Muncul suatu stigma di masyarakat yang mengatakan bahwa lulusan Hubungan Internasional (HI) akan sulit dalam mencari pekerjaan. Masyarakat sering melontarkan opini bahwa jurusan HI “kurang prospek” atau “tidak jelas kerjanya di mana”.
Hal ini sering memunculkan kekhawatiran di kalangan siswa yang berminat untuk mengambil jurusan tersebut. Padahal jika dilihat dari perkembangan di dunia global, banyak kebutuhan untuk tenaga ahli dalam bidang diplomasi, analisis kebijakan internasional, dan komunikasi internasional. Lantas, apakah benar lulusan HI sulit mendapat pekerjaan, atau mereka hanya salah arah dalam mencari peluang?
Pada dasarnya, Ilmu Hubungan Internasional merupakan ilmu yang tidak monodisipliner. Disiplin ilmu HI juga dipengaruh oleh bidang studi lain seperti filosofi, sejarah, hukum, sociological, serta ekonomi (Jackson & Sørensen, 2013). Penjelasan tersebut menjadi dasar dari sifat kajian Hubungan Internasional yang multidisipliner.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat memandang bahwa jurusan HI “kurang prospek”. Titik fokus dari jurusan ini yang tidak tertuju pada satu hal, melainkan beragam hal sekaligus.
Hal ini memberikan pandangan pada masyarakat bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh lulusan HI dangkal, dan tidak memiliki keahlian yang fokus pada suatu bidang.
Baca Juga: Statistik sebagai Navigasi untuk Mahasiswa Hubungan Internasional dalam Samudra Informasi
Meski demikian, Ilmu Hubungan Internasional tidak dapat dibilang jurusan dengan ilmu teori saja. Jurusan ini selain memberikan ilmu teori dalam memandang peristiwa hubungan internasional, juga mengajarkan kompetensi praktis seperti negosiasi, komunikasi, diplomasi, dan kemampuan literasi yang tinggi.
Segala kompetensi ini sangat dibutuhkan di masa sekarang, di mana dunia kerja sangat menuntut karyawan dengan kompetensi dan keterampilan yang tinggi. Masalah yang muncul di sini tidak diakibatkan oleh jurusan HI, melainkan oleh kurang maksimalnya kompetensi yang dimiliki lulusan itu sendiri.
Keterampilan yang kurang optimal ini dapat dibenahi dengan beragam cara seperti melakukan magang, mengambil sertifikasi, dan mencari jejaring profesional. Dengan cara ini, lulusan HI dapat memiliki daya saing yang lebih tinggi dalam memperoleh pekerjaan.
Selain itu, jurusan HI yang memiliki sifat multidisipliner memungkinkan lulusannya untuk mencoba lebih banyak bidang lapangan pekerjaan.
Tidak seperti bayangan sebagian masyarakat di mana “lulusan HI itu kerjanya di Kementerian Luar Negeri“, keahlian yang dibekalkan pada lulusannya seperti kemampuan riset, analisis isu global, dan pengetahuan terhadap hukum dan ekonomi internasional memungkinkan mereka untuk mencoba pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan dan kemampuan dalam menganalisis dinamika internasional.
Lulusan HI dapat mengambil beragam profesi seperti dosen, staf atau konsultan di NGO internasional, perusahaan media massa, perusahaan perbankan dan finance internasional, perusahaan multinasional, serta sektor swasta (Subagyo, 2016).
Baca Juga: Pentingnya Statistik sebagai Pedoman Sumber Pengetahuan bagi Mahasiswa Hubungan Internasional
Keragaman profesi ini menjadi kesempatan yang seringkali terbayang bayang oleh stereotip “HI harus jadi diplomat” atau “HI harus kerja di Kementerian Luar Negeri”.
Tidak hanya itu, lulusan HI juga memiliki prospek yang sangat baik di masa mendatang. Kemunculan dari bidang-bidang baru dalam hubungan internasional sebagai akibat dari dinamika global dan modernisasi menjadi sebuah keuntungan bagi lulusan HI. Bidang seperti para-diplomasi yang merupakan bentuk diplomasi antar kota lintas negara (Munir dkk., 2022).
Selain itu, terdapat juga bidang diplomasi digital yang mengintegrasikan internet dengan proses diplomasi (Wangke, 2020). Bidang-bidang tersebut memberikan beragam kesempatan baru untuk lulusan HI dalam memperolah pekerjaan.
Kesulitan dalam mencari pekerjaan bukan diakibatkan oleh jurusan HI yang tidak berguna, melainkan akibat dari kurangnya adaptasi dan eksplorasi peluang dari lulusannya.
Dalam dunia yang sangat dinamis dan selalu berkembang, lulusan HI harus membuka diri terhadap kesempatan karier lintas sektor dan tidak terpaku pada diplomasi tradisional saja. Jadi, bukan HI yang salah, hal yang perlu diubah adalah cara kita memandang dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Penulis: Muhammad Aditya Saputra
Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Jackson, R., & Sørensen, G. (2013). Introduction to INTERNATIONAL RELATIONS (5th ed.). Oxford University Press.
Munir, F., Yani, Y. M., Nizmi, Y. E., & Suyastri, C. (2022). State of The Art Para-Diplomacy: A Systematic Mapping Studies and a Bibliometric Analysis VOS Viewer in Scopus Database. Academic Journal of Interdisciplinary Studies, 11(2), 129–141. https://doi.org/10.36941/ajis-2022-0040
Subagyo, A. (2016). STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL DI INDONESIA: PELUANG, TANTANGAN DAN PROSPEK. Dinamika Global, 1(2).
Wangke, Humphrey. (2020). DIPLOMASI DIGITAL DAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













