Guliran yang Membentuk Keyakinan
Kita sering merasa bahwa opini kita lahir dari logika dan pengalaman. Padahal, banyak dari keyakinan itu dibangun diam-diam lewat guliran tanpa henti di media sosial. Setiap pagi dimulai dengan kebiasaan yang sama: membuka ponsel, menggulir Instagram, X, atau TikTok.
Sebuah judul berita muncul. Video memicu emosi. Komentar menimbulkan amarah. Tanpa sadar, layar itu bukan hanya memberi tahu kita, tapi juga membentuk kita. Propaganda di era digital tidak lagi berupa poster besar atau pidato lantang. Ia hadir lewat tren, meme, dan nada suara yang akrab. Ia lucu, bisa dibagikan, dan yang paling berbahaya terasa dekat.
Ketika Propaganda Menjadi Gaya Hidup
Dulu, propaganda adalah alat negara disusun secara terpusat dan disebarkan lewat media resmi. Sekarang, bentuknya jauh lebih halus. Ia muncul di linimasa pribadi, di konten influencer, bahkan di video pendek yang lewat begitu saja.
Algoritma media sosial bekerja seperti cermin: menampilkan hal-hal yang ingin kita lihat. Semakin sering kita bereaksi pada satu isu, semakin sering pula hal itu muncul di layar. Lama-lama, kita terjebak dalam ruang gema seolah semua orang berpikir sama seperti kita. Di titik ini, propaganda tidak lagi tampak seperti kampanye. Ia menjadi gaya hidup: dibungkus dalam humor, estetika, dan rasa kebersamaan.
Algoritma yang Tahu Apa yang Kita Takuti
Setiap kali kita menekan tombol “suka” atau berhenti pada video yang membuat emosi, sistem belajar sesuatu tentang kita. Ia tahu apa yang membuat kita tertarik, takut, bahkan marah. Inilah mengapa konten yang penuh emosi cenderung lebih cepat menyebar daripada berita faktual.
Baca juga: Dampak Media Sosial terhadap Interaksi Sosial Generasi Muda dalam Tinjauan Sosiologis
Media sosial bukan hanya alat berbagi informasi, tapi juga mesin penggerak perasaan. Yang berbahaya, propaganda digital tidak memaksa kita untuk percaya. Ia hanya terus menampilkan apa yang ingin kita percayai sampai yang semu terasa nyata.
Dari Tren Global ke Ketegangan Lokal
Fenomena ini bukan hanya terjadi di luar negeri. Di Indonesia, kita bisa melihatnya dengan jelas. Menjelang Pemilu 2024, arus disinformasi membanjiri platform seperti X dan TikTok.
Meme dan video yang terlihat lucu ternyata menyimpan pesan politik yang tajam. Kadang, kita bahkan tidak sadar sedang menjadi bagian dari strategi komunikasi yang lebih besar.
Yang menarik, banyak dari propaganda itu tidak datang dari tim resmi, tapi dari pendukung dan komunitas penggemar. Mereka bergerak karena rasa percaya dan solidaritas, bukan semata-mata perintah.
Estetika yang Menipu
Salah satu kekuatan propaganda digital ada pada tampilannya. Ia indah, sederhana, dan mengandung emosi. Unggahan dengan warna lembut, font modern, dan narasi puitis lebih mudah dipercaya karena terasa “manusiawi”.
Ini yang membuat propaganda masa kini tidak lagi bergantung pada otoritas, melainkan pada keakraban. Kita lebih percaya pada seseorang yang tampil tulus di layar ponsel ketimbang juru bicara resmi pemerintah. Padahal, pesan yang disampaikan bisa saja sama manipulatifnya hanya dikemas lebih lembut.
Dilema antara Kebenaran dan Keviralan
Di dunia digital, kebenaran harus bersaing bukan dengan kebohongan, tapi dengan hiburan. Fakta jarang viral. Amarah. Sistem media sosial didesain untuk memicu emosi, bukan menenangkan pikiran. Semakin sensasional sebuah konten, semakin besar kemungkinan ia menyebar.
Dan tanpa sadar, kita ikut memainkan peran itu. Dengan membagikan tanpa membaca tuntas, dengan berkomentar tanpa berpikir panjang, kita menjadi bagian dari rantai propaganda yang kita sendiri benci.
Literasi Kritis sebagai Perlawanan
Kita memang tidak bisa sepenuhnya menghindari propaganda tapi kita bisa belajar mengenalinya. Berpikir kritis di dunia digital berarti berhenti sejenak sebelum membagikan, bertanya “siapa yang diuntungkan?”, dan mengingat bahwa viral bukan berarti benar.
Sekolah dan media perlu mendorong kemampuan ini sejak dini. Literasi digital bukan cuma tentang cara menggunakan teknologi, tapi juga tentang memahami motif di baliknya. Kadang, bentuk perlawanan paling tenang di dunia yang bising adalah kesadaran: menolak terprovokasi, tetap tenang, dan memilih diam ketika semua orang berteriak.
Simpulan: Keberanian untuk Tidak Ikut Arus
Menolak propaganda bukan berarti keluar dari media sosial. Ini soal keberanian untuk tetap berpikir jernih di tengah banjir informasi. Di dunia yang bergerak cepat, hal paling berani mungkin justru adalah melambat. Berhenti sejenak, menimbang, dan berani berbeda pendapat.
Propaganda tidak menang karena berhasil meyakinkan kita. Ia menang ketika kita berhenti bertanya. Dan mungkin, di tengah hiruk pikuk dunia digital, kebebasan sejati dimulai dari satu hal sederhana: keberanian untuk berpikir pelan.
Penulis: Nasywa Dzakirah
Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
Referensi
Bradshaw, S., & Howard, P. N. (2019). The global disinformation order: 2019 global inventory of organised social media manipulation. Oxford Internet Institute.
https://demtech.oii.ox.ac.uk/wp-content/uploads/sites/12/2019/09/CyberTroop-Report19.pdf
Shao, C., Ciampaglia, G. L., Varol, O., Yang, K. C., Flammini, A., & Menczer, F. (2018). The spread of low-credibility content by social bots. Nature Communications, 9(1), 4787. https://www.nature.com/articles/s41467-018-06930-7.pdf
Avram, M., Micallef, N., Patil, S., & Menczer, F. (2020). Exposure to Social Engagement Metrics Increases Vulnerability to Misinformation.https://arxiv.org/pdf/2005.04682
Mønsted, B., Sapieżyński, P., Ferrara, E., & Lehmann, S. (2017). Evidence of Complex Contagion of Information in Social Media: An Experiment Using Twitter Bots. https://arxiv.org/pdf/1703.06027
Yanti, D. Y., Rizqiana, S., Fadhilah, F. N. A., & Nisa, P. K. (2024). Propaganda Politik dalam Media Sosial: Studi Kasus Penyebaran Hoaks Pilpres 2024 di X. Jurnal PEMA. https://jurnal.permapendis-sumut.org/index.php/pema/article/view/1295/1054
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












