Jalur Gamifikasi untuk Masa Depan Indonesia: Transformasi Digital dalam Pembentukan Karakter Generasi Emas 2045

Gamifikasi

Tidak dapat dipungkiri bahwa Pendidikan karakter berperan sangat penting terhadap pertumbuhan negara. Zaman sekarang tata krama tampak sulit ditemukan, sedangkan saat ini dunia entertainment merupakan hal yang paling diminati dari usia muda sampai tertua. Karena itu pasti hal ini berpengaruh terhadap pembangunan karakter seseorang.

Konten yang dilihat pasti akan mencerminkan karakter individu tersebut. Bahkan terdapat artikel yang meneliti tentang karakter individu dapat mempengaruhi games yang mereka minati, namun secara konsisten juga dapat mempengaruhi karakter individu tersebut.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hal ini merupakan pedang bermata dua karena terdapat anak muda sulit mengontrol emosi karena bermain games, sedangkan sisi baiknya ada anak yang belajar hal yang tidak diajarkan di sekolah melalui games.

Gamifikasi adalah penerapan elemen permainan terhadap kegiatan non-permainan yang berfungsi untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan pengguna. Dalam konteks untuk Pendidikan karakter, umumnya karakter seseorang dapat terlihat dari game yang dimainkan dan cara memainkannya. Misal dalam game genre RPG pemain diberikan kebebasan untuk membuat karakter mereka sendiri dengan setiap pilihan mempengaruhi cara bermain yang berbeda.

Sedangkan pemain yang menyukai game kompetitif cenderung memiliki rasa kompetitif dan terbuka untuk berinteraksi dengan komunitas. Namun bagaimana cara membuktikan bahwa games yang diminati dipengaruhi oleh karakter pemainnya?

Pada tahun 2016 Nick Lee dari Quantic Foundry merilis sebuah artikel berjudul Gaming Motivations: Align with Personality Traits dimana 140.000 gamers mengisi survei berisi berbagai pertanyaan seperti “Apakah anda menjadi kreatif saat sendirian?”, “Apakah anda merasa harus menang walaupun harus melukai orang lain?” dan lainnya. Survei tersebut menghasilkan 3 kategori yaitu, Action-Social, Mastery-Achievement, Immersion-Creativity.

  • Action-Social cenderung menyukai game yang memiliki cara bermain yang cepat dan membutuhkan kemampuan membuat keputusan yang cepat.
  • Mastery-Achievement cenderung menyukai game yang membutuhkan pemikiran strategis untuk menyelesaikan masalah dan dorongan untuk mencapai semua prestasi dalam game tersebut.
  • Immersion-Creativity cenderung menyukai game dengan narasi dan eksplorasi pada dunianya yang imersif

Namun perlu diingat bahwa karakter seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti lingkungan, trauma, teman, dan lain-lain yang membuat hasil ini tidak bisa dilihat hanya secara semata.

Menurut saya game merupakan pedang bermata dua dalam pendidikan karakter. Hal tersebut karena banyaknya kasus dimana anak mudah melawan orang tua ketika diberi batasan dalam penggunaan gadget. Hal tersebut kemungkinan besar dapat diasosiasikan sebagai adiksi, karena itu masih diperlukannya pantauan orang tua terhadap game yang dimainkan anaknya.

Jika anak tersebut bermain game kompetitif yang membutuhkan fokus besar, dan tidak dapat diganggu, maka kemungkinan besar Ia akan frustasi ketika diperintahkan untuk berhenti bermain atau meng-pause. Karena itu diperlukan kerja sama antar orang tua dan anak untuk saling mengedukasi.

Saya belajar banyak hal melalui games seperti, belajar bahasa inggris, moral kehidupan, politik, bahkan mempelajari tentang diri sendiri dan lain-lain. Pasti terdapat anak pada masa kini ketika ditanyakan siapa tokoh inspirasinya, maka akan menjawab sebuah karakter fiksi.

Hal ini menunjukkan bahwa media termasuk games dapat berpengaruh buruk maupun baik terhadap cara berpikir anak. Games biasanya dibumbui dengan cerita yang menarik, karakter dengan personalitas dan ceritanya masing-masing.

Dari hal ini developer dapat berpikir kreatif dan mencapai audiens lebih luas dengan membuat cerita yang terikat dengan suatu kelompok individu, dan membuat karakter yang merasa terikat dengan pemain. Ditambah dengan kapabilitas dunia game yang tidak terbatas, developer dapat membuat cerita dan karakter dengan pembawaan konsep yang jauh lebih menarik daripada media seperti buku dan film

Contoh Game yang Membantu Pendidikan Karakter

Berikut beberapa contoh game yang membantu Pendidikan karakter saya:

1. Persona Series

Series Persona merupakan game yang cocok untuk remaja-remaja SMA karena gamenya mengambil latar belakang masa SMA. Game dengan mekanik berbasis Turnbased dan Social Links yang mendorong pemain untuk berinteraksi dan mengenal karakter lain untuk memperkuat diri dan karakter lain tersebut.

Persona juga melatih manajemen waktu pemain dengan memberikan banyaknya aktivitas yang bisa dilakukan dalam sehari seperti berinteraksi dengan karakter lain, olahraga, meningkatkan status sosial sendiri (Charm, Courage, Knowledge, dll.). Dibumbui dengan cerita yang mengandung tema pertemanan, politik, kebenaran, penindasan, dll. Membuat game ini cocok untuk meningkatkan Pendidikan karakter seseorang

2. Darksouls/Elden Ring

Kedua game tersebut dibuat oleh perusahaan developer bernama Fromsoftware yang dikenal karena game yang berisi tantangan yang memerlukan fokus dan cobaan berkali-kali. Pemain diperlukan untuk belajar dari kesalahan dan pola serangan suatu boss. Anehnya banyak pemain menyukai hal tersebut, karena perasaan saat berhasil mengalahkan suatu boss setelah mengulang berkali-kali memberikan rasa pencapaian dari kerja keras pemain.

Game ini tidak menceritakan ceritanya; mereka memaksa pemain untuk mencapainya melalui perjuangan. Kegagalan bukanlah akhir permainan namun merupakan bagian dari prosesnya

Jadi menurut saya dengan mendukung industri game Indonesia, developer Indonesia dapat membuat kualitas game yang lebih baik. Sekarang kebanyakan anak hanya memainkan Mobile Legends dan game kompetitif lainnya karena device kurang memadai atau sedikitnya waktu yang dibutuhkan untuk memainkan game tersebut. Dibutuhkan lebih banyak game cerita yang mengandung pelajaran yang dapat membentuk karakter pemain.

Terdapat beberapa game cerita dari Indonesia yang cukup terkenal di dalam maupun luar Indonesia yaitu Dreadout, A Space For The Unbound, Coffee Talk, dll. Dengan hal ini, anak-anak muda yang menyukai bermain game sejak kecil dapat belajar dan merasa senang melakukannya daripada bermain game kompetitif yang Sebagian besar hanya dapat menimbulkan rasa frustasi karena kekalahan.      

Penulis: Hilmi Muhammad Fauzi
Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dosen Pengampu: Badrus Sholeh, S.Ag., M.A., Ph.D

Editor: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses