Intertekstualitas Sastra pada Puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” Karya Chairil Anwar dan Puisi “Tentang Kemerdekaan” Karya Toto Sudarto Bachtiar

Sastra Indonesia
Ilustrasi Bendera Merah Putih (Sumber: https://unsplash.com/photos/red-and-white-flag-under-blue-sky-during-daytime-5i3oyOrojvk, diakses pada 05 Juni 2024)

Telah banyak para penyair menciptakan berbagai macam puisi. Mulai pada masa puisi lama berlanjut dengan puisi angkatan 45 atau biasa dikenal dengan puisi angkatan pujangga baru.

Terkait dengan puisi W. S. Rendra dan Toto Sudarto Bachtiar, kedua penyair tersebut merupakan satu angkatan, yaitu pada masa angkatan 1950-1960 yang biasanya bertema dengan kemerdekaan seperti dalam puisinya yang berjudul “Gerilya” karya W. S. Rendra dan “Pahlwan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar.

Kedua puisi tersebut mengisahkan peristiwa yang terjadi pada masa peperangan yang mempertaruhkan jiwa dan raga untuk memperjuangkan kehormatan tanah air.

Bacaan Lainnya
DONASI

Seorang penyair W. S. Rendra kerap dijuluki dengan sebutan “Burung Berak” karena puisi yang digunakan sajak-sajak yang romantic, mampu menarik perhatian orang yang mendengarkan puisinya.

Karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1981: 11). Karya sastra itu merupakan sebuah respons (Teeuw, 1983: 65) pada karya sastra yang terbit sebelumnya. Oleh karena itu, sebuah teks tidak dapat dilepaskan dari teks yang lain.

Sebuah karya sastra baru mendapatkan maknanya yang hakiki dalam kontrasnya dengan karya sebelumnya (Teeuw, 1983: 66). Teks dalam pengertian umum adalah dunia semesta ini, bukan hanya teks tertulis atau teks lisan.

Adat istiadat, kebudayaan, film, drama secara pengertian umum adalah teks. Oleh karena itu, karya sastra tidak dapat lepas dari hal-hal yang menjadi latar penciptaan tersebut, baik secara umum maupun khusus.

Untuk dapat menemukan dan menafsirkan respons tersebut merupakan tugas pembaca (Teeuw, 1983: 65), termasuk pembaca adalah peneliti sastra. Julia Kristeva (Culler, 1977: 193) mengemukakan bahwa setiap teks itu, termasuk teks sastra, merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan serta transformasi teks-teks lain.

Secara khusus, ada teks tertentu yang menjadi latar penciptaan sebuah karya disebut hipogram oleh Riffaterre (1978:11,23), sedangkan teks yang menyerap mentransformasikan hipogram itu dapat disebut sebagai teks transformasi. Untuk mendapatkan makna hakiki tersebut digunakan metode intertekstual, yaitu membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan sebuah teks transformasi dengan hiprogramnya.

Dalam kesusastraan Indonesia, terdapat hubungan intertekstual antara satu karya sastra dengan karya sastra yang lain, baik antara karya sezaman maupun zaman sebelumnya. Seperti pada materi yang akan dibahas yakni sastrawan yang memiliki angkatan sezaman, sastrawan W.S Rendra dengan Toto Sudarto Bachtiar.

Dapat dikatakan bahwa kajian interteks berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya yang muncul kemudian. Secara luas interteks diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks lain.

Dalam pengkajian intertekstualitas, maka sangat diperlukan pembahasan beberapa perubahan atau bentuk-bentuk dari proses transformasi antara teks hipogram dan teks transformasi. Ada beberapa bentuk transformasi, di antaranya afirmasi.

Afirmasi adalah bentuk transformasi yang tidak menimbukan perubahan-perubahan. Secara sederhana afirmasi ini artinya persamaan dengan teks yang mendahuluinya atau teks hipogram. Afirmasi juga bisa dikatakan dengan istilah pengukuhan. Kemudian ada restorasi.

Restorasi adalah bentuk transformasi yang memiliki perubahan terbatas pada teks yang mendahuluinya. Artinya perubahan yang ditimbulkan tidaklah terlalu besar, melainkan hanya sebagian saja. Lalu ada parodi.

Parodi adalah bentuk transformasi yang memiliki perubahan pada teks yang memiliki unsur parodi yang dikemas dengan lelucon dan kelucuan. Terakhir ada negasi.

Negasi adalah bentuk transformasi besar-besaran. Artinya perubahan yang ditimbulkan sangatlah signifikan, berbeda jauh dari teks yang mendahuluinya. Dalam artian teks transformasi ini memiliki unsur penolakan terhadap teks hipogram.

Baca juga: Makna Pesan Puisi “Keyakinan” Karya Rosihan Anwar

“Persetujuan dengan Bung Karno”
Chairil Anwar

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948)

Tipografi merupakan bentuk fisik atau penyusunan baris-baris dalam puisi. Peranan tipografi dalam puisi adalah untuk menampilkan aspek artistik visual dan untuk menciptakan nuansa makna tertentu.

Puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar memiliki tipografi yang semi konsisten. Puisi ini terdiri dari dua bait; bait pertama memiliki enam baris dan bait kedua memiliki tiga baris. Jumlah baris untuk tiap bait pada puisi ini berpola 6-3.

Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Dalam puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” ini, Chairil Anwar memilih kata-kata yang bersifat persuasif atau ajakan-ajakan dengan dorongan atau penyemangat serta penjelasan dari dorongan tersebut. Kata-kata tersebut sangat sederhana namun sarat makna, juga mudah dipahami oleh pembaca.

Seperti pada judul puisi, Chairil Anwar memilih kata “persetujuan” dari pada “perjanjian” atau “perundingan” yang dimaknai sebagai suara semangat yang diungkapkan melalui puisi tersebut terhadap proklamator bangsa.

Bait pertama dan kedua memiliki diksi yang berkaitan dan tidak bisa dilepaskan. Keduanya sama-sama diawali dengan baris yang berisi seruan dan pada kata-kata selanjutnya berisi penjelasan dari seruan tersebut.

Dalam puisi ini juga terdapat kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indra yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang.

Pada puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” ini, salah satunya kata konkret terwujud dalam baris “dipanggang di atas apimu, digarami lautmu”. Benda yang dipanggang dan digarami adalah makanan seperti daging ayam yang sangat lezat.

Chairil Anwar menegaskan bahwa ia seolah-olah telah puas dengan pahitnya beberapa peristiwa sejarah di masa lampau yang penuh luka dan duka.

Berlanjut pada imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil).

Dalam puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” imaji yang dominan diperlihatkan adalah imaji penglihatan (visual) dan suara (auditif). Hampir dari keseluruhan isi puisi menceritakan tentang kejadian atau peristiwa yang dapat terbayangkan oleh pembaca.

Kemudian dalam puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” Chairil Anwar terdapat beberapa majas. Di antaranya pada bait pertama, menunjukkan tiga majas, yaitu repetisi yang berarti pengulangan kata pada kalimat yang dianggap penting untuk memberikan penekanan, eklamasio yang berarti majas yang menguakkan tanda seru, dan personifikasi yang berarti kiasan. Perhatikan kutipan di bawah ini:

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Pada bait kedua majas yang penulis kaji pun tidak jauh beda yaitu hanya ada tiga majas seperti halnya pada bait pertama. Dalam hal ini penulis merasa, Chairil Anwar memberikan sentuhan kecil pada puisinya dengan menggunakan sedikit majas, namun penuh dengan makna.

Pada pembahasan rima, puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” memiliki rima bebas atau tidak terikat pada bunyi atau pun bentuk pola. Dari awal hingga akhir, hanya ada beberapa baris yang memiliki bunyi akhiran yang sama, yaitu pada bait pertama di baris kedua, tiga, dan lima sama-sama berakhiran (sufiks) “mu”.

Dan irama yang digunakan adalah irama yang menunjukkan bagaimana penyair memberikan semangat kepada proklamator bangsa. Irama yang dihasilkan terkesan sungguh-sungguh karena dilihat dari kata-kata yang ada, penyair seolah-olah ingin membuat lompatan-lompatan kesuksesan dan kebebasan pada kondisi kolonialisme atau imperialisme yang telah usai, tinggal bergerak memajukan negara ini menjadi lebih berkembang dan lebih baik.

Tema yang terdapat pada puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” adalah patriotisme. Puisi tersebut menceritakan tentang ajakan dan dorongan kepada pahlawan proklamator yaitu Ir. Soekarno untuk terus memberikan peran sebagai pemimpin negara yang penuh dengan rasa militansi. Perhatikan kutipan berikut ini:

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat pada puisinya. Dalam hal ini penyair merasakan penuh semangat terhadap keadaan yang terjadi di tanah air. Seperti pada bait kesatu dan kedua puisi berikut:

Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Pada puisi “Persetujuan dengan Bung Karno”, penyair menyampaikan tema atau isi puisi dengan nada penuh semangat dan seolah-olah mengajak para pembaca untuk melihat dan menyadari bahwa kemerdekaan pada negeri ini tidak mudah di dapat. Seperti pada kutipan berikut ini:

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu

Kemudian, ada beberapa amanat yang dapat penulis analisis, di antaranya pesan yang disampaikan Chairil Anwar pada puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” adalah mengajak kita untuk senantiasa memberikan dorongan secara lisan berupa penyemangat kepada para pahlawan. Hal ini sesuai pada bait pertama baris pertama dalam puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar.

“Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji”

Chairil Anwar juga mengingatkan tentang rasa kesatuan bangsa, kendati kita semua berbeda namun tetap memiliki satu tujuan bersama. Hal ini sesuai pada bait kedua baris pertama dalam puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar.

“Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat”

Selain itu, dari puisi tersebut dapat dilihat dan disadari bahwa negeri Indonesia memiliki sejarah patriotisme yang beraneka ragam, salah satunya adalah peran dari pahlawan proklamator kemerdekaan yakni Ir. Soekarno. Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda era sekarang tentunya harus selalu mengingat peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu yang penuh dengan luka dan duka, agar rasa militansi terhadap bangsa ini menjadi kuat dan stabil.

Itulah analisis pada puisi pertama, berikut ini adalah puisi kedua yang penulis tentukan sebagai pembanding.

Baca juga: Menelusuri Ungkapan Ekspresi serta Sisi Emosional Manusia dalam Kumpulan Puisi Melihat Api Bekerja Karya M. Aan Mansyur

“Tentang Kemerdekaan”
Toto Sudarto Bachtiar

Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara
Janganlah takut kepadanya
Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
Janganlah takut padanya
Kemerdekaan ialah cinta salih dan mesra
Bawalah daku kepadanya
(1957)

Puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar memiliki tipografi yang semi konsisten. Arti semi konsisten di sini adalah puisi tersebut hampir berbentuk seutuhnya.

Hal ini terjadi dikarenakan penyair menginginkan perbedaan dari puisi lainnya dengan menampilkan tipografi semi konsisten pada puisinya. Puisi ini hanya satu bait dan jumlah baris untuk tiap bait pada puisi ini berpola 6.

Dalam Puisi “Tentang Kemerdekaan”, Toto Sudarto Bachtiar memilih kata-kata lazim yang sering digunakan untuk mengungkapkan sebuah perasaan. Kata-kata tersebut sangat sederhana namun sarat makna, juga mudah dipahami oleh pembaca.

