Kepemimpinan dan Berpikir Sistem Kesehatan Masyarakat

Kesehatan Masyarakat
Ilustrasi Kepemimpinan (Sumber: Penulis)

Kepemimpinan merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan Bersama (Northouse, 2018), orang yang membawa masyarakat secara bersama-sama untuk membuat suatu perubahan bisa terjadi (Cleveland, 2002).

Praktek kepemimpinan terdapat dalam sektor swasta maupun publik. Tugas pemimpinan adalah “create public value” menciptakan nilai publik di dalam maupun di luar sektor publik pada setiap level organisasi (Moore, 1995), dengan kata lain public value adalah produk dari kepemimpinan. Public value merupakan modal sosial dalam suatu komunitas (Gieseke, 2020).

Macam-Macam Gaya Kepemimpinan:

1. Gaya Kepemimpinan Autokratik

Gaya kepemimpinan autokratik dapat diterapkan dalam beberapa situasi. Pemimpin autokratik dibutuhkan bagi staf baru, dalam situasi yang kritis dan tidak ada waktu untuk menentukan keputusan kelompok.

Bacaan Lainnya
DONASI

Pemimpin autokratik bekerja denga sangat baik pada saat krisis dan dalam situasi genting mereka telah memiliki reputasi untuk mampu menyelesaikan tugas yang sulit. Adapun ciri-ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah sebagai berikut:

  1. Tanpa musyawarah.
  2. Tidak mau menerima saran dari bawahan.
  3. Mementingkan diri sendiri dan kelompok.
  4. Selalu memerintah.
  5. Memberikan tugas mendadak.
  6. Cenderung menyukai bawahan yang ABS (asal bapak senang).
  7. Sikap keras terhadap bawahan.
  8. Setiap keputusannya tidak dapat dibantah.
  9. Kekuasaan mutlak di tangan pimpinan.
  10. Hubungan dengan bawahan kurang serasi.
  11. Bertindak sewenang-wenang.
  12. Tanpa kenal ampun atas kesalahan bawahan.
  13. Kurang mempercayai bawahan.
  14. Kurang mendorong semangat kerja bawahan.
  15. Kurang mawas diri

2. Gaya Kepemimpinan Demokratis

Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya seorang pemimpin yang menghargai karakteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anggota organisasi

Pemimpin yang demokratis menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi untuk menggali dan mengolah gagasan bawahan dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan bersama.

Gaya demokrasi merupakan pendekatan yang berpusat pada orang dimana mengizinkan pekerja mengontrol dan berpartisipasi secara individual dalam pembuatan keputusan. Penekanan gaya ini berada pada pengembangan tim dan keinginan untuk berkolaborasi melalui upaya bersama dari semua anggota tim.

Pemimpin demokrasi berfungsi memfasilitasi pencapaian tujuan sambil menekankan nilai dari masing-masing individu. Gaya ini tidak sesuai pada tenaga yang masih baru yang membutuhkan banyak arahan. Gaya kepeimpinan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Pendapatnya terfokus pada hasil musyawarah.
  2. Tenggang rasa.
  3. Memberi kesempatan pengembangan karier bawahan.
  4. Selalu menerima kritik bawahan.
  5. Menciptakan suasana kekeluargaan.
  6. Mengetahui kekurangan dan kelebihan bawahan.
  7. Komunikatif dengan bawahan.
  8. Partisipasif dengan bawahan.
  9. Tanggap terhadap situasi.
  10. Kurang mementingkan diri sendiri.
  11. Mawas diri.
  12. Tidak bersikap menggurui.
  13. Senang bawahan kreatif.
  14. Menerima usulan atau pendapat bawahan.
  15. Lapang dada.

3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif

Menurut (Suyanto, 2009) kepemimpinan partisipatif merupakan gabungan antara otokratik dan demokratik. Yaitu pimpinan menyampaikan hasil analisis dari masalah dan mengusulkan tindakannya kepada bawahan.

Untuk itu, staf diminta untuk saran dan kritik yang selanjutnya keputusan akhir dilakukan bersama-sama. Dengan mempertimbangkan masukan tersebut, pimpinan selanjutnya menetapkan keputusan final tentang apa yang harus dilakukan bawahannya untuk memecahkan masalah yang ada.

4. Gaya Kepemimpinan Laisses Faire

Kepemimpinan dengan gaya seperti ini seringkali mengacu  pada istilah “gaya bebas” atau kepemimpinan permisif. Tipe ini melepaskan sepenuhnya kendali dan memilih untuk menghindari tanggung jawab dengan melimpahkan seluruh pengambilan keputusan pada kelompok.

Gaya kepemimpinan laisses faire dapat diartikan sebagai gaya “membiarkan” bawahan melakukan sendiri apa yang ingin dilakukannya.

Dalam hal ini, pemimpin melepaskan tanggung jawabnya, meninggalkan bawahan tanpa arah, supervisi atau koordinasi sehingga terpaksa mereka merencanakan, melakukan dan menilai pekerjaan yang menurut mereka tepat.

Kepemimpinan dalam suatu pelayanan kesehatan sangat  diperlukan karena, dalam suatu organisasi diperlukan sosok pemimpin untuk mejalankan Organisasi tersebut. Kepemimpinan adalah proses yang mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku anggota untuk mencapai tujuan yang baik (Heryana, 2019).

Pemimpin sebaiknya harus mampu memberikan bimbingan atau tuntunan yang diperlukan dan senantiasa menjadi teladan dalam perkataan, perbuatan, serta memelihara kewibawaan (Gautama, 2014).

Douglas McGregor (didalam buku The Human Side of Enterprise (1983,p. 215) beliau merupakan seorang profesor manajemen, penulis, dan konsultan manajemen Amerika Serikat yang dikenal karena kontribusinya dalam bidang teori manajemen dan kepemimpinan.

Yang mengembangkan teori X dan teori Y tentang motivasi karyawan, yang secara implisit juga berbicara tentang gaya kepemimpinan. Douglas McGregor percaya bahwa gaya kepemimpinan yang demokratis (Teori Y) lebih efektif dan unggul daripada yang otoriter (Teori X).

Contoh dari gaya kepemimpinan demokratis yang kami ambil dalam sebuah Jurnal Penelitian Administrasi Publik, Vol. 3 No.01, Januari (2023) e-ISSN : 2797-04692, oleh Anggun Dea Pitaloka dan Endang Indartuti.

Mengenai Kepemimpinan Kepala Desa Dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Desa Domas Kecamatan Meganti Kabupaten Gresik. Untuk lebih lanjut jurnal dapat diakses di https://aksiologi.org/index.php/praja/article/view/596/435.

Dalam jurnal ini menggambarkan bagaimana seorang pemimpin yang demokratis Dimana Kepala Desa Desa Domas bertanggung jawab atas kesehatan masyarakatnya dibuktikan dengan mengarahkan bawahannya langsung yakni melalui Kader PKK untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, bekerjasama dengan Tenaga kesehatan dari Puskesmas Kecamatan, dengan upaya melaksanakan kegiatan posyandu balita dan posyandu lansia dan melakukan kolaborasi dengan Tenaga kesehatan beserta Puskesmas Kecamatan.

Mengapa dikatakan sesuai dengan jenis kepemimpinan demokratis dikarenakan Kepala Desa Desa Domas memberikan bimbingan pada bawahannya dan bertanggung jawab serta menjalankan kolaborasi atau kaerjasama yang baik.

Menurut penjelasan salah satu dosen di Kampus Universitas Indonesia Maju yaitu Dr. Rosidi Roslan, SKM, SH, MPH, MH “Sistem akan berjalan jika didalamnya ada punishment dan reward.”.

Terbukti dari hasil review jurnal tersebut Kepala Desa Desa Domas sesekali memberikan reward atas semangat kerja para Kader PKK, Kepala Desa Desa Domas juga tetap tegas dalam mengawasi kegiatan-kegiatan untuk menunjang kesehatan masyarakat di desanya.

Maka dari itu, dapat disimpulkan Kepala Desa Desa Domas dengan gaya kepemimpinan yang demokratis berhasil sebagai pemimpin yang dapat berpikir secara sistem kesehatan masyarakat dan dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat di Desa Domas Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik dengan upaya dengan upaya melaksanakan kegiatan posyandu balita dan posyandu lansia dan melakukan kolaborasi dengan Tenaga kesehatan beserta Puskesmas Kecamatan.

 

Penulis: Kelompok 5

  1. Reihan Rizki Zauzilia (22230100002)
  2. ⁠Septi Wulandari (22230100004)

Mahasiswa D4 Manajemen Informasi Kesehatan (Ekstensi), Universitas Indonesia Maju

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI