Kota Nabire atau dikenal dengan julukan kota 1000 kenangan karena pesona wisata dan suasananya yang berkesan, merupakan ibu kota provinsi Papua Tengah. Alam di Kota Nabire sangat indah, dan banyak juga tempat wisata yang bisa di kunjungi, salah satu yang paling dominan menjadi tempat refreshing kebanyakan masyarakat adalah pantai, di Nabire banyak pantai yang bisa di kunjungi, mulai dari yang dekat pusat kota sampai yang jauh sekalipun.
Salah satu Pantai yang menjadi tempat refreshing kebanyakan masyarakat yaitu Pantai Nabire atau yang dulu biasa disebut Pantai MAF, karena pantai ini memiliki posisi strategis, berada langsung di dekat pusat kota, dan juga di samping bandar udara lama Kota Nabire tepatnya bersebelahan dengan tempat parkir pesawat MAF. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri buat masyarakat Kota Nabire, mereka dapat menyaksikan pendaratan pesawat langsung dari Pantai Nabire, jadi seperti mendapatkan dua pemandangan indah dalam satu frame.
Ditambah, siang hari banyak kios buah, gerobak es kelapa atau es buah buah, dan juga pedagang kaki lima lainnya berjualan di sepanjang Pantai Nabire, dan Di malam hari suasana beubah seperti pasar malam, di buka area bermain sementara buat anak-anak, dan juga banyak jajanan yang di jual oleh para pedagang umkm, hal inilah yang menjadi magnet buat masyarakat Kota Nabire untuk datang dan melepas penat di area pantai.
Kelihatannya indah dan baik-baik saja bukan?
Kenyataan nya dibalik pesona itu, ada pemandangan lain yang kian sulit diabaikan. Pemandangan seperti botol minuman, pelastik es, bungkus makanan ringan yang bergulung bersama buih ombak, sedotan plastik menancap di pasir, dan di sela daun-daun, dan bahkan popok sekali pakai pun tak jarang di temukan di sepanjang garis pantai, dengan membentang paling parah di area parkir dan jalur pejalan kaki.
Kondisi ini kian parah selepas akhir pekan dan hari libur saat kunjungan meningkat. Pemandangan ini menunjukan kondisi Pantai Nabire yang memprihatinkan akibat menumpuknya sampah plastik sekali pakai.
Pantai Nabire sedang menghadapi ancaman nyata, yaitu krisis lingkungan yang bila dibiarkan, tidak hanya akan merusak pemandangan, tetapi juga menghancurkan ekosistem laut, mengancam sumber pangan warga, dan mematikan potensi wisata yang selama ini menjadi kebanggaan Nabire. Ini bukan lagi peringatan dini! ini adalah alarm yang sudah berbunyi keras.
Baca juga: Tercekik Sampah Plastik: Potret Krisis Lingkungan di Kampung Nelayan Kota Jayapura
Masalah ini memburuk karena kombinasi kebiasaan konsumsi serba instan, minimnya fasilitas pengelolaan sampah di kawasan pantai, serta pengiriman sampah dari hulunya melalui sungai-sungai yang bermuara di pesisir Nabire saat musim hujan.
Sampah yang tampak di permukaan juga sedang terfragmentasi menjadi mikroplastik yang sulit diatasi dan berdampak langsung pada kualitas ekosistem laut. Salah satu penyebab utama juga adalah kurangnya kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah yang benar.
Dampak sampah plastik yang bisa saja akan dirasakan yaitu, seperti Perairan Nabire yang kaya akan sumber daya ikan menjadi terancam oleh keberadaan mikroplastik yang larut ke dalam air.
Ikan-ikan yang menghuni Teluk Cenderawasih tak lagi sekadar berenang di antara terumbu karang sebagian di antaranya kini menelan serpihan plastik tak kasat mata. Ikan-ikan ini kemudian naik ke meja makan warga Nabire, membawa serta kontaminan yang berpotensi membahayakan kesehatan jangka panjang.
Dari sisi ekonomi wisata, dampaknya tak kalah serius. Pantai MAF selama ini menjadi tulang punggung bagi para pedagang dan masyarakat lokal yang tinggal di area pesisir pantai, mulai dari nelayan, penjual es kelapa, hingga pedagang kaki lima yang tiap hari mecari nafkah di area pantai. Namun, ketika pemandangan pantai semakin dipenuhi sampah, daya tarik Pantai Nabire sebagai destinasi wisata perlahan memudar.
Pengunjung dari luar daerah yang kecewa akan membawa pulang kenangan negatif dan cerita itu menyebar, mengurangi jumlah wisatawan yang datang, dan pada akhirnya memangkas pendapatan para pedagang yang menggantungkan hidup mereka di sana. Para nelayan juga dapat dampak nya, kualitan ikan bisa menurun karena efek sampah pelastik, dan pada akhirnya bisa saja mereka akan sulit mendapatkan ikan yang kualitasnya bagus.
Sementara itu, dari aspek kesehatan masyarakat, tumpukan sampah organik yang bercampur dengan plastik menciptakan lingkungan ideal bagi berkembangnya bakteri dan serangga pembawa penyakit. Bau busuk yang menguar di beberapa titik pantai tidak hanya mengganggu kenyamanan ia juga merupakan sinyal bahaya bagi kesehatan warga yang tinggal dan beraktivitas di sekitar pantai.
Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Kota Nabire dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah perlu segera mengambil langkah konkret. Dibutuhkan regulasi tegas yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai di kawasan wisata pantai, disertai dengan penambahan fasilitas tempat sampah yang memadai dan peningkatan frekuensi pengangkutan sampah, khususnya pada hari-hari libur.
Selain itu, sistem pengelolaan sampah di daerah aliran sungai yang bermuara di kawasan pantai juga perlu mendapat perhatian serius untuk memutus sumber kiriman sampah dari hulu.
Namun, di atas semua itu, perubahan yang paling mendasar dan paling tahan lama adalah perubahan cara berpikir masyarakat. Edukasi publik yang konsisten dan kreatif perlu terus digalakkan menggeser mindset lama “membuang sampah” menuju kesadaran baru “mengelola sampah”.
Kampanye di sekolah-sekolah, di media sosial, dan melalui tokoh-tokoh masyarakat dan agama setempat dapat menjadi jembatan yang efektif untuk menjangkau semua lapisan warga Nabire.
Noted: Masyarakat Kota Nabire perlu menyadari bahwa sampah yang dibuang sembarangan itu memiliki dampak yang cukup besar, bukan hanya merusak pemandangan Pantai Nabire, tapi dapat merusak ekosistem laut secara perlahan.
Jika ekosistem laut itu rusak dampaknya bisa lari kemana-mana, jadi sangat dibutuhkan kesadaran mendalam dari setiap pribadi untuk lebih perduli dengan lingkungan, terlebih di papua ini yang alam nya sebagian besar masih asri, satu saja sampah terlebih sampah pelastik yang sulit terurai di buang sembarangan sama saja dengan investasi merusak masa depan. “Kurangi penggunaaan pelastik sekali pakai”
Penulis: Sophia Fransiscania Pekey
MahasiswaHubungan Internasional, Universitas Cenderawasih
Dosen Pengampu: Melpayanty Sinaga, S. IP., MA
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














