Bagi sebagian kalangan, gamer sejati sering kali didefinisikan sebagai mereka yang bermain di personal computer berspesifikasi tinggi atau konsol mahal dengan grafik super realistis. Di tengah standar elitis ini, nama Free Fire (FF) dan Roblox kerap dipandang sebelah mata. Yang satu sering diledek sebagai “game burik” karena grafisnya yang sederhana, sementara yang lain sekadar dianggap permainan kotak-kotak virtual yang kekanak-kanakan.
Namun, mari kita kesampingkan sejenak perdebatan soal resolusi tinggi. Jika kita mau melihat lebih dekat dan objektif, kedua game ini justru menawarkan sesuatu yang jauh lebih esensial di era digital: inklusivitas, ruang interaksi sosial tanpa batas, dan tentu saja, hiburan murni yang melegakan pikiran.
Baca juga: Dampak Negatif Kecanduan Game Online pada Anak-Anak dan Remaja
Mari kita mulai dengan FF. Sering kali, game ini menjadi sasaran lelucon di internet karena kualitas grafisnya yang dianggap “burik” atau tertinggal dibandingkan game battle royale lainnya. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa justru di situlah letak kekuatan terbesarnya: aksesibilitas.
Kenyataannya, tidak semua orang memiliki smartphone kelas atas (flagship) dengan harga belasan juta rupiah. Dengan ukuran file yang relatif bersahabat dan spesifikasi yang ringan, FF berhasil mendemokratisasi hiburan digital. Game ini meruntuhkan tembok eksklusivitas, memungkinkan siapa saja mulai dari latar belakang ekonomi dan perangkat yang berbeda untuk ikut merasakan keseruan bermain bersama teman-teman. Bagi jutaan pemainnya, kelancaran bermain tanpa lag dan kebersamaan jauh lebih berharga daripada sekadar pantulan cahaya yang realistis di layar telepon selular.
Baca juga: Game Free Fire Berasal dari Negara Mana? Yuk Cari Tahu!
Bergeser ke Roblox. Platform ini juga kerap disalahpahami oleh mereka yang hanya melihat dari luarnya saja. Banyak yang menganggapnya sekadar permainan anak kecil yang grafiknya kaku bak tumpukan balok. Padahal, Roblox telah merevolusi cara generasi muda bersosialisasi. Jika dulu ruang nongkrong identik dengan taman, mal, atau warung kopi, kini ruang itu telah bergeser ke ranah virtual. Di dalam Roblox, pemain tidak hanya bermain, tetapi berinteraksi, membangun komunitas, dan mengekspresikan identitas mereka secara bebas melalui avatar.
Lebih dari sekadar tempat nongkrong, Roblox adalah kanvas digital raksasa. Sistemnya yang memungkinkan pemain lain merancang dan memublikasikan game buatan mereka sendiri secara tidak langsung telah melatih imajinasi, kolaborasi, hingga logika pemrograman dasar. Menyebut Roblox sekadar ajang membuang waktu sama saja dengan menutup mata terhadap potensi edukasi dan sosial yang ada di dalamnya.
Baca juga: Game Roblox Paling Populer: Daftar & Alasan Kenapa Banyak yang Memainkannya
Pada akhirnya, di balik segala nilai tambah sosial maupun inklusivitasnya, kita sering lupa pada satu tujuan paling mendasar dari bermain game yaitu mencari kesenangan. Di tengah tekanan tugas sekolah, tenggat waktu kuliah, atau rutinitas sehari-hari yang padat, hiburan sederhana adalah sebuah kebutuhan, bukan sekadar pelarian yang merugikan.
Bermain FF atau Roblox di sela-sela kasibukan adalah bentuk “istirahat mental” yang sangat valid. Tidak semua game harus berat, menuntut strategi yang menguras otak, atau memiliki jalan cerita rumit layaknya film pemenang penghargaan. Kadang kala, yang kita butuhkan hanyalah keseruan mabar (main bareng) yang mengundang gelak tawa. Dan kedua game ini memfasilitasi hal tersebut dengan sangat sempurna.
Baca juga: Perubahan Budaya Sosial dalam Permainan Anak-Anak Zaman Dulu Vs Zaman Sekarang
Kesimpulannya, stigma “game bocil” atau “game burik” sering kali lahir dari kacamata elitis yang terlalu sempit dalam mendefinisikan apa itu hiburan yang bermutu. FF membuktikan, bahwa keseruan tidak selalu bergantung pada grafis mewah, melainkan pada kemudahan akses agar semua orang bisa ikut bermain.
Di sisi lain, Roblox menunjukkan, bahwa dunia virtual bisa menjadi ruang interaksi dan kanvas kreativitas yang tanpa batas. Jadi, mari berhenti meremehkan pilihan hiburan orang lain. Selama bisa memberikan kebahagiaan, menjadi sarana melepas penat, dan tidak merugikan siapa pun, menggemari FF dan Roblox adalah sesuatu yang petut dirayakan, bukan diremehkan.
Penulis: Bagus Arifin
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Komputer, Universitas Mulawarman
Dosen Pengampu : Marwah Ulwatunnisa, M. Pd.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












