Pengaruh Broken Home Terhadap Perkembangan Anak

perkembangan anak

Keluarga merupakan kesatuan terkecil yang ada dalam masyarakat. Keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Di dalam keluarga juga menjadi tempat dimana anak pertama mendapat pengalaman dini yang akan menjadi bekal untuk kehidupannya melalui latihan fisik, sosial, mental, emosional dan juga spiritual. Peran ayah dan ibu tidak terlepas dari tanggung jawab mereka sebagai orangtua dan memenuhi tugasnya sebagai pendidik.

Kondisi keluarga yang tidak harmonis, orang tua selalu ribut, orang tua dalam berinteraksi menunjukkan sikap kasar, mengakibatkan anak menjadi terpengaruh atau perasaan anak menjadi tidak nyaman, mental anak menjadi terbeban dengan masalah, jiwanya berontak karena tidak menyenangi dengan fenomena sosial dalam keluarganya. Sehingga kondisi seperti ini mengakibatkan anak memilih menghabiskan waktunya bersama teman dan malas pulang ke rumah.

Kondisi sosial dalam keluarga yang buruk, dengan sendirinya akan membentuk karakter pada anak. Anak merupakan titipan tuhan, artinya anak harus dibesarkan dan dipandang oleh kedua orangtuanya, sebagai sebuah amanah yang penuh dengan tanggung jawab. Dengan demikian, menjaga anak dengan baik merupakan kewajiban mutlak bagi setiap orang tua. Salah satunya ialah dengan menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga agar anak bisa mendapatkan apa yang telah menjadi haknya.

Mempunyai keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang adalah dambaan banyak anak dan merupakan suatu kebahagiaan bagi seorang anak, karena selain menjadi tempat ternyaman untuk berbagi cerita, keluarga juga menjadi tempat pembentukan karakter yang paling utama. Sehingga perilaku baik atau buruk anak dipengaruhi oleh didikan orangtua mereka.

Disini pentingnya peran orangtua dalam menjaga keharmonisan keluarga, karena tidak dapat dipungkiri bahwa proses tumbuh kembang pada anak dipengaruhi oleh faktor kedua orangtuanya. Akan tetapi sebaliknya jika keluarga sudah tidak harmonis bahkan sampai berujung perceraian, maka anak juga akan terkena dampaknya. Anak akan mengalami labilitas dalam jiwanya dan anak akan sering marah-marah, kurangnya percaya diri dan menganggap harga dirinya rendah di dalam masyarakat. Hal ini wajar karena anak merupakan sosok duplikasi dari kedua orang tuanya.

Anak juga akan merasakan kepedihan dan kehancuran hati sehingga memandang hidup ini sia-sia dan mengecewakan. Bahkan bisa saja anak menganggap tidak ada orang yang dapat diteladani dari salah satu kedua orantuanya.

Nazaruddin Abdillah
Mahasiswa IAIN Pekalongan

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI