Maraknya konten perbandingan produk skincare di TikTok menunjukkan bagaimana strategi pemasaran digital terus berkembang. Namun, di balik popularitas tersebut, muncul pertanyaan penting mengenai batas etika komunikasi digital serta sejauh mana konsumen mampu menyaring informasi yang beredar.
Fenomena ini menjadi sorotan setelah beredarnya konten viral yang menampilkan perbandingan produk secara tidak seimbang. Dalam beberapa kasus, konten tersebut tidak hanya menonjolkan keunggulan produk tertentu, tetapi juga memperlihatkan narasi yang berpotensi merugikan pihak lain.
Konten perbandingan atau product battle kini menjadi salah satu format populer dalam promosi digital, khususnya di industri kecantikan. Format ini dinilai efektif karena mampu memberikan gambaran langsung kepada audiens terkait perbedaan antarproduk.
Namun, dalam praktiknya, tidak semua konten disampaikan secara objektif. Beberapa konten cenderung menampilkan perbandingan yang tidak berimbang, sehingga berpotensi membentuk persepsi yang bias di kalangan konsumen.
Batas Etika dalam Komunikasi Digital
Dalam perspektif komunikasi digital, promosi tidak hanya berbicara tentang menarik perhatian, tetapi juga tentang tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Konten pemasaran yang baik seharusnya:
- Disampaikan secara jujur dan transparan
- Tidak menyesatkan atau memanipulasi informasi
- Tidak merendahkan atau menyerang pihak lain
Penggunaan narasi yang bersifat merendahkan, baik secara sosial maupun personal, berpotensi melanggar prinsip etika komunikasi. Selain tidak relevan dengan kualitas produk, hal tersebut juga dapat memperkuat stereotip negatif di ruang digital.
Influencer memiliki peran besar dalam membentuk opini publik, terutama di platform seperti TikTok. Konten yang disampaikan sering kali dianggap sebagai referensi objektif oleh audiens.
Padahal, dalam banyak kasus, konten tersebut merupakan bagian dari strategi promosi. Tanpa adanya transparansi yang jelas, batas antara opini pribadi, iklan, dan informasi faktual menjadi semakin kabur.

Pentingnya Literasi Digital Konsumen
Di tengah derasnya arus informasi, konsumen dituntut untuk lebih kritis dalam memahami konten yang dikonsumsi. Tidak semua informasi yang disajikan di media sosial dapat dijadikan acuan tanpa verifikasi.
Literasi digital menjadi kunci agar konsumen mampu:
- Membedakan antara opini dan fakta
- Mengidentifikasi konten promosi
- Menilai kredibilitas informasi
Dengan kemampuan tersebut, konsumen tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang bias atau menyesatkan.
Baca juga: Literasi Digital Sejak Dini untuk Generasi Cerdas di Dunia Maya
Selain persoalan etika, praktik komunikasi yang tidak bertanggung jawab juga berpotensi berkaitan dengan aspek hukum. Dalam regulasi di Indonesia, pelaku usaha diwajibkan untuk menyampaikan informasi yang benar dan tidak merugikan pihak lain.
Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran di ruang digital tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab hukum dan sosial.
Fenomena konten viral di TikTok menunjukkan bahwa pemasaran digital tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga integritas. Batas antara promosi dan manipulasi menjadi semakin tipis ketika etika komunikasi diabaikan.
Di sisi lain, konsumen juga memiliki peran penting dalam menyaring informasi. Dengan literasi digital yang baik, masyarakat dapat lebih bijak dalam menilai konten yang beredar dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak objektif.
Penulis: Tabitha Naylendra
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Sutri Wardani S. Sos., M. Si.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












