tulus” dari idola mereka. Penggemar menangis haru dan media meliput dengan nada kagum.

Tidak ada yang salah secara etis, namun bagaimana secara struktural?

Simbol keberanian dan identitas nasional Meksiko telah dialihdayakan menjadi instrumen pemasaran yang menghasilkan pendapatan bagi entitas korporat asing.

Kendati demikian, tidak adil jika kita mengabaikan dimensi yang lebih positif. Korea Selatan telah lama menggunakan K-Pop sebagai strategi yang disadari dan disengaja, atau yang kita sebut dengan instrumen soft power.

Baca juga: K-Pop hingga Anime: Saat Budaya Populer Menjadi Garda Terdepan Diplomasi

Kementerian Kebudayaan Korea Selatan secara aktif mendukung ekspor industri Hallyu. Dalam kerangka ini, BTS bukan sekadar grup musik, mereka merupakan agen diplomatik yang membawa citra Korea Selatan ke panggung dunia.

Di sisi lain, Meksiko juga mendapatkan keuntungan nyata: ekonomi pariwisata menggeliat, citra internasional meningkat, dan mendapat validasi bahwa negaranya merupakan destinasi kelas dunia.

Namun, ekonomi politik media mengingatkan kita bahwa manfaat yang terlihat di permukaan tidak selalu mencerminkan distribusi keuntungan yang adil di tingkat struktural.

Siapa yang memegang hak kekayaan intelektual?

Ke mana aliran pendapatan streaming dan merchandise bermuara?

Pertanyaan-pertanyaan ini tentu jarang muncul di tengah sorak-sorai penggemar yang menikmati hiburan dari idola mereka.

Kunjungan BTS ke Meksiko bukanlah gimmick semata, tetapi juga bukan murni apresiasi tanpa kepentingan.

Ini adalah sebuah momen di mana diplomasi, industri budaya, kapital korporat, dan afeksi penggemar bertemu dalam satu simpul yang saling menguntungkan namun tidak setara.

Dalam bahasa ekonomi politik media, peristiwa ini adalah ilustrasi hidup dari bagaimana komodifikasi budaya bekerja paling efektif justru ketika ia tampak paling tulus.

Karpet merah Presiden Sheinbaum mungkin lahir dari rasa hormat yang tulus, tetapi gestur ini juga merupakan penanda bahwa di era kapitalisme platform global, bahkan afeksi sekalipun telah menemukan harga pasarnya.


Penulis: Siti Annisa Rinaldi
Mahasiswa Magister Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses