Preferential Option for the Poor: Membaca Ulang Evangelii Gaudium di Tengah Ketidakadilan Sosial

Evangelii Gaudium
(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Ketidakadilan sosial masih menjadi wajah nyata kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Fenomena kemiskinan struktural, kesenjangan ekonomi, akses pendidikan yang timpang, dan marginalisasi kelompok lemah menandai bahwa pembangunan belum sepenuhnya menghadirkan keadilan.

Gereja Katolik, melalui Ajaran Sosial Gereja (ASG), menawarkan suatu prinsip fundamental yang dikenal sebagai preferential option for the poor atau “keberpihakan istimewa kepada orang miskin”. Prinsip ini menegaskan bahwa dalam setiap perumusan kebijakan, dalam karya pastoral, bahkan dalam pewartaan Injil, kaum miskin dan tersisih harus ditempatkan sebagai prioritas.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Seruan apostolik Evangelii Gaudium (2013) karya Paus Fransiskus secara khusus menekankan dimensi ini. Paus menyatakan dengan tegas bahwa “setiap orang Kristen, dan setiap komunitas, dipanggil untuk menjadi instrumen Allah bagi pembebasan dan promosi orang miskin” (EG 187).

Membaca ulang dokumen ini di tengah situasi ketidakadilan sosial yang kian kompleks menjadi penting, agar Gereja tetap setia pada misinya menghadirkan kabar gembira yang menyentuh kehidupan nyata.

 

Preferential Option for the Poor dalam Ajaran Sosial Gereja

Ajaran Sosial Gereja sejak Rerum Novarum (1891) hingga dokumen terbaru seperti Fratelli Tutti (2020), secara konsisten menempatkan martabat manusia dan keadilan sosial sebagai poros utama refleksi iman. Preferential option for the poor bukanlah sekadar wacana belas kasihan, melainkan suatu panggilan etis dan teologis.

Dalam konteks iman Katolik, Yesus Kristus sendiri menunjukkan keberpihakan ini. Seluruh karya-Nya, mulai dari pewartaan Injil kepada orang miskin, penyembuhan orang sakit, hingga pergaulan-Nya dengan para pendosa, menegaskan bahwa Allah memiliki kasih khusus bagi mereka yang terpinggirkan.

Gereja, sebagai kelanjutan misi Kristus, dipanggil untuk menghidupi sikap yang sama. Maka, keberpihakan istimewa kepada orang miskin bukan hanya sikap moral, melainkan bagian dari pewartaan Injil itu sendiri.

 

Evangelii Gaudium: Suara Profetis bagi Gereja

Evangelii Gaudium merupakan dokumen penting Paus Fransiskus yang berbicara tentang sukacita Injil dan tugas misioner Gereja di dunia modern. Di dalamnya, Paus menyoroti secara tajam persoalan ekonomi global yang menciptakan ketidakadilan sosial. Ia mengecam “ekonomi eksklusi dan ketidaksetaraan” yang membuat banyak orang dianggap tidak berguna hanya karena tidak mampu mengikuti arus kapitalisme.

Baca juga: Judi Online dalam Terang Evangelii Gaudium

Paus Fransiskus bahkan menggunakan bahasa profetis yang sangat kuat: “Ekonomi yang membunuh” (EG 53). Istilah ini menegaskan bahwa sistem ekonomi yang hanya berorientasi pada keuntungan tanpa memperhatikan manusia telah menciptakan korban baru: orang miskin yang kehilangan akses hidup layak. Dalam konteks ini, pewartaan Injil tidak bisa dilepaskan dari perjuangan untuk melawan struktur dosa yang menindas.

Evangelii Gaudium mengingatkan bahwa pewartaan Injil sejati bukanlah sekadar aktivitas rohani yang abstrak. Injil harus menyentuh kehidupan nyata, termasuk struktur sosial-ekonomi yang timpang. Gereja ditantang untuk keluar dari zona nyaman dan berani “pergi ke pinggiran” (peripheries) untuk berjumpa dengan mereka yang miskin, menderita, dan terlupakan.

 

Relevansi di Tengah Ketidakadilan Sosial

Situasi ketidakadilan sosial hari ini semakin kompleks. Data menunjukkan jurang antara kaya dan miskin semakin melebar. Kemiskinan tidak hanya soal kekurangan materi, tetapi juga berkaitan dengan keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan partisipasi politik.

Dalam realitas ini, keberpihakan istimewa kepada orang miskin menemukan relevansinya. Membaca ulang Evangelii Gaudium berarti menegaskan kembali bahwa misi Gereja tidak bisa netral di hadapan ketidakadilan. Gereja dipanggil untuk berpihak, bukan karena alasan ideologis, melainkan karena iman menuntutnya.

Keberpihakan ini dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk:

1. Pastoral Transformatif

Paroki dan komunitas beriman tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat solidaritas sosial yang mendukung kaum miskin.

2. Pendidikan dan Advokasi

Gereja perlu terlibat dalam pendidikan kritis yang membangkitkan kesadaran umat tentang keadilan sosial, serta mendorong kebijakan publik yang pro-rakyat kecil.

3. Gaya Hidup Sederhana

Preferential option for the poor tidak hanya soal pelayanan bagi orang miskin, tetapi juga soal kesaksian hidup. Umat dipanggil menghidupi gaya hidup yang lebih sederhana, solidaritas nyata dengan mereka yang kekurangan.

4. Dialog dengan Dunia Politik dan Ekonomi

Gereja memiliki peran moral untuk mengingatkan para pemimpin agar menempatkan manusia, bukan keuntungan, sebagai pusat pembangunan.

 

Implikasi Teologis dan Pastoral

Preferential option for the poor bukan sekadar program sosial, tetapi menyentuh inti iman. Dalam diri orang miskin, Gereja melihat wajah Kristus yang menderita (bdk. Mat 25:40). Oleh karena itu, mengabaikan kaum miskin sama saja dengan mengabaikan Kristus sendiri.

Implikasi pastoralnya adalah bahwa setiap kebijakan Gereja baik dalam liturgi, pendidikan, maupun pelayanan social harus mempertimbangkan dimensi keberpihakan ini. Gereja yang setia pada Evangelii Gaudium akan menjadi Gereja yang keluar, bergerak menuju pinggiran, serta menghadirkan kabar gembira bagi mereka yang selama ini tidak mendapat tempat dalam sistem sosial-ekonomi.

Judul “Preferential Option for the Poor: Membaca Ulang Evangelii Gaudium di Tengah Ketidakadilan Sosial” menegaskan panggilan Gereja untuk kembali pada jati dirinya sebagai Gereja yang berpihak pada yang miskin. Evangelii Gaudium memberikan suara profetis yang relevan hingga hari ini: pewartaan Injil harus bersentuhan dengan realitas ketidakadilan sosial dan berani menawarkan jalan solidaritas.

Keberpihakan ini bukan sekadar sikap moral, melainkan bagian integral dari iman Kristiani. Gereja hanya akan sungguh menjadi tanda dan sakramen keselamatan bila hadir di tengah kaum miskin, bukan hanya untuk memberi bantuan karitatif, tetapi juga untuk memperjuangkan struktur sosial yang lebih adil.

Dalam konteks dunia yang masih diwarnai ketimpangan, membaca ulang Evangelii Gaudium adalah ajakan untuk membangun Gereja yang profetis, misioner, dan berani berdiri bersama kaum miskin.

 

Penulis: Agnes Hestika Ule
Mahasiswa Pendidikan Agama Katolik, STIPAS St. Sirilus Ruteng

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses