Penggunaan Model Pembelajaran (RME) dalam Pembelajaran Matematika Kelas III Sekolah Dasar

Penggunaan Model Pembelajaran Matematika

Abstrak

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di sekolah dasar. Matematika sekolah dapat diaplikasikan dalam pembelajaran matematika melalui berbagai model pembelajaran. tujuan dari pembelajaran matematika di sekolah dasar yaitu agar peserta didik mampu menjalankan situasi yang kadang berubah dan peserta didik dapat meningkatkan keterampilannya dalam perhitungan dan membentuk sikap yang disiplin, kreatif, cermat, kritis serta logis. Dalam kegiatan pemelajaran matematika dapat mengaplikasikan berbagai model pembelajaran. Pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) adalah model pembelajaran matematika pada matematika sekolah yang berorientasi pada penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Kata Kunci: Pembelajaran, Pembelajaran matematika, Pembelajaran Realistic Mathematics Education

Pendahuluan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa  tujuan pendidikan yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam mencapai tujuan pendidikan tersebut dibutuhkan strategi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran agar nantinya pendidikan dapat dilaksanakan secara maksimal. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Suardi, 2018). Pembelajaran matematika ialah suatu pelajaran penting yang harus di berikan pada peserta didik dari sekolah dasar dalam melengkapi peserta didik dengan kemahiran berhitung juga mengolah data  (Ariani, Helsa, & Ahmad, 2020).  

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Bagaimana Menerapkan Pendekatan Matematika Realistik dengan Model Experiential Learning untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika SD?

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dibelajarkan di sekolah dasar dimana hakikat pembelajaran matematika di sekolah dasar sesuai dengan tuntutan kehidupan. Menurut (Ariani, Helsa, & Ahmad, 2020) tujuan dari pembelajaran matematika di sekolah dasar yaitu agar peserta didik mampu menjalankan situasi yang kadang berubah dan peserta didik dapat meningkatkan keterampilannya dalam perhitungan dan membentuk sikap yang disiplin, kreatif, cermat, kritis serta logis. Namun pada kenyataannya masih banyak terjadi permasalahan-permasalahan dalam mencapai tujuan pembelajaran matematika. Permasalahan tersebut tidak hanya berasal dari pihak peserta didik saja melainkan juga dari pihak pendidik (guru).

Permasalahan tersebut diantaranya, masih banyaknya peserta didik yang tidak menyukai mata pelajaran matematika. Alasan ketidaksukaan terhadap mata pelajaran matematika pun cukup beragam seperti, peserta didik merasa jika matematika itu sulit, matematika itu membosankan, dan tak jarang juga peserta didik merasa takut saat pembelajaran matematika. Sedangkan permasalahan dari sudut pandang seorang pendidik terkait pembelajaran matematika diantaranya yaitu kurangnya variasi strategi, model, dan metode saat pembelajaran matematika, kesulitan dalam menentukan dan mencari alat peraga dan media yang sesuai dengan materi pembelajaran, dan saat pembelajaran guru hanya menjelaskan rumus dan memasukkan angka saja. Banyaknya permasalahan tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik dimana untuk mata pelajaran matematika memiliki nilai yang cukup rendah. Sehingga guru perlu mengadakan remedial bagi peserta didik yang nilainya tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Model Realistic Mathematics Education pada Pembelajaran Matematika

Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut dibutuhkan model pembelajaran yang menjadikan pembelajaran matematika itu menyenangkan, tidak ditakuti peserta didik, dan tidak membosankan serta sesuai dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan dari (Isrok’atun & Rosmala, 2018), pembelajaran matematika diterapkan melalui belajar dengan melakukan berbagai kegiatan (learning to do), sebagai upaya menemukan kembali suatu konsep matematika dari pemahamannya terhadap permasalahan nyata di kehidupan. Sesuai dengan pernyataan tersebut model pembelajaran matematika yang inovatif yaitu Realistic Mathematics Eucation (RME). RME  merupakan pendekatan pembelajaran yang dipelopori di Belanda oleh seorang bernama Hand Freudenthal dengan lembaganya Freudhental Institut (Soedjadi, 2007: 1) dalam (Fahrurrozi & Hamdi, 2017). Menurut Hans Freudental, siswa tidak dapat dipandang sebagai penerima pasif matematika yang sudah jadi (passive receivers of ready-made mathematics). Pendapat ini didukung oleh Gravemeijer (1994) dalam (Fahrurrozi & Hamdi, 2017) dengan mengatakan bahwa siswa harus diberi kesempatan untuk menentukan kembali matematika di bawah bimbingan orang dewasa. Kemudian De Lange (1995) melanjutkan, bahwa proses penemuan kembali tersebut harus di kembangkan melalui penjelajahan berbagai persoalan rill (Sutarto Hadi, 2005: 19) dalam (Fahrurrozi & Hamdi, 2017).

Karakteristik Realistic Mathematics Education

Untuk menciptakan pembelajaran matematika yang inovatif dibutuhkan berbagai model, metode, strategi, alat peraga, dan permasalahan yang dapat di sajikan dalam bentuk permainan sehingga peserta didik merasa senang saat pembelajaran berlangsung. Dengan begitu peserta didik akan menemukan titik kenyamanan dalam belajar matematika dan fokus peserta didik tidak teralihkan. Sejalan dengan karakteristik RME yang dikemukakan oleh Treffers (1987) dalam Ariyadi Wijaya (2012: 21) antara lain sebagai berikut: 1) Penggunaan konteks, penyajian permasalahan dalam bentuk permainan dan pengunaan alat peraga yang pastinya bermakna dan dapat dibayangkan dalam pikiran peserta didik; 2) Penggunaan model untuk matematisasi progresif, dimaksudkan sebagai jembatan dari tingkat konkret menuju pengetahuan tigkat formal; 3) Pemanfaatan hasil konstruksi siswa, dimana hasil kerja siswa digunakan untuk landasan pengembangan konsep matematika; 4) Interaktivitas; 5) Keterkaitan.

Langkah-Langkah Realistic Mathematics Education

Pembelajaran matematika yang inovatif adalah pembelajaran yang terencana, terprogram secara runtut dari awal hingga akhir dan sesuai dengan tujuan serta bermakna bagi peserta didik. Maka dari itu di perlukan berbagai strategi yang didalamnya terdapat langkah-angkah atau sintaks pembelajaran. Dalam menggunakan strategi pembelajaran, ada beberapa tahapan atau sintaks yang memiliki fungsi bagi peserta didik untuk memahami konsep matematika secara utuh dan bermakna. Menurut Hobri dalam (Isrok’atun & Rosmala, 2018) terdapat lima tahapan model pembelajaran matematika realistic yang di terapkan pada pembelajaran kelas III Tema 7 Subtema 1 Pembelajaran ke-1 yakni sebagai berikut.

Baca Juga: Bagaimana Model Pembelajaran Experiental Learning Diterapkan dalam Pembelajaran Matematika?

1. Memahami Masalah Kontekstual

Pada tahap awal pembelajaran RME, peserta didik disajikan berbagai permasalahan yang bersifat kontekstal dari peristiwa nyata dalam kehidupan sekitar peserta didik. Kegiatan belajar pada tahap ini yakni memahami masalah yang disajikan oleh guru dimana peserta didik menggunakan pengetahuan awalnya untuk memahami masalah kontekstual yang dihadapinya. Dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik disajikan poster atau video cara membuat tahu dan siswa mengamati kain untuk menyaring tahu berukuran berbeda yang dibawa guru.

2. Menjelaskan Masalah Kontekstual

Peserta Didik diberikan petunjuk dan arahan mengenai situasi soal yang dihadapi. Kegiatan pada tahap ini berupa tanya jawab seputar hal yang diketahui dan masalah kontekstual dengan tujuan peserta didik paham maksud dari soal atau masalah yang dihadapi. Dalam kegiatan ini guru bertanay kepada siswa mengenai luas dari kain untuk menyaring tahu, kemudia guru bertanya apakah peserta didik tahu arti luas permukaan suatu bidang dan bagaimana cara menentukan luas kain dengan satuan tidak baku.

3. Menyelesaikan Masalah Kontekstual

Peserta didik menyelesaikan permasalahan kontekstual dengan caranya sendiri, dari hasil pemahamannya dan pengetahuan awal yang dimiliki. Dengan penyelesaian yang berbeda-beda menjadikan peserta didik memiliki rasah ingin tahu yang tinggi dan lebih sering mencoba. Dalam kegiatan ini salah satu peserta didik dengan didampingi guru diminta untuk menutup kain penyaring tahu dengan satuan tidak baku seperti lembaran kertas berbentuk persegi panjang, segitiga, dll.

