Kasus Bunuh Diri pada Siswa SMP Dilihat dari Teori Kognitif

Kasus Bunuh Diri pada Siswa SMP
Ilustrasi Perundungan pada Siswa SMP (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Trend yang sangat mengkhawatirkan saat ini adalah kasus bunuh diri diberbagai wilayah. Maraknya kasus tersebut membuat warga sekitar menjadi resah dan prihatin.

Sedihnya, siswa SMP (FF) ini menghadapi tekanan begitu berat sehingga (FF) merasa terjebak dalam kesulitan emosional yang mengarah pada keputusan tragis untuk mengakhiri hidupnya.

Menurut Reber & Reber (2010, h. 948) definisi bunuh diri, yaitu seseorang yang dengan niatan dan kesengajaan membunuh dirinya sendiri atau melakukan tindakan mengambil nyawanya sendiri.

(FF) mengakhiri hidup dengan gantung diri di rumah keluarganya di Kecamatan Plumbon. Saat itu, ayah korban (KA) sedang beres-beres di tempat usaha fotokopinya, 500 meter dari lokasi. Tiba-tiba, warga memanggilnya untuk melihat anaknya. Awalnya, ia kira anak laki-lakinya itu terjatuh.

Enggak ada sedikit pun pikiran saya begitu. Pas saya ke sana sudah banyak warga dan polisi. Saya langsung masuk dan peluk anak saya,” ujar KA (Ayahnya).

Tubuh FF sudah dingin, kaku. Jarinya membiru. Bekas hitam melingkar di lehernya. Anak itu tidak lagi bernyawa. Humsona (2004, h. 60) mengemukakan bahwa bunuh diri merupakan tindakan merusak diri sendiri yang berakibat pada kematian.

(KA) tidak habis pikir, bagaimana mungkin anaknya, yang beberapa jam sebelumnya izin ke rumah neneknya untuk makan dan beli kuota, bisa bunuh diri.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Kabupaten Cirebon Fifi Sofiah saat diwawancarai di Cirebon, Jawa Barat, Sabtu.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Kabupaten Cirebon Fifi Sofiah mengatakan, kasus (FF) menunjukkan beratnya tekanan yang dirasakan anak. Beban itu, seperti ditinggal mati ibunya hingga masalah keluarga. Kondisi ini berimbas pada kesehatan mentalnya.

”Ada sesuatu yang dia tidak mampu menahan sehingga dia melakukan ini. Anak seumuran ini mengerti cara mengikat leher, mencari tempat aman mengakhiri hidupnya, seperti sudah terencana. Ini membuat saya sesak,” ungkap Fifi saat melayat.

Menurut Farhangdoost (2010) penyebab individu melakukan percobaan bunuh diri di antaranya adalah karena depresi, stress, serta kecemasan yang dialaminya. Individu akan merasakan perasaan sedih, marah, cemas bahkan tidak berdaya merupakan suatu luapan emosi dan stress yang dialaminya (Townsend, 2011).

Hal ini akan menstimulus untuk melakukan tindakan bunuh diri (Muhith, 2015). Hal ini sesuai dengan kasus (FF) yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena faktor tekanan yang dialami oleh (FF) yang tidak mampu diterima sehingga menstimulus untuk melakukan tindakan bunuh diri.

 

Penulis:

  1. Taufik Hidayah Batu Bara
  2. Alfian Dwi Saputra
  3. Brilian Viona Agustin
  4. Mutiara Charlya Astra
  5. Siti Rahmadhani

Mahasiswa Psikologi, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI