Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, dan penyusunan larik serta bait.
Saya yang memiliki hobi membaca dan menulis puisi mengetes pemahaman terhadap puisi salah satu tokoh yang karyanya sangat dikenal dari zamannya hingga sekarang. Tokoh tersebut adalah Chairil Anwar. Namun, saya kesulitan untuk memahami kata-kata yang tersurat.
“Arti dari puisi ini tidak bisa diartikan langsung melalui kata-kata yang ada.” Itu yang saya ucapkan saat membaca keseluruhan puisi berjudul Aku dan saya sadar ada perbedaan yang jelas.
Siapa Chairil Anwar?
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengatakan bahwa Chairil Anwar terkenal sebagai penyair yang sangat berdampak pada puisi modern Indonesia dan memprakarsai angkatan 45 sastra Indonesia. Sang tokoh lahir 22 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara.
Selain itu, ternyata karya-karyanya tidak selalu diterima pada zaman itu. Buktinya puisi-puisinya pernah ditolak majalah Pandji Poestaka karena karya sang tokoh dianggap menyimpang dari pakem teori. Namun, ada seorang kritikus yang tidak setuju dengan hal itu.
Kritikus tersebut adalah Hans Bague Jassin yang menilai bahwa sajak-sajak sebagai puisi modern Indonesia. Beliau juga menyebarkan karya Chairil Anwar dengan berbagai publikasi agar semakin banyak khalayak yang tahu.
Ada Apa dengan Puisi Aku oleh Chairil Anwar?
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Baca Juga: Analisis Puisi Aku Karya Chairil Anwar
1. Memuat kata-kata yang sederhana, tetapi susah dipahami
Karyanya tidak dapat dipahami sekali duduk saja. Puisi ini tidak langsung dapat dimaknai hanya dengan membaca sekali. Memang kata-kata yang digunakan sering terdengar di kehidupan sehari-hari, tetapi penggabungan kata dan permainan kata itu yang membuat otak terus berpikir agar tidak salah kaprah.
2. Kata-kata pada puisi bukan makna yang sebenarnya
Puisi Aku memuat kata-kata yang sederhana. Namun, memiliki makna yang bukan sebenarnya. Contohnya ada kata “aku ini binatang jalang” saat awal membaca, saya memaknai sebagai hal yang kotor. Namun, saya mencoba keluar dari hal yang logika. Imajinasi saya gunakan agar dapat memahami makna yang sebenarnya.
Kenyataannya penggalan lirik tersebut tersirat perjuangan dengan semangat yang membara agar tokoh tidak berada di lingkaran rintangan dan tantangan untuk mencapai kebebasan yang diharapkan.
3. Kata-kata memuat majas yang harus diartikan secara tersirat
“Aku tetap meradang menerjang dan tak perlu sedu sedan” sepenggal lirik puisi yang memuat majas hiperbola. Majas hiperbola adalah majas yang mengandung makna yang berlebihan.
Jika dipahami langsung dari kata-kata atau dari yang tersurat artinya, yaitu tokoh aku sedang mengalami kemarahan dan tak perlu menangis mobil, tetapi jika diartikan dan dimaknai dengan majas yang digunakan tokoh aku berada pada kondisi yang sangat emosional, yaitu kemarahan dan tokoh aku tidak ingin terus menangis berkali-kali.
Majas personifikasi, majas yang berisi benda mati seolah-olah hidup, seperti mempunyai tenaga selayaknya manusia. “Biar peluru menembus kulitku” jika dimaknai tersurat menjadi bermakna bahwa peluru pada situasi ini merupakan benda mati, tetapi diibaratkan mempunyai kekuatan yang menembus kulit sang tokoh.
Namun, makna sebenarnya yang ingin disampaikan sang tokoh bahwa peluru dapat menembus kulitnya yang dilakukan seseorang yang ingin menghambat keinginannya untuk mencapai kebebasan yang sesungguhnya.
Majas metafora, majas yang menyatakan perbandingan. “Aku ini binatang jalang” tokoh aku membandingkan atau mengumpamakan bahwa dirinya binatang jalang.
Binatang jalang bukan sebutan yang digunakan kepada pelaku tindak asusila sebaliknya makhluk yang menginginkan kemerdekaan, sesuka hati melakukan tindakan, tidak taat aturan, dan tidak peduli dengan sekitarnya. Beberapa penggalan lirik puisi sang tokoh menyiratkan makna yang berbeda dengan makna yang tersurat.
4. Puisi Aku bukan sekadar kata
Bukan hanya sekadar kata yang sulit dipahami. Puisi ini juga sulit dilupakan karena memiliki pesan penting yang mendalam bagaimana tokoh menempatkan dirinya sebagai tokoh dalam puisinya supaya lebih terlihat emosional dan membuat pembaca turut merasakan apa yang Chairil Anwar rasakan.
Penderitaan saat membaca puisi ini berupa arti yang bukan sebenarnya harus segera dituntaskan supaya pembaca tidak salah memahami. bukan dengan berhenti membacanya, tetapi dengan belajar dan bergabung ke diksi-diksi yang dipenuhi imajinasi tersebut.
Penyair Tersohor Tidak Asal Menulis
Chairil Anwar tokoh yang terkenal dari zamannya hingga sampai kini di mana beliau tidak menciptakan karya yang asal-asalan. Dia tidak peduli bagaimana pembacanya memahami tulisannya apakah mudah atau tidak.
Pada karyanya Aku tersirat pesan, emosi, keinginan yang dia tuangkan berupa kata-kata dengan waktu pemikiran yang tidak cepat.
Oleh karena itu, sebagai penikmat sastra harus mampu memahami karya-karya penyair dengan baik dan benar, yaitu dengan mencintai puisi, menempatkan diri sebagai tokoh pada puisi, dan terus membaca karya sang tokoh.
Penulis: Cindy May Siagian
Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Jambi
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












