Instagram Diam-Diam Blokir Konten Palestina

Konten Palestina
Bela Palestina.

Suara tentang bela Palestina semakin ramai dan menjulang tinggi di berbagai negara di dunia. Banyaknya suara bela Palestina dikarenakan munculnya jiwa kemanusiaan dalam diri yang tidak tega melihat Palestina. Banyaknya korban tewas Palestina di jalur Gaza sudah mencapai 15.899 orang. Pembelaan kepada Palestina menyebabkan banyaknya konten terkait hal tersebut di berbagai platform digital.

Tetapi platform digital seperti Instagram dinilai mempunyai aturan yang digunakan bias terhadap Palestina. Kebijakan hitam-putih perusahaan sering menghalangi untuk memoderasi topik secara efektif, termasuk dalam memberantas konten kekerasan.

Sepertinya Meta, perusahaan induk Instagram bermitra dengan lembaga pemerintah Israel, seperti Unit Siber Israel, secara politis memengaruhi keputusan kebijakan platform digital tersebut. Oleh karena itu Instagram mendapat banyak kritikan.

Selain Instagram dikritik karena pemblokiran konten tentang Palestina, Meta sebagai perusahaan induk Instagram, dilaporkan kesulitan memahami budaya juga bahasa Arab. Pasalnya, bahasa Arab terdiri lebih lanjut dari 25 dialek.

Instagram dikritik lalai melakukan diversifikasi sumber bahasa sehingga bisa jadi memahami berbagai variasi bahasa penduduk Timur Tengah tersebut. Tindakan perusahaan tersebut mempunyai dampak buruk terhadap hak asasi manusia terhadap hak kebebasan berekspresi juga urusan-urusan politik pengguna Palestina.

Aktivis serta supermodel Bella Hadid, yang mana merupakan keturunan Palestina, membicarakan bahwa Instagram mencegahnya memposting konten pada status Instagram hanya jika konten berbasis di area-area Palestina. Bella Hadid berkata bahwa Instagram dengan cepat melarang konten tentang Palestina.

Jumlah penayangan status Instagram-nya kemudian turun hampir 1 juta. Pada konflik 2021, Meta berdalih ada kesalahan teknis atas penghapusan postingan tentang Palestina.

Ketika dimintai komenttar tentang pelarangan baru-baru ini, perwakilan perusahaan mengarahkan ke postingan Threads oleh Andy Stone, direktur komunikasi Meta. Instagram menyalahkan bug yang digunakan berdampak kepada semua status Instagram tentang konten Palestina.

“Kami mengidentifikasi bug yang tersebut hal tersebut berdampak pada semua Stories yang mana membagikan ulang postingan Reel juga Feed, yang mana hal tersebut berarti postingan hal itu tak muncul dengan benar dalam Stories orang-orang, sehingga menyebabkan berkurangnya jangkauan secara signifikan,” kata Stone, dikutip dari TechCrunch, Jumat (20/10/2023).

Bug ini memengaruhi akun-akun pada dalam seluruh dunia kemudian bukan ada hubungannya dengan pokok bahasan konten lalu juga kami memperbaikinya secepat mungkin,” imbuhnya.

Namun banyak pihak yang dimaksud dimaksud dibuat marah atas tindakan Meta sebab terus meredam kata-kata Palestina.

Leen Al Saadi, jurnalis Palestina yang dimaksud saat ini tinggal di tempat area Yordania, mengatakan bahwa ia sudah sangat terbiasa di sensor. Akun Instagram-nya dibatasi juga tahun lalu setelah ia mem-posting cuplikan episode pertama podcast tersebut, yang dimaksud mendiskusikan film dokumenter tentang seni jalanan Palestina pada bawah pendudukan.

Al Saadi mengatakan bahwa Palestina saat ini sedang mengalami dua perang, yang pertama adalah perang dengan penghuninya yang diamksud sah. Perang kedua adalah dengan seluruh lanskap media barat, yang dimaksud keseluruhan lanskap adalah media sosial.

Awal mula perang tersebut pada tahun 1949. Israel meneklarasikan dirinya sebagai negara merdeka. Kala itu, warga Palestina merasa keberatan, dan negara-negara Arab dimonilisasi untuk mencegah pembentukan Israel. Kejadian itu menyebabkan Perang Arab-Israel pada tahun 1948.

Ketika Perang berakhir, Israel sudah menguasai sebagian besar wilayah bekas kekuasaan Inggris, termasuk menguasai sebagian besar wilayah Yerusalem. Sementara Yordania menguasai Tepi Barat dan Mesir menguasai Gaza.

Pada tahun  1967 dikenal sebagai Perang Enam Hari, Israel kembali merebut Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir. Kendati demikian, Israel menawarkan diri untuk mengembalikan wilayah yang sudah mereka rebut itu dengan imbalan Arab harus mengakui hak Israel untuk hidup dan memberikan jaminan atas serangan di masa depan. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh para pemimpin Arab.

Hanya Mesir yang akan merundingkan kembalinya Semenanjung Sinai dengan tawaran pengakuan diplomatik penuh atas Israel.

Pendudukan Israel yang terus berlanjut di wilayah orang Palestina ini telah menyebabkan konflik dan kekerasan selama beberapa dekade. Namun demikian pemimpin arus utama Palestine masih menginginkan kesepakatan damai dan mencari solusi atas konflik dua negara. Orang Yahudi terus membangun pemukiman di tanah yang diduduki.

Pada saat ini Israel terus melanjutkan serangannya ke Jalur Gaza usai tidak ada kelanjutan terkait perpanjangan gencatan senjata. Akibatnya, jumlah korban tewas di Gaza kini terus kian bertambah. Israel juga sengaja menargetkan rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Gaza.

Israel telah menghancurkan 56 institusi kesehatan, menangkap 35 petugas medis dan membuat sistem kesehatan di Jalur Gaza lumpuh total. Al-Qedra mendesak perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melindungi rumah sakit maupun tim kesehatan dan kemanusiaan, serta menyediakan jalur yang aman untuk masuknya pasokan medis dan bahan bakar serta evakuasi para korban luka di Gaza.

Israel kini mulai menyerang Gaza Selatan, di mana terdapat ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi dari Utara. Selain itu, ada pula tiga Warga Negara Indonesia (WNI) relawan MER-C yang turut mengungsi ke wilayah tersebut. Rudal Israel dilaporkan telah menghantam salah satu bangunan tempat tinggal dekat dengan Rumah Sakit Nasser di Kota Khan Younis. Distrik Rafah juga telah menjadi sasaran penegboman militer Israel dalam beberapa jam terakhir.

Hal-hal tersebut membuat rasa kemanusiaan muncul, masyarakat dari berbagai negara banyak yang menyuarakan bela Palestina. Dengan banyaknya video dan foto yang beredar di berbagai platfrom digital, kondisi terluka parah, kondisi anak kecil menangis mendengar suara bom membuat hati nurani tidak tega melihatnya sehingga muncullah aksi bela Palestina.

Aksi bela Palestina terjadi di Indonesia di berbagai kota, di Maroko, Belanda, Inggris, dan lain-lainnya. Banyak juga yang tidak menggunakan produk yang perusahaannya bermitra atau berhubungan dengan Israel.

Penulis:

Gantari Jingga Pradita
Mahasiswa Hukum Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI