Mahasiswa Universitas Pamulang Dorong Literasi Keuangan di Era Cashless pada Siswa SMA PGRI 22 Serpong

Kegiatan edukasi Literasi Keuangan Digital bagi siswa SMA mengenai fintech dan keamanan transaksi modern

Mahasiswa Program Studi S1 Akuntansi Universitas Pamulang mengadakan kegiatan Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat (PMKM) di SMA PGRI 22 Serpong dengan mengangkat tema From Cash to Cashless: Membangun Literasi Akuntansi di Era Financial Technology. Kegiatan ini berlangsung di bawah arahan dan pendampingan Ibu fina Fitriana, S.E,M.Ak. selaku dosen pembimbing. Sementara itu, pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh Amelia Surianing tias sebagai ketua PMKM bersama seluruh anggota kelompok.

Sebagai langkah awal, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka mengenai transaksi digital, teknologi keuangan, dan pengelolaan keuangan pribadi. Pre-test yang diikuti oleh 36 siswa menunjukkan tingkat pemahaman awal sebesar 83%. Hasil tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar peserta sudah mengenal berbagai layanan pembayaran digital, meskipun masih diperlukan pemahaman yang lebih mendalam terkait pemanfaatannya secara bijak.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Setelah pre-test selesai dilaksanakan, kegiatan berlanjut pada sesi penyampaian materi bertajuk “Optimalisasi Keuangan di Era Cashless” yang dibawakan oleh Diah Suci Rahayu dan Natasha Ridhatul Adha. Materi yang disampaikan mengulas perubahan pola transaksi masyarakat yang kini semakin mengandalkan teknologi digital. Berbagai layanan seperti QRIS, e-wallet, mobile banking, hingga internet banking diperkenalkan sebagai bagian dari perkembangan financial technology yang saat ini banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparan tersebut dijelaskan bahwa kemajuan teknologi telah memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan transaksi. Aktivitas pembayaran yang sebelumnya mengandalkan uang tunai kini dapat dilakukan dengan lebih cepat hanya melalui smartphone. Perubahan ini menjadi salah satu tanda bahwa sistem pembayaran non-tunai semakin diterima dan digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk pelajar.

Kondisi tersebut juga terlihat selama kegiatan berlangsung. Para siswa tampak cukup akrab dengan penggunaan layanan pembayaran digital. Bahkan, di lingkungan sekolah telah tersedia fasilitas pembayaran menggunakan QRIS di kantin sekolah. Kehadiran QRIS tersebut menunjukkan bahwa budaya transaksi digital telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari siswa. Proses pembayaran yang cepat dan praktis membuat sistem ini semakin diminati oleh generasi muda.

Meski menawarkan berbagai kemudahan, penggunaan transaksi digital juga memiliki tantangan tersendiri. Oleh karena itu, materi tidak hanya membahas manfaat financial technology, tetapi juga pentingnya mengelola keuangan secara bijak. Peserta diajak memahami bahwa kemudahan dalam bertransaksi dapat memicu pengeluaran yang tidak terencana apabila tidak disertai dengan pengendalian diri yang baik.

Pembahasan mengenai perbedaan antara kebutuhan dan keinginan menjadi salah satu poin penting dalam kegiatan ini. Siswa diberikan pemahaman bahwa berbagai promo, diskon, maupun cashback yang sering muncul pada aplikasi pembayaran digital tidak selalu harus diikuti. Sebelum melakukan pembelian, seseorang perlu mempertimbangkan apakah barang atau layanan tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar keinginan sesaat.

Agar suasana lebih menarik, kegiatan dilanjutkan dengan sesi interaktif yang dikemas melalui permainan edukatif, diskusi, dan tanya jawab. Selain itu, media poster yang telah disiapkan turut digunakan untuk membantu peserta memahami materi dengan lebih mudah. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka selama sesi berlangsung, baik saat menjawab pertanyaan maupun ketika menyampaikan pendapat terkait penggunaan teknologi keuangan.

Salah satu sesi yang cukup menarik perhatian terjadi ketika seorang siswa mengajukan pertanyaan mengenai kasus kehilangan saldo e-wallet meskipun pengguna merasa sudah menjaga PIN, password, dan data pribadinya dengan baik. Pertanyaan tersebut memunculkan diskusi yang relevan dengan kondisi saat ini, mengingat penggunaan layanan keuangan digital semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Melalui diskusi tersebut dijelaskan bahwa risiko kehilangan saldo tidak selalu disebabkan oleh kesalahan pengguna secara langsung. Berbagai ancaman seperti phishing, pencurian data, malware, hingga penipuan melalui tautan palsu dapat menjadi faktor yang menyebabkan penyalahgunaan akun digital. Oleh karena itu, selain memahami cara menggunakan teknologi keuangan, pengguna juga perlu memiliki kesadaran terhadap pentingnya keamanan digital.

Peserta kemudian diberikan beberapa tips sederhana untuk menjaga keamanan akun mereka, seperti tidak membagikan kode OTP kepada siapa pun, menggunakan fitur autentikasi ganda, serta lebih berhati-hati terhadap pesan atau tautan yang mencurigakan. Pemahaman mengenai keamanan digital dinilai penting karena saat ini sebagian besar aktivitas transaksi dilakukan melalui perangkat elektronik yang terhubung dengan internet.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta kembali mengikuti post-test untuk mengukur pemahaman setelah menerima materi dan mengikuti seluruh sesi kegiatan. Dari 32 siswa yang mengikuti post-test, tingkat pemahaman meningkat menjadi 90%. Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan hasil pre-test yang sebelumnya berada pada angka 83%.

Peningkatan tersebut menjadi indikasi bahwa edukasi mengenai literasi keuangan dan financial technology masih sangat relevan untuk diberikan kepada generasi muda. Materi yang dekat dengan aktivitas sehari-hari membuat siswa lebih mudah memahami pentingnya mengelola keuangan dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Melalui kegiatan ini diharapkan para siswa tidak hanya memahami cara menggunakan layanan pembayaran digital, tetapi juga mampu mengelola pengeluaran dengan lebih baik, membangun kebiasaan menabung, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko yang dapat muncul dalam transaksi digital. Dengan pemahaman tersebut, manfaat dari perkembangan teknologi keuangan dapat dirasakan secara optimal tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kesehatan finansial.


Disusun Oleh:
– Amelia Suryaning Tias
– Diah Suci Rahayu
– Nadya Rahma Hidayat
– Natasya Ridhatul Adha
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang (UNPAM)


Dosen Pengampu: Fina Fitriana S.E , M.Ak.


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

ameliasuryaningtias24@gmail.com

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses