Teori Problem Solving dalam Sunnah: Analisis Hadits tentang Menghilangkan Kesulitan Sesama

Teori Problem Solving
(Sumber: MMI)

Abstrak

Penelitian ini mengkaji konsep problem solving dalam sunnah melalui analisis hadits tentang menghilangkan kesulitan sesama. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana kandungan hadits tentang menghilangkan kesulitan sesama serta relevansinya dalam kehidupan sosial.

Penelitian bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai problem solving yang terkandung dalam hadits tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui penelaahan hadits dan berbagai literatur ilmiah yang relevan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadits tersebut mengandung nilai kepedulian, empati, tolong-menolong, dan tanggung jawab sosial yang dapat diterapkan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan. Dengan demikian, sunnah Rasulullah saw. memberikan pedoman yang relevan dalam membangun sikap saling membantu serta menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dan berkeadilan.

Kata Kunci: Problem Solving, Hadits, Al-Qur’an, Kepedulian Sosial, Menghilangkan Kesulitan, Kajian Penelitian terkait Problem Solving Terdahulu.

 

Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai permasalahan sering muncul, baik yang berkaitan dengan aspek pribadi, keluarga, maupun masyarakat.

Oleh karena itu, kemampuan problem solving atau pemecahan masalah menjadi salah satu keterampilan penting yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dalam perspektif Islam, konsep problem solving tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah secara praktis, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.

Sejak masa Rasulullah saw., ajaran Islam telah memberikan berbagai pedoman dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Salah satu bentuknya adalah anjuran untuk membantu dan meringankan kesulitan orang lain.

Nilai tersebut tercermin dalam hadits yang menjelaskan bahwa Allah Swt. akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang menolong saudaranya serta memberikan kemudahan bagi orang yang membantu menghilangkan kesulitan sesama. Ajaran ini menunjukkan bahwa penyelesaian masalah dalam Islam tidak hanya berfokus pada kepentingan individu, tetapi juga pada terwujudnya kehidupan sosial yang harmonis, peduli, dan saling mendukung.

Kajian mengenai problem solving dalam perspektif Islam telah banyak dilakukan oleh para peneliti. Salah satunya adalah penelitian Amar Ma’ruf (2022) yang membahas metode problem solving dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 28.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya memuat ajaran hukum, tetapi juga menawarkan berbagai metode penyelesaian masalah melalui kisah-kisah umat terdahulu. Temuan tersebut menegaskan bahwa nilai-nilai problem solving dalam Islam dapat menjadi pedoman bagi individu dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan secara tepat dan bijaksana.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Mindani (2016) mengenai metode problem solving dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menunjukkan bahwa metode tersebut memiliki peran penting dalam membantu peserta didik memahami serta menyelesaikan berbagai persoalan pembelajaran.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa prinsip problem solving sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah karena keduanya memberikan petunjuk serta solusi terhadap berbagai permasalahan kehidupan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa metode problem solving mampu mendorong peserta didik berpikir kritis, menggunakan nalar secara tepat, dan menemukan solusi yang sesuai dengan ajaran Islam.

Konsep problem solving dalam Islam juga ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6 bahwa di balik setiap kesulitan terdapat kemudahan. Selain itu, QS. At-Talaq ayat 2–3 menjelaskan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan harapan dan solusi dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Sejalan dengan hal tersebut, Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa melepaskan satu kesulitan seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan melepaskan satu kesulitan darinya pada hari kiamat” (HR. Muslim). Hadits ini menegaskan pentingnya sikap saling membantu dan meringankan kesulitan sesama sebagai bentuk implementasi nilai problem solving dalam Islam.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini berfokus pada kajian kandungan hadits tentang menghilangkan kesulitan sesama serta relevansinya sebagai konsep problem solving dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai problem solving yang terkandung dalam hadits tersebut dan menjelaskan implementasinya dalam kehidupan sosial.

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian hadis serta menjadi referensi bagi masyarakat dalam menerapkan nilai-nilai Islam untuk menyelesaikan berbagai permasalahan secara bijaksana, humanis, dan bertanggung jawab.

 

Metode

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis.

Data diperoleh melalui penelaahan berbagai sumber literatur yang relevan, seperti Al-Qur’an, hadits, buku, jurnal ilmiah, dan artikel akademik yang berkaitan dengan konsep problem solving dalam Islam.

Sejalan dengan hal tersebut, Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa melepaskan satu kesulitan seorang mukmin, niscaya Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.). Hadits ini menunjukkan pentingnya sikap saling membantu dalam Islam.

 

Hasil

  • عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ… وَاللهُ في عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat… Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

  • عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia juga menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari).

  • فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Karena sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah : 5)

  • وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: “dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq : 3)

 

Pembahasan

1. Pengertian Al-Qur’an dan Hadits serta Strukturnya

Al-Qur’an adalah sumber utama ajaran Islam, sedangkan Hadits merupakan penjelas dan pelengkap terhadap isi Al-Qur’an. Struktur Hadits terdapat 3 bagian, yaitu : Sanad (Rangkaian Perawi yang menyampaikan hadits hingga sampai kepada Rasulullah SAW.), Matan (Isi atau Teks Hadits), Rowi/Perawi (Orang yang meriwayatkan/Menympaikan Hadits).

2. Pengertian Problem Solving dalam Islam

Problem solving berasal dari bahasa Inggris yang berarti “pemecahan masalah” atau “penyelesaian masalah”. Dalam Islam, problem solving dapat diartikan sebagai usaha untuk mencari jalan keluar terbaik terhadap suatu permasalahan berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan hadist.

Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi masalah dengan sabar, bijaksana, dan tetap berpegang pada nilai-nilai kebaikan. Rasulullah saw. juga memberikan contoh bagaimana menyelesaikan masalah dengan cara yang adil, penuh kasih sayang, serta tidak merugikan orang lain. Oleh karena itu, problem solving dalam Islam tidak hanya bertujuan menyelesaikan masalah, tetapi juga menjaga hubungan baik antarsesama manusia dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

3. Hadits tentang Menghilangkan Kesulitan

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya:

Barang siapa yang menghilangkan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan kesulitannya dari berbagai kesulitan di Hari Kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Dalam kajian manajemen modern dan psikologi kognitif, problem solving didefinisikan sebagai proses mental dan perilaku untuk menemukan solusi logis atas suatu kendala. Namun, dalam perspektif Islam, pemecahan masalah tidak hanya mengandalkan rasionalitas semata, melainkan juga harus dipandu oleh ketenangan emosional, optimisme, dan koridor syariat.

Rasulullah SAW. telah memberikan fondasi metodologis dalam menghadapi krisis, salah satunya melalui prinsip bahwa setiap masalah (penyakit/kesulitan) pasti memiliki jalan keluar (obat).

Haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً”

Artinya:

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia juga menurunkan obatnya.”

Struktur Sanad (Silsilah Periwayatan)

Bersumber dari Kitab Shahih Bukhari:

Mukharrij (Penulis Kitab): Imam al-Bukhari (Muhammad bin Ismail)

Guru al-Bukhari: Muhammad bin Al-Mutsanna

Thabaqat (Generasi) di atasnya: Abu Ahmad al-Zubairi (Muhammad bin Abdullah)

Thabaqat di atasnya: Sufyan al-Tsauri

Thabaqat Tabi’in: Ata’ bin Abi Rabah

Thabaqat Sahabat: Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu

Sumber Utama: Rasulullah Muhammad SAW.

Derajat Hadis: Shahih (Sesuai dengan standar akurasi tertinggi dalam kritik hadis).

Hadis ini dapat dibedah menjadi beberapa indikator problem solving modern:

Menumbuhkan Growth Mindset (Optimisme Sistemik): Kata “Daa’an” (penyakit/masalah) dan “Syifaa’an” (obat/solusi) dalam hadis ini berbentuk nakirah (umum).

Ini mengindikasikan bahwa setiap tantangan operasional atau interpersonal dalam organisasi pasti memiliki ruang solusi.

4. Isi Kandungan dari Hadits

Hadist ini mengandung beberapa pelajaran penting, yaitu:

a. Anjuran Membantu Orang yang Kesulitan

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, baik dalam bentuk materi, tenaga, pikiran, maupun nasihat.

b. Balasan dari Allah SWT

Setiap kebaikan yang dilakukan tidak akan sia-sia. Allah SWT menjanjikan kemudahan dan pertolongan bagi orang yang membantu sesamanya.

c. Menumbuhkan Kepedulian Sosial

Hadis ini mengajarkan agar umat Islam tidak bersikap individualis, melainkan memiliki rasa empati terhadap lingkungan sekitar.

d. Menjaga Kehormatan Sesama Muslim

Selain membantu mengatasi kesulitan, seorang muslim juga diperintahkan untuk menjaga kehormatan dan menutupi aib saudaranya.

e. Pentingnya Kerja Sama

Masalah yang dihadapi seseorang akan lebih mudah diselesaikan apabila ada kerja sama dan dukungan dari orang lain.

 

5. Prinsip-prinsip problem solving dalam Islam

a. Mengidentifikasi masalah dengan benar

Sebelum mencari solusi, seseorang harus memahami terlebih dahulu akar permasalahan agar penyelesaiannya tepat dan tidak menimbulkan masalah baru.

b. Bersikap sabar dan tidak terburu-buru

Dalam menghadapi masalah, Islam mengajarkan untuk tetap sabar dan tenang agar dapat berpikir jernih dalam mengambil keputusan.

c. Bermusyawarah untuk mencari solusi terbaik

Musyawarah dilakukan agar mendapatkan pendapat dan pertimbangan yang baik sehingga solusi yang diambil lebih tepat dan bermanfaat.

d. Membantu orang lain dengan ikhlas

Menolong orang yang sedang mengalami kesulitan merupakan perbuatan mulia yang dianjurkan dalam Islam dan harus dilakukan dengan niat yang tulus.

e. Bertawakal kepada Allah setelah berusaha

Setelah berusaha menyelesaikan masalah, manusia harus menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Swt. serta percaya bahwa Allah akan memberikan jalan terbaik.

6. Contoh Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

a. Membantu teman yang kesulitan belajar

Membantu teman memahami pelajaran merupakan bentuk kepedulian dan sikap tolong-menolong dalam kebaikan.

b. Menolong tetangga yang sedang mengalami musibah

Memberikan bantuan kepada tetangga yang terkena musibah dapat meringankan beban dan mempererat hubungan sosial.

c. Memberikan solusi kepada teman yang memiliki masalah

Memberikan nasihat atau jalan keluar yang baik dapat membantu teman menyelesaikan masalahnya dengan bijaksana.

d. Ikut kegiatan sosial dan kerja bakti

Berpartisipasi dalam kegiatan sosial menunjukkan sikap peduli dan kerja sama dalam membantu masyarakat.

e. Tidak mempersulit urusan orang lain

Islam mengajarkan umatnya untuk mempermudah urusan sesama dan tidak menambah kesulitan bagi orang lain.

7. Hikmah Hadist

a. Menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama

Sikap membantu dan menghilangkan kesulitan orang lain dapat menumbuhkan rasa empati dan kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat.

b. Mempererat persaudaraan dan kebersamaan

Tolong-menolong dalam kebaikan dapat memperkuat hubungan persaudaraan dan menciptakan kebersamaan antarsesama.

c. Menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis

Sikap saling membantu dapat mengurangi perselisihan dan menciptakan lingkungan yang aman, damai, serta harmonis.

d. Mendapat pahala dan pertolongan dari Allah SWT

Orang yang membantu kesulitan sesama akan mendapatkan pahala dan pertolongan dari Allah Swt.

8. Ayat Al-Quran tentang Problem Solving

a. Al-Insyirah (94) Ayat 5-6:

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۙ ٥ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۗ ٦

Artinya:

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah : 5-6)

b. Ath-Thalaq (65) Ayat 2-3:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝٢

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ۝٣

Artinya:

Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

(QS. At-Talaq: 2–3).

9. Kajian Penelitian terkait Problem Solving Terdahulu

Kajian mengenai problem solving dalam perspektif Islam telah banyak dilakukan oleh para peneliti. Salah satunya adalah penelitian Amar Ma’ruf (2022) yang membahas metode problem solving dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 28. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya memuat ajaran hukum, tetapi juga menawarkan berbagai metode penyelesaian masalah melalui kisah-kisah umat terdahulu.

Temuan tersebut menegaskan bahwa nilai-nilai problem solving dalam Islam dapat menjadi pedoman bagi individu dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan secara tepat dan bijaksana.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Mindani (2016) mengenai metode problem solving dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menunjukkan bahwa metode tersebut memiliki peran penting dalam membantu peserta didik memahami serta menyelesaikan berbagai persoalan pembelajaran.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa prinsip problem solving sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah karena keduanya memberikan petunjuk serta solusi terhadap berbagai permasalahan kehidupan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa metode problem solving mampu mendorong peserta didik berpikir kritis, menggunakan nalar secara tepat, dan menemukan solusi yang sesuai dengan ajaran Islam.

 

Kesimpulan

Pertama, Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa problem solving dalam Islam tidak hanya dimaknai sebagai upaya mencari jalan keluar dari suatu masalah, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Hal ini terlihat dalam hadits tentang menghilangkan kesulitan seorang mukmin yang mengajarkan pentingnya sikap empati, tolong-menolong, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan ajaran Al-Qur’an, khususnya dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6 dan QS. At-Talaq ayat 2–3 yang memberikan pemahaman bahwa setiap kesulitan akan disertai kemudahan serta jalan keluar bagi orang yang bertakwa.

Kedua, Dalam kehidupan sehari-hari, nilai problem solving dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan, serta berusaha mencari solusi yang bermanfaat bagi banyak pihak.

Ketiga, Temuan ini sejalan dengan penelitian Amar Ma’ruf (2022) dan Mindani (2016) yang menunjukkan bahwa konsep problem solving memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, hadits tentang menghilangkan kesulitan sesama tidak hanya relevan untuk dipahami, tetapi juga penting untuk diterapkan sebagai pedoman dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

 


Penulis: Kelas 2C PMI Hadis Kelompok 10

  1. Akbar Muhyiddin Agil (1251330094)
  2. Sekar Hayu Pangestuti (1251330101)
  3. Fadhlan Ramadhan (1251330116)

Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Dosen Pengampu: Muhammad Firdaus, B.A., MA, Ph.D


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.t.

Al-Bukhari, Imam. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, t.t.

Al-Ghazali, Imam. Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.

Al-Qaradawi, Yusuf. Fiqih Prioritas. Jakarta: Gema Insani Press, 1996.

An-Nawawi, Imam. Riyadhus Shalihin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.

An-Nawawi, Imam. Syarah Shahih Muslim. Beirut: Dar al-Fikr, t.t.

Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kementerian Agama RI, 2019.

Muslim, Imam. Shahih Muslim. Beirut: Dar al-Fikr, t.t.

Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Lentera Hati, 2007.

Ma’ruf, A. (2022). Memahami Metode Problem Solving Dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 28. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur’an dan Hadist, 5(1), 81–95.

Mindani, M. (2016). Metode Problem Solving dalam Pembelajaran PAI. Jurnal Educative: Journal of Educational Studies, 1(2), 135–153.

Muslim, I. A. H. (t.t.). Shahih Muslim. Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi.

Al-Bukhari, M. b. I. (2001). Shahih al-Bukhari. Al-Maktabah al-Salafiyah.

Al-Asqalani, A. b. A. I. H. (1379 H). Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari (Vol. 10, hlm. 134). Dar al-Ma’rifah.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses