Nyeri merupakan keluhan yang sering dialami oleh lansia dan kerap memengaruhi kenyamanan serta kualitas hidup mereka. Seiring bertambahnya usia, nyeri sendi, pegal pada tubuh, dan rasa tidak nyaman menjadi kondisi yang sulit dihindari. Namun, penanganan nyeri pada lansia tidak selalu harus bergantung pada obat-obatan.
Pengalaman ini saya temui saat bersama rekan-rekan mahasiswa Kelas A5 Semester 5 Universitas Pembangunan Indonesia Manado (UNPI) berinteraksi langsung dengan para lansia di Panti Werdha Damai Ranomuut, Kota Manado pada tanggal 03 November 2025. Di bawah pendampingan Ns. Yosua Aldrin Kaligis, S.Kep., M.Kep., kami mencoba mendampingi lansia melalui pendekatan nonfarmakologis berupa terapi mewarnai.
Pada awal pertemuan, beberapa lansia menyampaikan keluhan nyeri yang sudah lama dirasakan, terutama nyeri sendi dan rasa pegal yang muncul saat beraktivitas maupun saat beristirahat. Aktivitas harian yang terbatas membuat keluhan tersebut sering kali semakin terasa. Sebelum memulai terapi mewarnai, dilakukan pengukuran tekanan darah sebagai bagian dari pemantauan kondisi kesehatan lansia, sekaligus membangun rasa aman dan nyaman. Setelah itu, para lansia diajak mengikuti sesi mewarnai gambar dengan suasana santai dan tanpa tekanan.

Lansia mengikuti terapi mewarnai sebagai upaya relaksasi dan pengalihan perhatian dari nyeri.
Selama proses mewarnai, lansia terlihat lebih fokus dan tenang. Aktivitas ini membantu mengalihkan perhatian dari rasa nyeri yang dirasakan. Perlahan, ekspresi wajah yang sebelumnya tampak tegang mulai berubah menjadi lebih rileks. Beberapa lansia juga mulai berinteraksi, berbincang ringan, dan saling menunjukkan hasil pewarnaan mereka.
Baca juga: Membangun Desa Rembun Aktif dan Bugar Lewat Inovasi Pembelajaran PJOK dan Senam Lansia
Setelah sesi mewarnai selesai, dilakukan penilaian secara sederhana terhadap hasil karya lansia sebagai bentuk apresiasi dan motivasi. Tiga lansia dengan hasil pewarnaan yang dinilai paling rapi dan kreatif mendapatkan perhatian khusus, tanpa mengurangi penghargaan kepada lansia lainnya.
Seluruh lansia tetap diberikan apresiasi atas partisipasi dan keterlibatan aktif mereka, mengingat setiap karya mencerminkan ekspresi dan usaha masing-masing individu.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa terapi mewarnai dapat menjadi salah satu alternatif intervensi nonfarmakologis dalam membantu pengelolaan nyeri pada lansia. Selain mudah diterapkan dan aman, terapi ini juga berkontribusi dalam meningkatkan suasana hati dan interaksi sosial lansia.
Pendekatan nonfarmakologis seperti terapi mewarnai tidak hanya berdampak pada pengelolaan nyeri, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga kesehatan mental lansia serta memperkuat peran masyarakat dalam upaya peningkatan kualitas hidup lansia.
Bagi kami sebagai mahasiswa keperawatan, pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa pengelolaan nyeri pada lansia perlu dilakukan secara holistik. Tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis dan sosial. Pendekatan sederhana seperti terapi mewarnai dapat menjadi langkah kecil yang bermakna dalam meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup lansia.
Penulis: Martstella Tumundo
Mahasiswa Ilmu Keperawatan, Universitas Pembangunan Indonesia Manado
Dosen Pengampu: Ns. Yosua Aldrin Kaligis, S.Kep., M.Kep
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