Seperti pada judul puisi, Toto Sudarto Bachtiar memilih “Tentang Kemerdekaan” dari pada “Definisi kemerdekaan” atau “Kemerdekaan adalah Cinta Salih dan Mesra” yang dimaknai sebagai suara rakyat untuk memberikan asumsi tentang makna merdeka secara harfiah.

Selain itu, pada baris kedua dan keempat Toto Sudarto Bachtiar menulis “Janganlah takut kepadanya”. Maknanya adalah penyair menginginkan stigma negatif terhadap kemerdekaan pada kala itu menjadi hilang. Kenyataannya bukan bersyukur, malah kemerdekaan adalah hal yang masyarakat takuti.

Pada puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar ini, salah satunya kata konkret terwujud pada baris ke satu dan dua, “Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara, janganlah takut kepadanya”. Lautan bersuara dengan bantuan sang angin yang mendorong air sehingga menghasilkan derasnya ombak lautan. Toto Sudarto Bachtiar menegaskan kepada rakyat Indonesia bahwa kemerdekaan bukanlah untuk ditakuti.

Dalam puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar imaji yang dominan diperlihatkan adalah imaji penglihatan (visual) dan suara (auditif). Hampir dari keseluruhan isi puisi menceritakan tentang kejadian atau peristiwa yang dapat terbayangkan oleh pembaca.

Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
Janganlah takut padanya
Kemerdekaan ialah cinta salih dan mesra
Bawalah daku kepadanya
Aku sekarang api aku sekarang laut

Kemudian, dalam puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar terdapat beberapa majas. Di antaranya puisi ini menunjukkan satu majas, yaitu repetisi yang berarti pengulangan kata pada kalimat yang dianggap penting untuk memberikan penekanan dan personifikasi yang berarti kiasan. Perhatikan kutipan di bawah ini!

Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara
Janganlah takut kepadanya
Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
Janganlah takut padanya
Kemerdekaan ialah cinta salih dan mesra
Bawalah daku kepadanya

Puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar memiliki rima terikat pada bunyi atau pun bentuk pola. Dari awal hingga akhir, tiap baris memiliki bunyi akhiran yang sama, yaitu berakhiran (sufiks) dengan menggunakan huruf vokal “a”.

Dan irama yang digunakan adalah irama yang menunjukkan bagaimana penyair memberikan semangat kepada masyarakat Indonesia tentang arti dari kemerdekaan. Irama yang dihasilkan terkesan sungguh-sungguh karena dilihat dari kata-kata yang ada, penyair memberi pengertian yang cukup jelas tentang makna kemerdekaan yang seharusnya dihayati secara positif.

Tema atau gagasan pokok yang terdapat pada puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar adalah kemerdekaan. Puisi tersebut menceritakan tentang kondisi bangsa yang memiliki stigma negatif terhadap kemerdekaan. Penyair memberikan pemahaman cerdas mengenai hal itu. Perhatikan kutipan di bawah ini!

Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
Janganlah takut padanya
Kemerdekaan ialah cinta salih dan mesra
bawalah daku kepadanya

Pada ranah rasa (feeling), penyair merasakan kekecewaan terhadap keadaan yang terjadi di tanah air. Berikut adalah kutipannya:

Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara
Janganlah takut kepadanya    
Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
Janganlah takut padanya
Kemerdekaan ialah cinta salih dan mesra
Bawalah daku kepadanya

Berdasarkan baris terakhir puisi di atas, terlihat penyair yang merasa sedikit kecewa berbicara dengan perasaan penuh harap agar harmoni kemerdekaan dapat penuh dirasakan. Karena esensi kemerdekaan adalah bentuk ikatan bangsa yang kuat.

