Profil Pelajar Pancasila pada Generasi TikTok

Sosial Media
Sumber Gambar: https://media.istockphoto.com/

Persatuan bangsa Indonesia tidak hanya dapat dilihat dari bagaimana mereka menjalani hidup dengan toleransi dan tidak terlalu efektif untuk menjaga kehidupan bersama yang harmonis, adil, dan damai dalam keragaman budaya, agama, dan kepercayaan (Rafael & Mulyatno, 2022).

Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno pernah berkata, “Pancasila menjadi jiwa bangsa Indonesia”. Apa maksud dari kalimat tersebut? Dalam hal ini, Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang memiliki lima sila yang mengarahkan pada identitas bangsa Indonesia. Lima sila tersebut harus dapat diamalkan dan diterapkan oleh masyarakat Indonesia di kehidupan sehari-harinya. Begitu pula dengan dunia Pendidikan.

Pendidikan Nasional Indonesia berfokus pada Profil Pelajar Pancasila (PPP) sebagai gambaran individu Indonesia yang kuat, didasarkan pada nilai-nilai budaya yang tinggi, yang menjadi dasar pendidikan untuk menginterpretasikan dan memahami prinsip-prinsip kemanusiaan (Rafael & Mulyatno, 2022).

Bacaan Lainnya
DONASI

Profil Pelajar Pancasila diterapkan melalui kegiatan sekolah, baik yang bersifat intrakurikuler maupun ekstrakurikuler, yang difokuskan pada pembentukan karakter peserta didik dalam kehidupan sehari-hari (Nuril Lubaba & Alfiansyah, 2022). Dengan adanya profil pelajar Pancasila di sekolah, pelajar diharapkan dapat memiliki karakter yang sesuai dengan sila-sila Pancasila.

Kenapa saat ini ada penguatan tentang profil pelajar Pancasila di setiap sekolah? Bukankah pada kurikulum sebelumnya tidak terlalu diperhatikan? Banyak alasan dan tujuan dari adanya profil pelajar Pancasila ini, namun salah satu alasannya dari sudut pandang nilai-nilai luhur budaya, hal ini terbentuk karena adanya dampak dari perkembangan zaman.

Dengan maraknya teknologi yang dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat di Indonesia, mulai dari anak-anak, remaja, dan juga orang dewasa, semua dapat merubah persepsi dan juga karakter dari seseorang. Tidak jarang sikap dan perlakuan seseorang melenceng dari nilai-nilai Pancasila yang merupakan dasar kehidupan bermasyarakat, akibat pengaruh budaya luar dari media sosial yang dapat diakses siapa saja, dimana saja, dan kapanpun yang diinginkan.

Salah satu media sosial yang berpengaruh akhir-akhir ini adalah TikTok. Aplikasi yang berupa audio visual ini merupakan sebuah platform sosial yang memungkinkan pengguna untuk melihat dan mendengarkan sebuah video yang telah diunggah oleh seseorang (Buana & Maharani, 2020) Sejatinya, TikTok merupakan aplikasi yang bagus dan cepat dalam menyampaikan maksud dan tujuan tertentu dalam bentuk sebuah video pendek.

Tidak heran banyak pengguna TikTok yang betah berlama-lama membuka aplikasi ini dan mendapatkan sebuah informasi. Media sosial TikTok ini memiliki banyak pengguna, terutama di kalangan pelajar. Namun TikTok ini juga dapat mengganggu aktivitas seseorang khususnya para pelajar.

Pelajar yang terus menerus bermain TikTok akan kecanduan dan lalai dalam tugasnya. Tentu saja ini berpengaruh pada Pendidikan saat ini. Jika dilihat dari negatifnya, banyak pelajar yang menghabiskan waktunya pada sosial media ini dibandingkan dengan dunia nyatanya. Hal ini membuat pemahaman berkomunikasi dengan baik juga terganggu dan hal-hal yang tidak baik juga dapat mengganggu konsentrasi belajar.

Salah satu dampaknya adalah kurangnya sopan santun pelajar dalam berbicara sesamanya maupun lebih tua (Widi Kasetyaningsih & Hartono, 2017). Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan yang lebih oleh orang dewasa agar anak-anak yang masih dibawah umur, dapat dibimbing dalam menggunakan media sosial.

Lantas bagaimana hubungannya dengan profil pelajar Pancasila? Pendidikan dapat mengubah stigma negatif masyarakat dimana menganggap Tiktok adalah aplikasi joget-joget yang tidak mendidik kepada hal yang lebih positif dengan menerapkan profil pelajar Pancasila pada pelajar. Dengan cara apa? Yaitu membawa perubahan dan kemajuan teknologi dalam dunia Pendidikan. Hal ini sesuai dengan pengajaran dari Ki Hadjar Dewantara yaitu kodrat zaman, dimana mendidik anak sesuai dengan perkembangan zamannya.

Nantinya pelajar dapat membuat sebuah konten yang berkaitan dengan pembelajarannya. Dengan demikian, aspek profil pelajar Pancasila dapat tercapai dengan hanya membuat sebuah konten, yaitu aspek kreativitas dengan ide-ide cemerlangnya, aspek mandiri yang berusaha sendiri dalam melakukan kontennya, dan aspek berpikir kritis dalam menentukan hal-hal positif apa saja yang dapat diunggah oleh dirinya sebagai seorang pelajar.

Kemudian aspek berikutnya yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebhinekaan global, dan bergotong royong dapat terlaksana dengan sendirinya saat pelajar tersebut meyakini hal yang dibuatnya adalah positif dan dapat bermanfaat pada orang lain.

Belajar dari sebuah aplikasi media sosial yang dipandang sebagai hiburan saja dapat dijadikan wadah untuk Pendidikan bagi pelajar Indonesia. Semua ini dapat terjadi jika kita bijak dalam bersosial media. Tidak hanya termakan oleh isu yang belum tentu benar adanya, namun juga dapat meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan seseorang.

Kesimpulan

Perkembangan pendidikan di Indonesia menunjukkan evolusi dari waktu ke waktu, dengan pendekatan Ki Hajar Dewantara yang menekankan konsep “memerdekakan” menjadi relevan bagi generasi muda. Pendidikan juga memiliki peran penting dalam mempertahankan persatuan bangsa dan mencegah konflik, tetapi hidup dengan toleransi saja tidak cukup.

Pancasila dianggap sebagai jiwa bangsa Indonesia, dan pendidikan nasional fokus pada Profil Pelajar Pancasila (PPP). Meskipun media sosial seperti Tiktok memiliki dampak signifikan terhadap perilaku dan pemahaman pelajar, pendidikan dapat memanfaatkannya sebagai wadah pembelajaran yang kreatif. Dengan memperhatikan aspek profil pelajar Pancasila, pelajar dapat menciptakan konten yang positif dan mendidik sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, menjadikan media sosial sebagai alat untuk pendidikan yang efektif bagi pelajar Indonesia.

Penulis: Afifah Shalsabila
Mahasiswa Jurusan PPG Pendidikan IPA Universitas Pendidikan Indonesia

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Referensi

Buana, T., & Maharani, D. (2020). (5) Penggunaan Aplikasi Tik Tok (Versi Terbaru) Dan Kreativitas Anak. JURNAL INOVASI , 14(1).

Nuril Lubaba, M., & Alfiansyah, I. (2022). Analisis Penerapan Profil Pelajar Pancasila dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik di Sekolah Dasar. Edusaintek: Jurnal Pendidikan, Sains Dan Teknologi, 9(3), 687–706. https://doi.org/10.47668/edusaintek.v9i3.576

Rafael, S. P., & Mulyatno, C. B. (2022). Filosofi Pendidikan Indonesia Mata Kuliah Inti Pendidikan Profesi Guru Prajabatan Tahun 2022.

Widi Kasetyaningsih, S., & Hartono. (2017). Dampak Sosial Media Terhadap Akhlaq Remaja (Vol. 13).

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI