(Perlukah) Sekolah Dibubarkan Saja!

Sekolah dibubarkan saja

Sekolah Dibubarkan Saja! merupakan sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata seorang anak negeri yang berkemauan besar dan bercita-cita tinggi namun diberanguskan ketika duduk di bangku sekolah. Sekolah dianggap sebagai candradimuka dan penghilang dahaga ketidaktahuan justru mengekang para siswa dengan aturan yang kaku, dipenuhi dengan tuntutan, dan ceramah yang jauh dari realita sehingga menimbulkan kesenjangan dan kepatuhan buta.

Sebuah karya oleh seorang sosiolog, Afdillah Chudiel ini berlatar di salah satu lembaga pendidikan yang berada di Sumatera Barat dengan memulai jalan cerita dari seorang anak nakal bernama Rio yang pernah tinggal di kelas dan sering bolos, namun dalam kesehariannya ia merupakan seorang anak yang giat bekerja dan santun kepada orang tua. Dengan gaya bahasa yang ringan dan penyajian masalah secara gamblang, itulah mengapa buku ini diberi judul Sekolah Dibubarkan Saja!

Sekolah Dibubarkan Saja! merupakan anomali pendidikan Indonesia dalam upaya menghasilkan generasi muda yang berkarakter, cerdas, dan produktif. Bila menyoal tentang kata produktif–produktivitas, artinya lulusan sekolah diharapkan mampu menghasilkan dan dapat bersaing atau memiliki daya produktif.

Pandangan Tan Malaka

Dalam pandangan Tan Malaka, pendidikan bertujuan untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan. Salah seorang pemerhati pendidikan, Suyitno mengatakan, pendidikan adalah humanisasi, “pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia.” Lewat buku Sekolah Dibubarkan Saja!, potret dunia pendidikan seakan telah kehilangan esensinya.

Segala permasalahan yang menimpa para siswa begitu kompleks, mulai dari sistem pendidikan (kurikulum), aturan yang mengekang (indoktrinasi) pelajar, hingga masalah ekonomi dan moralitas semu yang mentabukan. Pengajar hanya menempatkan siswa sebagai objek yang harus mentaati peraturan sekolah, wajib mengerjakan tugas, disiplin, dan hadir di sekolah pada akhirnya membuahkan suasana belajar menjadi jenuh dan menakutkan.

Untuk mendisiplinkan kenakalan siswa yang sesungguhnya memiliki rasa ingin tahu yang besar, sekolah mengeluarkan aturan yang mengekang dan mulai menyeragamkan segalanya, mulai dari sistem pembelajaran, tingkah laku, seragam yang dikenakan pelajar, bahkan sekolah juga memaksakan isi kepala hingga isi hati anak didik untuk diseragamkan.

Sekolah itu Candu

Dalam buku yang berjudul Sekolah itu Candu, Roem Topatimasang mengkomentari penyeragaman ini dengan begitu baik. Menurutnya, sekolah bukan hanya menuntut pesertanya seragam dalam berpakaian, bahkan lebih jauh, sekolah juga menyeragamkan peserta didik nyaris dalam segala hal. Penyeragaman ini menyebabkan banyak minat anak-anak yang menguap dan hilang. Sehingga Afdillah Chudiel mengejewantahkannya dalam sebuah bab yang berjudul ‘Sekolah yang Membunuh!’.

Kemudian dari maraknya lembaga bimbingan belajar atau bimbel/les menyiratkan tanda tanya pada pendidikan formal, apakah sekolah tidak mampu mencerdaskan siswanya? Dikelas, guru hanya mengisi kepala para siswa dengan ceramah yang menjenuhkan. Sedangkan tuntutan orang tua adalah mendapatkan nilai yang bagus agar dapat menjadi kebanggaan sekolah dan keluarga. Sebaliknya jika tidak mendapatkan nilai yang bagus, maka ganjaran berupa cemoohan dan ‘diproduksi kembali’ atau tinggal di kelas karena dianggap sebagai barang yang gagal produksi.

Menyoal kata ‘produksi’ sekilas berhubungan dengan pabrik. Pabrik yang memproduksi manusia dengan harapan agar manusia yang diproduksinya bisa menjadi manusia yang bermutu tinggi, siap pakai dan mampu bersaing dengan manusia lainnya. Begitulah harapannya, meskipun sampai saat ini hal itu masih saja ‘jauh panggang dari api’. Pabrik bernama “sekolah” tersebut jauh lebih besar dari pabrik apa pun di negeri ini. Jaringannya tersebar luas di seluruh negeri mulai dari ibu kota hingga ke kampung-kampung terpencil.

Agar tidak ‘gagal produksi’ yakni mendapatkan nilai yang bagus, orang tua juga memasukkan anaknya ke bimbel untuk mengulang kembali pelajaran di sekolah yang tidak banyak terserap oleh siswa untuk memantapkan produksi. Tak mau kalah, beberapa guru di sekolah ada yang membuka les privat kepada siswanya, juga sebagai masukan tambahan dari kewajiban mengajarnya di sekolah.

Sekolah dengan Kompetisi Tidak Sehat

Secara tidak langsung, sekolah telah menanamkan kompetisi tidak sehat di mana para siswa saling beradu kuat dan menjatuhkan dengan nilai (relasi sosial), dan akan terbawa sampai ke dunia kerja (hegemoni kapitalis). Apakah ada yang salah dengan pendidikan kita? Afdillah Chudiel mengejawantahkannya dalam sebuah bab yang berjudul ‘Sekolah Dibubarkan Saja!’.

Perjuangan para siswa harus melewati ujian terakhir yang menentukan nasib mereka apakah akan lulus atau kembali diproduksi, dan itu adalah ujian nasional (kini USBN). Perasaan khawatir dan tidak percaya diri tak jarang menghantui para siswa sehingga pola pikir mereka menjadi tidak sehat. Terbesit jalan pintas yang dapat menyelamatkan siswa serta gerombolannya yaitu dengan jalan solidaritas; bahu membahu dan memburu kunci jawaban.

Walaupun aturan telah dibuat, namun tak menutup kemungkinan masih terdapat celah. Demi selembar kertas dengan terbubuh nilai yang baik, maka segala cara dilancarkan, meskipun pengawas mengetahui gerak-gerik siswanya, bahkan diantaranya tidak jarang dengan sengaja membiarkan itu terjadi, demi kelulusan siswanya dengan cara yang tidak patut. Afdillah Chudiel kembali membahasnya dalam bab ‘Pesta Pora yang Menyedihkan’.

Kesenjangan Pendidikan

Pendidikan juga mempertegas kesenjangan yang ada lewat status ekonomi siswanya. Dalam bab ‘Orang Miskin Dilarang Masuk’, Chudiel menggambarkan betapa eksklusifnya lembaga pendidikan, sehingga orang kurang mampu sulit mengakses pendidikan. Bila keluarga kurang mampu hendak menyekolahkan anaknya, maka ia akan dihadapkan dengan ‘tes kemiskinan’ seperti tuntutan kewajiban sarana belajar demi kelancaran anaknya bersekolah.

Tak jarang dalam ‘menunjang’ proses pembelajaran, guru mewajibkan siswa membeli buku lembar kerja siswa (LKS) baik itu di cicil maupun langsung dilunasi oleh siswa. Bahkan ada guru yang menjual bukunya sendiri dan wajib dibeli siswanya sebagai syarat kelancaran dalam pelajaran yang dibawanya.

Ragam tuntutan demi ‘kelancaran belajar’ ini terus berjalan setiap tahunnya. ‘Tes Kemiskinan” akan terus berulang sehingga orang yang kurang mampu seiring berjalannya waktu akan tersaring dan keluar dari sekolah dengan sendirinya. Pendidikan telah menjadi benda komersial sehingga tidak semua orang dapat mengaksesnya.

Pendidikan Berorientasi pada Kehendak Pasar

Pendidikan yang akhir-akhir ini berorientasi pada kehendak pasar mesti kembali pada tujuan awal, yakni memanusiakan manusia. Sejatinya, pendidikan adalah hak setiap orang, sehingga siapapun layak mendapatkan pendidikan tanpa terkecuali. Pemerintah wajib menjamin pendidikan anak negeri dan meninjau kembali sistem pendidikan yang hanya menuntut ‘barang jadi’.

Keberagaman anak dengan segala keistimewaan yang dimilikinya adalah keniscayaan yang patut diyakini. Menuntut sebuah nilai dari pada menghargai proses tidak akan berarti apa-apa. Seperti halnya tuntutan akan beragam hafalan yang hingga kini menjadi pertanyaan; apa fungsi dari menghafal semua itu dalam kehidupan. Cita-cita tidak hanya soal profesi, bahkan lebih dari itu ialah visi kehidupan di masa depan yang harus di isi dengan kebijaksanaan dan kebermanfaatan bagi diri maupun orang-orang disekitar dengan modal pengetahuan yang di peroleh sepanjang hayat, sehingga sekolah tidak perlu dibubarkan!

Ahmad Yudi S.
Mahasiswa S-1 Kesehatan Masyarakat STIKes Respati

Editor : Muflih Gunawan

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI