Mengembalikan Makna Makan di Era Digital: Mengapa Remaja Perlu Belajar Sadar Makan?

Mindful Eating

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara remaja menjalani aktivitas sehari-hari.

Gadget kini tidak hanya digunakan untuk belajar, berkomunikasi, atau mencari hiburan, tetapi juga menemani hampir setiap aktivitas, termasuk saat makan.

Pemandangan remaja yang menikmati makanan sambil menggulir media sosial, menonton video, atau bermain game bukan lagi sesuatu yang asing. Kebiasaan ini bahkan telah dianggap sebagai hal yang wajar.

Padahal, di balik kebiasaan tersebut tersimpan persoalan yang sering kali luput dari perhatian. Ketika makan dilakukan sambil menggunakan gadget, perhatian seseorang tidak lagi sepenuhnya tertuju pada makanan yang dikonsumsi.

Tanpa disadari, mereka menjadi kurang peka terhadap rasa makanan, jumlah makanan yang telah dimakan, maupun sinyal lapar dan kenyang yang diberikan tubuh.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan sederhana ini dapat memengaruhi pola makan dan kesehatan dalam jangka panjang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa 94,16 persen pemuda Indonesia telah mengakses internet. Angka tersebut mencerminkan bahwa teknologi digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda.

Persoalannya bukan terletak pada keberadaan gadget, melainkan pada cara penggunaannya yang mulai menggeser kualitas berbagai aktivitas penting dalam kehidupan, termasuk aktivitas makan.

Dalam kajian psikologi, perilaku makan tanpa memberikan perhatian penuh dikenal sebagai mindless eating. Kondisi ini terjadi ketika seseorang makan secara otomatis tanpa benar-benar menyadari proses makan yang sedang dilakukan.

Akibatnya, individu cenderung tidak memperhatikan rasa makanan, jumlah makanan yang telah dikonsumsi, bahkan mengabaikan sinyal kenyang yang diberikan tubuh. Perilaku tersebut dapat meningkatkan risiko makan secara berlebihan dan membentuk kebiasaan makan yang kurang sehat.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori divided attention dalam psikologi kognitif. Teori tersebut menjelaskan bahwa perhatian manusia memiliki kapasitas yang terbatas.

Ketika seseorang melakukan dua aktivitas secara bersamaan, seperti makan sambil menggunakan gadget, perhatian akan terbagi sehingga tidak ada aktivitas yang memperoleh fokus secara optimal. Dalam kondisi demikian, aktivitas makan berubah menjadi kegiatan otomatis yang dilakukan tanpa kesadaran penuh.

Ironisnya, banyak remaja tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kondisi tersebut. Mereka menganggap makan sambil bermain ponsel sebagai sesuatu yang wajar karena hampir semua teman sebaya melakukan hal yang sama. Padahal, kebiasaan yang dianggap normal belum tentu memberikan dampak yang baik bagi kesehatan.

Persoalan ini sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga dengan pembentukan karakter. Dalam ajaran Islam, manusia diajarkan untuk menerapkan sikap i’tidal, yaitu hidup secara seimbang, serta menjauhi perilaku israf atau berlebih-lebihan.

Prinsip tersebut tidak hanya berlaku dalam penggunaan harta atau waktu, tetapi juga dalam mengonsumsi makanan. Makan dengan penuh kesadaran merupakan salah satu bentuk pengendalian diri yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, konsep mindful eating bukan sekadar pendekatan psikologi modern, melainkan memiliki keselarasan dengan ajaran Islam mengenai keseimbangan dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tantangan yang dihadapi remaja bukanlah menghindari penggunaan gadget, melainkan belajar menggunakannya secara bijaksana.

Kesadaran dalam mengatur perhatian ketika melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk saat makan, merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dibiasakan sejak dini. Salah satu langkah sederhana yang dapat diterapkan adalah menikmati makanan tanpa distraksi digital.

Cara ini dapat membantu remaja lebih mengenali kebutuhan tubuhnya, meningkatkan kemampuan mengendalikan diri, serta membentuk pola hidup yang lebih sehat. Oleh karena itu, upaya membangun budaya sadar makan memerlukan dukungan dari berbagai pihak, baik keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar.

Membangun budaya sadar makan bukan hanya tentang mengurangi penggunaan gadget saat makan, tetapi juga tentang menumbuhkan disiplin dalam menjalani pola hidup sehat, menghargai nikmat yang diberikan Allah Swt., serta membentuk gaya hidup yang lebih sehat dan seimbang.

Di era digital, makan dengan penuh kesadaran menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan dan kualitas hidup remaja.

Jika kebiasaan ini mulai ditanamkan sejak remaja, kita tidak hanya sedang menjaga kesehatan mereka hari ini, tetapi juga membentuk generasi yang lebih sehat, berkualitas, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.


Penulis:
– Annisa Luthfiah
– Talitha Nasywa Iskandar
– Tami Tania
– Cut Mitha Ramadhani
Mahasiswa Program Studi Psikologi Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa


Dosen Pengampu: Syiva Fitria, B.A., S.Psi., M.Sc.


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses