Keterasingan dalam Kebisingan: Psikologi Ketidakmampuan Memisahkan Diri dari Media Sosial dalam Zaman Kehadiran Konstan

Psikologi Ketidakmampuan Memisahkan Diri dari Media Sosial dalam Zaman Kehadiran Konstan

Teknologi merupakan suatu hal yang mendominasi di Era zaman sekarang dan condong menjadi bagian dari kehudpan generasi Z di Era Globalisasi ini.

Media sosial juga memberikan dampak positif pada generasi muda, dan mempermudah dalam berkomunikasi dalam skala yang lebih luas, memberikan sebuah fasilitas kepada individu untuk berkembang menjadi lebih canggih dan mengikuti Era modern yang serba digital di zaman ini.

Melalui platform media sosial, individu dapat membangun dan bergabung dengan komunitas yang memiliki minat dan tujuan yang sama. Hal ini memungkinkan untuk adanya dukungan, kolaborasi, dan pertukaran pengalaman. Dan juga, Media sosial memberi suara kepada individu yang sebelumnya mungkin tidak memiliki akses atau kesempatan untuk berbicara di forum publik. Ini membuka pintu bagi perubahan sosial dan politik yang positif.

Bacaan Lainnya
DONASI

Namun Hal tersebut juga memunculkan sebuah argumen dan opini yang bertentangan layaknya pisau yang bermata dua seperti Penggunaan yang berlebihan dari media sosial dapat menyebabkan ketergantungan yang merugikan.

Baca Juga: Melangkah Menuju Ketenangan: Mengatasi Rasa Cemas dengan Terapi SEFT

Individu dapat merasa terisolasi secara sosial karena lebih memilih berinteraksi melalui layar daripada secara langsung. Hal tersebut memberikan dampak negatif secara terus-menerus terhadap konten yang kurang sehat atau merugikan di media sosial dan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan stres.

Kehadiran konstan di media sosial seringkali mengganggu konsentrasi dan produktivitas. Individu cenderung terserap dalam aliran informasi yang tak terbatas, mengurangi waktu yang seharusnya dihabiskan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat.

Dampak dari psikologi yang yang tenar di masa-masa kini ialah, munculah istilah yang Bernama Fear of Missing Out atau (FOMO) yang menjadikan seseorang merasa cemas dan tidak memadai pada zaman sekarang karena tetinggal nya suatu informasi yang mejadi perbincangan pada masa-masa tersebut.

Beberapa penelitian telah menunjukkan korelasi antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan peningkatan tingkat depresi dan kecemasan.

Media sosial juga menimbulkan rasa ketergantungan Seperti halnya zat adiktif lainnya, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan psikologis, di mana individu merasa sulit untuk membatasi waktu yang dihabiskan di platform tersebut.

Revolusi teknologi informasi dan perubahan budaya telah menciptakan lingkungan di mana media sosial menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Akses yang mudah dan cepat ke internet serta perkembangan perangkat mobile telah memperkuat ketergantungan pada media sosial.

Baca Juga: Kajian Psikologis tentang Dampak Negatif Penggunaan Media Sosial TikTok pada Kondisi Mental Remaja

Ada juga faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku penggunaan media sosial, termasuk kebutuhan akan validasi sosial, rasa ingin tahu, dan dorongan untuk terhubung dengan orang lain. Ketergantungan pada media sosial dapat menjadi bentuk pelarian dari masalah atau ketidaknyamanan emosional.

Pengaruh dari lingkungan sosial, teman sebaya, dan budaya juga memainkan peran dalam penggunaan media sosial. Norma-norma sosial yang berkembang memperkuat penggunaan media sosial sebagai cara utama untuk berinteraksi dan terhubung.

Dari paradigma studi psikologis, Penelitian telah menunjukkan korelasi antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan peningkatan tingkat kecemasan, depresi, dan perasaan isolasi sosial.

Misalnya, sebuah studi yang dilakukan oleh University of Pittsburgh menemukan bahwa pengguna media sosial yang sering merasa terisolasi sosial memiliki dua kali lebih banyak kemungkinan mengalami depresi daripada mereka yang merasa terhubung secara sosial.

Data epidemiologi juga mendukung hubungan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan masalah kesehatan mental.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Anak dan Remaja menemukan bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih dari lima jam sehari memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami gejala depresi dibandingkan dengan mereka yang menghabiskan waktu yang lebih sedikit di platform tersebut.

Studi perilaku konsumen juga menunjukkan bagaimana desain produk media sosial dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna. Misalnya, notifikasi yang dirancang untuk menarik perhatian pengguna dan algoritma yang mendorong konsumsi konten yang tak terbatas dapat memperkuat perilaku ketergantungan.

Dengan adanya bukti-bukti ini, dapat dilihat bahwa ketergantungan pada media sosial bukanlah sekadar masalah individual, tetapi juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan secara serius.

 

Penulis: Robby Arinal Asya’kamahiya
Mahasiswa Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Editor: I. Khairunnisa

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.