4. Membandingkan dan Mendiskusikan Jawaban

Kegiatan pada tahap ini dilakukan dengan cara diskusi kelompok untuk membandingkan atau mengoreksi bersama hasil dari pemecahan masalah. Peran guru sebagai fasilitator dan moderator dangat di butuhkam guna meluruskan dan menjelaskan terkait cara penyelesaian yang telah siswa lakukan. Kemudian dalam kegiatan ini peserta didik mencoba apa yang telah dilakukan dan membandingkan hasilnya dengan teman yang lain.

5. Menyimpulkan

Di akhir pembelajaran, kegiatan diarahkan untuk dapat menyimpulkan konsep dan cara penyelesaian masalah yakni siswa diminta menentukan banyak satuan yang menutup kain penyaring tahu dimana banyak satuan yang menutup daerah yang di ukur disebut luas. Peran guru pada tahap ini sebagai pembimbing peserta didik dalam menyimpulkan dan memperkuat hasil kesimpulan peserta didik.

Kelebihan Realistic Mathematics Education

Berdasarkan pernyataan-pernyataan yang telah dipaparkan dapat dilihat bahwa model RME sangat sesuai jika digunakan dalam pembelajaran siswa SD dimana hal tersebut sejalan dengan kelebihan-kelebihan yang ada pada model RME. Adapun kelebihan model RME menurut Suwarsono dalam (Isrok’atun & Rosmala, 2018) antara lain sebagai berikut:

  1. RME membuka wawasan peserta didik sehingga penerapan ilmu matematika dapat dimanfaatkan dalam kehidupan dan berguna dalam menyelesaikan permasalahan.
  2. Model ini memberikan kesempatan kepada peserta didik bahwa matematika dapat dikembangkan secara mandiri sehingga memberikan dampak positif kepada Ppeserta didik untuk selalu mengingat konsep materi.
  3. Adanya kebebasan dalam menyelesaikan masalah menjadikan peserta didik memiliki cara penyelesaian masalah yang beragam.
  4. Dapat menanamkan kegiatan belajar bermakna bagi peserta didik karena penerapan RME lebih menekankan pada proses daripada hasil pembelajaran.
  5. RME memadukan kelebihan-kelebihan dari berbagai pendekatan lain yang juga dianggap unggu.
  6. RME bersifa lengkap, mendetail, dan operasional.

Penutup

Dari berbagai permasalahan-permasalahan yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran RME dirasa mampu untuk mengatasi permasalahan tersebut. Karena pembelajaran RME mengedepankan pendekatan student center, dimana peserta didik lebih aktif saat proses pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator. Selain itu, RME juga memberikan kebebasan peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang menjadikan wawasan dan cara penyelesaian masalah yang dimiliki peserta didik menjadi beragam.

Keterkaitan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata atau peristiwa sehari-hari menjadikan peserta didik lebih mudah dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan. Hal tersebut juga menjadikan guru semakin kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi dengan menyajikan berbagai alat peraga yang lebih mudah di jumpai di lingkngan sekitar. Tak hanya itu, keterkaitan atar keduanya lebih memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran yang terbilang abstrak. Diharapkan dengan penggunaan model RME ini hasil belajar siswa menjadi lebih tinggi atau meningkat.

Baca Juga: Penerapan Bilangan Reproduksi Dasar dari Model Matematika Covid-19 untuk Menerapkan Protokol Kesehatan Masyarakat Surabaya

Daftar Pustaka

Ariadi Wijaya. (2012). Pendidikan Matematika Realistik, Suatu Alternatif Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Grha Ilmu.

Ariani, Y., Hesa, Y., & Ahmad, S. (2020). Model Pembelajaran Inovatif untuk Pembelajaran Matematika di Kelas IV Sekolah Dasar. Yogyakarta: Deepublish (Grup Penenrbitan CV BUDI UTAMA).

Fahrurrozi, & Hamdi, S. (2017). Metode Pembelajaran Matematika. NTB: Universitas Hamzanwadi Press.

Isrok’atun, & Rosmala, A. (2018). Model-Model Pembelajaran Matematika. Jakarta: Bumi Aksara.

Khotimah, S. H., & As’ad, M. (2020). Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran, 492.

Suardi, M. (2018). Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Deepublish (Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA).

Tampubolon, P. T. (2016). Penerapan Model Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia untuk Meningkatkan Aktivias dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 191.

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (n.d.).

Lia Nur Jannah
Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta

Dosen Pengampu: Dr. H. Fery Muhamad Firdaus, S.Pd., M.Pd.

Editor: Diana Pratiwi

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI