Pencak silat adalah adalah cabang olahraga yang sudah dipertandingkan secara resmi baik pada event nasional maupun internasional, misalnya O2SN, PORPEDA, POPDA, PORDA, PORPENAS, POPNAS, POMNAS, PON, Sea Games, ASIAN Games, maupun Kejuaraan Dunia.
Pada pertandingan wasit dan juri sangat menentukan kesuksesan penyelenggaraan pertandingan. Filosofi dari peran dan fungsi seorang wasit adalah memiliki peran sebagai penengah, penentu, penegak peraturan, pengatur, dan pengadil dalam sebuah pertandingan. Oleh karena itu, wasit harus selalu tegas, adil, dan disegani oleh seluruh pemain, tim, pelatih, dan official yang bertanding.
Wasit yang baik merupakan guru bagi para pesilat untuk menerapkan peraturan perwasitan dan pertandingan. Dengan demikian para pesilat tahu mana yang benar dan mana yang salah dalam pelaksanaan pertandingan.
Wasit harus dapat memutuskan hukuman bagi pelanggaran yang dibuat oleh pesilat secara tegas. Wasit sebagai pemimpin pertandingan dengan sendirinya harus mempunyai wibawa dalam memimpin, baik dalam penampilan fisik maupun tindakannya.
Baca juga: Ilmu Bela Diri Tradisional Kalah Eksis?
Namun di dalam sebuah pertandingan, terkadang muncul beberapa tindakan atau pengambilan keputusan wasit yang memihak kepada salah satu atlet atau tim. Seperti contoh, pengalaman ketika Saya bertanding pada event Kejuaraan Pencak Silat yang berada di Kota Kediri.
Ketika pertandingan tahap final, Saya beranggapan bahwa wasit atau juri yang memimpin pertandingan memihak pada atlet yang menjadi lawan Saya. Ada situasi ketika beberapa kali Saya melakukan serangan tendangan dan pukulan ke lawan sampai terdengar suara yang keras, di situ Saya tidak mendapatkan tambahan point justru malah yang mendapatkan point tambahan adalah lawan Saya.
Kejadian tersebut terulang beberapa kali di babak satu hingga babak ke tiga, di mana situasi pertandingan semakin memanas hingga wasit yang memimpin pertandingan mendapat sorakan penonton, namun wasit dalam pertandingan tersebut tetap tidak adil dan terus memihak kepada atlet yang menjadi lawan Saya. Dari kejadian tersebut Saya pun berfikir, mengapa wasit yang seharusnya adil malah berpihak ke salah satu atlet atau tim?
Setelah pertandingan tersebut, motivasi Saya untuk berlatih menurun, karena Saya merasa kecewa dengan wasit yang berpihak ke salah satu atlet atau tim, seakan-akan latihan yang Saya lakukan itu sia sia.
Jika Saya kalah secara adil, mungkin Saya masih dapat menerima kekalahan tersebut. Dukungan dari pelatih dan teman-teman membuat Saya kembali bersemangat untuk terus berlatih. Dari situlah motivasi Saya tumbuh kembali, terlebih karena masih ada kejuaraan lain yang akan Saya ikuti.
Namun, pada kejuaraan berikutnya yang Saya ikuti, kejadian serupa kembali terulang. Kali ini, teman Saya yang dirugikan. Ia kerap dianggap melakukan pelanggaran, padahal banyak penonton dan official menilai bahwa ia tidak melakukan pelanggaran sama sekali. Situasi ini menimbulkan dugaan adanya keberpihakan wasit atau adanya drama yang dilakukan oleh atlet lawan.
Berdasarkan dua pengalaman tersebut, Saya beranggapan bahwa tindakan wasit yang berpihak kepada salah satu atlet dalam kompetisi pencak silat tidak dapat dibenarkan. Keberpihakan merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai keadilan serta bertentangan dengan prinsip “mengalahkan tanpa merendahkan, menang dengan kehormatan”. Sikap netral wasit adalah cerminan keadilan yang sejati.
Oleh karena itu, menjaga integritas dan objektivitas wasit bukan hanya persoalan profesionalisme, melainkan juga tanggung jawab moral untuk menegakkan nilai-nilai luhur dalam olahraga dan kehidupan.
Penulis: Andhika Dwi Nugroho
Mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Malang
Dosen Pengampu: Nurrul Riyad Fadhli
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












