Gereja sebagai Rumah Sakit Lapangan bagi Kaum Marginal

Gereja adalah rumah
Penulis: Maria Heni Susanti (Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik Stipas St. Sirilus Ruteng)

Dalam kehidupan sehari-hari kita sekarang ini , banyak menyaksikan orang yang terpinggirkan. Mereka adalah kaum miskin, orang sakit, penyandang disabilitas, dan mereka yang terluka secara batin karena penolakan sosial.

Di tengah realitas itu, gereja dipanggil untuk hadir bukan hanya sebagai institusi  rohani, melainkan rumah sakit lapangan yang memberikan penyembuhan, penghiburan, dan pengharapan bagi mereka.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Gereja juga memberikan pelayanan kepada yang terpinggirkan, seperti menyediakan tempat tinggal, memberi makan dan menyediakan pendelikon secara gratis bagi mereka.

Baca Juga: Kesetaraan Gender dalam Terang Ajaran Sosial Gereja

Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium menegaskan, “ saya lebih suka Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena telah keluar ke jalan-jalan, daripada Gereja yang sakit karena tertutup dan nyaman dengan kenyamanan yang semu”  ini mengingatkan kita bahwa Gereja tidak boleh terjebak dalam zona nyaman. Gereja dipanggil keluar, menjumpai mereka yang menderita, dan merawat mereka dengan kasih.

Kaum marginal sering kali kehilangan akses terhadap pendidikan, kesehatan, bahkan kehidupan yang layak. Dalam kondisi seperti ini, gereja dapat menjadi tanda kehadiran Allah yang peduli.

Melalui karya kreatif, pendidikan, pelayanan kesehatan, Gereja menjadi tangan yang menyentuh luka mereka dan telinga yang mendengar jeritan hati mereka.

 Baca Juga: Preferential Option for the Poor: Membaca Ulang Evangelii Gaudium di Tengah Ketidakadilan Sosial 

Gereja sebagai Rumah Sakit Lapangan

Konsep Gereja sebagai rumah sakit lapangan merupakan metafora kuat yang digunakan oleh Paus Fransiskus untuk menggambarkan gereja yang inklusif, responsif, dan solutif terhadap luka-luka sosial. Rumah sakit lapangan berbeda dari rumah sakit mewah yang tertata rapi dan steril. Ia bersifat darurat, terbuka, dan fleksibel siap sedia untuk menolong siapapun yang terluka, tanpa diskriminasi.

Gereja tidak boleh terkungkung dalam tembok-tembok sakral yang nyaman, tetapi harus membongkar segala bentuk eksklusivisme yang menghalangi akses umat terhadap rahmat Allah. Gereja tidak hanya hadir dalam bentuk materi atau bangunan fisik, tetapi dalam kehadiran nyata yang membebaskan dan menyembuhkan.

Sebagai rumah sakit lapangan, gereja dituntut untuk menjadi penyembuh bagi yang sakit, penghibur bagi yang berduka, dan pembawa harapan bagi yang putus asa.

Baca Juga: Ajaran Sosial Gereja dan Tantangan Modernitas di Indonesia: Menemukan Jalan Menuju Keadilan dan Solidaritas

Pelayanan gereja harus menjangkau “kebisingan dunia nyata”, bukan hanya berdiam dalam keheningan altar. Dalam dunia yang dipenuhi ketimpangan dan penderitaan, gereja diundang untuk meninggalkan zona nyamannya.

Suara kenabian gereja tidak boleh hanya bergema di ruang-ruang liturgi, tetapi juga harus hadir di ruang publik: di pasar, di jalanan, di rumah-rumah sederhana kaum miskin.

Hanya dengan demikian, gereja dapat benar-benar menjadi saksi kasih Allah yang hidup dan relevan bagi zaman ini mewujud dalam tindakan nyata, bukan sekadar dalam kata-kata.

Penulis: Maria Heni Susanti
Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik Stipas St. Sirilus Ruteng

Editor: Fifi Elvira
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses