Merangkak ke Saku Angkasa

Merangkak ke Saku Angkasa. Saya rasa mata saya benci saya. Sepasang makhluk kecil itu kerap kali enggan menyelimuti diri pada malam hari. Saya kerap kali menyelimuti diri dahulu agar mereka menyelimuti diri juga, namun mereka berontak. Saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka, namun saya tahu terkadang mereka ingin bertamasya ke masa lalumu, Angkasa.

Saya selalu mampu bertamasya ke masa lalu saya sendiri dengan mudahnya. Masa lalu, saya hadir dalam serangkaian kenangan, mengalun bersama dengan senandung-senandung yang pernah menemani saya kala hari masih pagi, tercium dalam aroma pakaian-pakaian lama. Tapi masa lalumu? Tak sedikitpun saya tahu. Saya tidak pernah berada di sana, meski saya berharap sebaliknya.
Suatu malam saya bermimpi mata kanan saya merangkak keluar dari cangkangnya.

“Luana, kapan kita mau bertamasya ke masa lalu Angkasa?” tanya mata kanan saya sambil menyeruput segelas es jeruk. Ah, rupanya ia kelelahan selama ini, es jeruk memang menyegarkan dan cocok dijadikan kawan kala bersantai.

“Bagaimana bisa?” saya tertawa. Namun tawa saya tidak berlangsung lama, karena selanjutnya saya melihat kamu, dan mata saya sudah kembali ke tempatnya.
Saya melihat kamu di sana, kamu dengan postur yang lebih kecil, bukan kamu yang saya kenal sekarang namun saya tahu itu kamu. Kamu berdiri tegap membawa segala pesonamu. Jika pesona itu dapat disusun menjadi sebuah tugas sekolah, saya bisa jadi mendapatkan nilai A. A untuk keindahannya, untuk kerapihannya, untuk daya tariknya.

“Di mana saya tepatnya?” tanya saya pada mata.
“Masa lalu Angkasa, kira-kira lima tahun yang lalu,” jawabnya.
“Saya tidak tahu kamu bisa menghitung tahun.”
“Saya pikir kamu yang tidak bisa. Buktinya satu tahun terakhir ini kamu tidak beranjak sedikitpun dari tempatmu untuk menanti Angkasa. Entah mengapa saya melihatmu melupakan waktu kala menanti Angkasa. Padahal biasanya, kamu paling benci menunggu.”

Terlalu banyak orang di sini. Mereka semua berteriak menyerukan namamu. Mereka tampaknya memakai pakaian terbaik mereka. Mereka tertawa bersamamu, menyirami tubuh mereka dengan aliran senandung yang kamu bawakan. Saya terdiam mematung, sambil mengutuki diri sendiri yang lima tahun lalu terbutakan oleh pesona lain yang tak nyata.
“Hei, siapa gadis itu? Mengapa ia memakai piyama di acara seformal ini?” tanya seorang gadis yang rupanya menyadari keberadaan saya.
Saya pun berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu, meninggalkan kamu yang masih berada di sana dengan pesona yang tidak bisa saya bawa pulang.

***

Pagi ini saya tiba di sekolah lebih pagi dari biasanya. Kala saya berjalan masuk melalui gerbang sekolah, saya menyadari bahwa para satpam dan tukang sapu sekolah memperhatikan saya seolah-olah saya ini makhluk langka yang baru kemarian ditemukan. Namun saya tidak menghiraukan mereka. Mereka mungkin hanya bingung mengapa saya datang pagi sekali.

Lama-kelamaan saya mulai merasa tidak nyaman karena mereka mulai berbisik-bisik satu sama lain.  Entah mengapa saya tahu mereka sedang membicarakan saya, namun tetap, saya tetap berjalan dengan santai tanpa mempedulikan mereka.
Kelas saya berada di lantai dua. Sebelum hendak naik ke tangga pertama, saya berhadapan dengan sebuah cermin seukuran diri saya,  yang di atasnya tertulis “Apakah Anda sudah rapi?”. Saya pun memandangi diri saya di cermin.
Ternyata saya masih pakai piyama.
Karena merasa malu, saya pun berlari masuk ke dalam cermin.

“Oh Luana, mengapa kamu selalu memakai piyama ke pesta?” tanya mata saya tiba-tiba.

Saya memandangi sekitar. Saya berada di pesta lagi, seperti kemarin malam. Namun pesta yang ini berbeda. Saya kembali melihat kamu. Kamu kembali menjadi pusat perhatian di sini. Saya dapat melihat pesona yang bertebaran di mana-mana, sepertinya jatuh dari saku celanamu kala kamu berjalan. Sepenuh itukah sakumu dengan pesona, A?
“Di mana saya?” tanya saya pada mata.
“Masa lalu Angkasa, dua tahun yang lalu.”
Kemudian mata kanan saya kembali keluar dari cangkangnya, ia merangkak perlahan menuju saku celanamu. Kaki saya terasa menempel di lantai tempat saya berpijak. Rupanya mata saya enggan diajak pulang. Kali ini mereka menguasai saya sepenuhnya.

Saya terjebak di sebuah pesta dua tahun yang lalu, selamanya.

***

Sakumu dua tahun yang lalu,

29 November 2015,
Livia Halim

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI