Permainan anak-anak zaman dulu identik dengan kebersamaan, ruang terbuka, dan interaksi sosial fisik. Kini, semuanya berubah. Dunia anak hari ini dikuasai game online dan gadget canggih.
Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan bagian dari perubahan sosial budaya dulu dan sekarang yang meluas di masyarakat Indonesia.
Apa pengaruhnya terhadap anak-anak? Bagaimana perubahan ini memengaruhi kehidupan sosial, perkembangan motorik, hingga budaya itu sendiri?
Artikel ini akan mengulas perubahan sosial permainan tradisional ke modern secara mendalam, disertai data dan contoh nyata dari Indonesia.
Menurut W. Kornblum dalam bukunya Sociologi In Canging World, dalam perubahan sosial budaya yang dialami suatu masyarakat akan berlangsung secara bertahap dalam jangka waktu lama.
Maka itu, contoh perubahan budaya juga bisa dilihat di kehidupan sehari-hari seperti permainan anak-anak pada zaman dulu sudah mulai tergeser akibat proses modernisasi yang selama ini ada di kehidupan sehari-hari.
Perubahan sosial ini sangat terlihat dari berubahnya permainan yang digemari anak-anak. Jika zaman dahulu anak-anak sering bermain petak umpet, lompat tali, kelereng, layangan, gobak sodor dan permainan lain bersama teman-temanya
Lain halnya pada saat ini hal itu merupakan barang yang bisa di bilang sangat langka. Kini anak-anak lebih gemar bermain Game Online seperti Mobile Legends, PUBG, Game Console dan Play Station.
Baca Juga: Dari Sportif Hingga Meningkatkan Konsentrasi: Sisi Lain Bermain Game Online
1. Perubahan Sosial Anak Zaman Dulu dan Sekarang
Anak Zaman Dulu: Interaksi Fisik dan Komunitas
Anak-anak zaman dulu tumbuh bersama permainan seperti petak umpet, kelereng, atau gobak sodor. Mereka belajar bekerja sama, berdebat, dan menyelesaikan konflik langsung dengan teman sebayanya. Aktivitas ini bukan hanya menghibur, tapi juga membentuk karakter dan keterampilan sosial.
Menurut riset dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, anak-anak zaman dulu lebih tangguh secara sosial dan motorik. Mereka terbiasa berinteraksi dalam komunitas, menjalin solidaritas melalui permainan kolektif.
Kegiatan bermain tersebut mencerminkan bentuk nyata dari perubahan sosial budaya zaman dulu dan sekarang. Dulu, budaya main anak dibentuk oleh nilai sosial dan interaksi langsung di lingkungan sekitar.
Anak Zaman Sekarang: Interaksi Digital dan Individual
Anak-anak masa kini lebih mengenal mainan anak jaman sekarang seperti tablet, smartphone, atau konsol game. Mereka bermain dalam layar, bukan di lapangan. Permainan seperti Free Fire, Mobile Legends, dan PUBG mendominasi waktu luang mereka.
Interaksi pun berubah. Anak sekarang lebih suka menyapa lewat chat ketimbang bertemu. Akibatnya, tumbuh ketergantungan pada gawai dan menurunnya keterampilan komunikasi langsung. Perubahan sosial anak zaman dulu dan sekarang sangat kentara di pola ini.
Hal ini menggambarkan bagaimana perubahan sosial budaya dulu dan sekarang berdampak pada bentuk hiburan dan sosialisasi anak. Dunia digital telah merombak total cara anak berinteraksi.
2. Evolusi Permainan: Dari Tradisional ke Modern
Permainan Anak-Anak dari Masa ke Masa
Permainan terus berevolusi mengikuti perubahan zaman dulu dan sekarang. Di masa lalu, permainan muncul dari kreativitas lokal. Sekarang, budaya digital mengambil alih.
Anak-anak kini lebih mengenal game dari YouTube ketimbang diajari langsung. Budaya zaman dulu menanamkan kebersamaan, sementara budaya zaman sekarang cenderung individual dan berbasis layar. Ini adalah bukti dari perubahan sosial permainan anak-anak.
Definisi & Contoh Permainan Tradisional
Permainan tradisional adalah aktivitas bermain yang diwariskan secara turun-temurun, tanpa teknologi modern. Contohnya:
- Petak Umpet
- Engklek
- Congklak
- Sepak Tekong
Permainan ini melibatkan fisik, strategi, dan keterlibatan sosial. Mereka menjadi bagian dari budaya zaman dulu dan sekarang yang semakin pudar. Beberapa anak sekarang bahkan tidak mengenal permainan tersebut.
Definisi & Contoh Permainan Modern
Permainan modern berbasis teknologi. Contohnya:
- Game Online (Mobile Legends, PUBG, Roblox)
- Mobile Games (Clash Royale, Subway Surfers)
- E-Sports (Dota 2, Valorant)
Permainan ini membutuhkan perangkat elektronik, koneksi internet, dan sebagian besar dilakukan secara individu atau daring. Mainan anak jaman sekarang menggambarkan perubahan sosial budaya dilihat dari waktunya.
Perbandingan Permainan Dulu vs Sekarang
| Aspek | Zaman Dulu | Zaman Sekarang |
|---|---|---|
| Media | Tanpa alat elektronik | Gadget, internet |
| Interaksi | Langsung, tatap muka | Online, virtual |
| Aktivitas Fisik | Aktif, banyak gerak | Pasif, duduk |
| Karakter yang Dibentuk | Toleransi, kepemimpinan | Strategi digital, multitasking |
Perbandingan ini memperjelas bahwa perubahan permainan zaman dulu dan sekarang bukan sekadar soal alat, tapi juga nilai dan dampaknya.
Game Online
Perkembangan teknologi informasi saat ini sangat pesat sekali dan tidak dapat dipungkiri bahwa banyak dampak positif dan negatif yang ditimbulkan secara langsung maupun tidak langsung kepada pengguna aktif yang memainkan Game Online tersebut.
Pengertian dari GameOnline sendiri berasal dari bahas inggris yaitu Game yang berarti permainan dan Online dari kata On dan Line dimana On yang artinya hidup dan Line artinya saluran, sehingga Online sendiri mempunyai arti sebagai saluran yang mempunyai sambungan.
Jadi secara garis besar Game Online bisa kita artikan merupakan suatu permainan yang dapat dilakukan melalui saluran atau sambungan yang menggunakan sinyal atau jaringan internet.
Dampak Negatif Game Online
Di balik asyiknya bermain Game Online ada dampak negatif yang ditimbulkan. Misalnya, kesehatan yang dapat menurunkan imun tubuh karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermain game sehingga mengakibatkan kurangnya tidur.
Selain itu, dapat menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar serta yang lebih buruk lagi bisa terserang penyakit seperti rabun mata, stroke, penyakit jantung ataupun hipertensi, serta yang lebih parahnya lagi kurang bersosialisasi terhadap masyarakat.
Sangat bertolak belakang sekali dengan permainan pada zaman dahulu, pada zaman dahulu anak-anak bermain dengan permainan tradisional yang sangat menyenangkan dan tidak ada kecemburuan sosial yang ditimbulkan, sebab semua anak-anak pada zaman dahulu bebas untuk bermain dalam artian bebas semuanya bisa ikut bermain tanpa membatasi jumlah anggota yang bermain.
Baca Juga: Pengaruh Game terhadap Anak Usia Dini

Dampak Positif Game Online
Asumsi pribadi saya sendiri, perkembangan teknologi komunikasi saat ini sangatlah membantu kita karena segala sesuatu sudah dimudahkan atau serba instan.
Kemudian saya sangat menyayangkan sekali atas bergesernya sosial budaya dalam bentuk permainan anak-anak, karena tidak semua anak-anak dapat bermain Game Online jangankan untuk bermain Game Online, untuk membeli smartphone saja orang tuanya tidak sanggup.
Jadi anak-anak yang tidak dapat bermain Game Online hanya bisa melihat keseruan temannya bermain Game Online tersebut tanpa dapat ia rasakan, dan hal ini tidak bisa kita pungkiri bahwa globalisasi dan moderenisasi dapat menggeser sedikit banyaknya hal-hal yang sering anak-anak lakukan pada zaman dahulu.
Sebenarnya bukan hanya Game Online yang menggeser perubahan sosial di kehidupan sehari-hari contohnya seperti berpakaian atau berpenampilan, sikap, bahasa.
3. Hilangnya Permainan Tradisional & Contoh Perubahan Sosial
Perubahan Nyata dalam Kehidupan Anak
Kini, permainan anak zaman dahulu hanya tinggal kenangan. Gadget dan urbanisasi mengubah lanskap bermain anak Indonesia. Ruang terbuka diganti beton dan Wi-Fi. Interaksi fisik digantikan dengan “mabar”.
Contoh perubahan sosial permainan tradisional sudah jelas terlihat: petak umpet tergantikan oleh Mobile Legends, congklak digantikan PlayStation. Ini bukan sekadar kehilangan, tapi juga perubahan sosial hilangnya permainan tradisional yang nyata dan sistematis.
Penyebab Hilangnya Permainan Tradisional
Ada beberapa faktor utama:
- Gadget dan teknologi
- Urbanisasi dan minimnya ruang bermain
- Perubahan gaya hidup keluarga modern
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 68% anak usia 5-12 tahun di kota besar sudah memiliki akses ke gawai. Hal ini mempercepat perubahan permainan tradisional ke modern.
Dampak Sosial dari Perubahan Ini
Dampak langsungnya mencakup:
- Menurunnya aktivitas fisik
- Meningkatnya individualisme
- Hilangnya nilai-nilai budaya lokal
- Berkurangnya interaksi lintas usia
Hilangnya permainan tradisional termasuk perubahan besar dalam pola kehidupan sosial anak. Generasi baru kini mengenal game online lebih dulu dibanding kelereng atau layangan.
Contoh Perubahan Sosial: Permainan Tradisional ke Modern
- Petak umpet → Free Fire
- Congklak → Game di iPad
- Kelereng dan Layangan → Jarang dimainkan
Ini adalah contoh perubahan sosial hilangnya permainan tradisional yang terjadi secara merata di berbagai daerah di Indonesia.
4. Dampak Perubahan: Positif & Negatif
Transformasi Budaya dan Gaya Hidup
Setiap perubahan membawa dua sisi. Begitu pula transisi dari permainan zaman dulu ke permainan masa kini. Ada dampak positif, namun risiko negatif juga tak bisa dihindari.
Perubahan sosial budaya di era modernisasi perlu dikaji dengan kritis agar kita tidak kehilangan akar budaya. Ini penting terutama bagi generasi mendatang.
Dampak Positif
- Anak lebih mahir teknologi
- Memiliki akses edukasi lebih luas
- Mengenal konsep globalisasi sejak dini
- Terbiasa berpikir kritis dan cepat
Contoh permainan modern seperti Minecraft bahkan bisa melatih kreativitas dan kerja tim. Dalam kadar wajar, permainan digital bisa mendukung perkembangan kognitif anak.
Dampak Negatif
- Menurunnya aktivitas fisik → potensi obesitas
- Ketergantungan pada layar
- Minimnya empati dan keterampilan sosial
- Anak jadi kurang peka pada budaya lokal
Game zaman sekarang kerap membuat anak malas beraktivitas. Mereka lebih suka main di kamar ketimbang keluar bermain. Ini menandakan perubahan sosial budaya yang signifikan dan harus dikendalikan.
5. Upaya Revitalisasi Budaya Permainan Tradisional
Menghidupkan Kembali Tradisi Lewat Komunitas
Meskipun tren permainan modern mendominasi, masih banyak pihak yang berusaha melestarikan permainan anak-anak zaman dulu. Sekolah, komunitas, dan pemerintah mulai bertindak.
Di Solo, misalnya, ada festival Dolanan Bocah yang rutin digelar. Inisiatif seperti ini penting sebagai bagian dari upaya mencegah hilangnya permainan tradisional.
Inisiatif Komunitas dan Sekolah
- PAUD dan TK mulai mengenalkan congklak, engklek
- Festival dolanan rakyat diadakan setiap tahun
- Komunitas seperti Sanggar Girli menghidupkan dolanan lama
Data dari Radar Solo menunjukkan antusiasme tinggi dari orang tua terhadap kegiatan ini. Ini contoh baik perubahan sosial dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak positif.
Kombinasi Teknologi dan Tradisi
Teknologi bukan musuh. Beberapa pihak menciptakan game edukatif berbasis budaya lokal. Anak bisa bermain sambil mengenal sejarah dan permainan tradisional.
Contohnya:
- Aplikasi Dolanan Tradisional
- Game Android “Main Yuk!”
Perubahan sosial budaya berdasarkan waktunya terlihat jelas di sini: teknologi digunakan untuk merawat tradisi.
Peran Orang Tua dan Kebijakan Publik
- Sediakan ruang bermain anak
- Batasi screen time
- Kenalkan permainan masa kecil orang tua
Kebijakan seperti kurikulum muatan lokal permainan tradisional bisa jadi solusi. Ini menunjukkan bahwa perubahan sosial dan perubahan budaya dapat diarahkan agar tetap berakar pada nilai asli bangsa.
6. Studi Kasus & Gambaran Nyata
Melihat Perubahan di Lapangan
Berbagai daerah di Indonesia menunjukkan variasi respons terhadap permainan anak jaman sekarang. Beberapa tetap mempertahankan budaya lokal, lainnya tenggelam dalam digitalisasi.
Lubuk Basung: Tradisi Masih Hidup
Menurut Open Journal Unimal, anak-anak di Lubuk Basung Sumbar masih aktif bermain tradisional. Meski sudah mengenal gadget, mereka tetap main galah asin dan congklak setiap sore.
Ini menunjukkan bentuk perubahan sosial budaya dilihat dari waktunya tidak selalu linier ke arah digital.
Garut: Antara Tradisi dan Modernisasi
Penelitian dari Garut60 mengungkap bahwa anak-anak Sunda masih mengenal permainan tradisional, namun mulai beralih ke game mobile.
Ketegangan antara budaya zaman dulu dan zaman sekarang tampak jelas di sana. Guru dan orang tua berperan besar dalam menjaga keseimbangan ini.
Solo: Komunitas Sanggar Girli
Di Solo, komunitas Sanggar Girli membuat pelatihan dolanan untuk anak dan remaja. Tujuannya: agar anak tidak hanya tahu YouTube, tapi juga tahu cara main gasing.
Menurut Radar Solo, kegiatan ini mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Sebuah langkah konkret dalam revitalisasi budaya permainan tradisional.
7. Kesimpulan & Rekomendasi
Ringkasan Perubahan Sosial Budaya Anak
Permainan anak-anak zaman dulu telah digantikan oleh permainan digital. Ini mencerminkan perubahan sosial budaya dulu dan sekarang yang terjadi begitu cepat.
Teknologi memengaruhi cara bermain, berinteraksi, bahkan berpikir anak. Namun, hilangnya permainan tradisional digantikan oleh gadget termasuk contoh perubahan sosial yang harus dikendalikan.
Ajakan Menyeimbangkan Teknologi dan Tradisi
Kamu sebagai orang tua, guru, atau pembuat kebijakan bisa berperan besar. Ajak anak bermain di luar rumah, kenalkan mereka pada dolanan tempo dulu.
Adaptasi teknologi harus seimbang dengan pelestarian nilai budaya. Jangan sampai kita kehilangan jati diri bangsa.
Rekomendasi Praktis
- Jadwalkan bermain tradisional setiap akhir pekan
- Perkenalkan 1 permainan tradisional baru setiap bulan
- Dorong sekolah mengadakan festival dolanan
- Gunakan media sosial untuk kampanye permainan lokal
Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa anak-anak zaman sekarang tetap mengenal akar budayanya, tanpa menolak perkembangan zaman.
Baca Juga: Pengaruh Game Online Terhadap Kehidupan Sosial Remaja
Maksud dari tulisan saya di sini saya tidak menyalahkan berbagai pihak, tetapi sangat menyayangi terhadap apa yang telah terjadi pada saat sekarang ini, sangat menyayangi sikap acuh tak acuh kita sendiri, sikap egois kita sendiri.
Jadi bijaklah dalam memilih segala sesuatu, karena kita sekarang sudah hidup di era modernisasi dan globalisasi serta jangan menyalahkan apa yang sudah terjadi tetapi di benahilah dan koreksilah apa yang sudah terjadi, dan semoga ke depannya peran orang tua kepada anaknya ditingkatkan lagi, sangat disayangkan sekali jika anak-anak kehilangan masa kecilnya.
Penulis: Mona
Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
Editor: Diana Pratiwi
Bahasa: Rahmat Al Kafi
*Artikel ini telah di-update pada tanggal 11 Juli 2025 agar lebih relevan dengan kondisi terkini.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