Pada puisi “Tentang Kemerdekaan”, penyair dapat menyampaikan tema atau isi puisi dengan nada sedikit kecewa dan seolah-olah mengajak para pembaca untuk melihat dan menyadari bahwa kemerdekaan adalah suatu kenikmatan hakiki yang penuh berkah, maka tidak sepatutnya ditakuti. Seperti pada kutipan berikut ini:

Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara
Janganlah takut kepadanya
Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
Janganlah takut padanya

Selanjutnya ada beberapa amanat yang dapat penulis temukan, di antaranya pesan yang disampaikan Toto Sudarto Bachtiar pada puisi “Tentang Kemerdekaan” adalah memberikan arti kata kemerdekaan. Kemerdekaan memiliki esensi di mana kebebasan dan kesejahteraan rakyat didapatkan.

Toto Sudarto Bachtiar juga memberikan argumen bahwasanya kemerdekaan bukan hal yang perlu dijauhi. Sebaliknya, kemerdekaan adalah perkara yang perlu kita dekati. Hal ini sesuai dengan keseluruhan isi teks puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar.

Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara
Janganlah takut kepadanya
Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
Janganlah takut padanya
Kemerdekaan ialah cinta salih dan mesra
Bawalah daku kepadanya

Dilihat dari prinsip intertekstual yang merupakan salah satu sarana pemberian makna kepada sebuah teks sastra (sajak). Hal ini menegaskan bahwa setiap sastrawan menanggapi teks-teks lain yang ditulis sebelumnya.

Dalam menanggapi teks, penyair mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan konsep estetik sendiri yang ditentukan oleh suatu harapan berupa pikiran-pikiran, konsep estetik, dan pengetahuan sastra yang dimilikinya. Berikut adalah data perbandingan puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar dengan puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar.

Struktur Fisik

Jenis Transformasi

Tipografi Afirmasi
Diksi Restorasi
Pengimajian Afirmasi
Kata kongkret Restorasi
Gaya bahasa Restorasi
Rima Negasi
Struktur Batin Jenis Transformasi
Tema Restorasi
Nada Negasi
Perasaan Negasi
Amanat Restorasi

Baca juga: Eksplorasi Kedalaman Emosi dan Realitas Sosial dalam Kumpulan Puisi Blues untuk Bonnie Karya WS Rendra

Dalam temuan intertekstualitas pada puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar dan puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar terdapat beberapa hasil analisis yang coba penulis rangkum.

Pertama kita dapat menganalisis dari judul kedua puisi tersebut. Dari judul yang telah tertulis pun mengalami perubahan atau perbedaan, yaitu “Persetujuan dengan Bung Karno” menjadi “Tentang Kemerdekaan”.

Dalam hal ini Toto Sudarto Bachtiar membuat sebuah perubahan atau mentransformasikan dengan bentuk negasi pada judulnya. Mengenai tema, pada kedua puisi ini memiliki tema yang mengalami perubahan sedikit atau terjadi restorasi pada puisi terdahulunya.

Puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” memiliki tema mengenai perjuangan terhadap kolonialisme, dalam hal ini penulis berasumsi bahwa patriotisme adalah kata yang cocok untuk mewakili temanya. Sedangkan puisi “Tentang Kemerdekaan” memiliki tema mengenai esensi dari kemerdekaan bangsa yang harus kita syukuri, dalam hal ini penulis berasumsi bahwa kemerdekaan adalah kata yang cocok untuk mewakili temanya.

Kutipan bait di bawah ini memberi pemaknaan yang jelas dan berkaitan dengan judul dan tema yang dituliskan, yaitu pada puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar.

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Dalam sebuah karya sastra terutama pada puisi, pemilihan kata sangat perlu diperhatikan karena bahasa merupakan unsur yang paling penting. Seperti pada puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar dan puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar menggunakan berbagai bahasa kiasan guna untuk menambah nilai estetis dari puisi itu sendiri dan menggunakan kata-kata yang dikonkretkan atau diperjelas guna untuk mengetahui maksud dari puisi itu sendiri.

Selain bahasa kiasan yang digunakan penyair dalam puisi, terdapat juga bahasa kongkret atau bahasa yang diperjelas dalam kedua puisi ini yang mengalami perubahan terbatas atau restorasi. Dalam mengonkretkan sesuatu pasti diawali oleh kata-kata yang sulit untuk dimaknai seperti penggunaan imaji.

Kedua puisi ini terdapat beberapa imaji, seperti imaji visual ataupun penglihatan kemudian imaji auditif atau pendengaran. Penggunaan imaji ini bertujuan untuk menambah nilai keindahan dalam suatu puisi.

Selain unsur-unsur yang menyangkut penggunaan bahasa, penulisan dalam suatu puisi pun sangat diperhatikan pada kedua puisi tersebut. Untuk hal ini penulis menemukan perubahan secara terbatas atau yang sering kita sebut dengan restorasi. Seperti halnya pada puisi “Tentang Kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar, penulisannya dibuat dengan sederhana. Perhatikan kutipan di bawah ini!

Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
Janganlah takut padanya
Kemerdekaan ialah cinta salih dan mesra
bawalah daku kepadanya

Sedangkan pada puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar, terlihat jelas bahasa yang digunakan pada setiap awal bait adalah sebuah kalimat penyeru dengan penjelasan pada baris selanjutnya. Perhatikan kutipan di bawah ini!

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat

Nada dan perasaan dalam suatu puisi erat kaitannya dengan penyair itu sendiri. Dalam hal ini, kedua puisi tersebut memiliki perubahan sedikit.

Pada puisi “Persetujuan dengan Bung Karno”, sepenuhnya penyair mempunyai rasa semangat dalam menyampaikan puisinya. Pada puisi “Tentang Kemerdekaan” mempunyai nada dan perasaan yang sedikit sedih, tetapi disisipkan suatu ajakan yang ingin disampaikan oleh penyair kepada masyarakat Indonesia tentang makna kemerdekaan.

Pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca dalam kedua puisi ini terbilang sama, yaitu penyair ingin menyampaikan bahwasanya kita sebagai rakyat Indonesia harus berjuang, jangan patah semangat untuk membela bangsa dan negara tercinta.

Benang merah hubungan antara teks hipogram dan teks transformasi yang dapat penulis kaji adalah sebuah dominasi perubahan dari struktur batin dan persamaan dari struktur fisik.

Kedua teks puisi yang penulis analisis yaitu “Persetujuan dengan bung Karno” karya Chairil Anwar dan “Tentang kemerdekaan” karya Toto Sudarto Bachtiar memiliki persamaan akan latar belakang hadirnya teks puisi tersebut.

Keduanya sama-sama hadir pada masa kemerdekaan sudah Indonesia dapatkan, tinggal bagaimana ke depannya negara dapat maju dan berkembang. Sedangkan tinjauan perbedaannya adalah lebih pada pemaknaan dari kedua teks puisi tersebut yang dikaji dengan analisis unsur batin.

Jauh dari pemahaman yang penulis dapatkan ketika berlangsungnya proses temuan serta dikarenakan adanya perbedaan tafsiran dari kalangan setiap akademisi, penulis meyakini kedua teks ini memiliki hubungan yang sangat erat.

 

Penulis: Ikhsan Abdul Aziz, S.Pd.
Mahasiswa Guru Bahasa Indonesia Pesantren Al-Ma’tuq dan Mahasiswa S-2 MPBSI, Universitas Suryakancana Cianjur

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Referensi

  1. Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: FBS Universitas Negeri Yogyakarta.
  2. Rafiek, M. 2013. Pengkajian Sastra. Bandung: PT Refika Aditama.
  3. Sangidu. 2005. Penelitian Sastra. Yogyakarta: Seksi Penerbitan Asia Barat.
  4. Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.
  5. Waridah, Ernawati. 2014. Kumpulan Majas, Pantun, dan Peribahasa Plus Kesusastraan Indonesia. Jakarta: Ruang Kata.

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.